Sae ieu seratan teh; ieu ngagambarkeun kumaha Budaya Sunda nyerep Budaya Islam; 
di hiji daerah. Atawa Kawajiban Islam tetep jalan; kabudayaan luluhur oge 
jalan, bari teu saling ngaganggu sareng
teu ngaganggu.

Mung.............   Upami kapendak ku Golongan Wahabbi; tangtos
diharamkeunana, disebatna sueuer khurafat sareng pasirikan. Heheheh

--- In [email protected], mh <khs...@...> wrote:
>
> Munggahan Masyarakat Kampung Naga
> 
> Suasana hiruk pikuk mengiringi antrean ibu-ibu dan sebagian remaja putri
> yang menggendong serta menyodorkan boboko berisi tumpeng sambil berdesakkan
> di depan pintu dan jendela masjid. Ibu-ibu dan remaja putri tersebut
> sebagian masuk dan duduk di belakang ruangan masjid, sementara mereka yang
> tidak mendapat tempat duduk menyodorkan boboko berisi tumpeng melalui
> jendela, yang diterima oleh laki-laki yang sudah berada di dalam masjid.
> 
> Tumpeng itu disimpan dan dijajarkan dengan rapi di tengah ruangan masjid,
> dikelilingi oleh masyarakat adat Kampung Naga (khususnya kaum laki-laki yang
> duduk tertib bersila), untuk "didoakan/diberkahi" oleh pemangku adat
> (kuncén), dan tokoh adat.
> 
> Sungguh pemandangan sangat langka terjadi di era kasajagatan saat ini.
> Sebelum mengantre di depan masjid, para ibu bergerombol duduk-duduk di
> golodog sepanjang rumah di sekitar masjid, sementara iringan para ibu,
> remaja putri, dan anak-anak lainnya (warga Sanaga) berduyun-duyun sambil
> membawa dan menggendong aisan boboko berisi tumpeng, berjalan menuju
> rumah-rumah yang golodog-nya masih kosong untuk menunggu saatnya memasukkan
> tumpeng ke dalam masjid. Keadaan dan suasana seperti itu terjadi saat
> upacara "Hajat Sasih Ruwahan" atau munggahan bagi masyarakat Kampung Naga.
> 
> **
> 
> Tradisi ruwahan atau munggahan yang dikenal dan dilaksanakan oleh masyarakat
> adat Kampung Naga berkelindan erat dengan datangnya bulan suci Ramadan yang
> penuh berkah. Tradisi yang digelar setiap tahun, pada dasarnya serupa dengan
> upacara lainnya di beberapa tempat. Maka dari itu, pelaksanaannya pun hampir
> sama, meskipun ada beberapa perbedaan khas di setiap tempatnya.
> 
> Upacara "Hajat Sasih Ruwahan/munggahan" diperingati oleh masyarakat adat
> Kampung Naga pada Senin, 26 Juli 2010 (14 Ruwah 1431 H) lalu. Hal ini
> disesuaikan dengan kalender masyarakat Kampung Naga serta berkaitan dengan
> adanya tabu dalam tradisi kehidupan mereka yang jatuh pada setiap hari
> Selasa, Rabu, dan Sabtu. Tabu merupakan upaya introspeksi diri. Karena itu,
> pelaksanaannya tidak boleh terganggu oleh kegiatan lainnya, bahkan untuk
> melakukan upacara ritus sekalipun. Dalam arti, jika acara ritus tersebut
> waktunya bersamaan dengan waktu tabu, maka pelaksanaan upacara ritus harus
> diundur atau dimajukan.
> 
> "Hajat Sasih Ruwahan" termasuk upacara ritus terbesar bagi Masyarakat
> Kampung Naga. Semua warga menyambutnya menurut adat dan tradisi mereka. Saat
> "hajat sasih" berlangsung, Kampung Naga berubah menjadi sangat ramai dan
> semarak, berbeda dari hari-hari biasa. Semua warga Kampung Naga, mengikuti
> upacara "hajat sasih" ini, termasuk warga Sanaga (seuweu siwi/keturunan
> Kampung Naga) yang berada di luar Kampung Naga, seperti Bandung, Jakarta,
> Bogor, dan daerah lainnya,
> 
> Waktu penyelenggaraan upacara ritus "hajat sasih" di Kampung Naga selain
> ruwahan yang digelar setiap tahun secara tetap, ada lima "hajat sasih"
> lainnya yang berlangsung setiap dua bulan sekali, dengan waktu yang sudah
> ditentukan, dan tidak boleh diubah. Alternatif waktu penyelenggaraan keenam
> "hajat sasih" adalah sebagai berikut: a. Tanggal 26, 27, atau 28 Muharam; b.
> Tanggal 12, 13, atau 14 Maulud; c. Tanggal 16, 17, atau 18 Jumadil Akhir; d.
> Tanggal 14, 15, atau 16 Ruwah; e. Tanggal 1, 2, atau 3 Syawal; e. Tanggal
> 10, 11, atau 12 Rayagung. Jadwal tiga hari tersebut, bukan berarti bahwa
> upacara "hajat sasih" digelar selama tiga hari berturut-turut, namun hanya
> alternatif semata, karena acara "hajat sasih" hanya dilaksanakan satu hari.
