Hubbuddunya mereun mang Keby hehehe….punten ah

Enya eta abong abong tukang nulis, mang Gunawan teh manggih wee jang bahan
tulisaneun teh nya? Aya ku reeus…

Kamari si kuring mulang hajian ge, nu kajeeung palebah meletetan gedong nu
luhur nu aya jam tea, dina pikiran ngadon patojaiah jeung pipikiran mang
Gunawan, nu kaimpleng ku si kuring ngadon aya rasa reeus ningali gedong
luhur nu kawentar teh, keun we lah najan kasebut agul ku payung butut ge
heuheuh, tah kitu na palebah pipikiran kuring harita mah…

 

Asa kaeleketek ku kalimah ieu :

 

“Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok
yang pedih dan yang dahsyat di masa silam? ”

 

Nu jadi patanyaan jeung kapanasaran si kuring, naha naon atuh pihartieunana
lamun enyaan teu dibukbrak tah patilasan sajarah teh?, naha bakal pijadieun
niley ibadah?

Ari ceuk kereteg hate si kuring nu pangjerona, keun we lah deuk di
gulanggaper ge palebah nu kituna mah, nu penting rukun jeung sarat sah
ibadah (haji) katedunan, Ka’bah masih bungkeleukan keneh teu di ropea… tah
kitu..

Atawa cing sugan aya nu apal dalil ngeunaan tong dibukbrak patilasan
sajarah, nuhun….

 

From: [email protected] [mailto:[email protected]] On
Behalf Of mang kabayan
Sent: Monday, November 12, 2012 7:04 AM
To: UrangSunda; Senyum-ITB; Alumni IPB; Kota Bogor
Subject: [Urang Sunda] Fw: Mekah (Caping Gunawan Mohamad)

 

  

Euleuuuuh ternyata "Ubuddunya" juga sudah sampai ke Mekah nya Bah :((. 

Ketika Nabi Ibrahim A.S. dan Rosululloh mengukuhkan kembali "monoteismeu"
rupanya muncul berhala-berhala baru di deket Ka'bah. 

Innalillahi waina ilaihi rojiun :((.

nuhuuuuns nun,
mang kabayan
www.udarider.com

  _____  

From: "Waluya" <[email protected]> 

Sender: [email protected] 

Date: Mon, 12 Nov 2012 03:20:24 -0000

To: <[email protected]>

ReplyTo: [email protected] 

Subject: [Urang Sunda] Fw: Mekah (Caping Gunawan Mohamad)

 

  

Maca Catatan Pinggir Gunawan Mohamad dihandap ieu, kuring ngajenghok, kutan
kitu?

http://www.tempo.co/read/caping/2012/11/04/128552/Mekah

Mekah
Minggu, 04 November 2012

Betapa berubahnya Mekah. Duduk di salah satu sudut Masjidil Haram ketika
matahari meredakan panasnya, kita bisa merasakan bayang-bayang sebuah
bangunan yang menjangkau langit dari arah Selatan.

Memang: di seberang gerbang Baginda Abdul Aziz, berdiri sebuah super-gedung,
(baru diresmikan Agustus tahun ini), yang disebut Abraj al Bait. Raksasa ini
lebih dari 600 tingginya: menara waktu yang paling jangkung sedunia. Empat
muka jam di puncaknya masing-masing berbentuk mirip Big Ben di London,
meskipun mengalahkannya dalam ukuran: diameternya masing-masing 46 m, dengan
jarum panjang yang melintang 22 meter. Dan berbeda dari Big Ben, di jidatnya
yang diterangi dua juta lampu LED tertulis Çááå ÃßÈÑ, "Allahu Akbar."

Di Abraj al Bait ada 20 lantai pusat perbelanjaan dan sebuah hotel dengan
800 kamar. Juga tempat tinggal. Garasenya bisa menampung 1000 mobil. Tapi
para tamu dan penghuni juga bisa datang dengan helikopter (ada lapangan
untuk menampung dua pesawat), karena ini memang tempat bagi mereka yang
mampu menyewa, atau memiliki, kendaraan terbang itu. Ongkos semalam di salah
satu kamar di Makkah Clock Royal Tower bisa mencapai 7.000.000 rupiah.

Dari ruang yang disejukkan AC itu orang-orang dengan duwit berlimpah bisa
memandang ke bawah — ya, jauh ke bawah — mengamati ribuan muslimin yang
bertawaf mengelilingi Kaabah bagai semut yang berputar mengitari sekerat
coklat.

Saya tak bisa membayangkan, bagaimana dari posisi itu akan ada orang yang
bisa menulis seperti Hamka di tahun 1938. Apa kini artinya "di bawah
lindungan Kaabah"? Justru kubus sederhana tapi penuh aura itu yang sekarang
seakan-akan dilindungi gedung-gedung jangkung, terutama Abraj al Bait yang
begitu megah dan gemerlap — dengan 21.000 lampunya yang memancar sampai
sejauh 30 km dan membuat rembulan di langit pun mungkin tersisih.

