Baraya,
Sakumaha anu kungsi dijanjikeun, ieu curat-coret si kuring ngeunaan energi: # Menimbang Sisi Pasokan Energi Kita Amankah pasokan energi kita, minimal dalam periode 2010-2014 atau bahkan hingga 2025? Pertanyaan seputar isu strategis energi kita itu tak mudah untuk dijawab. Selain harus mempertimbangkan dua sifat yang berlawanan sekaligus, yaitu laten dan dinamis, pembahasan isu strategis idealnya juga berlandaskan pada hasil analisis perubahan lingkungan strategis dan paradigma langkah organisasi,* *dan dilakukan dengan *banchmarking* kepada literatur akademis yang ada atau hasil-hasil sebelumnya. Suatu isu atau permasalahan yang strategis akan berdampak panjang, mencakup baik yang positif atau menguntungkan, maupun yang negatif atau merugikan. Namun, isu itu tidaklah selalu berupa sesuatu yang baru. Terdapat permasalahan strategis yang bersifat laten, seperti permasalahan ketahanan energi yang setiap saat kita hadapi. Isu strategis juga mungkin muncul dari kebutuhan yang sifatnya mendesak (*trigged by urgency*) atau sesuatu yang tidak terikat kepada hasil-hasil sebelumnya atau hasil yang lama terbuka untuk direvisi. Setelah melihat gambaran kondisi energi Indonesia dari sisi pasokan primer, isu dan kebijakan yang terkait, kita akan melihat tantangan isu energi itu terhadap bidang geologi. * * *Kondisi Pasokan Energi Primer* Ketersediaan energi idealnya selalu dalam keadaan melebihi konsumsi atau kebutuhan energi. Dari sisi hulu, hal itu berarti ketersediaan harus siap untuk produksi yang mampu memasok kebutuhan konsumsi. Tentu saja, tautan bidang geologi lebih dominan pada aspek ketersediaan pasokan energi primer, khususnya sumber daya dan cadangan migas, batubara dan panas bumi. Meskipun demikian, bidang geologi, sisi hulu energi itu, sangatlah penting untuk memperhatikan juga sisi hilir energi, mulai dari pasokan, harga, aksesibiltas, konsumsi, hingga peranannya dalam ekonomo. Kondisi umum energi primer yang disajikan dibawah ini disarikan dari sumber informasi Pusdatin ( *Handbook of Energy and Economic of Statistic of Indonesia*) dan Ditjen Migas (www.migas.esdm.go.id) dan Badan Geologi. Konsumsi yang dimaksud disini adalah konsumsi primer, yaitu total penggunaan domestik dan ekspor. Antara 2005-2009, ekspor minyak bumi mengalami penurunan dari 159.703 ribu barrel pada 2005 menjadi, 133.282 ribu barrel pada 2009 (1barrel setara dengan 159 liter). Sementara itu, konsumsi gas, sebaliknya, mengalami kenaikan pada ekspor gas dan domestik, yaitu masing-masing dari 251.303 dan 808.641 pada 2005 menjadi 294.109 dan 1.335.019 pada 2009; namun mengalami penurunan pada ekspor LNG dari 1.136.484,72 pada 2005 menjadi 956.779,30 pada 2009 (semua satuan dalam MMSCF). Di sisi lain, untuk batubara dan panasbumi, konsumsi keduanya antara 2005 ke 2009 meningkat cukup penting. Ekspor batubara meningkat dari 110,79 menjadi 198,37 sedangkan konsumsi domestik naik dari 42,03 menjadi 57,88 (semua satuan dalam juta ton). Konsumsi panas bumi yang direpresentasikan oleh kapasitas terpasang meningkat dari 807 MW pada 2005 menjadi 1.189 MW pada 2009. Sebagai catatan ditambahkan disini bahwa konsumsi batubara dalam negeri masih jauh lebih kecil dibanding ekspor (konsumsi domestik 25% hingga 30% ekspor); dan konsumsi