--- On Wed, 12/10/08, KAsep <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: KAsep <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [Baraya_Sunda] Bangkitkan Kembali Etos Sunda
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Date: Wednesday, December 10, 2008, 9:21 AM
Bangkitkan Kembali Etos Sunda
Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban
di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni
Kerajaan Tarumanegara. Sejak dari awal hingga kini, budaya Sunda terbentuk
sebagai satu budaya luhur di Indonesia. Namun, modernisasi dan masuknya
budaya barat lambat laun mengikis keluhuran budaya Sunda, yang membentuk
etos dan watak manusia Sunda.
Lantas bagaimana etos dan watak manusia Sunda dewasa ini, serta arah budaya
Sunda ke depan? Wartawan Jurnal Bogor, Julvahmi mewawancarai Budayawan
Sunda, Eman Sulaeman. Berikut petikannya.
1. Sebelum berbicara dalam, bisa Anda jelaskan apa arti dari kata Sunda?
Sebenarnya arti kata Sunda sendiri sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang,
putih, atau bersih. Makna dari kata Sunda itu tak hanya ditampilkan dalam
penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Karena itu, orang Sunda yang
'nyunda' perlu memiliki hati yang luhur pula. Itulah yang perlu dipahami
bila mencintai, sekaligus bangga terhadap budaya Sunda yang dimilikinya.
2. Pemahaman seperti itu sering kali tergerus budaya asing. Bagaimana Anda
menyikapi fenomena tersebut?
Setiap bangsa memiliki etos, kultur, dan budaya yang berbeda. Namun tidaklah
heran jika ada bangsa yang berhasrat menanamkan etos budayanya kepada bangsa
lain. Karena beranggapan, bahwa etos dan kultur budaya memiliki kelebihan.
Kecenderungan ini terlihat pada etos dan kultur budaya bangsa kita, karena
dalam beberapa dekade telah terimbas oleh budaya bangsa lain. Arus
modernisasi menggempur budaya nasional yang menjadi jati diri bangsa. Budaya
nasional kini terlihat sangat kuno, bahkan ada generasi muda yang malu
mempelajarinya. Kemampuan menguasai kesenian tradisional dianggap tak
bermanfaat. Rasa bangsa kian terkikis, karena budaya bangsa lain lebih
terlihat menyilaukan. Kondisi memprihatinkan ini juga terjadi pada budaya
Sunda, sehingga orang Sunda kehilangan jati dirinya.
3. Lalu langkah apa yang perlu diambil guna menghadapi keterpurukan
tersebut?
Untuk menghadapi keterpurukan kebudayaan Sunda, ada baiknya kita melangkah
ke belakang dulu. Mempelajari, dan mengumpulkan pasir mutiara yang
berserakan selama ini. Banyak petuah bijak dan khazanah ucapan nenek moyang
jadi berkarat, akibat tidak pernah tersentuh pemiliknya. Hal ini disebabkan
keengganan untuk mempelajari dengan seksama, bahkan mereka beranggapan
ketinggalan zaman. Bila dipelajari, sebenarnya pancaran etika moral Sunda
memiliki khazanah hikmah yang luar biasa. Hal itu terproyeksikan lewat
tradisinya. Karena itu, marilah kita kenali kembali, dan menguak beberapa
butir peninggalan nenek moyang Sunda yang hampir.
4. Bisa dijelaskan secara rinci apa yang dimaksud etos dan watak Sunda?
Ada beberapa etos atau watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju
keutamaan hidup. Selain itu, etos dan watak Sunda juga dapat menjadi bekal
keselamatan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Etos dan watak Sunda
itu ada lima, yakni cageur, bageur, bener, singer, dan pinter yang sudah
lahir sekitar abad 17 hingga 19 Masehi. Ada bentuk lain ucapan sesepuh Sunda
yang lahir pada abad tersebut. Lima kata itu diyakini mampu menghadapi
keterpurukan akibat penjajahan pada zaman itu. Coba kita resapi pelita
kehidupan lewat lima kata itu. Semua ini sebagai dasar utama urang Sunda
yang hidupnya harus 'nyunda', termasuk para pemimpin bangsa.
5. Lantas bagaimana meresapi lima kata yang terkandung dalam etos dan watak
Sunda?
Cara meresapinya dengan memahami artinya. Cageur, yakni harus sehat jasmani
dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat
moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat
suudzonisme. Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi
pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak
emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan,
bukan hanya dibaca atau diucapkan saja. Bener yaitu tidak bohong, tidak
asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan
agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi
timbangan, dan tidak merusak alam. Singer, yaitu penuh mawas diri bukan
was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum
pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak
cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya. Pinter, yaitu
pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas
jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai
menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah
pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan
orang lain.
6. Anda cukup aktif sebagai aktor sejak 1967, apakah etos dan watak Sunda
tersebut terapkan dalam meresapi peran-peran Anda di layar kaca? Lantas apa
pengalaman Anda paling berkesan?
Tentu, etos dan watak Sunda saya gunakan untuk menghayati peran, apalagi
saya banyak memerankan seorang yang bijak dan bersahaja. Selain itu, saya
juga banyak memerankan tokoh yang memiliki citra positif. Pengalaman itu
sangat membuat saya terkesan, setiap peran menggoreskan kenangan di hati
saya.
7. Apa pelajaran yang bisa Anda petik dari setiap peran yang Anda bawakan?
Saya memahami banyak falsafah kehidupan dari setiap peran yang saya bawakan.
Sebab, setiap cerita tentunya memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada
pemirsa. Secara tidak langsung, saya juga memahami pesan tersebut. Guna
mengasah kemampuan, saya juga sempat menulis skenario.
8. Sebagai budayawan Sunda, apa obsesi yang ingin Anda wujudkan?
Selain membuat film tentang kebudayaan Sunda, saya juga ingin mengembangkan
budaya Sunda melalui Yayasan Hanjuang Bodas yang saya ketuai. Saya
berkeinginan untuk mengadakan kursus mengenai kesenian tradisional, mulai
dari dalang, sinden, teater rakyat. Itu diyakini mampu menjadi salah satu
upaya melestarikan budaya Sunda.
9. Kini Anda tengah mengikuti Kongres Kebudayaan, apa pesan yang ingin Anda
sampaikan sebagai budayawan Sunda dari Kota Bogor?
Ada sepuluh orang yang menjadi delegasi dalam perhelatan akbar tersebut.
Dalam berbagai kesempatan, saya ingin menyampaikan bahwa Kota Bogor sangat
kaya dengan peninggalan sejarah. Situs yang memiliki nilai budaya pun banyak
terdapat di Kota Bogor.
Biodata
Nama : Eman Sulaeman
Jabatan : Ketua Yayasan Hanjuang Bodas
Tempat Tanggal Lahir : Bogor, 21 Maret 1937
Alamat : Bantar Kemang, Kota Bogor
Nama Istri : Etty Sukaeti
Nama Anak : Roosliana
Widiasi
Ayi Kania
Pendidikan
1. SR Pasar Anyar
2. STP Bogor
3. STM, Jurusan Mesin
Sumber: http://www.jurnalbo gor.com/? p=3067
[Non-text portions of this message have been removed]