Mencetak Para Ahli Pembaca Kita Kuning
Rabu, 17 Agustus 2011 | 11:28 WIB

*BERBICARA *soal pondok pesantren (Ponpes) di Kota Cimahi, tentu tidak akan
lepas dari Ponpes Assanusiyyah. Ponpes yang terletak di Jalan Pesantren RT
02/XV Cibabat Kota Cimahi, ini dikenal sebagai salah satu ponpes para ahli
salafi (ilmu membaca kitab kuning) di Kota Cimahi dan Jawa Barat.

Tidak heran karena pada awal didirikannya dahulu oleh KH Sanusi (alm),
ponpes ini didirikan sebagai Ponpes Alquran, pesantren yang para santrinya
belajar khusus memperdalam ilmu Alquran. Karena itulah tidak heran jika
hingga saat ini Ponpes Assanusiyyah dikenal sebagai ponpes pencetak ahli
Salafi.

Ditemui Tribun, Senin (15/8), salah seorang pengurus Ponpes Assanusiyyah, Hj
Nina Robiah SPDI mengatakan, di Ponpes Assanusiyyah terdapat para pengajar
ilmu salafi. Pengajar ilmu salafi di ponpes ini, tidak hanya mengajar ilmu
salafi di Ponpes Assanusiyyah saja, namun juga kerap diminta untuk mengajar
di tempat lain.

"Begitu juga di bulan Ramadan ini, para ustaz-ustazah di ponpes kami kerap
diminta mengajar di tempat lain," terang Nina yang juga Bendahara Yayasan
Assanusiyyah.

Nina menerangkan, di bulan Ramadan yang sudah memasuki masa sepuluh kedua
ini, beberapa santri di Ponpes Assanusiyyah juga dikhususkan memperdalam
ilmu salafi mereka. Yang memperdalam pengetahuan salafi di bulan puasa ini,
kata Neni, memang tidak semua santri.

"Karena untuk memperdalam salafi tidak cukup hanya dadakan secara singkat
saja, tapi harus ditekuni sejak dari awal dan memang mebutuhkan waktu yang
sangat lama, tidak sebentar," katanya.

Selain ada yang memperdalam salafi, ada juga beberapa santri lain yang
memperdalam ilmu qiroat yaitu seni membaca Alquran dengan langgam tertentu
sehingga terdengar enak.

"Sebagaimana salafi, Ponpes Assanusiyyah juga dikenal pencetak qiroat
handal," ujarnya.

Selain dua kegiatan itu, banyak pula kegiatan lain yang diperdalam para
santri Assanusiyyah di bulan Ramadan, seperti kegiatan tausiyah, tadarus dan
tidak ketinggalan mengasah kegiatan dakwah para dai cilik yang ada di kelas
Madrasah Diniyah (MD) Ponpes Assanusiyyah.

Uniknya, selama ini, tidak semua santri Ponpes Assanusiyyah mempelajari ilmu
agama Islam sambil mondok (menginap, Red) di lingkungan ponpes. Kebanyakan,
santri-santri Assanusiyyah hanya bajar ilmu saja di Assanusiyyah, namun
mereka kemudian langsung pulang begitu selesai belajar agama.

"Hanya sedikit santri yang menginap, itu karena memang sarana yang masih
terbatas dan kebanyakan yang datang adalah orang-orang di sekitar lingkungan
ini," terang Neni.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah keberadaan pondokan tua yang
masih berdiri sejak Ponpes Assanusiyyah didirikan pertama kali puluhan tahun
silam sebelum masa kemerdekaan. Pondok tua yang hingga kini masih berdiri
itu merupakan saksi bisu saat ponpes pertama kali didirikan oleh KH Sanusi.

Meski sudah lama berdiri, pondok ini terlihat masih kokoh berdiri tegak dan
masih dijadikan ruangan belajar para santri. "Di pondok inilah santri-santri
berkualitas Assanusiyyah lahir dan dibesarkan," kata Nina yang juga istri
dari cucu KH  Sanusi, KH Abdul Halimi SPDI, sambil menunjukkan pondok yang
terletak di salah satu sudut kompleks ponpes.

Saat dikunjungi *Tribun*, suasana ponpes nampak ramai dengan berbagai
atribut dan tenda. Pasalnya, ponpes ini akan menggelar malam Nuzulul Quran
yang jatuh pada tanggal 17 Agustus ini. "Selain memeringati Nuzulul Quran,
juga sekaligus memeringati Hari Kemerdekaan kita," katanya. *(*) *


*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://jabar.tribunnews.com/60890/Mencetak Para Ahli Pembaca Kita Kuning

Kirim email ke