Jadi atuh nya, Danau Bandung Anyar teh, ari kitu mah. Napak tilas jamana
Danau Bandung Purba.

2011/12/27 dudi mulyadi <[email protected]>

> **
>
>
> Dongeng sarupa ,kaalaman ku sababaraha urang nu  kabeneran ngaluuhan
> undangan di Garut. Sarua rek mulang ka Bandung, Jakarta jeung Bogor.
> Nepi aya babaturan nu ngirim bbm; "Salian  ngaliwatan Rancagebleg ieu,
> kudu kamana yeuh?. Urang rek balik ka Bogor", meungpeung masih di Ngamplang
> keneh" cenah.
> " Mun masih di Ngamplang keneh mah, alusna mah  ngaliwatan ka
> Rancananabolay wae atuh", ceuk kuring teh heureuy.
> Teu kungsi lila bet  kring we manehna nelepon; "Dud , mengkolna timana ka
> Rancabolay teh?
> Walah ........gening serius manehna teh. Untung masih boga ide. Coba lewat
> Wado, ka Sumedang , terus ka Subang, kaluar ti Sadang  terus ka tol
> Cikampek -Jakarta, lewat Cikunir . Mengkol ti km 12  menuju ka Bogor.
> Maksudna teh  alusna ulah waka balik ka Bogor, rancanana bolaykeun we
> alias ulah dijadikeun poe harita.
> Manehna  macana lain Rancananabolay, tapi Rancabolay.
> Beu.................dasar nu keur pakepuk....ku panik .
>  *Dari:* Irpan Rispandi <[email protected]>
> *Kepada:* [email protected]
> *Cc:* [email protected]
> *Dikirim:* Selasa, 27 Desember 2011 15:23
> *Judul:* [Urang Sunda] AMDAL
>
>
> Kuring Curhat yeuh..
> hampura teu disundakeun.
>
> AMDAL
>
> "Gunung kayuan, lamping awian, lebak sawahan, legok balongan jeung datar
> imahan. Gunung teu meunang dilebur lebak teu meunang diruksak. Ka cai
> jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Sing runtut raut sauyunan sabobot
> sapihanéan
> Mipit kudu amit ngala kudu ménta. Sing kacukcruk walunganana sing
> kapapay wahanganana. Nété tarajé nincak hambalan"
>
> Untaian kalimat diatas merupakan sebuah hukum adat dari masyarakat adat
> Cibedug, yang ada di Kab. Lebak, Prov. Banten. Artinya kurang lebih
> demikian:
> "Gunung tanamilah kayu, tebing tanamilah bambu, lembah jadikan sawah,
> lubang jadikan kolam, didataran dirikan rumah. Gunung tak boleh dilebur,
> lembah tak boleh dirusak. Hiduplah yang rukun antara sesama manusia.
> Kalau mau memetik atau mengambil hasil alam, haruslah minta ijin, tidak
> mencuri atau mengambil sembarangan. Jagalah sungai dari hulu sampai
> hilir. Jangan menginginkan jalan pintas, lakukanlah sesuai peraturannya."
>
> Andai saja semua orang selalu menjaga perilakunya agar senantiasa
> selaras dengan alam, maka segala bencana (tak perlu) yang menimpa kita
> harusnya tidak pernah ada. Kalaupun bencana itu datang, seyogyanya
> berasal dari kehendak alam seperti gunung meletus atau gempa bumi.
> Adapun banjir, kebakaran hutan, dll, sebenarnya tidak perlu terjadi.
> Karena kesemuanya akibat tingkah laku manusia yang tidak lagi menjaga
> keselarasan dengan alam.
>
> Ok, cukup dengan pidatonya ^_^. Sebenarnya saya hanya ingin
> mengungkapkan kekesalan saya karena terjebak banjir di Bandung.
> Ceritanya saya kemarin mudik. Pas kembali ke Jakarta, bis yang saya
> tumpangi terjebak kemacetan luar biasa di daerah Rancaekek, Bandung.
