RIM Batal Investasi di Indonesia Gara-gara Salah Info
KAMIS, 06 OKTOBER 2011 | 19:27 WIB

l
[image: foto]  <http://image.tempointeraktif.com/?id=80050&width=490>

Research in Motion (RIM)


*TEMPO Interaktif*, *Jakarta*- Research in Motion (RIM), produsen pembuat
Blackberry menyatakan tidak jadi berinvestasi di Indonesia karena khawatir
akan dikenakan pajak ganda. Perusahaan Kanada itu mendapat informasi dari
konsultan kalau investasi harus bayar pajak di Indonesia dan Kanada.

Padahal, kata Edy, itu adalah informasi yang salah. Sebab, Indonesia dan
Kanada punya kerjasama sehingga perusahaan tidak harus dua kali membayar
pajak. "Maka, saya katakan kepada RIM, Kenapa Anda tidak tanya ke
pemerintah? Itu kesalahan fatal Anda," kata Deputi Menteri Koordinator
Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawady, Kamis, 6
Oktober 2011.

Penjelasan tersebut didapat Edy saat mengunjungi Kanada beberapa waktu lalu.
Kunjungan itu merupakan program rutin Kementerian Koordinator Perekonomian.
Kanada dipilih karena cukup banyak perusahaan dari negara itu berinvestasi
di Indonesia dan punya banyak keunggulan.

Secara umum, Edy juga menanyakan apa syarat agar satu wilayah di mana RIM
tertarik untuk mengikat kontrak kerjasama pembuatan BlackBerry. RIM
menyebutkan antara lain infrastruktur, pembiayaan, fasilitas, pelayanan
publik dan perusahaan yang bisa mendukung produksi.

Ke depan, kata Edy, promosi investasi memang harus dibantu dengan tenaga
konsultan. Sehingga tidak ada kesalahan informasi tentang Indonesia.

RIM juga menilai pengusaha Indonesia tidak mampu memproduksi BlackBerry.
Oleh karena itu RIM sudah menawarkan kerjasama pembuatan BlackBerry.
Sayangnya, investor di dalam negeri itu tidak bisa memodali pembuatan ponsel
pintar itu.

Sementara itu, pada saat yang bersamaan, ada tiga orang Malaysia yang
menyatakan bisa investasi BlackBerry dengan modal sendiri. "Jadi, RIM
tinggal order kepada mereka," kata Edy.

Dia lalu menjelaskan, sebetulnya, RIM tidak benar-benar membangun pabrik di
Malaysia. Sistem produksi BlackBerry adalah dengan cara kontrak kerjasama
dengan perusahaan atau pihak lain yang mampu membuat ponsel pintar tersebut.
"Jadi, bukan investasi fisik," ujarnya.

Maka sekarang konsumen mengenal ada BB Turki, BB Mexico dan sebagainya. Ada
juga BB yang dibuat khusus untuk pasar Amerika Utara dimana produknya
sebagian besar diproduksi dengan cara manual, bukan mesin. "Alasannya, ini
hanya untuk konsumen mahal," kata dia.

Lebih jauh Edy menyebutkan RIM sebenarnya adalah perusahaan berbasis
penelitian dan pengembangan (research and development). Mereka biasanya
membangun perusahaan dekat universitas. Maka, dari situ mereka bisa
menghasilkan teknologi pintar seperti ponsel dan komputer mini.

"Modal mereka human capital. Saya datang kesana untuk belajar bagaimana
mereka mentransform sumber daya manusia jadi human capital," kata dia.

Selain itu, Edy juga mencari kemungkinan produsen Indonesia untuk mensuplai
kebutuhan konten atau suku cadang produk RIM. "Sebab, dalam lima tahun
terakhir Indonesia telah membuat pelengkap seperti casing. Orang Indonesia
juga pandai membuat software," kata dia.

EKA UTAMI APRILIA

http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/10/06/brk,20111006-360267,id.html

Kirim email ke