panasbumi, sesuai karakteristik sumber- energinya, seluruhnya dialokasikan untuk pasokan kebutuhan domestik. Dari sisi ketersediaan atau pasokan hulu, antara tahun 2005-2009 tampak bahwa cadangan minyak bumi dan gas bumi (migas) terus menurun. Bahkan untuk minyak, produksinya pun sudah mulai turun. Di sisi lain, produksi gas bumi meningkat sebagaimana sumber daya, cadangan dan produksi batubara. Hal yang sama, meskipun kurang begitu signifikan terjadi pada panas bumi, kecuali sumberdanyanya. Produksi minyak bumi pada 2005 sebesar 386.483 menjadi 346.469 pada 2009; sementara itu, cadangannya sebesar 8.626.960 pada 2005 berkurang menjadi 7.998.490 pada 2009 (semua satuan dalam ribu barel). Impor minyak periode 2005-2009 mengalami fluktuasi dan cenderung meningkat kembali pada 2009. Gas bumi pada periode yang sama, produksinya meningkat dari 2.985.341 MMSCF menjadi 3.060.879 MMSCF; dan cadangannya menurun dari 185.800x103 MMSCF menjadi 159.630 x 103 MMSCF. Pada 2005, sumber daya batubara, total untuk semua kualitas, tercatat 61.365,86 juta ton (JT) sedangkan cadangannya 6.758,90 JT, dan produksinya 152,72 JT. Pada tahun 2009, sumber daya, cadangan dan produksi batubara berturut-turut menjadi 104.940,22 JT, 21.131,84 JT, dan 256,18 JT atau mengalami peningkatan dibanding 2005 masing-masing sebesar 71,01%, 2,13% dan 67,74%. Impor batubara yang kecil, berkisar pada angka 0,1 JT per tahun dapat diabaikan karena sangat sedikit dibanding ekspor. Panas bumi pada 2005 memilik sumber daya sebesar 13.543 MW yang berkurang menjadi 13.486 MW pada 2009, sementara cadangannya sedikit meningkat dari 13.490 pada 2005 menjadi 15.042 MW pada 2009. Hasil tersebut diperoleh dari 253 lokasi panas bumi pada 2005 yang bertambah menjadi 265 lokasi panas bumi pada 2009. WKP (wilayah kerja panas bumi) total dari 2005 hingga 2009 sebesar 23 WKP. Kapasitas terpasang panas bumi meningkat dari 807 MW (dari lapangan-lapangan yang telah ada sebelumnya) pada 2005 menjadi total (kumulatif) 1.189 MW pada 2009. Pada akhir 2010 diperkirakan kondisi energi tersebut diatas tidak mengalami banyak perubahan dibanding tahun 2009. Cadangan minyak status Januari 2010, misalnya, tercatat sebesar 7.764,48 MMSTB atau 7.764.480 ribu barel, yang berarti mengalami penurunan dibanding 2009 (7.998.490 ribu barel). Demikian pula, cadangan gas bumi pada 2010 tercatat sebesar 157,14 TSCF atau 157.140 x 103 MMSCF (cadangan pada 2009 sebesar 159.630 x 103 MMSCF) yang berarti mengalami penurunan. Batubara pada 2010 diperkirakan mencapai 105.187 juta ton (JT) sumber daya, 21.132 JT cadangan; produksi dan konsumsi domestik masing-masing sebesar 275 JT dan 67 JT. Ekspor batubara 2010 yang diprediksikan lebih dari 208 JT naik dibanding 2009. Peningkatan pada 2010 dibanding 2009 terjadi pada energi panas bumi, kecuali pada sumber dayanya. Perkiraan posisi panas bumi pada 2010 adalah 276 lokasi potensi, sumber daya dan cadangan masing-masing sebesar 13.171 MW dan 15.867 MW, tambahan WK sebanyak 3 lokasi, dan total (kumulatif) kapasitas terpasang sebesar 1.196 MW. Dari paparan diatas, terdapat masalah penurunan pasokan energi primer yang menjadi salah satu isu ketahanan energi kita. *Isu Ketahanan Energi * Ketahanan energi secara eksternal berarti kemampuan untuk