Budak Angon Menurut Uga Wangsit Siliwangi
Eddy
2 March 2009

Wangsit Siliwangi:
"Suatu saat nanti, apabila tengah malam *terdengar suara pembawa panji, nah
itu adalah tandanya."

*     Sosok "Satrio Piningit" memang masih misterius. Banyak sudah yang
mencoba untuk menemukannya dengan caranya sendiri-sendiri. Alhasil, ada yang
yakin telah menemukannya, bahkan juga ada yang mengaku dirinyalah si Satrio
Piningit tersebut. Apabila diteliti maka sosok yang telah ditemukan itu
masih bisa diragukan apakah memang dia si calon Ratu Adil?

       Budak Angon atau "Penggembala" sesungguhnya merupakan konsepsi
tentang kehidupan dan kemanusiaan. Dalam konteks diri manusia, Budak Angon
merupakan konsep tentang penemuan jati diri dan pengendalian diri untuk apa
sesungguhnya kita dicipta. Selain jasad kita yang sesungguhnya hanyalah
"tunggangan" yang harus ditundukkan, dikendalikan, dan diarahkan melalui
proses "penggembalaan", dalam diri kita juga terdapat kumpulan "*sasatoan*"
yang tidak untuk dimatikan melainkan untuk digembalakan sehingga menjadi
potensi dan energi positif bagi penemuan misi hidup kita.

      Dalam konteks kehidupan sesama, Budak Angon menjelaskan suatu upaya
dan proses "penertiban", pembangunan kesadaran, serta pengarahan hubungan
antarsesama yang dilandasi cinta dan kasih sayang. Suatu tatanan kehidupan
yang lebih berkeadilan. Dalam konteks sosok, pribadi-pribadi yang bekerja
keras dalam upaya dan proses yang demikianlah disebut Budak Angon.

     Keragu-raguan yang muncul mendorong untuk menelaah dan mempelajari
kembali apa yang telah diungkapkan dalam naskah-naskah leluhur mengenai
sosok Satrio Piningit sejati. Salah satu naskah yang biasa kita gunakan
sebagai rujukan yaitu Uga Wangsit Siliwangi. Siliwangi dalam Ugo Wangsitnya
menyebut si calon Ratu Adil dengan sebutan Bocah Angon atau Pemuda
Penggembala. Beberapa hal yang disebutkan dalam Ugo Wangsit Siliwangi
mengenai Bocah Angon yaitu :

*1. Suara minta tolong.*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “*Suatu saat nanti, apabila
tengah malam, dari gunung Halimun terdengar suara para pembawa panji, nah
itu adalah tandanya. Semua keturunan kalian dipanggil oleh yang mau menikah
di Lebak Cawéné.*” Kata “suara minta tolong” sepertinya sama dengan ungkapan
Joyoboyo dalam bait 169 yaitu “*senang menggoda dan minta secara nista,
ketahuilah bahwa itu hanya ujian, jangan dihina, ada keuntungan bagi yang
dimintai artinya dilindungi anda sekeluarga*“.

     Bocah Angon di awal kemunculannya akan beraksi melakukan hal-hal
sebagai pertanda kedatangannya. Salah satunya adalah meminta tolong kepada
orang di sekitar daerah Gunung Halimun. Tidak jelas mengapa dia minta tolong
kepada orang lain, apakah dia dalam kesulitan ataukah keperluan lainnya.
Yang pasti bila telah terjadi hal demikian berarti itu pertanda akan
kemunculannya.

     Sementara dikaitkan dengan Ramalan Joyoboyo paba bait 169 disebutkan
bila Bocah Angon tersebut “suka minta secara nista sebagai ujian”. Kalimat
tersebut mengindikasikan bahwa *minta tolong itu hanya sebatas ujian bagi
yang dimintai pertolongan.* Ujian apakah itu? belum diketahui ujian apa yang
suka dilakukan Bocah Angon pada orang. Sebaiknya kita tunggu saja
kejadiannya.

*2. Mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa.*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “*Suatu saat nanti akan banyak
hal yang ditemui, sebagian-sebagian. Sebab terlanjur dilarang oleh Pemimpin
Pengganti! Ada yang berani menelusuri terus menerus, tidak mengindahkan
larangan, mencari sambil melawan, melawan sambil tertawa. Dialah Anak
Gembala.*” Kata terlanjur dilarang ini apa maksudnya? Apakah dilarang dalam
mengungkap fakta-fakta, ato dilarang meluruskan sejarah? sepertinya masih
butuh penafsiran lagi.

