kg Emha...ulem tah kg Tjetje Bahtiar, tulisanana 
kental banget ku kaSundaan...aya nu wawuh?
ciharegem? uin pernah ka ciharegem di bukit pakar dago....
sahandapeun sekegede, cinyusu anu kaluar ti cadas,
debit caina? usum halodo tambah ngagolontor???
naon anu ngaharegemna?......SORA CURUG!
matakna , curug ogen bisa ngagerem nyah?
he33x!
....oca tea...

--- On Fri, 9/26/08, mh <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: mh <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [kisunda] MAUNG Ciharegem?
To: "kisunda" <[email protected]>, [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Friday, September 26, 2008, 1:57 PM

Ciharegem, Cimaung, Harimau yang Menggeram

    PATUNG "maung" di Jln. Wastukancana Kota Bandung yang menjadi
salah satu simbol binatang asli Jawa Barat.* T. BACHTIAR

Maung, sebutan untuk harimau (Panthera tigris sondaica) di Tatar
Sunda. Inilah binatang yang paling magis dan mistis di kawasan ini.
Tahun 1960-an di Pameungpeuk-Garut, setiap bulan Maulid, selalu saja
ada yang kawenehan, melihat hal yang tak biasanya, melihat tentara
berkepala harimau berbaris melintas menuju ke selatan. Dan, siapa pun
yang kawenehan-nya, tempat berjalannya tentara harimau itu selalu
sama, dibelokkan dari arah Kaumkaler menuju Alun-alun.

Padahal, dalam kenyataannya, ke arah utara dari belokan itu adalah Ci
Palebuh, sungai yang membelah kawasan ini. Konon, itulah tentara yang
berubah wujud menjadi harimau yang sedang bergerak menuju Cagar Alam
Leuweung Sancang. Di Kecamatan Pameungpeuk, cerita maung tak ada
habisnya. Masih pada bulan Maulud, sering ditemukan bekas kuku harimau
yang mencakar-cakar dinding. Dan, bila terjadi hujan poyan, hujan
gerimis berganti terang, masyarakat di sana selalu memandang ke arah
Gunung Nagara. Di sanalah harimau putih berjemur bila hujan gerimis
telah reda. Tentu, siapa pun orangnya, tak kuasa melanggar aturan
lisan untuk mengucapkan nama binatang ini malam hari, maka banyak
padanan kata bila terpaksa harus menceritakan binatang ini.

Bila ada yang kasurupan, kemasukan roh halus, biasanya diawali dengan
ngaharegem, menggeram dengan gaya seperti yang akan menerkam, dengan
jari-jemarinya yang kaku seperti akan mencakar.

Masih di tahun 1960-an, kendaraan yang kemalaman di sekitar
Gununggelap, jalan antara Cikajang-Pameungpeuk-Garut, sering melihat
si belang melintas jalan. Kini, tahun 2008, kawasan itu sudah terang
benderang. Hutanhujan tropis telah berganti menjadi kebun sayur.
Karpet hijau perkebunan teh, di lereng-lerengnya yang curam, telah
berubah menjadi garis-garis pematang tanah yang memotong garis
ketinggian, berubah menjadi kebun sayur pula.

Ketika manusia belum serakah lahan seperti saat ini, ketika masyarakat
masih menjaga tata lingkungan dengan baik, membiarkan hutan berjalan
sesuai fungsi, maka keberadaannya dapat menopang kehidupan seisi hutan
dan masyarakat yang ada di luarnya. Air terkendali hadirnya, cur-cor
walau di musim kemarau.

**

Di Bandung pun ada nama tempat Ciharegem (e diucapkan seperti menyebut
emas) dan Cimaung. Ini menunjukkan di kawasan ini sering terdengar
haregem, geraman harimau yang menggetarkan bulu roma. Bila yang hadir
hanya haregem-nya, yang terdengar hanya suaranya, kawasan itu dinamai
Ciharegem. Sangat mungkin suara itu datang dari harimau dari Gunung
Palasari, Gunung Manglayang atau dari Bukit Tunggul.

Sedangkan di Cimaung, atau Cimacan, maung dan macannya sering turun
gunung, jalan-jalan ke sekitar kampung yang pada awalnya kawasan itu
memang daerah jelajahnya. Di kawasan itu masyarakat sering menyaksikan
hewan jenis kucing besar ini.

Di Ciamis ada nama tempat Sadapaingan. Apakah ini berhubungan juga
dengan harimau? Ketika pagi hari di kandang hewan hanya tersisa darah
ternak yang berceceran, barulah masyarakat menghubungkan dengan suara
tadi malam. Paingan, pantas ada ternak yang hilang tinggal ceceran
darah karena tadi malam ada suaranya, suara harimau.

