LERES TAH cariosan teh....tapi mangga ku Kang Abbas heula....kumaha diri urang anu Sunda teh ulah waka ka Mang AYIP.... tapi langsng bae ka DIRI URANG heula... sakumaha ageungna Sunda anu janteng indung oge nu janten Bali geusdan ngajadi teh ... naha tos diteuleuman... upami aya ide tea mah ti Kang ABBAS mangga alungkeun di dieu sing jentre ngarah sadayana silih asah tur silih wawangi ...... Da ari ngalungkeun wungkul kahandeu-eul tur ngritik anu teu didadasar ku informasi aktual mah .... taya tuntungna geuning.
Kritik teh apa tiasa ku ngalungkeun hiji permasalahan tapi aya alasanana; oge tiasa ngalungkeun artikel anu tiasa kaaos ku sadayana..... sanes kritik males kritik hungkul. kitu pan..... mending alalakur lah ka papada SUNDA langkung tumaninah... urang sami ngalelempeng tuur ka batur salembur geura...ngarah teu cape nikreuhkeunana AMBU ________________________________ From: Abbas Amin <[EMAIL PROTECTED]> To: [email protected] Sent: Thursday, December 11, 2008 10:00:20 AM Subject: Re: [kisunda] Fw: [Baraya_Sunda] Bangkitkan Kembali Etos Sunda AA: Saleresna mah memeh mapatahan, atawa mere sumanget ka batur pikeun kasundaan, kudu ka diri heula. Mun urang rek majukeun SUNDA nya ku BASA Sunda heula atuh. Ulah Basa Indon. Kapan teu sinkron tah. Cek Ayip Rosidi : Basa nunjukeun Bangsa !!! Mun Bsa Sunda leungit; hartina Bangsa Sunda ge bakal TILEM. Lalaunana tapi pasti tea. Abbas Amin --- On Thu, 12/11/08, Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED] com> wrote: From: Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED] com> Subject: [kisunda] Fw: [Baraya_Sunda] Bangkitkan Kembali Etos Sunda To: [EMAIL PROTECTED] .com Date: Thursday, December 11, 2008, 2:18 AM --- On Wed, 12/10/08, KAsep <[EMAIL PROTECTED] com.sg> wrote: From: KAsep <[EMAIL PROTECTED] com.sg> Subject: [Baraya_Sunda] Bangkitkan Kembali Etos Sunda To: Baraya_Sunda@ yahoogroups. com, [EMAIL PROTECTED] com Date: Wednesday, December 10, 2008, 9:21 AM Bangkitkan Kembali Etos Sunda Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Tarumanegara. Sejak dari awal hingga kini, budaya Sunda terbentuk sebagai satu budaya luhur di Indonesia. Namun, modernisasi dan masuknya budaya barat lambat laun mengikis keluhuran budaya Sunda, yang membentuk etos dan watak manusia Sunda. Lantas bagaimana etos dan watak manusia Sunda dewasa ini, serta arah budaya Sunda ke depan? Wartawan Jurnal Bogor, Julvahmi mewawancarai Budayawan Sunda, Eman Sulaeman. Berikut petikannya. 1. Sebelum berbicara dalam, bisa Anda jelaskan apa arti dari kata Sunda? Sebenarnya arti kata Sunda sendiri sangat luhur, yakni cahaya, cemerlang, putih, atau bersih. Makna dari kata Sunda itu tak hanya ditampilkan dalam penampilan, tapi juga didalami dalam hati. Karena itu, orang Sunda yang 'nyunda' perlu memiliki hati yang luhur pula. Itulah yang perlu dipahami bila mencintai, sekaligus bangga terhadap budaya Sunda yang dimilikinya. 2. Pemahaman seperti itu sering kali tergerus budaya asing. Bagaimana Anda menyikapi fenomena tersebut? Setiap bangsa memiliki etos, kultur, dan budaya yang berbeda. Namun tidaklah heran jika ada bangsa yang berhasrat menanamkan etos budayanya kepada bangsa lain. Karena beranggapan, bahwa etos dan kultur budaya memiliki kelebihan. Kecenderungan ini terlihat pada etos dan kultur budaya bangsa kita, karena dalam beberapa dekade telah terimbas oleh budaya bangsa lain. Arus modernisasi menggempur budaya nasional yang menjadi jati diri bangsa. Budaya nasional kini terlihat sangat kuno, bahkan ada generasi muda yang malu mempelajarinya. Kemampuan menguasai kesenian tradisional dianggap tak bermanfaat. Rasa bangsa kian terkikis, karena budaya bangsa lain lebih terlihat menyilaukan. Kondisi memprihatinkan ini juga terjadi pada budaya Sunda, sehingga orang Sunda kehilangan jati dirinya. 3. Lalu langkah apa yang perlu diambil guna menghadapi keterpurukan tersebut? Untuk menghadapi keterpurukan kebudayaan Sunda, ada baiknya kita melangkah ke belakang dulu. Mempelajari, dan mengumpulkan pasir mutiara yang berserakan selama ini. Banyak petuah bijak dan khazanah ucapan nenek moyang jadi berkarat, akibat tidak pernah tersentuh pemiliknya. Hal ini disebabkan keengganan untuk mempelajari dengan seksama, bahkan mereka beranggapan ketinggalan zaman. Bila dipelajari, sebenarnya pancaran etika moral Sunda memiliki khazanah hikmah yang luar biasa. Hal itu terproyeksikan lewat tradisinya. Karena itu, marilah kita kenali kembali, dan menguak beberapa butir peninggalan nenek moyang Sunda yang hampir. 