> Waktu tempuh Garut-Jakarta normalnya adalah 4-5jam. Namun akibat banjir
> kemarin, waktunya molor jadi 10 jam! Bis yang saya tumpangi stuck lebih
> dari 5 jam, karena jalanannya terendam banjir.
>
> Karena jalanan digenangi air sampai sepaha orang dewasa, maka
> mobil-mobil kecil seperti sedan dan minibus, tidak bisa lewat.
> Sebenarnya bis dan mobil besar lainya bisa lewat, namun karena jalannya
> tertutup mobil-mobil kecil, maka bis pun jadi tak bisa lewat. Jadilah
> kami menikmati 'wisata air'dulu selama 5 jam.^_^
>
> Daerah yang banjir kemarin berada di kawasan industri, ada banyak pabrik
> yang berdiri disana. Dan berdasarkan percakapan antara supir bus dan
> penumpang yang sempat saya dengar, banjir di daerah ini merupakan hal
> biasa yang terjadi tiap tahun. Banjir akan melanda jika musim hujan datang.
>
> Hal biasa? tiap tahun? ehm... tok..tok..tok...bapak walikotanya ada?
> Bagaimana bisa bencana kemanusiaan yang menghancurkan urat nadi
> kehidupan masyarakat (lebay ^_^) dibiarkan terus terjadi setiap tahun.
>
> Saya jadi ingat sebuah akronim AMDAL = Analisis Mengenai Dampak
> Lingkungan. AMDAL ini dilakukan ketika sebuah usaha akan didirikan di
> suatu daerah. Sebelum sebuah usaha diijinkan beroperasi di suatu tempat,
> terlebih dahulu akan dilakukan analisa tentang dampak operasi usaha
> tersebut terhadap lingkungan sekitar. Jika dampaknya buruk bagi
> lingkungan, maka usaha tersebut tidak akan diijinkan beroperasi.
> Seharusnya. ^_^
>
> Nah, untuk kejadian Annual Banjir of the World kemarin, dimana AMDALnya
> ya? dan yang lebih penting lagi, kenapa bisa jadi acara tahunan?
> Tidakkah pak walikota mengetahuinya. Tidakkah bapak Presiden Direktur
> Komisaris PT. UMR AJA mengetahui adanya 'wisata air' yang terjadi di
> halaman pabriknya? Gak mungkin kalau tidak tahu. Lha terus kenapa dibiarin?
>
> Gunung teu meunang di lebur, lebak teu meunang diruksak. Kalau gunung
> rusak lembahnya rusak, banjirlah jadinya. Saya tidak tahu pasti seberapa
> jauh kerusakan gunung dan lembah yang terjadi di Bandung, namun kalau
> melihat banjir yang sedemikian, maka tentulah kerusakannya sudah parah.
> Dan kalau sudah terjadi bencana, maka yang menderita biasanya rakyat
> kecil, "nu teu mais teu meuleum" (yang nggak tau apa-apa). Bapak
> walikota, rumahnya biasanya di kawasan elit yang aman banjir, pemilik
> PT. UMR AJA juga pastinya gak tinggal di daerah rawan banjir lah. Jadi
> kalaupun terjadi banjir, bapak walikota aman dirumahnya, pak Pengusaha
> juga sama.
>
> Satu hal lagi yang saya penasaran adalah, penduduk sekitar sana yang
> rumahnya selalu terendam banjir, mereka nggak protes apa? Atau sudah?
> Kalau sudah, kenapa masih banjir juga?
>
> Sebagai pembayar pajak yang menggaji pemerintah, bukankah kita punya hak
> menuntut penyelesaian masalah banjir ini? "nggak mau tahu pokoknya itu
> masalah banjir harus selesai, lo mau bikin kanal kek, bikin waduk kek,
> mau lo minum juga terserah, yang penting gak ada banjir! kalo nggak, lo
> kagak gue kasi gaji lagi, mau?!"
> he..he..he... mimpi.
>
>
>  
>

Kirim email ke