Betapa berubahnya Mekah. Atau jangan-jangan malah berakhir. "It is the end
of Mekkah", kata Irfan al-Alawi, direktur pelaksana Islamic Heritage
Research Foundation di London kepada The Guardian. Nada suaranya murung
seperti juga suara Sami Angawy.

Hampir 40 tahun yang lalu arsitek ini mendirikan Pusat Penelitian Ibadah
Haji di Jeddah. Dengan masygul ia menyaksikan transformasi Mekah berlangsung
di bawah kuasa para pengusaha properti dan pengembang. "Mereka ubah tempat
ziarah suci ini jadi mesin, sebuah kota tanpa identitas, tanpa peninggalan
sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa lingkungan alam. Bahkan mereka renggut
gunung dan bukit."
Angawy, 64 tahun, mungkin terlalu romantis. Ia mungkin tak mau tahu hukum
permintaan dan penawaran: jumlah orang yang pergi haji makin lama makin
naik; kalkulasi masa depan mendesak. Mekah harus siap. Tapi Angawy justru
melihat di situlah perkaranya. Ia menyaksikan "lapisan-lapisan sejarah"
Mekah dibuldoser dan dijadikan lapangan parkir.

Akhirnya ia, yang lahir di Mekah, menetap di Jeddah, di rumah pribadinya
yang didesain dengan gaya tradisional Hijaz. Ketika Abraj al Bait dibangun
seperti Big Ben yang digembrotkan ("meniru seperti monyet", kata Angawy) ia
merasa kalah total. Ia lebih suka tinggal di Kairo.

Tapi bisakah transformasi Mekah dicegah? Kapitalisme membuat sebuah kota
seperti seonggok besi yang meleleh, untuk kemudian dituangkan dalam cetakan
yang itu-itu juga. Dengan catatan: dalam hal Mekah, bukan hanya karena
"komersialisasi Baitullah" kota suci itu hilang sifat uniknya. Angawy
menyebut satu faktor tambahan yang khas Arab Saudi: paham Wahabi.

Wahabisme, kata Angawy, adalah kekuatan di belakang dihancurkannya sisa-sisa
masa lalu. Dalam catatannya, selama 50 tahun terakhir, sekitar 300 bangunan
sejarah telah diruntuhkan. Paham yang berkuasa di Arab Saudi ini hendak
mencegah orang jadi "syrik" bila berziarah ke petilasan Nabi, bila
menganggap suci segala bekas yang ditinggalkan Rasulullah – dan sebab itu
harus disembah.

Sejarah Arab Saudi mencatat dihapusnya peninggalan sejarah itu secara
konsisten. April 1925, di Madinah, kubah di makam Al-Baqi' diruntuhkan.
Beberapa bagian qasidah karya al-Busiri (1211–1294) yang diukir di makam
Nabi sebagai himne pujaan ditutupi cat oleh penguasa agar tak bisa dibaca.
Di Mekah, makam Khadijjah, isteri Nabi, dihancurkan. Kemudian tempat di mana
rumahnya dulu berdiri dijadikan kakus umum.

Contoh lain bisa berderet, juga protes terhadap tindakan penguasa Wahabi
itu. Di awal 1926, di Indonesia berdiri "Komite Hijaz" di kediaman K. H.
Abdul Wahab Khasbullah di Surabaya, ekspresi keprihatinan para ulama.

Reaksi dari seluruh dunia Islam itu berhasil menghentikan destruksi itu.
Tapi kini, di abad ke-21, Wahabisme dan kapitalisme bertaut, dan Mekkah
berubah.

Mengherankan sebenarnya. Di sebuah tulisan dari tahun 1940 Bung Karno
mengutip buku Julius Abdulkarim Germanus, Allah Akbar, Im Banne des Islams.
Di sana Bung Karno menggambarkan kaum Wahabi sebagai orang-orang yang dengan
keras dan angker mencurigai "kemoderenan"; mereka bahkan membongkar antena
radio dan menolak lampu listrik. Tapi kini, seperti tampak di kemegahan
Abraj al Bait bukan hanya lampu listrik yang diterima, tapi juga
transformasi Mekah jadi semacam London & Las Vegas. Apa yang terjadi?

Mungkin sikap dasar Wahabisme tak berubah. Menghapuskan petilasan
(menidakkan masa lalu), sebagaimana menampik "kemoderenan", (menidakkan masa
depan) adalah sikap yang anti-Waktu. Jam besar di Abraj al Bait itu akhirnya
hanya menjadikan Waktu sebagai jarum besi. Benda mati. Dan bagi yang
menganggap Waktu benda mati, yang ada hanya rumus-rumus ibadah tanpa proses
sejarah.

Tapi apa arti perjalanan ziarah, tanpa menapak tilas sejarah dan menengok
yang pedih dan yang dahsyat di masa silam?

Mungkin piknik instan ke kemewahan.

Goenawan Mohamad



<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke