Baraya sugan aya nu boga rezeki, tinimbang bulak-balik umrah atawa munggah haji unggal usik, mending bantuan tah aya budak cacat tapi pinter, cenah perlu 'kaki palsu'. Jigana hade oge mun aya nu ngoordinir rereongan keur mantuan eta budak.
======= Kekurangan Fisik Tak Surutkan Semangat Panji Sabtu, 30 Juli 2011 | 17:32 WIB *PANJI *(8) terlahir cacat tak punya kaki kanan serta tangan kanan yang tumbuh tak sempurna. Namun dengan kondisi seperti itu, anak bungsu pasangan kurang mampu, Dede (46) dan Juju (36), ini punya semangat tinggi bersekolah dan selalu masuk ranking 10 besar di kelasnya. Juju, sang ibunda rela berjalan kaki sejauh 1,5 km sekali jalan untuk menggendong Panji pergi sekolah di SD Negeri Cipari II, dari rumah mereka di Kampung Rancakacapi, Desa Karangmekar, Kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya. Melihat semangat yang diperlihatkan Panji, guru di seolah pun memberikan dukungan penuh. Terlebih bocah berwajah tampan ini tampak tidak minder berada di tengah-tengah teman sebayanya yang normal. Panji yang ini duduk di kelas II, selalu dudu di kursi paling depan. Ia pun misalnya tak ragu berbicara kepada gurunya jika ingin buang air kecil. Sang guru lantas menggendong dan diluar dilanjutkan oleh Juju yang setiap hari menunggu diluar. "Melihat Panji yang memiliki semangat tinggi untuk bersekolah, saya rela menggendong setiap hari pulang pergi ke sekolah. Tadinya ia akan disekolahkan sampai kelas I saja. Yang penting bisa menulis dan berhitung. Tapi diluar dugaan Panji malah ingin terus sekolah," tutur Juju yang ditemui di rumahnya, belum lama ini. Menurut Juju, tanpa ada firasat apa-apa Panji lahir dengan kondisi fisik tak sempurna. Tangan kanan hanya tumbuh hingga bagian sikut. Begitu pula kaki kanan hanya sebatas setengah paha saja. Kaki kirinya pun hanya memiliki tiga jari. Juju dan Dede sempat syok melihat kenyataan itu. Namun keadaan itu bisa terobati setelah melihat sikap Panji yang tidak pernah mengeluh dan bahkan kini punya semangat untuk belajar. "Panji terpaksa dimasukkan ke sekolah biasa karena di sini tidak ada sekolah khusus anak cacat. Untungnya pihak sekolah mau menerima Panji, terlebih setelah mereka melihat semangat dan rasa percaya diri Panji. Saat mulai belajar di kelas I ia minta duduk di kursi paling depan," kenang Juju dengan nada haru. Melihat semangat belajar seperti itu, Dede dan Juju sempat berniat membeli kaki palsu, dengan harapan Panji bisa berjalan dan menjalani kegiatan rutinnya lebih mandiri. Tapi setelah menelusuri alat bantu tubuh tersebut harganya ternyata tak terjangkau Dede yang sehari-harinya buruh serabutan. "Saat berada di dalam kelas, Panji seringkali harus tertatih-tatih jika hendak melaukan suatu kegiatan. Saya tidak bisa masuk karena khawatir mengganggu murid lainnya. Kalau ia memakai kaki palsu mungkin akan lebih leluasan bergerak," kata Juju. Panji sendiri mengutarakan keinginannya memiliki kaki palsu. "*Pami gaduh kaki palsu panginten teu kedah dipangku ku mamah pami bade sakola. Mung saur mamah teh pangaosna awis janten teu kapeser* (Kalau punya kaki palsu, ke sekolah tidak usah lagi digendong ibu. Tapi tidak jadi beli karena harganya mahal, Red)," tuturnya. Kepala SD Cipari II, Rahmat, mengatakan, seluruh guru termasuk dirinya memberikan dukungan penuh kepada Panji. Buktinya, bocah tersebut selalu berada pada ranking 10 besar. "Anaknya memang cukup cerdas, dan yang membuat kami kagum ia tidak minder serta bergaul seperti biasa dengan anak-anak normal," ujarnya. Pihak sekolah pun berupaya mengumpulkan uang dari guru dan orang tua murid untuk membeli kursi roda. Tapi hingga kini masih belum bisa terealisasi karena minimnya dana yang ada. *(stf)* *Dapatkan artikel ini di URL:* http://jabar.tribunnews.com/58891/Kekurangan Fisik Tak Surutkan Semangat Panji