     Yang pasti Bocah Angon sepertinya tidak peduli dengan larangan
pemimpin. Bahkan bukan hanya tidak peduli dengan larangan tersebut, tetapi
lebih dari itu Bocah Angon melawan larangan si pemimpin itu sambil tertawa.
Tidak bisa dibayangkan bagaimana perasaan si pemimpin bila dilawan sambil
tertawa. Bisa-bisa Bocah Angon dalam situasi bahaya nih karena kerjanya
selalu melawan sang pemimpin pengganti.

     Kata banyak yang ditemui sebagian-sebagian karena terlanjur dilarang
pemimpin baru, menunjukkan bahwa *yang akan ditemukan masyarakat memang
hanya sebagian saja. Oleh karena sebagian saja maka yang ditemukan tersebut
belumlah lengkap dan tentunya belum sempurna hasilnya.* Tetapi tidak bagi
Bocah Angon, dia terus saja mencari sambil melawan. Bisa jadi temuan si
Bocah Angon ini kelak merupakan temuan yang paling lengkap dan mendekati
kebenaran.

     *3. Dia gembalakan ranting daun kering dan sisa potongan pohon.*

     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “*Apa yang dia gembalakan? Bukan
kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng. Tetapi ranting daun
kering dan sisa potongan pohon. Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang
dia temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian, selesai jaman yang
satu datang lagi satu jaman yang jadi sejarah/kejadian baru, setiap jaman
membuat sejarah. setiap waktu akan berulang itu dan itu lagi.”

*     Bocah Angon memiliki kebiasaan mengumpulkan daun dan ranting. Kata
daun dan ranting yang disebutkan Uga Wangsit Siliwangi
<http://wacananusantara.org/content/view/category/9/id/192>dalam *bahasa
asli Sundanya yaitu “Kalakay jeung Tutunggul*“. Kalakay merupakan daun
lontar yang biasa digunakan oleh orang kita pada jaman dulu kala sebagai
lembaran daun untuk menulis. Sementara Tutunggul merupakan ranting pohon
yang biasa digunakan orang kita pada jaman dulu kala sebagai pena untuk
menulis. Sehingga Kalakay dan Tutunggul bisa diartikan sebagai kertas dan
pena.

     *Si Bocah Angon ini memiliki kegemaran suka menggembalakan kertas dan
pena*. Dia terus mengumpulkan dan mengumpulkan kedua barang tersebut sebagai
gembalaannya. Tidak jelas kenapa dia suka menggembalakan kertas dan pena.
Kata mengumpulkan itu berarti kertas dan pena tersebut tidak hanya 1 buah,
tetapi jumlahnya banyak dan itu menjadi barang kegemarannya.

     Selanjutnya disebutkan “*Dia terus mencari, mengumpulkan semua yang dia
temui. Tapi akan menemui banyak sejarah/kejadian*“. Kalimat tersebut bisa
berarti bahwa Bocah Angon menggembalakan kertas dan pena untuk menemukan
sejarah dan kejadian. Ntah sejarah dan kejadian apa yang dia kumpulkan,
tetapi bisa dimengerti bahwa di Nusantara banyak sekali sejarah yang
dirubah, mungkin hal tersebut bisa juga terkait dengan pelurusan sejarah
kita.

     Dia akan terus mengumpulkan sejarah dan kejadian-kejadian penting
tentunya untuk menyelesaikan masalah di Nusantara. Wajar saja bila sejarah
ditelusuri karena memang untuk menyelesaikan suatu masalah tidak bisa tidak
harus mengetahui awal sejarahnya bagaimana bisa terjadi. Dengan kegemarannya
menelusuri sejarah dan kejadian yang dituangkan dalam kertas dan pena
tersebut kelak masalah di Nusantara akan bisa dibereskan dengan mudah.
Semoga.

     *4. Rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu.*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “*lalu mereka mencari anak
gembala, yang rumahnya di ujung sungai yang pintunya setinggi batu”*. Kata
di ujung sungai menunjukkan bahwa rumah Bocah Angon letaknya berada dekat
dengan hulu sungai. Siliwangi tidak memberikan gambaran berapa jarak antara
rumah dengan sungai tersebut. Bisa jadi hanya beberapa meter dari sungai,
tetapi bisa jadi puluhan meter dari sungai.

