Keur urusan ieu kacirina mah pakolot2, lain deui indung-budak tapi ngudag udeg2, gantung siwur...heu heu... bayangkeun tasik wae abad 12 ck ck ck....Araneh proklamator ngaproklamasikeun tanggal mundur!!!! Makarya Mawa Raharja
________________________________ Dari: mh <[email protected]> Kepada: [email protected] Terkirim: Sen, 1 November, 2010 06:06:42 Judul: Re: [kisunda] Sajarah - Pahibut Poe Lahir Jabar? Hehehe, cing nu mana "indung", nu mana "anak" nya, antara Indonesia jeung Jabar? Mun Indonesia indung, ari Jabar, Jateng, Jatim, jeung nu lianna anak-na, atuh Indung kudu ngaborojol heula memeh anakna. Mun Jabar, Jateng, Jatim jeung nu lianna indung-na, Indonesia teh anak-na, kaci tah mun Jabar ngajuru leuwih awal ti Indonesia. 2010/10/31 Jalak Pakuan <[email protected]> >Lamun ngalibatkeun Kadin Daerah jeung asosiasi nu daragang lian ti sejarawan >jeung politikus sigana nu cocog ultah prov. Jabar teh ping 19 Agustus....eta >tanggal hade keur ngayakeun "great sale" sakalian ngareuah2 HUT RI. Januari >saingan great sale jeung singapura, teu kudu saingan jeung DKI sabab great >sale >na Juni. > > > > > > > ________________________________ Dari: mh <[email protected]> >Kepada: Ki Sunda <[email protected]> >Terkirim: Ming, 31 Oktober, 2010 23:30:41 >Judul: [kisunda] Sajarah - Pahibut Poe Lahir Jabar? > > > > >======================== > >Dalam Penentuan Hari Jadi Jabar >Sejarawan Senior Prof. A. Sobana Merasa Dikhianati >Minggu, 31/10/2010 - 10:21 >BANDUNG, (PRLM).- Sejarawan senior Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. A. >Sobana Hardjasaputra merasa dikhianati dengan penentuan hari Jawa Barat oleh >tim >peneliti dan DPRD Jabar. Pasalnya, dalam tahap awal pembentukan hari Jadi >Jabar >melalui semiloka diundang pertamakali, namun pada kelanjutannya tidak pernah >ada >undangan. "Bahkan saya diminta membuat surat ke DPRD Jabar agar dilibatkan >oleh >salah seorang pimpinan dewan, namun tidak digubris," kata Sobana yang ditemui >dikediamannya di Jln. Jatihandap Bandung, Kamis (28/10). >Kalau mau fair kata dia, dewan yang harusnya mengundang saya untuk memberikan >penjelasan. "Demi kebenaran sejarah siap dipanggil dewan untuk >menjelaskannya," >tandas Sobana. Dia pun tak setuju jika penetapan hari jadi Jabar ditetapkan >oleh >penguasa (gubernur) seperti dikatakan oleh Nina Hilman. Menurutnya, apa yang >diusulkan Nina Hilman ini, tetap saja kembali ke masa jaman feodal. "Jika >ditetapkan oleh penguasa, buat apa ada penelitian dan kajian sejarah," ujarnya >kepada Galamedia. >Untuk hari jadi Jawa Barat, Sobana mengaku, lebih cenderung hari Jadi Jawa >Barat >tanggal 1 Januari 1926. Menurut Sobana, fakta sejarah tanggal 1 Januari 1926 >merupakan awal adanya sistem pemerintahan di Jawa Barat pada masa kolonial >Belanda. Yang pertama kali memperjuangkan pembentukan sistem pemerintahan di >West Java ke pemerintah Kolonial Belanda, adalah para tokoh perjuangan yang >ada >Konstrad, seperti Otto Iskandar Di Nata, Husni Thamrin, Tjokro Aminoto dan >tokoh >lainnya. Usulan itu diterima pemerintah kolonial Belanda, ada sekitar 45 orang >pribumi, 20 diantaranya tokoh Sunda yang terlibat dalam pemerintahan provinsi >West Java kala itu. "Fakta sejarah ini tidak bisa dihilangkan begitu saja oleh >sejarawan, peneliti, dan dewan," ujarnya. >Sobana pun menyebutkan, jika dewan atau gubernur Jabar menerima usulan hari >jadi >Jabar tanggal 19 Agustus 1945 atau 14 Januari 1950, berarti mereka meracuni >generasi penerus dengan sejarah yang salah. Menurutnya, untuk menentukan hari >jadi Jawa Barat harus berdasarkan fakta sejarah yang objektif. >"Sebenarnya mereka tahu dengan fakta sejarah tanggal 1 Januari 1926, namun >mereka mengabaikannya dan mengkhianati sejarah. Entah apa motifnya. Yang >pasti, >jika nantinya hari jadi Jabar diambil diantara tanggal 19 Januari 1945 atau 14 >Juli 1950 mereka munafik dan meracuni generasi mendatang," terangnya. >(B.81/A-122)** >http://www.pikiran-rakyat.com/node/125941 > > >
