Dan Kita pun Mudik

Oleh Lie Charlie

ALEXANDER Isayevich Solzhenitsyn, sastrawan Rusia yang menulis "Odin den
Ivana Denisovicha" (="Sehari Dalam Hidup Ivan Denisovich"), pada 1994
memilih pulang ke negeri kelahirannya setelah diasingkan selama dua puluh
tahun dan sempat tinggal di Cavendish, AS. Orang bertanya-tanya, mengapa dia
tidak menghabiskan saja waktunya mengenyam kebebasan dan kemewahan di negeri
seperti AS? Masalahnya bukan roti (raga), melainkan tanah (jiwa).

Mudik memang bisa tampak bagai potret cengeng dan boros. Titin yang baru
lima bulan kerja di Bandung memaksakan diri mudik ke Sragen. Majikannya
menasihati, "Tahun depan saja, Tin. Kumpulin uangnya dulu. Lagi pula Titin
kan belum lama bekerja." Selain itu, Titin diiming-imingi satu bulan gaji
jika tidak mudik. Akan tetapi, Titin keukeuh mau mudik dan mengancam akan
bunuh diri. Oleh karena itu, majikan Titin terpaksa mengantarkannya ke
Leuwipanjang beserta enam kardus berikat tali rafia berisi pakaian dan
oleh-oleh.

Trisno membeli HP baru, kacamata hitam baru, kaus dan jins baru, sepatu
baru, arloji baru, serta karcis kereta api kelas ekonomi dari calo untuk
mudik ke Dhiwek. Dia menggunakan setiap rupiah yang telah dikumpulkannya
selama setahun bekerja sebagai kuli bangunan di Buahbatu. Trisno tidak
menyesal menghabiskan tabungannya untuk bergaya. Mudik adalah harga mati,
meskipun orang-orang kaya dan pintar mencibirinya bodoh dan boros.

Majikan Titin dan bos Trisno tidak mudik sebab keduanya memang lahir, besar,
dan kaya di Bandung. Majikan Titin memesan suite di Hotel Hilton dan bos
Trisno pergi ke Singapura untuk menikmati liburan Lebaran.

Kembali pada keluarga

Banyak pembaca mungkin mudik juga. Alasannya macam-macam, tetapi semua orang
mengaku kangen pada kampung halaman, pada ayah yang sudah sering sesak
napas, ibu yang pandai memasak, kakak yang kejam tetapi telah banyak
berkorban, pada adik yang selalu bisa diajak kerja sama asal ada imbalan.
Juga pada eks teman sekolah yang masih setia menyambut dan mentraktir kita.
Pada Lusi, Rahma, dan Heni, pada Otong tukang sate, Mbok Piah penjual bebek
bakar, dan pada Eko mucikari.

Ayah tidak berubah kecuali menjadi semakin tua. Kemeja garis-garisnya masih
yang itu-itu juga. Kita selalu membelikan ayah sandal dan sarung setiap
tahun, tetapi ayah tidak pernah terlihat mengenakannya. Sabuk ayah adalah
sabuk kulit yang sudah dipakainya sejak belum menikah. Ayah juga tidak
mengganti Vespanya dengan Honda Supra-X atau Yamaha Mio, apalagi dengan
Avanza atau Grand Livina. Telefon seluler yang disandang ayah adalah bekas
pemberian kita, Nokia 5110, yang antenanya bekas patah.

Ibu tetap cekatan di dapur. Seingat kita, ibu suka memasak opor ayam dan
oseng-oseng buncis. Setiap pagi ibu masih menyeduhkan kita teh seperti saat
kita masih sekolah. Dari ibu kita tahu segala berita mengenai tetangga.
Linda sudah menikah dan sudah bercerai. Kusno telanjur kaya dan pindah ke
Surabaya. Aseng terjebak narkoba, dan Pak Karim meninggal dunia karena TBC.
Ibulah yang mengajari kita supaya membawa jeruk bila menjenguk orang sakit,
mengingat dan membalas budi orang, serta jangan mengajak gadis nonton kalau
belum yakin bakal menikahinya.

Kakak masih suka berkomentar sinis mengenai ketidakadilan dan korupsi. Kita
tidak bisa lupa pengalaman di sekolah bersama kakak. Berboncengan sepeda,
hujan-hujanan, mandi telanjang di sungai, berkelahi, membakar kertas ulangan
yang nilainya jeblok, mengata-ngatai guru, dan mengintip anak perempuan
ganti baju.

Sekolah

Dengan adik kita keluyuran malam mencari makanan. Dulu kita selalu membayar,
sampai sejak tiga tahun belakangan ini, giliran adik yang bayar. Dia sudah
bekerja dan sepertinya mau pamer. Setiap malam kita makan sampai kenyang
seolah-olah besok sudah harus kembali ke Bandung. Adik juga memperkenalkan
kita kepada pacarnya, Diana. Kita terkesima mengetahui lidahnya bertindik
dan pusarnya bertato macan.

Kita menyempatkan diri mendatangi sekolah. Sendiri. Tentu saja sekolah sepi
lantaran libur. Pekarangan sekolah kini tersisa secuil. Sebagian sudah
didirikan gedung di atasnya. Kita sekaligus senang dan sedih. Senang karena
menyaksikan hasil pembangunan pendidikan, sedih sebab pekarangan tempat kita
bermain sudah terisi beton, padahal di sana kita pernah amat bergembira. Di
sini pula kita menyapa dan berkenalan dengan Santi, cinta pertama kita.

Kita terkenang pula kepada guru-guru yang beberapa di antara mereka berjasa
membentuk jiwa-raga kita. Jika bukan karena Pak Silitonga, kita tidak masuk
fakultas ekonomi dan memperoleh pekerjaan yang kini kita lakoni. Kota kecil
tidak memiliki banyak fasilitas, tetapi di sana ada guru yang mengajarkan
ilmu tentang hidup dan kehidupan, tentang menghormati orang tua, tentang
kejujuran, tentang kewajiban berbagi, dan tentang cinta.

Beberapa bagian sudut kota sudah berubah, tetapi beberapa pemandangan
bertahan seperti tidak tersentuh waktu. Bank BNI di pojok jalan protokol
masih berdiri kaku. Kantor pos masih ada, cuma di halamannya kini orang juga
berjualan baju, panci, dan racun tikus. Kita sengaja memutar melintasi rumah
Santi, rumah yang pernah membuat kita merasa gemetar biarpun cuma menatap
atapnya. Kita tahu, kita memang pantas mudik atau bisa mati karena
nostalgia.***

Penulis, pegawai swasta di Bandung.

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154849

Kirim email ke