merespon dinamika perubahan energi global, sedangkan secara internal ketahanan energi adalah k emampuan untuk menjamin ketersediaan energi dengan harga yang wajar. Dalam rumusan para ahli energi global, kemandirian energi meliputi tiga aspek,* *yaitu (i) ketersediaan energi* *atau kemampuan menjamin pasokan energi; (ii) aksesibilitas energi atau kemampuan mendapatkan akses terhadap energi; dan (iii) daya beli* *atau* *kemampuan menjangkau harga energi. Ketahanan energi dan kemandirian energi memiliki hubungan yang timbal balik. Ketahanan energi adalah isu strategis Nasional karena kebutuhan energi yang semakin meningkat, produksi migas yang menurun, dan perkembangan energi baru dan terbarukan (EBT) yang belum mencapai akselerasi yang diperlukan. Permasalahan pasokan dan kebutuhan energi primer ini semakin diperberat oleh posisi target *lifting *migas, pertumbuhan ekonomi, asumsi harga minyak, elastisitas energi, dan subsidi BBM dalam APBN yang sangat menentukan ekonomi kita. Sebagai contoh, setiap penurunan produksi minyak dalam orde ribuan barrel per hari dari asumsi dalam APBN dapat menyebabkan defisit anggaran dalam orde ratusan milyar rupiah. Distribusi sumber energi yang tidak merata dan respon terhadap isu perubahan iklim merupakan permasalahan lainnya dalam isu ketahanan energi. Konsumsi energi kita, jika pasokan dari biomassa diabaikan, masih dominan (> 90%) berasal dari energi primer migas dan batu bara. Hingga tahun 2020, kebutuhan energi kita diperkirakan tumbuh rata-rata sebesar 5,2% per tahun. Angka tersebut sejalan dengan angka pertumbuhan pasokan energi primer antara 2005-2009. Di sisi lain, untuk mendukung pertumbuhan ekonomi sesuai arah RPJMN, diperlukan pertumbuhan pasokan energi sekitar 6,37% per tahun. Seiring dengan perkembangan di tingkat global, permintaan energi migas dan batubara di Indonesia tetap akan tumbuh hingga 2030 bahkan hingga 2050. Sementara itu, pasokan minyak kita diperkirakan hanya sampai 20 tahunan lagi, gas bumi diperkirakan bertahan sampai sekitar 50 tahun, dan batubara 70 tahun ke depan. Meskipun beberapa kalangan mungkin meragukan angka-angka tersebut, namun faktanya cadangan dan produksi minyak kita telah mengalami penurunan pada periode 2005-2009 dan diperkirakan akan berlanjut pada beberapa tahun ke depan. Kondisi batubara sedikit berbeda namun masih dibayangi dengan besarnya volume ekspor dibanding penggunaan dalam negeri. Sementara pasokan dari EBT masih belum berkembang pesat. Penurunan produksi migas diantaranya dipicu oleh penurunan produksi alamiah dari cekungan-cekungan minyak yang hingga kini mencapai 7%-12% per tahun karena sebagian besar lapangan migas itu sudah berada dalam tahapan *mature*.Namun, selain masalah kontrak dan perizinan lahan, tak kalah pentingnya adalah masalah data wilayah kerja (WK) atau blok migas yang ditenderkan. Sebagaimana diberitakan beberapa media, pada lelang WK migas di awal tahun 2008 sebanyak 21 lokasi dan disusul di akhir Mei 2008 dengan 25 lokasi, pada saat itu harga minyak dunia mencapai US$ 147 per barel, hanya separuhnya yang menarik investor. Salah satu alasan investor yang mengemuka pada saat itu adalah kurang yakinnya mereka terhadap data cekungan migas dari masing-masing blok yang ditawarkan. Hingga akhir 