     Siliwangi juga tidak menyebutkan nama dari sungai tersebut sehingga
rada menyulitkan untuk menentukan letak sungainya. Di Jawa terdapat banyak
sekali sungai membentang dari utara hingga selatan. Dan rata-rata di pinggir
sungai terdapat banyak rumah penduduk dan ini tentunya sangat menyulitkan
untuk menentukan letak sungainya yang sesuai kata Siliwangi. Namun yang
pasti Bocah Angon rumahnya dekat sungai sehingga bila ada yang mengaku
dirinya Bocah Angon tetapi rumahnya jauh dari sungai berarti itu tidak
sesuai dengan Ugo Wangsit Siliwangi.

     Kemudian untuk kata pintunya setinggi batu masih perlu dipertanyakan,
apakah atap rumahnya terbuat dari batu? dan juga apakah pintu rumahnya juga
terbuat dari batu? kok seperti rumah nenek moyang kita dulu. Bisa jadi
demikian tetapi mungkin juga tidak demikian.

     Kalimat tersebut bisa dipahami bahwa rumah Bocah Angon tidak hanya 1
lantai, namun bertingkat rumahnya. Hal ini diperkuat dengan ungkapan
Joyoboyo dalam bait
161<http://wacananusantara.org/content/view/category/9/id/114>yaitu “
*berumah seperti Raden Gatotkaca, berupa rumah merpati susun tiga*“. Dari
ungkapan Joyoboyo menunjukkan *ada 3 lantai rumah dari Bocah Angon*.
Tentunya bukan rumah biasa, bisa jadi rumah tingkat ekonomi menengah atau
memang Bocah Angon dari keluarga kaya? belum bisa dipastikan.

     Oleh karena untuk membuat suatu rumah yang bertingkat dengan bahan
semen untuk lantai 2nya, maka *dari bahan semen yang padat otomatis akan
membentuk batu yang keras*. Sehingga bisa dipahami bila pintu lantai pertama
akan setinggi batu (setinggi cor semen lantai 2). Memang kebanyakan rumah
orang yang bertingkat pintunya pasti akan setinggi lantai 2, tepat di bawah
cor semen yang telah menjadi batu tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa
rumah Bocah Angon memang bertingkat yang pintunya setinggi lantai tingkat
2-nya.

*     5. Tertutupi pohon handeuleum dan hanjuang.*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “*rumahnya di ujung sungai yang
pintunya setinggi batu, yang rimbun oleh pohon handeuleum dan hanjuang”*.
Kata rimbun oleh pohon Handeuleum dan Hanjuang berarti di depan rumah Bocah
Angon terdapat 2 pohon yang sangat subur dan menjadi ciri khas rumahnya.
Dalam hal ini hanya disebutkan 2 buah pohon saja, artinya memang hanya ada 2
buah pohon di depan rumahnya sebagai pembeda dari rumah lainnya.

     Apabila ditelusuri kedua jenis pohon tersebut dalam istilah bahasa
Indonesianya memang belum diketahui apa namanya. Kedua kata tersebut
sepertinya bahasa kuno dari daerah Sunda tempat Siliwangi berada. Hingga
kini belum ada pihak yang merasa mengetahui kedua jenis pohon tersebut.
Bahkan orang-orang asli Sundapun juga mengaku tidak mengetahui kedua jenis
pohon itu. Kita tunggu saja kelak akan kita ketahui juga.

     Sementara itu beberapa kalangan justru menafsirkan kata Handeuleum dan
Hanjuang sebagai simbol saja. Benarkah kedua pohon itu sebenarnya bukan
pohon hidup di atas tanah, tetapi sekedar simbol saja? Coba anda lihat
kembali Siliwangi menyebut Pemuda Penggembala dengan “*Apa yang dia
gembalakan? Bukan kerbau bukan domba, bukan pula harimau ataupun banteng.
Tetapi ranting daun kering dan sisa potongan pohon.”

     *Kata pemuda penggembala itu cuma simbol dari Siliwangi. Kemudian
simbol tersebut dijelaskan bila yang digembalakan bukan binatang, tetapi
daun dan ranting. *Sementara kata Handeuleum dan Hanjuang tidak ada kalimat
penjelasan selanjutnya*. Sehingga kedua kata tersebut dapat dipastikan
memang dua buah pohon yang tumbuh di atas tanah. Apabila simbol tentunya
Siliwangi akan menjelaskan maksudnya.

     *6. Pergi bersama pemuda berjanggut.*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan “*Semua mencari tumbal, tapi
pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi
membuka lahan baru di Lebak Cawéné!*” Siapakah pemuda berjanggut itu?
Penyebutan pemuda berjanggut ini masih perlu dipertanyakan. Apakah pemuda
tersebut merupakan kerabat atau keluarga atau teman ataukah pengasuh si
Bocah Angon? Belum jelas diketahui karena memang dalam Ugo Wangsit Siliwangi
tidak menyinggung mengenai hal tersebut.