> 
> **
> 
> Upacara ritus "Hajat Sasih Ruwahan", secara garis besar diawali dengan
> beberesih, yang dilakukan (khusus laki-laki) dengan cara mandi secara
> bersama-sama di Sungai Ciwulan. Beberesih artinya membersihkan diri, yang
> mengandung makna bukan hanya membersihkan jasmani (fisik) namun juga
> membersihkan rohani (jiwa) dari berbagai anasir jahat yang menempel dan
> mengotori tubuh serta jiwa.
> 
> Kegiatan beberesih ditandai dengan isyarat melalui bunyi kentongan atau
> kohkol di masjid. Mendengar bunyi kentongan tersebut, warga Kampung Naga
> yang akan berziarah, secara hampir bersamaan keluar rumah menuju lokasi yang
> sudah ditentukan di pinggir Sungai Ciwulan. Ada yang berkerudung kain
> sarung, namun ada juga yang bertelanjang dada. Mereka beriringan tanpa
> diperbolehkan menggunakan alas kaki, menyusuri jalan setapak, tampak
> membentuk barisan panjang.
> 
> Kedatangan kuncén tanda dimulainya upacara beberesih, mereka mulai turun ke
> sungai, dengan tangan memegang sebuku bambu dengan lubang kecil, tempat
> memasukkan dan mengeluarkan leuleueur (pelicin), berupa ramuan terbuat dari
> akar pohon kapirit atau honje. Air ramuan itu dibagikan kepada peserta
> beberesih sebagai pengganti pembersih rambut/sampo, apabila bersisa, mereka
> jadikan alat pembersih badan, lalu dibilas dengan cara berendam selama
> beberapa saat di Sungai Ciwulan.
> 
> Usai beberesih, mereka kembali ke rumah masing-masing untuk berganti
> pakaian, berupa baju jubah panjang, umumnya berwarna putih tulang sebatas
> betis, dengan bagian depan dibiarkan terbuka dan kain sarung dilengkapi
> tutup kepala yang disebut totopong, atau iket kepala khas masyarakat Kampung
> Naga.
> 
> Kegiatan beberesih dilanjutkan dengan berziarah ke makam leluhur masyarakat
> Kampung Naga. Mereka percaya bahwa leluhur atau karuhun mereka adalah Sembah
> Dalem Eyang Singaparana yang dimakamkan di leuweung larangan, bukit kecil,
> di sebelah selatan permukiman mereka/hutan tutupan yang tidak boleh
> sembarangan dikunjungi.
> 
> Hutan tutupan berpohon lebat dan udaranya sejuk. Di leuweung larangan juga
> terdapat dua makam lainnya, yang dipercaya sebagai makam para pengawal
> setianya. Usai berziarah, mereka melakukan doa syukur bersama. Para peziarah
> yang hendak mengunjungi leluhur yang sangat dihormatinya tersebut, harus
> memenuhi beberapa ketentuan, yakni mendapat izin dari kuncén sebagai
> pemangku adat masyarakat Kampung Naga, ziarah hanya boleh dilakukan oleh
> kaum laki-laki dan belum pernah menunaikan ibadah haji disertai hati yang
> bersih. Itu sebabnya, para peziarah diwajibkan beberesih dulu sebelum
> berziarah ke makam Sembah Dalem Eyang Singaparana.
> 
> Upacara dimulai setelah kuncen menyimpan sesajen di Bumi Ageung, lalu menuju
> makam. Satu persatu peziarah mengikuti kuncén, seraya membawa seikat sapu
> lidi panjang sebagai salah satu peralatan untuk membersihkan makam. Puluhan
> bahkan ratusan peziarah laki-laki dewasa Kampung Naga, berjalan beriringan
> menyusuri jalan setapak menuju leuweung larangan.
> 
> Konon, menurut sumber yang dapat dipercaya (karena penulis seorang
> perempuan, maka tidak diperkenankan ziarah), begitu sampai di depan makam,
> kuncén memimpin rombongan para peziarah untuk berhenti sejenak, memberi
> penghormatan kepada makam leluhurnya. Kuncén melakukan unjuk-unjuk atau
> sanduk-sanduk, memberitahukan bahwa saat itu seuweu siwi (keturunan/anak
> cucu) Naga sudah berkumpul dan menyampaikan maksud serta tujuannya menggelar
> "Hajat Sasih Ruwahan" menjelang bulan suci Ramadan.
> 
> Masyarakat Kampung Naga berdoa, semoga di bulan Ramadan yang penuh berkah
> dan penuh ampunan tersebut diberi kekuatan, keselamatan, dan rijki yang
> cukup. Selain itu, kuncén juga menyampaikan permohonan maafnya kalau-kalau
> ada tradisi yang terlupakan atau dilanggar oleh masyarakat Kampung Naga.
