bentuk arsitektur ‘wastuwidya’ : -anjung méru ‘bangunan yang berbentuk lancip seperti gunung, lebih tinggi ke atas lebih kecil’,
badak heuay, ‘bentuk bangunan rumah yang tidak memakai wuwung, bersambungnya antara atap belakang dan atap depan tampak seperti badak yang sedang menganga’, badawang sarat ‘satu ragam hias pada rumah dengan hiasan ikan besar’, Balandongan ‘bangunan sementara untuk menerima tamu’; tempat pertunjukan kesenian’, capit gunting ‘bentuk bangunan rumah yang bagian pinggir atap gentingnya memakai bambu atau kayu disilangkan /menyilang seperti gunting hendak mencapit’, julang ngapak, ‘bentuk bangunan rumah yang di bagian depan belakangnya memakai sorondoy seperti sayap ‘julang’ yang sedang terbang atau mengepakkan sayapnya’, ganggang hopatih ‘nama bentuk bangunan rumah yang bercelah-celah’, pagencayan ‘: ragam hias rumah yang beraneka ragam hias’, limas kumureb, bentuk atap bangunan yang menyerupai limas tertelungkup’, parahu kumureb ‘bentuk bangunan rumah yang bagian atapnya menyerupai perahu yang tengtelungkup/tengkurap’, suhunan jolopong ‘bentuk bangunan rumah yang bagian atapnya terbentang memanjang, terkadang ada yang menyebut atap panjang atau menyerupai gajah’, dan tagog anjing ‘bentuk bangunan ‘saung’ badak heuay, hanya pinggir usuknya bertemu dengan bagian pinggir usuk bagian depan, jadi bangunannya menjorok seperti anjing sedang jongkok’. bermacam-macam jenis bale ‘balai’ : balé bobot ‘balai, serambi, bangunan yang sangat hebat dan kuat’, balé bubut ‘sejenis balai dengan bentuk ragam hias yang dibubut dihaluskan atau dibulatkan’, balé mangu ‘balai tempat menunggu’, balé nyasa ‘bangunan samping’, balé tulis ‘balai yang digunakan untuk keperluan administrasi/kantor’, balé watangan ‘balai tempat mengadili/pengadilan berhubungan dengan hukum’, bale desa ‘kantor desa/balai desa’, bale kota ‘balai kota’, bumi asri ‘bumi cantik’, bumi bubut, bumi kancana, bumi manik, bumi niskala, bumi ringgit, bumi sakala, bumi tetep, bumi lamba, bumi tan parek, bumi resik, pancak saji ‘rumah sesajian’, rangkay ‘bangunan yang belum selesai’. Paséban ‘bangunan tempat menerima persembahan’, tumpang sanga ‘rumah yang bersusun, berundak atau bertingkat sembilan’.