Harimau mampu berenang tanpa henti sejauh 5 km dengan warnanya yang
terang. Badannya sedikit lebih besar dari harimau Sumatra. Karena
perburuan yang yang tak terbatas, hewan ini mengalami nasib yang
tragis. Dijebak dengan berbagai cara, untuk berbagai kepentingan,
mulai sebagai tontonan pertunjukan dan pajangan di rumah-rumah, sama
jahatnya.

Dalam laporan Thomas Stanford Raffles, seperti tertulis dalam buku
"The History of Java", harimau banyak ditangkap untuk kesenangan
raja,
menjadi tontonan, diadu dengan kerbau. Secara rinci Raffles
menguraikan tontonan ini, dan bagaimana agar kerbau dan harimaunya
menjadi beringas dan terangsang untuk saling menyerang. Selain diadu
dengan kerbau, harimau pun sengaja diadu dengan tahanan yang bersedia
untuk diadu, dan ada tahanan yang mampu mengalahkan harimau, sehingga
tahanan itu dapat pengampunan, direhabilitasi namanya, dan
popularitasnya naik. Dalam setiap tontonan ini harimau mati
mengenaskan demi memuaskan raja-raja saat itu.

Ketika ada anjuran agar setiap provinsi, kota dan kabupaten mempunyai
tumbuhan dan hewan yang menjadi simbol daerah, Jawa Barat agak
kebingungan untuk menentukannya, terutama setelah badak menjadi hewan
dari Provinsi Banten. Akhirnya macan tutul (Panthera pardus sondaicus)
menjadi pilihan, karena Panthera tigris sondaica sudah musnah.

Penetapan hewan ini sesungguhnya mempunyai konsekuensi yang serius,
bagaimana agar macan tutul tetap adanya. Salah satu caranya adalah
menjaga hutan tetap menjadi hutan alam yang cukup untuk hidupnya.
Salah satu tempat di Cekungan Bandung yang menjadi habitat macan tutul
adalah Gunung Patuha. Oleh karena itu, keutuhan hutan hujan tropis di
Gunung Patuha yang terus menipis terseret hutan produksi dan kebun
sayur, perlu secara sungguh-sungguh dipertahankan keberadaannya.

Usaha ini untuk menjaga fungsi ekologisnya, mengatur dan menjaga
pasokan air ke dalam bumi, dan sebagai rumah berbagai tumbuhan dan
binatang khas Jawa Barat yang masih tersisa.

Alih fungsi hutan mempunyai andil yang sangat besar dalam memusnahkan
maung lodaya (Panthera tigris sondaicus), dan mendesak habitat macan
tutul yang saat ini jumlahnya terus berkurang, sehingga menjadi sangat
langka dan terancam punah.

Macan tutul termasuk keluarga felidae. Panjang tubuh hewan karnivora
ini antara 1-2 meter dengan berat badan 30-70 kg. Corak bulunya yang
kuning mendekati jingga dengan bintik-bintik hitam berpola rossete
(kotak) di hampir seluruh bagian tubuhnya merupakan ciri khas yang
menonjol dari kucing besar ini.

Macan tutul dapat kawin sepanjang tahun, sehingga dalam setahun dapat
melahirkan 2-3 ekor anak. Namun sayang, tingkat kematiannya juga
tinggi. Habitatnya perlu dijaga karena penghuni hutan lainnya dapat
menjadi sumber makanannya, seperti monyet, kera, rusa, dan mamalia
lain.

Cara berburunya sangat efektif, diawali dengan bersembunyi di
semak-semak sebelum mangsanya datang. Binatang buruannya itu disergap
dengan cara ditekuk (digigit bagian lehernya dari belakang), sampai
mangsanya lumpuh lalu dimakan di atas pohon.

Menjaga keberadaan macan tutul dan binatang lainnya adalah dengan cara
menjaga hutan hujan tropis tempat hidupnya. Tanpa usaha itu, macan
tutul sebagai simbol fauna Jawa Barat tak akan mempunyai arti apa-apa,
sekadar dikenang sebagai nama tempat, Ciharegem, Cimacan, atau
Cimaung. (T. Bachtiar, anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan
Kelompok Riset Cekungan Bandung)***

Cita:
http://newspaper.pikiran-rakyat.co.id/prprint.php?mib=beritadetail&id=34923

------------------------------------

Yahoo! Groups Links






      

Kirim email ke