Dipublikasikan pada *Radio Netherlands Worldwide * (http://www.rnw.nl)

------------------------------
Pesantren Ramah Anak di Garut
Oleh *Anonymous*
Dibuat *9 Juni 2011 10:56*
 [image: image/jpeg
icon]pesantren_torogong_1.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2011/06/pesantren_torogong_1.jpg>

*Pesantren kadang identik sebagai sarang kekerasan atau tempat anak nakal.
Gambaran itu dicoba diperbaiki di Pondok Pesantren Persis Tarogong, di
Garut, Jawa Barat. Mereka kini menerapkan konsep pesantren ramah anak.
Seperti apa konsep ini dijalankan dan bagaimana hasilnya? Reporter KBR68H
Sutami datang ke Garut, mengunjungi pesantren ini untuk Anda. *

Berdiri di atas lahan seluas 3 hektar, Pesantren Persis Tarogong menampung
sekitar 2700 santri putra dan putri dari berbagai tingkatan. 500 diantaranya
mondok atau tinggal di asrama pesantren.


*Drop out*
Muhammad Iqbal Santoso, pemimpin Ponpes Persis Tarogong, bercerita soal awal
mula penerapan konsep ramah anak di pesantren. "Tingkat drop out anak-anak
pesantren juga tinggi. Artinya, kalau yang masuk 100 awal tahun, kalau SMP
kelas 3 nya tinggal 60-70. Artinya ada 30-40 persen anak-anak yang putus di
jalan. Ada sesuatu yang salah di sini, terutama yang mondok atau yang di
asrama. "

Salah satu penyebab tingginya drop out: hukuman fisik. Muhammad Nur Ahsan
pernah mengalaminya. Saat itu, ia di tingkat tsanawiyah alias SMP. Ahsan
baru saja lulus tingkat Mu'allimin, setara SMA. "Nah kita melakukan
kesalahan, kita disuruh ke depan semua. Ada yang ringan-ringan push up,
paling berat sampai dipukul. Ada di kaki, kadang di tangan, paling parah itu
di wajah. Kalau di wajah itu biasanya anak-anak yang sudah bandel-bandel
banget."

*Tradisi*
Hukuman fisik di pesantren ini dulu terasa jamak. Saat menjadi santri, Iqbal
Santoso, pemimpin ponpes Persis Tarogong, juga merasakannya. Ia pernah
dipukul dengan rotan oleh sang kyai dan ditempeleng oleh ustad atau guru.
"Dulu saya ditempeleng, lapor ke orang tua ditambah lagi sama bapak.
Malu-maluin kamu.. begitu sama orang tua. Sekarang gak berani guru
nempeleng."

Hak menghukum juga ada di santri senior, yang diberi tanggung jawab untuk
mengasuh santri junior. Model pengasuhan macam ini lantas diwariskan kepada
junior mereka. Iqbal Santoso, pemimpin ponpes Persis Tarogong."Karena itu
sebetulnya dampak dari senior sebelumnya. Karena dulu ketika dia junior
begitu. Maka ketika dia senior ingin balas dendam. Sama ketika dulu di
perguruan tinggi ada plonco gitu. Tetapi sedikit-sedikit itu mulai
dihilangkan."

*Metode baru*
Bosan dengan kekerasan yang tak berkesudahan, sejak tiga tahun lalu Iqbal
Santoso menghapus jenis hukuman ini. Iqbal mengadopsi pola pendidikan ramah
anak yang dikenalkan lembaga PBB untuk masalah anak UNICEF dan Komisi
Perlindungan Anak Indonesia, KPAI.

Di program ini tak ada lagi hukuman fisik, kata Asrorun Ni'am Sholeh, Wakil
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia, KPAI.  "Nah bagaimana mengarahkan
hukuman atau punishment yang bersifat fisik itu, kepada punishment yang
lebih human dan lebih bersifat edukatif. Inikan bagian dari menciptakan
situasi kondusif bagi proses pembelajaran dan juga pendidikan di pesantren."

Kondusif, berarti santri nyaman belajar, tak lagi dibayangi ketakutan kena
hukuman fisik. Tiga tahun terakhir, Pesantren Persis Tarogong, tak lagi
menerapkan hukuman fisik. Sebagai gantinya, mereka pakai sistem poin.
Muhammad Fauzi Rabbani, siswa kelas 2 Mualimin, setara 2 SMA."Kesiangan satu
kali, point-nya ada. Nanti kalau udah tiga kali, point-nya udah bertambah,
diakumulasikan baru dipanggil orang tuanya. Jadi mendidiknya begitu, gak
cara fisik lah."

Cara ini bagi Fauzi lebih baik dibandingkan hukuman fisik. "Masih banyak kan
sekolah lain kalau kesiangan gurunya langsung marah. Langsung disetrap di
depan kelas. Kalau disetrap di depan kelas, disuruh angkat kaki. Otomatis si
anak itu yang disetrap kan jadi malu, nanti dia jadi cenderungnya pemalu,
gak punya pendirian, gak pede lah."

*Kontrak* *belajar*
Tak cuma santri yang menikmati sistem baru ini. Guru pun senang, kata Dadang
Ermawan pengajar Fiqih Syariah. Agar sama-sama enak, di awal tahun dibuat
kontrak belajar bersama antara guru dan murid.

"Untuk lebih efektif pembelajaran ini harus ada kesepakatan bersama. Kalau
ini bagaimana, kalau itu bagaimana. Tetapi kesepakatan itu bukan ditekankan
oleh saya pribadi. Kita tawarkan kepada anak-anak. Misalnya begini.
Bagaimana kalau saya lupa bawa buku, berapa jatah waktu tidak boleh
masuknya? Kita sampaikan kepada anak-anak, kira-kira menurut kamu berapa
kali? Dan harus tanggung jawab. Bagaimana kalau tiga kali? Sepakat? Sepakat
ya sudah selesai. Jadi bukan kita yang mengatakan harus tiga kali, kalau
tidak tiga kali gini-gini.'

Secara akademis, tingkat drop-out atau putus sekolah juga menurun, kata
Pimpinan Ponpes Persis, Tarogong, Muhamad Iqbal Santoso bangga. Jumlah dan
kualitas lulusan yang meningkat, menjadikan citra pesantren menjadi baik.
Setidaknya untuk Pesantren Persis Tarogong.


 ------------------------------
*URL sumber:*
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pesantren-ramah-anak-di-garut
 *Links:*
 *Images:*
[i1]
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2011/06/pesantren_torogong_1.jpg
[i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia

Kirim email ke