Wooooow juara Mas Widi, Nuhuuuns infonya... Mamang sudah senang sekali nih baca bukunya Mas Widi, "Maha Karya Sukarno Hatta dan Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta". Benar-2 memberikan pencerahan euy.
Banyak tokoh Sumedang yg cukup berperan ditingkat Nasional: 1. Ali Sadikin Gupernur DKI 2. Muhtar Kusumaatmaja 3. Agus Wirahadikusuma dan ayahnya Umar Wirahadikusumah, tenggelam karirnya dan kemudian meninggal karena dulu dekat dgn mahasiswa :(. 4. Sejarawan Saleh Danasasmita 5. Uli Sigar Rusadi Aktivis Lingkungan 6. Aria Soeriaatmaja, dlsb. Yg cukup senior diantaranya Pangeran Aria Soeriaatmaja yang sedang diusulkan oleh Ibu Nina Herlina lubis sejarawan menjadi Pahlawan Nasional. Beliau yg mewakafkan tanahnya untuk mendirikan sekolah pertanian rakyat di Tanjungsari yg kemudian nantinya jadi Unwim lalu kemudian sekarang Unwim menjadi bagian dari ITB. Beliau juga yg mendirikan Bank Rakyat cikal bakal BRI. Beliau menghormati produk lokal termasuk dari para pendatang dari etnis Tionghoa Ong Bungkeng yg pandai membuat tahu beliau menghimbau Bungkeng utk terus mengembangkan tahu karena ketika beliau mencicipi rasanya enak sekali. Beliau juga mengembangkan kuda diantaranya menghidupkan kesenian kuda renggong, pacuan kuda, dlsb. Beliau juga taat beragama dikenal juga Pangeran Mekah, rajin tirakat, puasa senin kamis, dlsb. Ketika beliau meninggal, monumen Lingga didirikan untuk menghormatinya, diresmikan oleh Gubernur Jendral Mr. D. Fock, pada tanggal 25 April 1922. pada salah satu prasasti Lingga tersebut ditatahkan kalimat: “URANG SADAYA SAMI TUNGGAL KAWULANGGIH ALLAH. SAASAL SATEDAK KENEH. UPAMI DIKAPALAAN KU NU SAMPURNA, WENING GALIH SARENG LINUHUNG, AYEM TENGTREM SADAYANA.” Artinya: "Kita Semua Sama Mahluk Ciptaan Tuhan. Satu asal semuanya. Apabila Dipimpin oleh Yang Sempurna, Hati Bersih dan Luhur Ilmu & Budi Pekertinya, aman tentram semuanya". Lagi-2 leadership yg bisa memberikan kado kebaikan kepada masyarakat yg dipimpinnya akan selalu dikenang sepanjang masa. Junior Mamang yg ke-2 lahir di RS Sumedang ketika mudik ka Lembur, bertepatan dengan Subuh pas Hari Raya Idul Fitri, ketika pagi-2 setelah sholat Ied, lalu mencari Sarapan ke Alun-2 Sumedang, melihat Tugu Lingga tersebut dan membaca penggalan kalimat di atas Mamang lalu kemudian ngasi nama Junior Mamang Arya Fitra Suryaatmaja, biar nanti kalau sudah gede tahu dan belajar/ bercermin dari Keluhuran Budi Pangeran Aria Soeriaatmaja yang Nyantri, Nyunda, Nyakola~ Beragama, Berbudaya, dan Berpendidikan, Pamimpin yang Nyunda n' Nyiliwangi~Cageur, Bageur, Bener, Singer, jeung Pinter. Sumedang Larang dulu adalah penerus kerajaan Pajajaran, ketika pada saat Pajajaran akan hancur maka Siliwangi, Prabu Suryakancana mengirimkan Mahkota Kerajaan beserta 4 panglimanya. Kerajaan-2 Sunda punya strategi yg unik dalam Defensive diantaranya punya dua Ibukota Kerajaan yaitu Pakuan/ Bogor di Barat dan Galuh/Kawali/Ciamis di Timur. Ketika mendapat serangan dari Barat apabila terdesak pindah ke Timur, apabila diserang dari Timur bisa pindah ke Barat. Ratusan tahun strategy itu cukup sukses bertahan. Seperti Mamang Sampaikan bahwa Kerajaan Sunda itu wilayahnya dari dulu ya itu-2 aja, bukan tipe negara yg suka invasi/ imperialis. Raja-2nya malah gelarnya Resi Guru hehehe. Apakah itu merupakan suatu kelemahan? Itu juga yg kemudian membuat Sunda akhirnya hancur? Karena menurut teori modern cara bertahan paling canggih ya menyerang? Tapi juga teori invasi juga silih berganti tumbang :((... Ibarat Karma ~ Pama ya'mal miskola