4. Bisa dijelaskan secara rinci apa yang dimaksud etos dan watak Sunda? Ada beberapa etos atau watak dalam budaya Sunda tentang satu jalan menuju keutamaan hidup. Selain itu, etos dan watak Sunda juga dapat menjadi bekal keselamatan dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Etos dan watak Sunda itu ada lima, yakni cageur, bageur, bener, singer, dan pinter yang sudah lahir sekitar abad 17 hingga 19 Masehi. Ada bentuk lain ucapan sesepuh Sunda yang lahir pada abad tersebut. Lima kata itu diyakini mampu menghadapi keterpurukan akibat penjajahan pada zaman itu. Coba kita resapi pelita kehidupan lewat lima kata itu. Semua ini sebagai dasar utama urang Sunda yang hidupnya harus 'nyunda', termasuk para pemimpin bangsa. 5. Lantas bagaimana meresapi lima kata yang terkandung dalam etos dan watak Sunda? Cara meresapinya dengan memahami artinya. Cageur, yakni harus sehat jasmani dan rohani, sehat berpikir, sehat berpendapat, sehat lahir dan batin, sehat moral, sehat berbuat dan bertindak, sehat berprasangka atau menjauhkan sifat suudzonisme. Bageur yaitu baik hati, sayang kepada sesama, banyak memberi pendapat dan kaidah moril terpuji ataupun materi, tidak pelit, tidak emosional, baik hati, penolong dan ikhlas menjalankan serta mengamalkan, bukan hanya dibaca atau diucapkan saja. Bener yaitu tidak bohong, tidak asal-asalan dalam mengerjakan tugas pekerjaan, amanah, lurus menjalankan agama, benar dalam memimpin, berdagang, tidak memalsu atau mengurangi timbangan, dan tidak merusak alam. Singer, yaitu penuh mawas diri bukan was-was, mengerti pada setiap tugas, mendahulukan orang lain sebelum pribadi, pandai menghargai pendapat yang lain, penuh kasih sayang, tidak cepat marah jika dikritik tetapi diresapi makna esensinya. Pinter, yaitu pandai ilmu dunia dan akhirat, mengerti ilmu agama sampai ke dasarnya, luas jangkauan ilmu dunia dan akhirat walau berbeda keyakinan, pandai menyesuaikan diri dengan sesama, pandai mengemukakan dan membereskan masalah pelik dengan bijaksana, dan tidak merasa pintar sendiri sambil menyudutkan orang lain. 6. Anda cukup aktif sebagai aktor sejak 1967, apakah etos dan watak Sunda tersebut terapkan dalam meresapi peran-peran Anda di layar kaca? Lantas apa pengalaman Anda paling berkesan? Tentu, etos dan watak Sunda saya gunakan untuk menghayati peran, apalagi saya banyak memerankan seorang yang bijak dan bersahaja. Selain itu, saya juga banyak memerankan tokoh yang memiliki citra positif. Pengalaman itu sangat membuat saya terkesan, setiap peran menggoreskan kenangan di hati saya. 7. Apa pelajaran yang bisa Anda petik dari setiap peran yang Anda bawakan? Saya memahami banyak falsafah kehidupan dari setiap peran yang saya bawakan. Sebab, setiap cerita tentunya memiliki pesan yang ingin disampaikan kepada pemirsa. Secara tidak langsung, saya juga memahami pesan tersebut. Guna mengasah kemampuan, saya juga sempat menulis skenario. 8. Sebagai budayawan Sunda, apa obsesi yang ingin Anda wujudkan? Selain membuat film tentang kebudayaan Sunda, saya juga ingin mengembangkan budaya Sunda melalui Yayasan Hanjuang Bodas yang saya ketuai. Saya berkeinginan untuk mengadakan kursus mengenai kesenian tradisional, mulai dari dalang, sinden, teater rakyat. Itu diyakini mampu menjadi salah satu upaya melestarikan budaya Sunda. 9. Kini Anda tengah mengikuti Kongres Kebudayaan, apa pesan yang ingin Anda sampaikan sebagai budayawan Sunda dari Kota Bogor? Ada sepuluh orang yang menjadi delegasi dalam perhelatan akbar tersebut. Dalam berbagai kesempatan, saya ingin menyampaikan bahwa Kota Bogor sangat kaya dengan peninggalan sejarah. Situs yang memiliki nilai budaya pun banyak terdapat di Kota Bogor. Biodata Nama : Eman Sulaeman Jabatan : Ketua Yayasan Hanjuang Bodas Tempat Tanggal Lahir : Bogor, 21 Maret 1937 Alamat : Bantar Kemang, Kota Bogor Nama Istri : Etty Sukaeti Nama Anak : Roosliana Widiasi Ayi Kania Pendidikan 1. SR Pasar Anyar 2. STP Bogor 3. STM, Jurusan Mesin Sumber: http://www.jurnalbo gor.com/? p=3067 [Non-text portions of this message have been removed]
