aya artikel tulisan si ambu, beunang nyalin facebookna. nyanggakeun!
=========================
SUMPAH PALAPA DAN PALAGAN BUBAT
by Richadiana Kartakusuma<http://www.facebook.com/profile.php?id=1537983874>on
Wednesday, August 18, 2010 at 5:14pm

*SUMPAH PALAPA DAN PALAGAN BUBAT*

* *

Palagan BUBAT merupakanperistiwa fenomenal yang hingga kini menjadi polemik
di segenap masyarakatSunda dan Jawa, terutama tentang validitas terjadinya
peristiwa tersebut.Keraguan tersebut berpangkal kepada persepsi yang
dilontarkan kalangan pakaratas ketiadaan bukti tertulis.



Mengapa peristiwa BUBATtidak tercatat dalam dokumen prasasti baik di
Majapahit maupun di Tatar Sunda? Karena peristiwa tersebut merupakan AIB,
NODA YANG SANGAT TERCELA DAN SANGAT NISTA bagi kerajaan Adhikuasa di
Nusantara pada saat itu.



Negara Adhikuasa tersebut sebagai penguasa JATENG dan JATIM (menurut tatanan
geografis sekarang) tidakmenguasai Tatar sunda! Anggapan sebagai Majapahit
adalah negara Adhikuasa padawaktu itu diungkapkan secara resmi didalam
dokumen prasasti Tuhanyaru(Jayanagara) yang mencantumkan tatanan politik
Majapahit secara terstrukturberlandaskan kosmogoni -konsep keagamaan Hindu
Buddha yakni doktrin Brahma yang berbunyi



*"Jagat Semesta ini terdiri dari sebuah benua bernama Jambudwipa yang
berbentuk lingkaran konsentris. Diluar lautan ketujuh atau yang
terakhir,Jagat Semesta ditutup barisan pegunungan yang besar disebut
Cakrawala. Ditengah2 Jambudwipa terdapat sebuah gunung yang menjadi pusat
peredaran matahari, bulan dan bintang2. Di puncak gunung yang disebut gunung
Meru terdapat kota2 tempat tinggal para dewa dikelilingi tempat tinggal para
dewaLokapala"*

* *

Pandangan kosmogonis inilah yang mempengaruhi alam pikiran manusia yang
melahirkan konsep2 (keagamaan) tentang hubungan antara dunia manusia dan
Jagat Semesta. Antara lain terhadap kegiatan politik dan budaya, terutama
struktur dan susunan pemerintahan kerajaan2 kunadi kawasan Asia Tenggara
umumnya. Raja dan Kerajaannya dianggap sebagai mikrokosmos, gambaran nyata
dari Jagat Semesta sebagai makrokosmios. dengan demikian raja dan istananya
di ibukota adalah pusat susunan mikrokosmos tersebut. Bahwa antara dunia
manusia dan Jagat Semesta dipandang memiliki kesejajaran juga dianut
Majapahit seperti tertulis dalam prasasti Tuhanyaru(1323 M).



*Maka sebenarnya Adhikuasa dalam tatanan politik Majapahit tersebut lebih
cenderung diinterpretasi sebagai konsep simbol belaka karena ketiadaan
dokumen tertulis resmi (prasasti) yang menyebutkan tentang adanya penaklukan
terhadap negara2 diluar wilayah Majapahit tersebut. Semuanya hanya semata
dimaksudkan untuk menempatkan dengan mengatur pola tataletak strategis
negara Majapahit di dalam keberadaannya di Nusantara, apalagi ketika itu di
Aceh sudah berkembang kerajaan Islam (makam siti Maimun bintiFatimah), apa
mungkin suatu pemerintahan Islam mengakui kedaulatan kerajaan yang dianggap
musyrik, kecuali sebagai negara sahabat atau kongsi dalam kegiatan
perdagangan...*

* *

* *

Jika Majapahit kosmisnya berlandaskan doktrin Hindu-Buddha, maka jauh
berbeda dengan Tatar Sunda, pada saat itu Priangan Timur/Puseur Galuh dan
Priangan Barat/Puseur Sunda telah menyatu dalam satu Panji Kekuasaan yang
disebut GALUH-PAKWAN. Konsepnya yaitu TRI TANGTU DI BUMI (sebagaimana sejak
awal dikukuhkan oleh regalia TRISULA-prasasti Tugu). Tetapi jelas bahwa
Sunda masih tetangga dekat dalam tatanan pulau Jawa. Gajah Mada rupa2nya
terpicu untuk menyatukan pulau Jawa dalam panji kuasa bagi rajanya demi
karir poliitik pribadinya dalam kerajaan.



Lantas ia berikrar Sumpah Palapa sebagai puncak pengabdiannya, Mengapa???
Disinyalir (berdasarkan cerita rakyat) waktu itu Hayam Wuruk merupakan anak
Gajah Mada dari buah perkawinan gelap (selibat/perselingkuhan) dengan
seorang ratu Majapahit, maka itu sumpah Palapa selain hendak merealisasikan
konsep kosmogoni Tuhanyaru, juga menjunjung putra kandungnya yang pada sasat
itu sedang bertakhta, jerih payah Gajah Mada memang tidak sia2 karena pada
saat Hayam Wuruk memerintah dijuluki Sanghyang Wkas ing Sukha -simbol puncak
kejayaan Majapahit dibawah perintahHayam Wuruk-.



