Limbangan juga ada di Garut Bu :). 

@Doc Sam: Punten dupi Balubur Limbangan teh daerah Garut atanapi mana?

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.dkabayan.com

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Sun, 9 Jun 2013 01:39:07 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Senyum-ITB] Re: Sumedang punya Profesor Sarbini Sumawinata

Balubur limbangan itu mana pak? 

Perasaan jauh banget kalau diplotkan ke nama sekarang.. Balubur di taman sari, 
sementara limbangan ada disebelah tImurnya brebes.

Yayuk FI76 
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss...!

-----Original Message-----
From: "mang kaby" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 9 Jun 2013 00:48:29 
To: Senyum-ITB<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Senyum-ITB] Re: Sumedang punya Profesor Sarbini Sumawinata

Woooow ada Kang Bram urang sumedang ternyata :).

Mangga Kang Japri kalau perlu info lebih lanjut.

Sumedang~ Su : Bagus/baik, Medang : Lapang.

Kasumedangan ~ Ilmu kebaikan dan kelapangan hati :).

Sedikit koreksi Agus Wirahadikusumah keponakan Jendral Umar Wirahadikusumah :).

Info dari Doc Sam Soemadipraja:
wirahadikusumah - nama keluarga,
upami teu lepat mah, ngawitan Rd.Rangga Wirahadikusumah, Wadana Balubur 
Limbangan.
puputra diantawisna Rd.Maryun Wirahadikusumah, Jendral Umar Wirahadikusumah, 
Ir.Hasan Wirahadikusumah (Bupati Garut,Residen Bogor). Prof.Dr.Muhammad 
Wirahadikusumah (alm. ahli kimia di ITB), Prof.Dr.Saleh Wirahadikusumah (di 
Universitas Uppsala,Swedia)

Letjen Agus Wirahadikusumah, putra R.Maryun Wirahadikusumah.

nuhuuuuns,
mang kabayan
www.dkabayan.com

-----Original Message-----
From: "bramH" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 8 Jun 2013 12:33:13 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [Senyum-ITB] Re: Sumedang punya Profesor Sarbini Sumawinata

Saya juga asli pisan turunan karuhun Sumedang, tapi poek obor,ingin sekali tau 
lebih banyak dr mang kaby, soalnya keluarga inti lama2 semakin sedikit karena 
dipanggil YME.

-br-
Sent from my iPhone@SingTel

-----Original Message-----
From: "mang kaby" <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 8 Jun 2013 00:23:04 
To: Alumni IPB<[email protected]>; Kisunda<[email protected]>; 
UrangSunda<[email protected]>; 
Baraya_Sunda<[email protected]>; 
Senyum-ITB<[email protected]>; Kota Bogor<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [Senyum-ITB] Re: Sumedang punya Profesor Sarbini Sumawinata

Wooooow juara Mas Widi,
Nuhuuuns infonya... Mamang sudah senang sekali nih baca bukunya Mas Widi, "Maha 
Karya Sukarno Hatta dan Kita Lebih Bodoh dari Generasi Soekarno-Hatta". Benar-2 
memberikan pencerahan euy. 

Banyak tokoh Sumedang yg cukup berperan ditingkat Nasional:
1. Ali Sadikin Gupernur DKI
2. Muhtar Kusumaatmaja 
3. Agus Wirahadikusuma dan ayahnya Umar Wirahadikusumah, tenggelam karirnya dan 
kemudian meninggal karena dulu dekat dgn mahasiswa :(.
4. Sejarawan Saleh Danasasmita
5. Uli Sigar Rusadi Aktivis Lingkungan
6. Aria Soeriaatmaja, dlsb.

Yg cukup senior diantaranya Pangeran Aria Soeriaatmaja yang sedang diusulkan 
oleh Ibu Nina Herlina lubis sejarawan menjadi Pahlawan Nasional. 

