Inspirasi Seratus Perak

UANG Rp 100 alias seratus perak pada zaman sekarang bisa dikatakan tak
bernilai, meski uang itu punya nilai. Jarang sekali transaksi barang senilai
Rp 100. Paling laku untuk membeli satu permen. Ini gambaran betapa nilai
uang tersebut sudah jarang dipergunakan.

Akan tetapi, uang sebesar itu ternyata punya nilai lebih di satu desa yang
terletak di kaki Gunung Salak yakni Desa Situ Udik, Kecamatan Cibungbulang,
Kab. Bogor. Kalau dari Kota Bogor bisa dicapai dengan perjalanan sekitar 1,5
jam (kalau tidak terjebak macet).

Ternyata dengan mengumpulkan uang Rp 100 bisa dibangun rumah warga miskin
yang semula tidak layak dihuni menjadi layak, membantu sekolah anak yatim,
menyantuni orang jompo, dan sebagainya. Lah, kok uang seratus perak bisa
menghasilkan hal-hal yang besar?

Kepala Desa Situ Udik Enduh Nuhudawi punya konsep sederhana dalam membangun
desanya yang berpenduduk 14.000 jiwa dan hampir enam puluh persen adalah
keluarga prasejahtera alias miskin, yaitu dengan uang seratus perak.

Caranya, di setiap rumah penduduk disediakan kotak celengan. Setiap warga
dipersilakan secara ikhlas menyumbang dengan memasukkan uang ke kotak
celengan tersebut Rp 100 setiap hari. Setiap hari, ada dua petugas di
masing-masing RT yang mengumpulkan uang tersebut. Kemudian, uang tersebut
disetorkan ke desa. Setiap pengajian bulanan di kantor desa, diumumkan uang
yang terkumpul setelah dipotong sepuluh persen untuk petugas yang
mengumpulkan.

Menurut Enduh, setiap hari terkumpul rata-rata Rp 300.000 sampai Rp 500.000.
Setiap RT minimal bisa mengumpulkan Rp 10.000/hari dan di desa itu terdapat
34 RT. Sejak dilaksanakan pada 2009 sampai sekarang, hasil uang recehan itu
telah memberikan manfaat dalam membangun desa.

Pertanyaan berikutnya, kenapa ditetapkan Rp 100? Kenapa bukan Rp 1.000 atau
Rp 10.000?

Enduh mengatakan, dengan seratus perak diyakini semua orang dari berbagai
lapisan kehidupan bisa menyumbang, termasuk orang miskin. Sebab, niat
menyumbang juga ada pada orang miskin. Bahkan, dalam ajaran agama Islam,
tidak dinilai berapa besar nilai sumbangan, melainkan keikhlasannya.

Pemikiran itu terbukti. Ini gambaran nyata bahwa soal menyumbang, tidak ada
perbedaan miskin atau kaya.

Apa yang dilakukan Enduh memberikan inspirasi dalam membangun kebersamaan.
Inspirasi membangun desa dan inspirasi gotong royong serta menghilangkan
batas kaya dan miskin. Inspirasi seratus perak tersebut membuat Enduh
diundang oleh Kementerian Perumahan Rakyat untuk presentasi di depan para
pejabat. Dia menjadi pembicara mewakili Provinsi Jawa Barat awal November
lalu.

Dengan seratus perak itu, pada 2010, sebanyak 22 rumah tidak layak huni
milik warga tidak mampu, bisa diperbaiki.

Inspirasi seratus perak telah memberikan pelajaran berharga yang tak
ternilai yang hanya digagas oleh seorang kepala desa yang berada di kaki
gunung jauh dari ibu kota Provinsi Jawa Barat.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6140941

Kirim email ke