> Tidak lupa kuncén menyampaikan sesajen, sekedar perwujudan kepatuhan para
> seuweu siwi Kampung Naga terhadap leluhurnya.
> 
> Acara dilanjutkan dengan membersihkan sampah dan kotoran lainnya yang
> berserakan di sekitar makam. Usai bersih-bersih, peziarah dengan tertib
> duduk bersila di atas tanah leluhurnya, dan secara bergiliran menyampaikan
> niat dan tujuan mereka masing-masing.
> 
> Upacara ziarah ke makan Sembah Dalem Eyang Singaparana berlangsung sampai
> menjelang zuhur. Usai berziarah, satu persatu peziarah meninggalkan makam,
> membentuk barisan panjang dengan sapu lidi di pundaknya masing-masing, yang
> diakhiri oleh kuncén. Selanjutnya, mereka berwudu untuk melaksanakan salat
> zuhur secara berjamaah.
> 
> **
> 
> Upacara ritus "Hajat Sasih Ruwahan" melibatkan kaum perempuan, terutama
> dalam hal mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk pembuatan nasi tumpeng
> berikut lauk pauknya. Seusai para suami mereka melaksanakan salat Zuhur
> berjamaah, nasi tumpeng berwarna putih, yang di dalamnya berisi parutan
> kelapa berwarna kuning (menggunakan konéng, teri, dan lain-lain) berikut
> lauk pauk, seperti: ayam atau bakakak, ikan mas, tempe, sambal goreng
> kentang, gorengan suuk beserta sambel bangar khas Kampung Naga (yang sangat
> lezat) disertai tumis terong pait dan lalaban, sesuai dengan kemampuan yang
> dimilikinya, yang sudah dipersiapkan di dalam boboko, diantarkan ke masjid.
> Semua hidangan tersebut sebagai ungkapan rasa syukur, dan tidak boleh
> dijamah atau dimakan sebelum diberkati dalam doa syukur bersama.
> 
> Bertempat di masjid, doa syukur diawali dengan kedatangan dua orang wanita
> patunggon, yang bertugas sebagai penunggu Bumi Ageung. Kedua wanita tengah
> baya itu mengantarkan kendi berisi air cikahuripan. Mereka maju dan bergerak
> dengan cara ngagésor.
> 
> Setibanya di hadapan kuncén dan para sesepuh, mereka menghaturkan sembah
> sambil menyampaikan unjuk-unjuk. Setelah itu, kedua patunggon tersebut
> kembali ke tempat semula. Kegiatan syukuran dilaksanakan sebagai ungkapan
> kegembiraan dan rasa syukur mereka kepada leluhurnya, juga ucapan terima
> kasih atas rijki dan karunia yang mereka dapatkan selama ini dan pada saat
> puasa nanti. Sebagai penganut agama Islam, tentu saja ungkapan tersebut
> secara khusus disampaikan kepada Allah SWT, sebagaimana terungkap dalam
> doa-doa yang disampaikannya, baik oleh kuncén maupun amil. Dengan segala
> kerendahan hati, mereka memanjatkan doa untuk keselamatan dan kesejahteraan
> seluruh anggota masyarakat Naga dan Sanaga, serta daerah tempat tinggalnya.
> Mereka sadar bahwa manusia tidak memiliki kekuatan apa-apa, kecuali atas
> kehendak dan rida-Nya.
> 
> Saat doa bersama, untuk beberapa saat keadaan khidmat berlangsung di dalam
> masjid. Sementara itu, di luar masjid, para perempuan sudah bersiap-siap
> menunggu upacara tersebut usai.
> 
> Tatkala doa bersama selesai, boboko berisi nasi tumpeng dan lauk-pauknya
> segera dikembalikan kepada para pemiliknya. Seketika, keadaan di luar masjid
> menjadi ingar bingar dan riuh sekali. Para perempuan yang sedari tadi
> berdiri berdesakan menunggu di dekat jendela dan pintu masjid, berebut
> mengambil boboko.
> 
> Nasi tumpeng tersebut dibawa ke rumahnya masing-masing serta dijadikan
> santapan makan siang bersama seisi rumah, yang mereka sebut dengan istilah
> murak tumpeng (makan tumpeng bersama-sama). Ada suatu keharusan yang tidak
> boleh dilanggar, bahwa sebelum tumpeng tersebut dimakan, wajib dibugel
> (dipotong) terlebih dahulu oleh laki-laki (suami), jika suaminya tidak ada,
> harus dipotong oleh anak laki-laki.
> 
> Tradisi dan adat istiadat "Hajat Sasih Ruwahan" yang dipaparkan tersebut,
> semoga dapat menambah wawasan ilmu dan pengetahuan tentang budaya, sebagai
> warisan karuhun urang Sunda yang tentu saja harus tetap diraksa, diriksa,
> tur dimumulé oleh pewarisnya, agar tidak kehilangan ajén inajén dan jati
> dirinya. Amin. (Elis Suryani N.S., dosen, penulis, dan peneliti Universitas
> Padjadjaran.)***
> 
> web:
> http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=152461
>




------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke