Setiap Bulan Ramadan Ramai Dikunjungi Wisatawan Ziarah ke Makam Syekh Quro PINTU gerbang makam Syekh Quro di Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang. Syekh Quro oleh sebagian orang dipercaya sebagai penyebar agama Islam dan pendiri pesantren pertama di Pulau Jawa. Makamnya selalu ramai dikunjungi peziarah dari berbagai daerah, terutama pada bulan Ramadan.* RETNO HY/"PR"
ADA banyak anggapan bahwa bulan Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk melakukan wisata religius. Bagi yang mampu, bisa berupa umrah atau mengunjungi tempat-tempat suci di negeri yang punya kaitan erat dengan sejarah agama Islam, seperti Mesir dan Palestina. Namun, bagi sebagian orang, wisata religius biasanya dilakukan ke tempat-tempat bersejarah di tanah air, khususnya tempat para wali penyebar agama Islam. Makam Waliyullah Syekh Qurotul’ain atau lebih dikenal dengan Syekh Quro, yang terletak di Kampung Pulobata, Desa Pulokalapa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, menjadi salah satu tujuan wisata religius. "Biasanya mereka (wisatawan) datang secara khusus pada Kamis malam (malam Jumat), hari Jumat, dan Sabtu atau Sabtuan. Pada bulan Puasa seperti sekarang, hari biasa pun banyak wisatawan yang datang berkunjung," ujar Sidik, salah seorang petugas makam. Kenapa berkunjung ke makam Syekh Quro? Bukankah di Jawa Barat ini masih banyak tempat-tempat lainnya yang dapat dikunjungi? Jawabannya, Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin adalah seorang ulama besar bergelar Syekh Qurotul’ain. Almarhum dikenal sebagai seorang ulama yang arif dan bijaksana, serta termasuk salah seorang ulama yang hafiz Alquran dan ahli qiroat dengan suara sangat merdu. Menurut keterangan sebagian sumber, Syekh Quro adalah putra ulama besar Mekah, penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen bin Sayidina Ali Ra dan Siti Fatimah putri Rasulullah saw. "Jadi, sangat wajar bila wisatawan jauh-jauh berkunjung ke sini untuk berdoa dan mendapatkan berkah dari doa yang dipanjatkan," ujar Sidik. Makam Syekh Quro sendiri berada di ruang utama dalam bangunan yang sebelumnya berupa musala. Sejak dikeluarkan maklumat oleh Sunan Kanoman Cirebon, Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin dan surat pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII nomor P-062/KB/PMPJA/XII/11/1992 tanggal 5 November 1992, secara bertahap dilakukan penataan kawasan pemakaman. Bagi wisatawan baru, biasanya kesulitan sampai ke kompleks makam Syekh Quro. Selain minimnya papan penunjuk, lokasi yang berada di pedalaman Lemahabang, Karawang, juga cukup menyulitkan. Bahkan ketika sampai di lokasi, kesulitan lain bakal muncul. Selain banyaknya pengemis yang akan menghadang, tawaran para pedagang yang terus menguntit juga cukup mengganggu. Pintu gerbang berukuran kecil yang hanya mampu dimasuki dua orang, juga membuat akses jalan masuk ke makam cukup sulit. Setelah melewati gerbang berarsitektur gaya Timur Tengah, pengunjung tidak langsung masuk ke bangunan utama tetapi tertahan di pelataran. Dari sana, wisatawan mendapat petunjuk dari juru pelihara makam. Makam Syekh Quro sendiri berupa makam yang tertutup oleh bangunan berukuran empat kali lima meter persegi. Temboknya berdinding keramik berwarna hijau muda dengan jendela kaca di kedua sisi dan satu pintu utama untuk keluar masuk. Pada puncak kegiatan, jumlah wisatawan bisa mencapai ribuan. Karena ruang dan pelataran musala hanya mampu menampung sekitar lima ratus pengunjung, para wisatawan harus bergiliran saat berdoa. Selain makam Syekh Quro, di belakang bangunan utama terdapat Sutegaling dan sumur Awisan. Sutegaling merupakan lokasi yang diyakini sebagai tempat juru kunci Astana Gunung Jati, Pangeran Tolakoh alias Ki Talka dan Raden Somaredja pada hari Jumat, malam Sabtu di bulan Rewah/Syaban tahun 1277 H/1859 M, mendapat pesan tanpa wujud, "Jagalah dan pusti-pustilah (pelihara) tempat ini, insya Allah akan membawa keberkahan untuk semuanya." Hanya berjarak beberapa meter dari Sutegaling, terdapat Sumur Awisan. Bentuknya tidak ubahnya seperti sumur-sumur di perdesaan, tetapi yang membedakan sumur tersebut dengan sumur lainnya adalah sumur Awisan berair sangat bening dan tidak pernah kering meski kemarau. Kedatangan Syekh Quro di Kampung Pulobata terjadi sekitar tahun 1409 Masehi. Saat mendarat, ia mendapat perlawanan dari Raja Pajajaran, Prabu Anggalarang, yang beragama Hindu, hingga Syekh Quro sempat kembali ke negaranya, Campa. Kemudian, pada 1416 M, dengan menumpang armada kapal Laksamana Cheng Ho, Syekh Quro kembali ke Pulau Jawa. Mereka merapat di daerah Tanjungpura, Karawang. Di sinilah Syekh Hasanuddin atau Syekh Quro menikahi gadis setempat yang bernama Ratna Sondari putri Ki Gedeng Karawang. Di tempat inilah, Syekh Hasanuddin kemudian membuka pesantren yang diberi nama Pesantren Quro yang khusus mengajarkan Alquran. Inilah awal Syekh Hasanuddin digelari Syekh Quro atau syekh yang mengajar Alquran. Dari sekian banyak santrinya, ada beberapa nama besar yang ikut pesantrennya. Antara lain Putri Subang Larang, anak Ki Gedeng Tapa, penguasa Kerajaan Singapura, sebuah kota pelabuhan di sebelah utara Muarajati, Cirebon. Puteri Subang Larang inilah yang kemudian menikah dengan Prabu Siliwangi, penguasa kerajaan Sunda Pajajaran. (Retno HY/"PR")*** http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=153423