Alih2 Hayam Wuruk hendak mengawini putri sunda yang konon terkenal karena
kemolekannya maka lamaran Hayam Wuruk lantas diterjemahkan oleh Gajah Mada
sebagai persembahan upeti Sunda kepada Majapahit. Maka sisanya adalah
sejarah,terjadilah PALAGAN di BUBAT dan SUNDA binasa seketika... bukan
main2...PEMBANTAIAN !!!



Yang menjadi pertanyaan apakah benar Prabu Linggabhuana berani melanggar
Purbatisti dan Purbajati Sunda di dalam cara mengantarkan putrinya ke pihak
pengantin pria. Atau adakah faktor lain yang membuat beliau membuat
keputusan seperti itu. Mungkin atas dasar kenyataan bahwa ada dua penerus
sah dari tahta KERAJAAN SUNDA yang menjadi raj abesar di Jawa Tengah dan
Jawa Timur,



1. Sanjaya / RakeyanJamri / Prabu Harisdama, raja ke 2 Kerajaan Sunda (723 –
732M),

menjadi raja diKerajaan Mataram (Hindu) (732 - 760M). Ia adalah pendiri
Kerajaan Mataram Kuno,dan sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.

2. Raden Wijaya, penerussah Kerajaan Sunda ke – 27, yang lahir di Pakuan,
menjadi Raja Majapahit pertama (1293 – 1309 M),

maka sang Prabu ingin menyatukan kembali hubunganpersaudaraan diantara
mereka.



Jelas Majapahit menyeran grombongan kerajaan Sunda yang dalam keadaan tanpa
senjata dan persiapan perang ,inilah AIB KERAJAAN MAJAPAHIT yang tak
tertanggungkan -dosa besar dalam tatanan agama- maupun politik karena itu
tidak akan pernah dicantumkan di dalam KAKAWIN NAGARAKRTAGAMA oleh Mpu
Prapanca. Nagarakrtagama ditulis sebagai PUJASASTRA seorang pujangga
Prapanca dengan tujuan Moksha, maka setiap kata2 dan kalimat yang
diungkapkannya melantunkan pengabdian dan pujian tertinggi kepada Hayam
Wuruk (kala itu Raja dipandang sebagai titisan Dewa di bumi, baik pemimpin
tertinggi politik maupun pemimpin tertinggi keagamaan).



Maka yang mencantumkan peristiwa BUBAT adalah CARITA PARAHIYANGAN dan
PARARATON (karya sastra tradisi kecil karena itu lebih lugas dan gamblang
dalam bercerita tentang peristiwa bersejarah) tergolong kepada Historiografi
Tradisional dan validitasnya telah diuji secara Filologia, maka sah dipakai
sebagai sumber sejarah.



Ulah Gajah Mada sebenarnya merupakan perpanjangan tangan pamanda Hayam Wuruk
yang berjuluk BHRE WENGKER, ia berkedudukan sebagai tangan kanan
pemerintahan Hayam Wuruk padawaktu itu (keluarga sangat senior di lingkungan
istana dan sarat pengalaman ipoleksosbud) ia tidak rela tahta majapahit
bercampur Sunda, maka ia menghasut Gajah Mada (tentu saja dengan ancaman The
Red Core Gajah Mada atas perselingkuhannya) untuk membalikkan lamaran hayam
Wuruk menjadi suatu peristiwa BEJAT NISTA MEMALUKAN.



Kenyataannya Hayam Wuruk akhirnya dinikahkan dengan adik sepupunya (siapa
lagi kalau bukan putri kandung Bhre Wengker).

Disinyalir dari berbagai naskah, politik Gajah Mada memang kotor, berbagai
pemberontakan dari dalam kerajaan seperti Nambi juga Tanca sebenarnya adalah
hasutan dari Gajah Mada karena Gajah Mada sangat sebal kepada Jayanagara
yang doyan peuyeum..peuyeumpuan, ia menggunakan tabib Tanca untuk mengobati
bisul jayanagara.



Guna menghudang dendam, maka istri tabib Tanca diumpankan terlebih dahulu ke
atas ranjang Jayanagara. Lalu diundanglah tabib Tanca oleh Gajah Mada untuk
mengobati bisul Jayanagara. Akhirnya dendam lama terkuak, Jayanagara ditikam
sampai mati oleh pisau operasi tabib Tanca, sehingga yang tampak sebaga
ipesakitan adalah tabib Tanca bukan Gajah Mada.



Begitu juga Sora dan Nambi diadu domba hingga terjadi permusuhan perang
dingin berlarut2 lalu Jayanagara menitahkan menumpasnya, maka kesempatan
Gajah Mada menumpas tuntas Sora dan Nambi. Ini dia sosok Gajah Mada
sesungguhnya !!!



Setelah Palagan Bubat sang mahapatih selalu bersedih mengidap rasa
penyesalan yang tak terhingga,hidupnya serasa bergelimang dosa, apabila
malam tak dapat memejamkan matanya ,satu2nya jalan pelampiasan adalah dengan
meminum tuak hingga jatuh terkapar karena mabuk berat. Sejak itu kebesaran
namanya menjadi suram dan pudar. Akhirnya Gajah Mada meloloskan diri dari
keramaian kerajaan dan pemerintahan,pergi dan hidup menyendiri memohon
pengampunan dewata.



Sedangkan sang prabu Hayam Wuruk sangat sedih tiada tara kehilangan putri
idaman yang sudah bertahun2 menjadi idamannya, Nay Ratna Citraresmi Dyah
Pitaloka senantiasa membayang di pelupuk matanya.



*Richadiana Kadarisman Kartakusuma*

*(Epigraphyc Researcher of The National Research and Development Centre of
Archaeology)*

http://www.facebook.com/note.php?note_id=422785989474

Kirim email ke