Sukses Datang di Negeri Orang

Ini kisah tentang Tono Ustono dan Sodikin, dua warga Kabupaten Ciamis yang
mengecap sukses di lokasi transmigrasi. Tono, buruh tani asal Desa Babakan,
Kecamatan Pangandaran itu bertransmigrasi pada tahun 2006 lalu. Ia menempati
sebuah lokasi transmigrasi di Bukal Satu, Kecamatan Bukal, Kabupaten Buol,
Provinsi Sulawesi Tengah.

Di daerah baru, Tono memperoleh lahan seluas dua hektare, berikut sebuah
rumah sederhana. Tono benar-benar berangkat dari nol. Apalagi, di daerah
asalnya, dia hanyalah seorang buruh tani yang miskin.

Dalam waktu tak lama, Tono berhasil mengolah lahannya menjadi kebun jagung.
Dia juga menampung hasil panen jagung milik warga sekitar untuk kemudian
dijual ke Buol. Ya, di sana, Tono menjadi petani sekaligus bandar jagung.
"Dia membuka warung, kios pulsa, dan sebagainya. Dia juga menjadi juragan
ojek, menyewakan sepeda motor untuk dijadikan ojek," ucap Kepala Dinas
Transmigrasi, Tenaga Kerja, dan Sosial Kabupaten Ciamis Yasmin Sambas.
Beberapa waktu lalu, Yasmin menemui Tono di Sulawesi.

Kisah sukses itulah yang kemudian membuat Tono didapuk sebagai transmigran
teladan. Pada tanggal 17 Agustus 2010 lalu, Tono diundang negara untuk
mengikuti upacara peringatan Dirgahayu Republik Indonesia di istana. Dia
juga bertemu dengan presiden dan pejabat lainnya di Jakarta.

Sekarang, menurut Yasmin, Tono telah memiliki minibus pribadi dan beberapa
truk untuk menunjang usaha. "Dia tidak susah lagi," kata Yasmin sambil
tertawa bahagia karena senang ada warga Ciamis yang berangkat sukses jadi
transmigran.

Cerita sukses, ternyata, bukan milik Tono seorang. Warga Ciamis lain yang
juga mengecap sukses adalah Sodikin, asal Desa Pasirlawang, Kecamatan
Purwadadi. Dua tahun lalu, Sodikin pun didapuk sebagai transmigran teladan
di tingkat nasional. Kini, ia bermukim di lokasi transmigrasi, Gindopo,
Kabupaten Toli-Toli, Provinsi Sulawesi Tengah. "Dia berangkat tahun 2005. Di
lokasi yang baru, Sodikin mengembangkan perkebunan sawit. Dia juga membuka
usaha tahu dan tempe, serta membudidayakan ikan," tutur Yasmin. Dalam tiga
tahun, kehidupan Sodikin berubah 180 derajat. "Tono dan Sodikin menjadi ikon
sebagai orang yang sukses di daerah transmigran".

**

Pelaksana Harian Sekretaris Daerah Kabupaten Ciamis Tiwa Sukrianto
mengatakan, pengiriman transmigran, dilakukan secara selektif. Hal itu
bertujuan agar pengiriman para transmigran jangan sampai cuma memindahkan
masalah. "Mereka yang akan atau berminat transmigrasi, sebagian besar,
karena miskin. Sekarang, yang sudah mendaftar ada kurang lebih 374 keluarga
dari berbagai daerah. Kami berusaha mengirim para transmigran ke lokasi baru
agar mereka berhasil. Jangan sampai mereka tetap miskin di daerah yang
baru," katanya.

Agar tidak terjadi seperti itu, ada beberapa upaya yang dilakukan oleh
Pemerintah Kabupaten Ciamis. Salah satunya adalah menyurvei lokasi-lokasi
transmigrasi yang ditawarkan. Dengan begitu, Pemerintah Kabupaten Ciamis
bisa mengarahkan para calon transmigran tentang jenis usaha yang layak
dikembangkan di sana.

Setelah diketahui adanya peluang dan kecocokan pengembangan usaha, barulah
nota kerja sama daerah, antara bupati Ciamis dengan bupati di daerah tujuan,
dibuat. "Setelah ada kerja sama antara dua kepala daerah, baru dilakukan
seleksi calon transmigran," katanya.

Penyeleksian para calon transmigran dilakukan untuk melihat sejauh mana
minat serta motivasi mereka. Setelah itu, mereka dibekali pelatihan terlebih
dahulu. Misalnya, ketika daerah baru cocok untuk pengembangan tanaman
cokelat, calon transmigran diberikan pelatihan mengenai tanaman itu. Mulai
dari cara budi daya, penanganan hama, dan sebagainya. "Dengan demikian,
diharapkan, ketika tiba di lokasi baru, mereka sudah siap membudidayakan
cokelat. Begitu juga untuk jenis tanaman lainnya," ujarnya.

Selain latihan utama, menurut Yasmin, para calon transmigran juga dibekali
pelatihan tambahan, mulai dari beternak ayam, budi daya ikan, membuat sale,
hingga memproduksi kue kering. "Itu dilakukan agar mereka memiliki bekal
untuk memulai dan mengembangkan usaha sampingan," ucapnya.

Di sela-sela pelatihan, para calon transmigran diperkenalkan terhadap
kondisi sosial dan budaya daerah yang akan ditempati. Itu patut mereka
ketahui agar tidak terjadi konflik dengan penduduk asli. "Orang Ciamis harus
tetap bekerja keras, tetapi juga santun. Harus bisa membawa diri," kata
Yasmin. Dia mengaku bersyukur, selama ini, warga Ciamis bisa diterima dengan
baik oleh daerah-daerah tujuan, mulai dari Ogan Ilir di Sumatra Selatan
hingga Soppeng di Sulawesi Selatan. (Undang Sudrajat/"PR")***

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=164675

Kirim email ke