HAMPELAS, karek apal geuning ngarang tangkal kai. Tempat jualan jin "iprit" kiwari, disebut Cihampelas, cenah kulataran baheula di dinya aya tangkal Hampelas badag.
salam, mh ====== Hampelas, Daun yang Menghaluskan JALAN Cihampelas saat ini begitu ingar-bingar dan panas. Pohon mahoni sebagai peneduh dan manfaat lainnya, banyak yang sengaja dimatikan pelan-pelan ketika gedung yang dibangunnya selesai. Kalau kita hitung sejak belokan Jalan Setiabudhi di utara hingga Jalan Abdul Riva`i di selatan, pastilah kita akan segera mengetahui berapa pohon mahoni yang sudah dihilangkan. Pada tahun 1970-1980-an, toko jins sangat berkembang di Jalan Abdurachman Saleh. Beberapa sisanya masih bertahan sampai sekarang. Kemudian menyusul Jalan Cihampelas menjadi pusat jins baru dengan konsep yang di luar kebiasaan saat itu pada 1980-an. Gaya arsitektur toko yang sangat mahiwal, di luar pakem, sehingga dalam waktu yang sangat singkat, nama Cihampelas langsung melejit. Wisatawan berbus-bus datang. Kemacetan pun terjadi. Ateng Wahyudi sebagai wali kota saat itu melihat potensi Cihampelas yang luar biasa sebagai salah satu ikon pariwisata Bandung. Kritik terhadap kebijakan wali kota ini cukup keras, macam-macam seloroh dilontarkan, seperti "koboi-koboi yang mati di pohon mahoni setelah adu tembak", sampai "biar macet asal makan". Untung, saat itu Wali Kota Ateng Wahyudi mau mendengarkan saran. Pembenahan dilakukan dengan membuat jalan satu lajur, jalan di depan toko, toko diharuskan mundur walau belum semuanya tertata sesuai dengan rencana. Di beberapa ruas jalan masih terlihat sisanya. Namun sayang, ketika wali kota berganti, penerusnya tak paham akan konsep penataan itu sehingga dibiarkan liar kembali tak berpola hingga sekarang. Penataan kawasan Cihampelas ini harus menyeluruh, pembuatan lajur jalan di depan toko yang pernah dirintis Ateng Wahyudi perlu diteruskan tanpa kecuali sehingga lajur itu bila tak padat pengunjung dapat dijadikan kafe terbuka. Juga parit pinggir jalan perlu diperlebar dan diperdalam, memberikan saluran yang baik untuk lancarnya air dari jalan ke parit, serta penanaman pohon perlu dipaksakan di sepanjang jalan itu tanpa kecuali. Harus disadari bahwa salah satu daya tarik Kota Bandung adalah hawanya yang nyaman. Bila Kota Bandung jalan-jalannya dibakar matahari karena pohon pelindung itu sengaja dihilangkan karena tokonya takut tak kelihatan, salah satu daya tarik itu akan memudar. ** Pada 1954, bersama orang tuanya dari Panjalu, Oo Rusmana pindah ke Bandung, ke daerah yang kini termasuk Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan. Pada usia kanak-kanak itulah Rusmana, kini 62 tahun, bila bermain kesorean, ia merasakan ketakutan yang luar biasa. Di lereng timur Jalan Cihampelas yang mengarah ke Ci Kapundung di sekitar jembatan layang sekarang, di sana tumbuh kaso yang lebat. Suasana menjelang sore sangat mencekam. 100 meter ke arah utara dari jembatan layang itu terdapat pohon hampelas (Ficus ampelas burm) sebesar kerbau, katanya. Cerita yang mencekam lainnya diceritakan seorang sopir angkot Kebonkalapa. Ledeng yang sudah sepuh. Masa kanak-kanak bersama orang tuanya tinggal di sekitar Jalan Cihampelas. Menurut dia, agak ke hilir dari pemandian Cihampelas yang sudah berakhir masa kejayaannya, terdapat goa. Goa yang sangat ditakuti saat itu karena pada waktu-waktu tertentu penduduk di sana sering melihat "si belang". Masih adakah pohon hampelas di Kota Bandung? Kalau ada, di mana pohon hampelas itu adanya? Bila ingin melihatnya dan ingin merasakan kasarnya punggung daunnya, mintalah izin untuk masuk ke Pendopo Kota Bandung di selatan alun-alun. Di sisi timur halaman belakang pendopo itu terdapat satu pohon yang dalam bahasa Indonesia disebut hampelas atau ampelas, Sunda hampelas, Jawa rempelas, dan Ternate sosoma. Tumbuhan ini tingginya sampai 20 meter dengan gemang 50 cm, tumbuh di seluruh Nusantara, tersebar pada ketinggian kurang dari 1.300 m dpl. Ada yang dibudidayakan karena kegunaan daunnya, ada juga yang tumbuh dengan sendirinya. Menurut Hasskarl, seperti dikutip K. Heyne (1927), cairan dari tumbuhan ini dapat diminum, berguna untuk pengobatan orang yang mengalami kesulitan mengeluarkan air kencing. Menurut Filet, dalam K. Heyne menambahkan bahwa kegunaan bahan ini sebagai obat murus/mencret. Filet melukiskan bahwa sifat getah mengandung air, berwarna cokelat kekuningan dan rasanya pedas. K. Heyne menulis bahwa ia pernah melihat orang yang mengumpulkan cairan ini dengan cara memotong akar dan airnya ditampung dalam bejana kecil. Punggung daun hampelas kasar setelah kering dapat digunakan sebagai ampelas untuk menghaluskan kayu. Para ahli Belanda sudah melakukan penelitian pendahuluan tentang tumbuhan di Indonesia dan manfaatnya. Para ahli dari anak negeri bertambah banyak, namun penelitian tentang tumbuhan ini untuk manfaat bagi penduduknya kurang dilakukan. Di belokan Jalan Cihampelas menuju jembatan layang, terdapat segitiga taman kota yang hijau, bila di taman itu ditambah koleksinya dengan menanam pohon hampelas, akan mengingatkan warga kota, mengapa kawasan ini disebut Cihampelas. Dan yang terpenting, dapat menjadi sumber belajar bagi warga kota yang daya nalar dan kreativitasnya terkenal tinggi. Mudah-mudahan. (T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung)*** Citation: http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=21404 ------------------------------------ Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