     Dalam naskah-naskah lain memberitahukan bahwa Ratu Adil memiliki
pengasuh yaitu Sabdo Palon. Mungkinkah pemuda berjanggut tersebut adalah
Sabdo Palon? Sepertinya tidak karena Sabdo Palon merupakan sosok Jin,
sementara penyebutan kata pemuda menunjukkan dia adalah manusia. *Jadi
pemuda berjanggut bukanlah Sabdo Palon.

     *Misteri ini masih sulit untuk diungkap yang sebenarnya. Pada saat
Bocah Angon masih menjadi sosok yang misteri, pada saat yang sama pula ada
sosok lain yaitu pemuda berjanggut yang jati dirinya juga masih misteri.
Namun yang pasti pemuda tersebut memiliki janggut dan kelak akan kita
ketahui setelah tiba waktu kemunculan Bocah Angon.

     *7. Pergi membuka lahan baru di Lebak Cawéné!*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan *“Semua mencari tumbal, tapi
pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi
membuka lahan baru di Lebak Cawéné!”* Bocah Angon sepertinya tidak akan
ditemukan sebelum kemunculannya. Ketika orang-orang sudah menemukan rumahnya
yang di ujung sungai, dia telah pergi bersama pemuda berjanggut ke Lebak
Cawéné.

     Siliwangi tidak menyebutkan kemudian orang-orang akan berhasil
menemukan Bocah Angon di Lebak Cawéné setelah gagal menemukan di rumahnya.
Tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit Siliwangi. Karena tidak ada
kata itu maka bisa disimpulkan bahwa jarak antara rumah dengan Lebak Cawéné
tidak dekat bahkan mungkin sangat jauh.

     *Siliwangi juga tidak menyebutkan setelah pergi ke Lebak Cawéné si
Bocah Angon kemudian kembali lagi ke rumahnya.* Karena tidak ada kalimat
yang menyebutkan hal tersebut berarti Lebak Cawéné merupakan tempat baru
yang ditinggali Bocah Angon setelah rumahnya yang di ujung sungai di tinggal
pergi. Apabila Bocah Angon kembali lagi ke rumahnya yang di ujung sungai,
maka tentunya Siliwangi akan menyebutnya berhasil ditemukan di rumahnya.
Sudah pasti bila orang telah menemukan rumahnya maka akan ditunggui kapan
kembalinya. Tetapi ternyata tidak ada kalimat tersebut dalam Ugo Wangsit
Siliwangi.

      Sampai saat ini belum diketahui dimana letak Lebak Cawéné berada.
Dalam peta Jawa maupun peta Indonesia, tidak ada daerah yang diberi nama
Lebak Cawéné. Oleh karena namanya yang masih asing inilah maka banyak
kalangan menafsirkan menurut keyakinannya masing-masing.

     Ada yang menafsirkan Lebak Cawéné berada di lereng sebuah gunung. Ada
juga yang mengatakan berada di petilasan Joyoboyo. Yang lain mengatakan
berada di tempat yang ada guanya dan sebagainya membuat semakin tidak jelas
saja letak Lebak Cawéné dimana. Tetapi apabila anda meyakini sebuah tempat
merupakan Lebak Cawéné, *maka bisa dipastikan anda akan memaksakan kehendak
untuk menentukan 1 orang di daerah tersebut sebagai calon Ratu Adil.* Wah
jadi kasian pada orangnya kena sasaran.

     *Ketahuilah bahwa Siliwangi tidak menyebutkan Bocah Angon akan berhasil
ditemukan di Lebak Cawéné.* Di sisi lain Siliwangi juga tidak memberikan
ciri-ciri Lebak Cawéné yang dia katakan sehingga mustahil Lebak Cawéné bisa
diketahui sebelum Ratu Adil muncul, kecuali anda lebih sakti dari Siliwangi.
Kemampuan sama dengan Siliwangi aja tidak mungkin apalagi lebih tinggi dari
Siliwangi, jelas tidak mungkin lagi.

     *8. Gagak berkoar di dahan mati.*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan *“Semua mencari tumbal, tapi
pemuda gembala sudah tidak ada, sudah pergi bersama pemuda berjanggut, pergi
membuka lahan baru di Lebak Cawéné! Yang ditemui hanya gagak yang berkoar di
dahan mati”.* Kata Gagak berkoar mungkinkah memang burung Gagak yang suka
berkicau, ataukah itu merupakan simbol saja.