Beliau yg mewakafkan tanahnya untuk mendirikan sekolah pertanian rakyat di 
Tanjungsari yg kemudian nantinya jadi Unwim lalu kemudian sekarang Unwim 
menjadi bagian dari ITB. Beliau juga yg mendirikan Bank Rakyat cikal bakal BRI. 
Beliau menghormati produk lokal termasuk dari para pendatang dari etnis 
Tionghoa Ong Bungkeng yg pandai membuat tahu beliau menghimbau Bungkeng utk 
terus mengembangkan tahu karena ketika beliau mencicipi rasanya enak sekali. 
Beliau juga mengembangkan kuda diantaranya menghidupkan kesenian kuda renggong, 
pacuan kuda, dlsb. Beliau juga taat beragama dikenal juga Pangeran Mekah, rajin 
tirakat, puasa senin kamis, dlsb. 

Ketika beliau meninggal, monumen Lingga didirikan untuk menghormatinya, 
diresmikan oleh Gubernur Jendral Mr. D. Fock, pada tanggal 25 April 1922. pada 
salah satu prasasti Lingga tersebut ditatahkan kalimat:
“URANG SADAYA SAMI TUNGGAL KAWULANGGIH ALLAH. SAASAL SATEDAK KENEH. UPAMI 
DIKAPALAAN KU NU SAMPURNA, WENING GALIH SARENG LINUHUNG, AYEM TENGTREM 
SADAYANA.”
Artinya: "Kita Semua Sama Mahluk Ciptaan Tuhan. Satu asal semuanya. Apabila 
Dipimpin oleh Yang Sempurna, Hati Bersih dan Luhur Ilmu & Budi Pekertinya, aman 
tentram semuanya". Lagi-2 leadership yg bisa memberikan kado kebaikan kepada 
masyarakat yg dipimpinnya akan selalu dikenang sepanjang masa.

Junior Mamang yg ke-2 lahir di RS Sumedang ketika mudik ka Lembur, bertepatan 
dengan Subuh pas Hari Raya Idul Fitri, ketika pagi-2 setelah sholat Ied, lalu 
mencari Sarapan ke Alun-2 Sumedang, melihat Tugu Lingga tersebut dan membaca 
penggalan kalimat di atas Mamang lalu kemudian ngasi nama Junior Mamang Arya 
Fitra Suryaatmaja, biar nanti kalau sudah gede tahu dan belajar/ bercermin dari 
Keluhuran Budi Pangeran Aria Soeriaatmaja yang Nyantri, Nyunda, Nyakola~ 
Beragama, Berbudaya, dan Berpendidikan, Pamimpin yang Nyunda n' 
Nyiliwangi~Cageur, Bageur, Bener, Singer, jeung Pinter.     

Sumedang Larang dulu adalah penerus kerajaan Pajajaran, ketika pada saat 
Pajajaran akan hancur maka Siliwangi, Prabu Suryakancana mengirimkan Mahkota 
Kerajaan beserta 4 panglimanya. Kerajaan-2 Sunda punya strategi yg unik dalam 
Defensive diantaranya punya dua Ibukota Kerajaan yaitu Pakuan/ Bogor di Barat 
dan Galuh/Kawali/Ciamis di Timur. Ketika mendapat serangan dari Barat apabila 
terdesak pindah ke Timur, apabila diserang dari Timur bisa pindah ke Barat. 
Ratusan tahun strategy itu cukup sukses bertahan. Seperti Mamang Sampaikan 
bahwa Kerajaan Sunda itu wilayahnya dari dulu ya itu-2 aja, bukan tipe negara 
yg suka invasi/ imperialis. Raja-2nya malah gelarnya Resi Guru hehehe. Apakah 
itu merupakan suatu kelemahan? Itu juga yg kemudian membuat Sunda akhirnya 
hancur? Karena menurut teori modern cara bertahan paling canggih ya menyerang? 
Tapi juga teori invasi juga silih berganti tumbang :((...  Ibarat Karma ~ Pama 
ya'mal miskola darotin saroyyaroh, apa yg ditanam itu yg dituai, setiap 
perbuatan pasti ada balasannya. Para Imperialis juga ternyata pada waktunya 
Rezim Berakhir. Sunda Kalapa dulu milik Pajajaran, diserang Koalisi Demak 
Cirebon Banten Malaka lalu kemudian tidak lama Imperialis itu diserang lagi 
Belanda lalu kemudian Belanda disikat Jepang lalu Jepang disikat lagi Sekutu 
ngak ada habisnya. Sekarang Indonesia merdeka walopun pada hakekatnya 
Imperialismeu Modern dalam bentuk Kapitalismeu masih bercokol. 

