memang urg geus jadi nagaraboneka

2011/2/22 Ii Sumirat <[email protected]>

>
>
> Sikuring neraskeun, sugan engke mah aya pilem2 anu latar sunda deui... ka
> bioskop
>
> Ii Sumirat
>
>
> http://entertainment.kompas.com/read/2011/02/21/00034890/Deddy.Mizwar.Biosko
> p.Itu.Didikte.oleh.AS.
>
> Gonjang Ganjing Bea Film Impor
>
> Deddy Mizwar: Bioskop Itu Didikte oleh AS
>
> Senin, 21 Februari 2011 | 00:03 WIB
>
> JAKARTA, KOMPAS.com - Aktor, sutradara dan produser Deddy
> Mizwar mengatakan situasi heboh seputar pajak film impor adalah berawal
> dari
>
> beredarnya surat Dirjen Pajak tanggal 10 Januari 2011.
>
> Seolah kita bangsa tempe, tidak berani
> dengan bangsa barat. Bioskop itu didikte oleh AS Amerika Serikat - Deddy
> Mizwar
>
> Ia menuturkan isi surat hanya menegaskan agar importir bayar pajak yang
> benar
> dan wajar sesuai undang-undang pajak yang berlaku. "Saya jadi bingung
> dengan
> MPA
> (Motion Picture Association), kalau enggak mau masukin film kenapa jadi
> heboh. Padahal mereka tidak mau bayar pajak secara benar dan wajar,"
> ujarnya
>
> dalam jumpa pers terkait kebijakan film nasional dan masalah pajak/bea film
>
> impor di Gedung Sapta Pesona, Kemenbudpar, Jakarta, Minggu (20/2/2011).
>
> Karena itu, lanjutnya, surat edaran bukan berisi kenaikan pajak. Deddy
> mengatakan pernyataan MPA menyesatkan. "Ada yang mengadu domba antara
> masyarakat
> dan pemerintah. Negara ini ditekan oleh pedagang-pedagang barat," katanya.
> Dalam
> kesempatan tersebut hadir pula aktor dan sutradara senior Slamet Raharjo.
>
> Ia menuturkan pihak-pihak tersebut mencak-mencak dan mengancam tidak akan
> memasukkan film impor ke Indonesia. "Seolah kita bangsa tempe, tidak berani
>
> dengan bangsa barat. Bioskop itu didikte oleh AS (Amerika Serikat),"
> tuturnya.
>
> Ia menyayangkan bahwa malah orang Indonesia sendiri yang meributkan hal
> tersebut. Deddy pun berujar akan siap menghadapi orang-orang tersebut.
> "Bung Noorca (Massardi, jubir 21 Cineplex) keliru memberi informasi. Jangan
>
> sampai jadi pengkhianat bangsa," ujar Deddy.
> Selain itu, Deddy juga mengatakan ada sistem perpajakan yang tidak adil
> yang
>
> diberlakukan untuk film Indonesia. Karena film nasional dikenakan pajak
> yang
>
> jauh lebih tinggi dibanding pajak film impor.
>
> "Film impor itu pajaknya cuma Rp 2 juta untuk satu kopi. Sementara film
> nasional misalnya dengan biaya produksi Rp 5 miliar justru kena pajak bisa
> Rp
> 500 juta," tutur Deddy.
> Jika satu film impor membuat 25 kopi, maka film impor tersebut hanya
> terkena
>
> pajak sekitar Rp 50 juta saja. Angka ini sangat jauh lebih murah dibanding
> kebijakan film impor di Thailand. Di Thailand, film impor dikenakan pajak
> 30
>
> juta per kopi.
>
>  
>

Kirim email ke