     Banyak kemungkinan mengenai Gagak berkoar tersebut. Namun dalam
naskah-naskah lain seperti yang diungkap Ronggowarsito dan Joyoboyo bahwa
Bocah Angon sebelum menjadi Ratu Adil hidupnya menderita, dia sering dihina
oleh orang. Apabila dikaitkan dengan hal tersebut maka Gagak berkoar itu
bisa juga diartikan sebagai orang-orang yang suka menghina si Bocah Angon.

     Oleh karena hidupnya yang selalu saja dihina orang, maka akhirnya Bocah
Angonpun pergi meninggalkan rumahnya. Kemudian dia bersama pemuda berjanggut
menuju ke Lebak Cawéné untuk membuka lahan baru disana. *Semua mencari
tumbal bisa saja diartikan sebagai mencari berita dan ketika yang dicari si
Bocah Angon sudah tidak ada, maka tidak bisa tidak mencari berita dari para
Gagak yang berkoar tersebut.

     **9. Ratu Adil sejati.*
     Dalam Ugo Wangsit Siliwangi disebutkan *“Baik lagi semuanya. Negara
bersatu kembali. Nusa jaya lagi, sebab berdiri ratu adil, ratu adil yang
sejati. Tapi ratu siapa? darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan
tahu. Sekarang, cari oleh kalian pemuda gembala.”* Kita disuruh Siliwangi
untuk mencari Bocah Angon, karena dialah yang kelak akan menjadi Ratu Adil
sejati.

     Sepertinya SIliwangi bermaksud memberikan pesan untuk berhati-hati
dalam mencari Bocah Angon. Hal ini dikarenakan banyak sekali Bocah Angon
palsu akan bermunculan di Jawa ini. Kemunculan Bocah Angon palsu bisa jadi
karena dukungan orang lain akan dirinya sehingga dipaksa cocok menjadi Ratu
Adil, tetapi juga bisa jadi karena terburu-buru meyakini dirinyalah si Bocah
Angon.

     Lihatlah saat ini telah banyak terdengar dimana-mana dari Jawa bagian
barat hingga Jawa bagian timur, orang-orang yang muncul diyakini sebagai
Ratu Adil. Bahkan juga bermunculan dimana-mana orang yang mengakui
dirinyalah Ratu Adil tersebut. *Apabila dimintai bukti maka orang-orang
tersebut akan mencocok-cocokkan diri dengan naskah-naskah yang ada untuk
meyakinkan orang. Padahal kenyataan tidak semuanya cocok.

     *Untuk itulah Siliwangi berpesan agar kita mencari Ratu Adil sejati,
karena Ratu Adil sejati hanya satu sementara Ratu Adil palsu banyak sekali.
Walaupun banyak Ratu Adil palsu, hal itu tidak akan mengubah kepastian
munculnya yang asli. Apabila yang asli telah muncul maka semua akan terbukti
mana yang asli dan mana yang palsu sesuai kata Siliwangi *“Tapi ratu siapa?
darimana asalnya sang ratu? Nanti juga kalian akan tahu. Sekarang, cari oleh
kalian pemuda gembala.”

*     Demikianlah beberapa hal mengenai Bocah Angon sesuai yang disebutkan
dalam naskah Ugo Wangsit Siliwangi. Siliwangi sengaja tidak begitu jelas
menggambarkan si Bocah Angon dalam naskahnya sehingga sangat menyulitkan
kita untuk menemukannya. Kesengajaan ini dimengerti karena memang akan
banyak pihak-pihak yang tentunya menghalangi kemunculan Ratu Adil dengan
berbagai alasannya.

      Pada saat Siliwangi tidak memberikan gambaran yang jelas mengenai
Bocah Angon. Di waktu yang sama pula kita disuruh untuk mencari si Bocah
Angon tersebut, memangnya kita ini terlahir sebagai detektif semua. *Namun
yang pasti kelak akan diketahui juga mana Ratu Adil palsu dan mana Ratu Adil
yang sejati* tentunya setelah tiba waktu kemunculannya. Untuk itu baik
ditunggu, dicari maupun tidak sama sekali sepertinya hasilnya tetap sama.
Waktunya akan segera tiba.

*Sumber*:
http://eddycorret.wordpress.com/2008/07/14/bocah-angon-menurut-ugo-wangsit-siliwangi/

Kirim email ke