darotin saroyyaroh, apa yg ditanam itu yg dituai, setiap perbuatan pasti ada balasannya. Para Imperialis juga ternyata pada waktunya Rezim Berakhir. Sunda Kalapa dulu milik Pajajaran, diserang Koalisi Demak Cirebon Banten Malaka lalu kemudian tidak lama Imperialis itu diserang lagi Belanda lalu kemudian Belanda disikat Jepang lalu Jepang disikat lagi Sekutu ngak ada habisnya. Sekarang Indonesia merdeka walopun pada hakekatnya Imperialismeu Modern dalam bentuk Kapitalismeu masih bercokol. Menurut Mamang Sukarno menggunakan Strategy Ala Sunda itu ketika Indonesia mendapatkan serangan-2 dahsyat. Sukarno memerintahkan membentuk Pemerintahan darurat di Bukittinggi dan Mang Sjafrudin Prawiranagara jadi Presiden darurat Indonesia. Ibukota juga pernah berpindah ke Jogja, dlsb. Strategi itu digunakan utk mempertahankan diri. Nah kalau pemimpin jaman dulu itu mengorbankan tanahnya, darahnya untuk kemajuan masyarakatnya? Contoh Pangeran Aria dia mewakafkan tanahnya utk membikin sekolah pertanian. Artinya para Pemimpin dulu itu berlomba-2 berkontribusi kepada masyarakat memberikan Kado/ Hadiah yg bisa diberikannya masyarakat pun membalasna membuatkan Prasasti Pengingat-2 dan selalu mengenangnya. Pemimpin sekarang terbalik ya memupuk kekayaan berupa tanah dan rumah mewah, mobil, bahkan perempuan :((. Pemimpin-2 sekarang mengambil dari negara dan rakyat bukan memberi dan berkontribusi. Tanah Negara menjadi milik pribadi / kroninya. Rekeningnya pada gendut-2, berlimpah ruah kekayaannya. Sementara rakyat masih menderita n' menangis himpitan ekonomi yg makin riweuh. Pangan, Energi, n' Air sudah digadaikan ke para "Imperialis Modern" tidak ada lagi kedaulatan Indonesia disana. Sebentar lagi kita memasuki bulan puasa barangkali para pemimpin bisa menahan diri untuk stop membuncitkan pundi-2 kekayaan pribadi dan mulailah bercermin kepada para pemimpin-2 dahulu yang punya prinsip, "Ti Aing, Ku Aing, Keur Balarea". Dari Ku, Oleh Ku, untuk Semua. Bukan sebaliknya Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Ku. Hutang Indonesia sudah 2000 Trilyun lebih, Energi masih tergantung dari negara lain, Pangan juga begitu, Air juga sudah semakin sulit mencari air bersih :((. Moral juga masih PR besar :((. Inalillahi wa ina ilaihi rojiun... nuhuuuuns, mang kabayan www.dkabayan.com -----Original Message----- From: Widi Harsono <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Fri, 7 Jun 2013 20:19:03 To: [email protected]<[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: [alumni-ipb] Sumedang punya Profesor Sarbini Sumawinata In Memoriam Prof Sarbini Sumawinata (1918-2007) Jakarta | Jurnal Nasional Kamis, 15 Maret 2007 BAGI kebanyakan orang, apalagi generasi usia 40-an atau dibawahnya, nama Sarbini Sumawinata (89) tentulah tidak seakrab atau semencorong para arsitek ekonomi Orde Baru seperti Soemitro Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, Ali Wardhana, Sumarlin, dan lainnya. Padahal dari rekam jejak sejarah, justru Sarbini-lah yang sesungguhnya meletakkan dasar-dasar pembangunan ekonomi yang kemudian dimodifikasi oleh para koleganya di Universitas Indonesia tersebut selama rezim Soeharto. Adalah Sarbini, bersama antara lain Soedjatmoko (alm), yang tampil sebagai pembicara utama dalam Seminar Angkatan Darat, 25 Agustus 1966 di Bandung. Hasil dari diskusi di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) inilah yang kelak menjadi "cetak biru" strategi pembangunan ekonomi-politik era Orba. Dari forum itu pula kemudian lahir istilah yang sangat populer di masa