Menurut Mamang Sukarno menggunakan Strategy Ala Sunda itu ketika Indonesia 
mendapatkan serangan-2 dahsyat. Sukarno memerintahkan membentuk Pemerintahan 
darurat di Bukittinggi dan Mang Sjafrudin Prawiranagara jadi Presiden darurat 
Indonesia. Ibukota juga pernah berpindah ke Jogja, dlsb. Strategi itu digunakan 
utk mempertahankan diri. 

Nah kalau pemimpin jaman dulu itu mengorbankan tanahnya, darahnya untuk 
kemajuan masyarakatnya? Contoh Pangeran Aria dia mewakafkan tanahnya utk 
membikin sekolah pertanian. Artinya para Pemimpin dulu itu berlomba-2 
berkontribusi kepada masyarakat memberikan Kado/ Hadiah yg bisa diberikannya 
masyarakat pun membalasna membuatkan Prasasti Pengingat-2 dan selalu 
mengenangnya. 

Pemimpin sekarang terbalik ya memupuk kekayaan berupa tanah dan rumah mewah, 
mobil, bahkan perempuan :((. Pemimpin-2 sekarang mengambil dari negara dan 
rakyat bukan memberi dan berkontribusi. Tanah Negara menjadi milik pribadi / 
kroninya. Rekeningnya pada gendut-2, berlimpah ruah kekayaannya. Sementara 
rakyat masih menderita n' menangis himpitan ekonomi yg makin riweuh. Pangan, 
Energi, n' Air sudah digadaikan ke para "Imperialis Modern" tidak ada lagi 
kedaulatan Indonesia disana. 

Sebentar lagi kita memasuki bulan puasa barangkali para pemimpin bisa menahan 
diri untuk stop membuncitkan pundi-2 kekayaan pribadi dan mulailah bercermin 
kepada para pemimpin-2 dahulu yang punya prinsip, "Ti Aing, Ku Aing, Keur 
Balarea". Dari Ku, Oleh Ku, untuk Semua. Bukan sebaliknya Dari Rakyat, Oleh 
Rakyat, Untuk Ku.

Hutang Indonesia sudah 2000 Trilyun lebih, Energi masih tergantung dari negara 
lain, Pangan juga begitu, Air juga sudah semakin sulit mencari air bersih :((. 
Moral juga masih PR besar :((. 

Inalillahi wa ina ilaihi rojiun...
  
nuhuuuuns,
mang kabayan
www.dkabayan.com

-----Original Message-----
From: Widi Harsono <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Fri, 7 Jun 2013 20:19:03 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: [alumni-ipb] Sumedang punya Profesor Sarbini Sumawinata



In Memoriam Prof Sarbini Sumawinata (1918-2007)


Jakarta | Jurnal Nasional

Kamis, 15 Maret 2007

BAGI kebanyakan orang, apalagi generasi usia 40-an atau dibawahnya, nama
Sarbini Sumawinata (89) tentulah tidak seakrab
atau semencorong para arsitek
ekonomi Orde Baru seperti Soemitro
Djojohadikusumo, Widjojo Nitisastro, Ali
Wardhana, Sumarlin, dan lainnya. Padahal dari
rekam jejak sejarah, justru
Sarbini-lah yang sesungguhnya meletakkan
dasar-dasar pembangunan ekonomi yang
kemudian dimodifikasi oleh para koleganya di
Universitas Indonesia tersebut
selama rezim Soeharto.

Adalah Sarbini, bersama antara lain Soedjatmoko
(alm), yang tampil sebagai
pembicara utama dalam Seminar Angkatan Darat, 25
Agustus 1966 di Bandung. Hasil
dari diskusi di Sekolah Staf Komando Angkatan
Darat (Seskoad) inilah yang kelak
menjadi "cetak biru" strategi
pembangunan ekonomi-politik era Orba. Dari forum
itu pula kemudian lahir istilah yang sangat populer
di masa Orba, Trilogi
Pembangunan (stabilitas, pertumbuhan, dan
pemerataan). Tokoh kelahiran Madiun 1918 (kedua orangtua asli Sumedang)  inilah 
yang menelorkan gagasan akselerasi
pembangunan 25 tahun yang kemudian diadopsi oleh Mayjen TNI Ali Moertopo (alm)
untuk berbagai keperluan

