untungna nu mere lalayang katuladanan teh partikelir, mun pamarentah: najong
deh cin.

naon nu ditingalikeun ku bu eulis nu heroik ieu (reueus kuring ka bu bidan
ieu), hal eta oge nunjukkeun kateumampuh babu rahayat nu ngaku-ngaku tukang
marentah nyadiakeun inprastruktur kasehatan nu rata di unggal daerah. duit
nagara beak digayus! jeung diudin!, si udin ge "maen" pan di proyek alat
kasehatan.. (jancuk tenan iki, anjing sia!)

duh!

Pada 27 Juli 2011 09:48, Ki Hasan <[email protected]> menulis:

> **
>
>
> Dari Ujung Genteng hingga Dolly
> Rabu, 27 Juli 2011 | 08:18 WIB
>
> *Yulvianus Harjono*
>
> Di mata mereka, dedikasi tidak mengenal batasan. Mengabdi di daerah
> terpencil tanpa dukungan fasilitas yang laik atau mengobati wanita
> tunasusila di lokalisasi prostitusi bukanlah hambatan tugas sebagai bidan,
> melainkan peluang meningkatkan kesejahteraan warga melalui layanan
> kesehatan.
>
> Salah satu dari mereka adalah Eulis Rosmiati (41). Dua dasawarsa sudah ia
> bertugas sebagai bidan desa di Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat.
> Sepanjang kariernya itu, Eulis bergelut dengan jalan dan sanitasi yang
> buruk, kemiskinan, dan angka kematian ibu melahirkan yang tinggi.
>
> Eulis adalah satu-satunya bidan dan tenaga kesehatan yang ada di Pusat
> Kesehatan Desa (Puskesdes) Ujung Genteng, Kecamatan Ciracap, Sukabumi.
> Sesuai dengan namanya, wilayah pesisir ini berada di ujung selatan Sukabumi.
> Jarak desa ini dari puskesmas kecamatan terdekat 30 kilometer. Sementara
> jarak puskesdes tempatnya bertugas dengan rumah-rumah penduduk bisa 10-20
> kilometer.
>
> Satu-satunya sarana transportasi di sana adalah ojek. Namun, tarifnya tidak
> murah. Untuk bolak-balik ke puskesmas di Ciracap dibutuhkan ongkos Rp
> 50.000, sementara untuk ke puskesdes Rp 15.000-Rp 25.000. Pada malam hari,
> tarifnya bisa lebih mahal.
>
> Tidak heran, warga umumnya enggan datang ke puskesmas dan puskesdes atau ke
> rumah Eulis sekalipun itu untuk persalinan.
>
> Kondisi jalan berbatu ditambah jaringan listrik dan sinyal telepon seluler
> yang sulit—bahkan nyaris tidak ada—membuat tenaga-tenaga kesehatan,
> khususnya para dokter PTT (tidak tetap), sering masuk-keluar karena tidak
> betah. ”Saat ini saja kosong, belum ada pengganti baru (dokter PTT),” ujar
> Eulis di sela-sela penganugerahan penghargaan kesehatan Sang Teladan, 15
> Juli, di Jakarta.
>
> Eulis merupakan salah satu dari enam praktisi bidang kesehatan di Tanah Air
> yang dianggap berdedikasi dan punya jiwa keteladanan untuk meningkatkan
> kesehatan masyarakat di sekitarnya. Seleksi penganugerahan oleh produsen
> obat Decolgen itu diikuti 857 nomine se-Indonesia.
>
> Karena keterbatasan tenaga medis di desanya, Eulis harus bekerja ”borongan”
> sebagai bidan sekaligus dokter dan penyuluh kesehatan lingkungan di desa
> berpenduduk 4.438 jiwa itu.
>
> __
>



-- 
d-: dudi herlianto :-q
paciringan.wordpress.com
kunyuk nuyun kuuk, kuuk nuyun kunyuk

Kirim email ke