Orba, Trilogi Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan, dan pemerataan). Tokoh kelahiran Madiun 1918 (kedua orangtua asli Sumedang) inilah yang menelorkan gagasan akselerasi pembangunan 25 tahun yang kemudian diadopsi oleh Mayjen TNI Ali Moertopo (alm) untuk berbagai keperluan Sarbini pada akhirnya memang "tersingkir" dan "disingkirkan" ketika jargon pembangunan demikian bergemuruh dan menjadi panglima. Dan tatkala teori Rostow tentang "tinggal landas" (take-off) demikian menginspirasi banyak teknokrat yang terkesima dengan sindrom New Industrial Countries (NIC's). Suara Sarbini mengenai "pembangunan berwajah keadilan sosial" pun dianggap sepi dan sirna dari praksis kebijakan. Tak cuma itu. Ia bahkan harus meringkuk di penjara gara-gara dicurigai terlibat peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974, akibat kedekatannya dengan aktivis mahasiswa. Selepas itu, ia seperti "hilang dari peredaran" dan menyepi di kantornya yang sederhana, di bilangan Tanah Abang, Jakarta. Disitu, selama puluhan tahun, ia dan beberapa anak didiknya menerbitkan sebuah buletin ekonomi-politik terpandang (Business News) yang menjadi bahan rujukan eksekutif pemerintah dan swasta. Mengapa dan bagaimana ia "tersingkir" telah banyak diketahui. Tapi satu hal yang pasti, sifatnya yang tak kenal kompromi-termasuk gaya bicaranya yang lantang dan lugas-memperlihatkan sesuatu yang langka: kekukuhan mempertahankan integritas dan keyakinan, hingga ajal menjemputnya kemarin. Sarbini-tak seperti teknokrat Orba-tidak terlalu mementingkan "pertumbuhan" sebagai "buah" pembangunan. Apalagi dengan target kuantitatif tertentu yang dilaporkan sebagai prestasi tahunan. Ia tidak menentang pertumbuhan, selama strategi itu berada dalam kerangka "keadilan". Bukan sebaliknya. Jauh hari, ia tak terpukau mantra trickle-down effect yang menyesatkan itu. Sarbini lebih hirau pada syarat utama bangsa yang ingin maju yaitu: hadir atau timbulnya secara cepat dan terencana, kerangka politik-sosial-institusional yang dapat menampung dan mengembangkan denyutan dan dinamika sektor modern maupun sektor internasional. Dari sisi ini, ada pertautan antara apa yang digagasnya tahun 1966 dengan "kesabaran" untuk tak terlampau melejitkan pertumbuhan yang tidak bertumpu pada kekuatan sendiri. Masa 25 tahun baginya cukup untuk mempersiapkan semua syarat itu agar tidak satu elemen bangsa pun merasa tertinggal atau ditinggalkan. Ia pun mengajukan premis tentang dasar-dasar Indonesia yang maju yaitu: pemerintahan yang bersih, ekonomi yang efisien dan produktif, industri ekspor yang kuat, industri manufaktur yang kokoh dan luas menuju penampungan 20-25 persen angkatan kerja, industrialisasi desa sebagai bagian integral industri manufaktur, dan perubahan kebudayaan termasuk pendidikan untuk melahirkan manusia-manusia baru Indonesia yang andal. Dasar-dasar inilah yang dapat menjamin pertumbuhan sebagai gerakan tak henti-hentinya (sustainable growth). Seperti Hatta, Sarbini pada akhirnya memang terpental dari "panggung" karena seluruh gagasannya bertabrakan dan tak sesuai dengan politik rezim. Kepergiannya menghadap Sang Khalik (Rabu, 14 Maret 2007), seperti melecut kita untuk merenungkan nilai-nilai yang telah lama hilang, yakni: keteguhan prinsip, kesungguhan melakukan edukasi, keberpihakan total pada rakyat, dan visi melenting jauh ke depan. Selamat jalan Profesor Sarbini. (Suwidi Tono) ________________________________________ NB: Tulisan ini, bila tidak salah, juga telah diunggah "seseorang" di milis Ki Sunda....