2009, terdapat 232 WK produksi dan eksplorasi, meningkat 14% dibandingkan dengan 2008 yang hanya 203 blok. Namun potensi blok yang dapat berproduksi sebetulnya masih banyak. Pada tahun 2010 Pemerintah masih akan menawarkan 35 WK migas. Tingkat keberhasilan pengeboran migas di blok-blok yang sudah dieksplorasi juga masih tinggi, mencapai 46%. Selain itu, pada saat ini sudah teridentifikasi sebanyak 128 cekungan sedimen yang berpeluang memiliki kandungan migas cukup berarti. Persoalan data migas yang meliputi sumber daya dan cadangan menjadi isu selanjutnya dalam ketahanan energi. Berkaitan dengan batubara, mengemuka isu peningkatan status sumber daya dan cadangan. Data periode 2005-2009 menunjukkan masih kurang berimbangnya cadangan dibanding sumber-dayanya. Kriteria penilaian dan bagaimana memperoleh data sumber daya dan cadangan menjadi isu berikutnya. Selain itu, kualitas batubara kita akan menjadi isu penting mengingat keterkaitannya dengan alokasi penggunaan batubara. Kualitas batu bara Indonesia sebagian besar (> 60%) adalah kalori sedang (5100-6100 kcal/kg). Cadangan batubara penting di Indonesia, terdapat di Sumatera (54,65%), khususnya Sumatera Selatan dan Kalimantan (45,35%), khususnya Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan. Lokasi pemanfaatan batubara yang umumnya jauh dari lokasi sumbernya menimbulkan permasalahan aksesibilitas. Isu lain berkaitan dengan batubara adalah alokasi wilayah Wilayah Pertambangan (WP) batubara dan Wilayah Pencadangan Negara (WPN) yang merupakan amanah UU No 4 Tahun 2009. Pertumbuhan ekonomi dan pengamanan pasokan energi nasional memerlukan strategi dan penetapan WP dan WPN batubara dengan mempertimbangkan konservasi dan diversifikasi energi. Apalagi tren ekspor batubara kita dari tahun ke tahun terus meningkat dan penggunaan domestiknya ke depan ditargetkan bertambah. ... # Saterasna tiasa dipulut tina editorial "Warta Geologi" Vol V, No. 4 Tahun 2010 di dieu: http://www.bgl.esdm.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=849&Itemid=129 Mugia aya manfaatna. Salam, manar 2011/3/28 oman abdurahman <[email protected]> > Bah Willy, > > Salah sahiji tugas uing ayeuna di ktr nyaeta ngareview atawa ngaji soal > energi ti hulu nepi ka hilir babarengan nu lian dina hiji tim. Danget ieu si > kuring keur nyoba2 ngaringkeskeun kaayan energi urang anu asalna tina fossil > jeung panas bumi (kuring nyebutna: energi berbasis geologi), tapi can > anggeus. Ke lamun geus anggeus, versi singget tina hasil ringkesan eta seja > diasongkeun ka milist. > > Ngeunaan batu bara, sigana wadul lamun cadanganana bisa nepi ka 70 taunan > deui, utamana ku tingkat produksina (babari gegedena mah keur ekspor). Geura > toong hiji analisis anu lumayan seukeut ti p Mukhtasor, salah saurang > anggota DEN (Dewan Energi Nasional), di alamat ieu: > http://m.kompas.com/news/read/data/2011.03.25.04522752 > > Tulisan sejenna ti salah saurang anggota DEN keneh, mudah2an bisa mere > gambaran ngeunaan energi urang. Cenah, minyak bumi lamun teu manggih deui > cadangan anyar kalawan tingkat produksi siga ayeuna, moal kungsi 15 taunan > deui, bah. Ieu tulisan anjeunna sagemblengna sakumaha dimuat di milist T. > Perminyakan itb: > > >> >> >> >> The message was checked by Fortiget >> >> >