Sarbini pada akhirnya memang
"tersingkir" dan "disingkirkan" ketika jargon
pembangunan demikian bergemuruh dan menjadi
panglima. Dan tatkala teori Rostow
tentang "tinggal landas" (take-off) demikian menginspirasi banyak
teknokrat yang
terkesima dengan sindrom New Industrial Countries
(NIC's). Suara Sarbini
mengenai "pembangunan berwajah keadilan
sosial" pun dianggap sepi dan sirna dari
praksis kebijakan.

Tak cuma itu. Ia bahkan harus meringkuk di penjara
gara-gara dicurigai terlibat
peristiwa Malapetaka 15 Januari (Malari) 1974,
akibat kedekatannya dengan
aktivis mahasiswa. Selepas itu, ia seperti
"hilang dari peredaran" dan menyepi
di kantornya yang sederhana, di bilangan Tanah
Abang, Jakarta. Disitu, selama
puluhan tahun, ia dan beberapa anak didiknya
menerbitkan sebuah buletin
ekonomi-politik terpandang (Business News) yang
menjadi bahan rujukan eksekutif
pemerintah dan swasta.


Mengapa dan bagaimana ia "tersingkir"
telah banyak diketahui. Tapi satu hal yang
pasti, sifatnya yang tak kenal kompromi-termasuk
gaya bicaranya yang lantang dan
lugas-memperlihatkan sesuatu yang langka:
kekukuhan mempertahankan integritas
dan keyakinan, hingga ajal menjemputnya kemarin.

Sarbini-tak seperti teknokrat Orba-tidak terlalu
mementingkan "pertumbuhan"
sebagai "buah" pembangunan. Apalagi
dengan target kuantitatif tertentu yang
dilaporkan sebagai prestasi tahunan. Ia tidak
menentang pertumbuhan, selama
strategi itu berada dalam kerangka
"keadilan". Bukan sebaliknya. Jauh hari, ia
tak terpukau mantra trickle-down effect yang menyesatkan itu.

Sarbini lebih hirau pada syarat utama bangsa yang
ingin maju yaitu: hadir atau
timbulnya secara cepat dan terencana, kerangka
politik-sosial-institusional yang
dapat menampung dan mengembangkan denyutan dan
dinamika sektor modern maupun
sektor internasional. Dari sisi ini, ada pertautan
antara apa yang digagasnya
tahun 1966 dengan "kesabaran" untuk tak
terlampau melejitkan pertumbuhan yang
tidak bertumpu pada kekuatan sendiri. Masa 25
tahun baginya cukup untuk
mempersiapkan semua syarat itu agar tidak satu
elemen bangsa pun merasa
tertinggal atau ditinggalkan.

Ia pun mengajukan premis tentang dasar-dasar
Indonesia yang maju yaitu:
pemerintahan yang bersih, ekonomi yang efisien dan
produktif, industri ekspor
yang kuat, industri manufaktur yang kokoh dan luas
menuju penampungan 20-25
persen angkatan kerja, industrialisasi desa
sebagai bagian integral industri
manufaktur, dan perubahan kebudayaan termasuk
pendidikan untuk melahirkan
manusia-manusia baru Indonesia yang andal.
Dasar-dasar inilah yang dapat
menjamin pertumbuhan sebagai gerakan tak
henti-hentinya (sustainable growth).

Seperti Hatta, Sarbini pada akhirnya memang
terpental dari "panggung" karena
seluruh gagasannya bertabrakan dan tak sesuai
dengan politik rezim. Kepergiannya
menghadap Sang Khalik (Rabu, 14 Maret 2007), seperti melecut kita untuk
merenungkan nilai-nilai yang
telah lama hilang, yakni: keteguhan prinsip,
kesungguhan melakukan edukasi,
keberpihakan total pada rakyat, dan visi melenting
jauh ke depan. Selamat jalan
Profesor Sarbini.

(Suwidi Tono)

________________________________________
NB: Tulisan ini, bila tidak salah, juga telah diunggah "seseorang" di milis Ki 
Sunda....

Kirim email ke