Tah ieu geuning cenah, Masjid Niujie teh hartina "Masjid Jalan Sapi", dumeh
tempatna aya di kawasan tuakang sapi. Tuh kaciri pan, babah mah teu ieu
gengsi make ngaran basa China, najan hartina "jalan sapi" oge.

"Dinamakan Niujie, yang berarti "Jalan Sapi", karena warga di wilayah ini
menjual masakan halal, terutama yang menggunakan bahan baku daging sapi.
Karenanya tak mengherankan jika kawasan ini dipenuhi oleh restoran-restoran
Muslim. Berada di dalam area kompleks seluas kurang lebih 6.000 meter
persegi, bangunan Masjid Niujie memperlihatkan campuran dua kebudayaan,
Islam dan Cina. Dari luar, arsitektur bangunan menunjukkan pengaruh Cina
tradisional, yakni tipikal bangunan istana Cina. Sedangkan di dalam
memperlihatkan gaya arsitektur Islam."

=======
Masjid Niujie, Melintasi Enam Zaman
Kamis, 15 Juli 2010 22:02 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Masjid Niujie adalah masjid paling tua dan
bersejarah di Beijing, ibukota negara Republik Rakyat Cina (RRC). Usia
masjid ini diperkirakan lebih dari seribu tahun. Masjid terbesar di antara
68 buah masjid di Beijing ini juga menjadi titik awal masuknya Islam di
daratan Cina. Arsitekturnya memperlihatkan campuran desain khas Cina dan
Islam.

Masjid ini dibangun pada masa pemerintahan Kaisar Tonghe dari Dinasti Liao,
tahun 996 Masehi, oleh dua orang berkebangsaan Arab. Menilik dari sejarah
berdirinya, masjid ini sudah melintasi enam zaman, dari masa kekuasaan
Dinasti Liao, Dinasti Song, Dinasti Yuan, Dinasti Ming, Dinasti Qing hingga
era Cina modern saat ini.

Sejak awal berdiri hingga kini, Masjid Niujie telah mengalami beberapa kali
renovasi dan perluasan. Di masa pemerintahan Dinasti Ming, bangunan masjid
mengalami perbaikan pada tahun 1442. Kemudian diperluas pada tahun 1696,
semasa Dinasti Qing berkuasa. Setelah RRC berdiri tahun 1949,  Masjid Niujie
telah mengalami tiga kali renovasi, masing-masing di tahun 1955, 1979 dan
1996.

Sebagai masjid tertua dan paling besar di Beijing, tak mengherankan jika
masjid ini menjadi pusat komunitas Muslim di kota tersebut yang jumlahnya
mencapai 200 ribu jiwa. Masjid ini terletak di kawasan Niujie, Distrik
Xuanwu, Beijing. Niujie sendiri dikenal sebagai kawasan padat berpopulasi
Muslim terbesar di Beijing. Data terakhir menyebutkan terdapat sekitar 13
ribu warga Muslim yang bermukim di kawasan ini.

Dinamakan Niujie, yang berarti "Jalan Sapi", karena warga di wilayah ini
menjual masakan halal, terutama yang menggunakan bahan baku daging sapi.
Karenanya tak mengherankan jika kawasan ini dipenuhi oleh restoran-restoran
Muslim. Berada di dalam area kompleks seluas kurang lebih 6.000 meter
persegi, bangunan Masjid Niujie memperlihatkan campuran dua kebudayaan,
Islam dan Cina. Dari luar, arsitektur bangunan menunjukkan pengaruh Cina
tradisional, yakni tipikal bangunan istana Cina. Sedangkan di dalam
memperlihatkan gaya arsitektur Islam.

Perpaduan dua gaya arsiktektur ini tidak terlepas dari kebijakan yang
diterapkan oleh pemerintahan Dinasti Liao. Kekaisaran Liao menerapkan aturan
yang melarang komunitas Muslim setempat mendirikan bangunan dengan gaya
arsitektur selain arsitektur tradisional Cina, dengan pengecualian bahwa
penggunaan kaligrafi Arab tetap diizinkan pada masaa itu.

Gerbang masuk menuju ke dalam kompleks Masjid Niujie berhadapan dengan
tembok besar sepanjang kurang lebih 40 meter yang dihiasi marmer berwarna
putih. Interior bangunan didekorasi dengan arsitektur khas Cina dan sentuhan
desain Arab yang tidak menampilkan figur manusia dan hewan.

Arsitektur khas Dinasti Qing jelas terlihat pada desain ruangan ibadah, yang
berupa aula utama yang hanya terbuka bagi pengunjung Muslim. Langit-langit
di depan aula utama didekorasi dengan panel persegi, yang pada tiap sudutnya
dilukis dengan desain lingkaran berwarna merah, kuning, hijau dan biru. Pola
dekorasi ini serupa dengan pola yang digambar di aula utama di Istana
Terlarang. Kaligrafi ayat-ayat Alquran dalam aksara Arab dan Cina, lukisan
bunga, serta hiasan kaca berwarna menghiasi ruangan ibadah.

Ruangan ini hanya dapat menampung seribu orang jamaah dan terdiri dari tiga
buah koridor yang lapang. Di bagian dalam ruangan ibadah ini terdapat 21
buah tiang yang menyangga bagian dalam bangunan. Ruangan ibadah ini
dinamakan juga dengan nama Aula Tungku. Di bagian belakang ruangan terdapat
paviliun berbentuk heksagonal (segi enam) yang membuat aula ini tampak
seperti tungku.

Orang Cina mengenal Islam dengan sebutan Yisilan Jiao yang berarti agama
yang murni. Diperkirakan ajaran Islam mulai masuk dan berkembang di dataran
Cina pada abad ke-5 Masehi. Adalah Khalifah Usman bin Affan yang pada waktu
itu menugaskan Sa'ad bin Abi Waqqas untuk membawa misi dagang ke daratan
Cina. Bahkan kemudian Sa'ad menetap di Cina hingga beliau meninggal pada
tahun 635 M, dan dimakamkan di sana.
*Redaktur:* Budi Raharjo
*Reporter:* Nidia Zuraya

Kirim email ke