Luaaaar biasa nuhuuuuuuns Kang Ahmad Dimyati n' semuanya, Terima kasih sebelumnya n' saat ini Mamang lagi ada di Kampung Kabuyutan Cipaku saat ini tepat jam 1 menjelang pagi, tadi sore sesuai saran Bang Ian di email terdahulu harus dibuat videonya jadi Mamang langsung meluncur mencoba merekam melalui video kampung buhun, lahan subur, dan situs kabuyutannya. Tatanan Socio-Cultural-Spiritual masyarakat yg agamis n' lestari. Sambil keliling Mamang ketemu beberapa masyarakat asli/ pituin Cipaku yg curhat ke Mamang. Luar biasa Mamang melihat kandang kambing n' sapi ditaro ditengah sawah ngak ada yg berani mencuri!! Luar biasa kejujuran n' integritas Urang Cipaku. Di daerah lain katanya sapi dicuri n' disembelih di hutan. Orang yg nyuri di Cipaku mah bisa gila katanya? Luar biasa, mereka ngak ada kekhawatiran sedikitpun hewan ternaknya dicuri orang.
Malamnya abis Shalat Magrib Mamang ketemu tokoh masyarakat Kampung Buhun Cipaku yang secara pemahaman Spiritual luar biasa ternyata beliau seorang Sufi, paham betul tentang aspek socio-cultural-spiritual, Mamang saluuut deuh seperti menangkap pesan-2 Bang Ian euy, daleeeem banget, banyak pesan-2 berupa SILOKA/ Teka-teki. Banyak pembekalan n' pencerahan yang Mamang peroleh dari sisi sejarah, agama, dan yg terpenting membuka Wawasan tentang Kedewasaan Berfikir secara Akal Sehat/ Common Sense. Beliau tokoh spiritual yg punya pesantren estetika modern punya banyak santri n' mostly santrinya memang yg awalnya berobat ke beliau, pengobatannya berupa pengobatan moril n' spiritual, orang gila n' stress bisa sembuh total dan menjadi muridnya yg setia. Jadi kalau ada yg sakitnya ngak sembuh-2 come to Cipaku :). Apalagi kalau cuman santet dlsb ngak akan berlaku di Cipaku mah katanya. Beliau menyampaikan Jatigede ini memang sesuai Kang AD ini ujian terbesar kaum Spiritualis ini ujian terbesar bagi Indonesia dimana Akal Sehat di Uji oleh "Ekonomi - Kapitalismeu". Kebenaran sedang diuji dengan kebathilan. Haq Vs Bathil. Kabuyutan Cipaku itu simbol Ketuhanan Yang Maha Esa, simbol kebaikan, simbol kukuh-nya Aturan, Etika, Moral n' Spiritual. Kalau Kabuyutan Cipaku diganggu maka Gula Sagandu Diganggu Jagat Goyang katanya dan silahkan saja dilihat tanda-2nya. Menurut beliau semua ilmu awalnya dari Cipaku karena Cipaku soulnya Common Sense/ Akal Sehat. Saat ini Akal Sehat hanya ada di Cipaku, pemerintah Indonesia dan dunia pun sudah tenggelam dengan pekatnya kebathilan, lupa akan common sense! Makanya krismon, perang, krisis ekonomi dunia!! Cipaku satu-2nya solusi untuk penyelamatan dunia. Kejawen, Kasumedangan, Kacirebonan, Sunda Wiwitan, semua agama di dunia asalnya dari Cipaku. Menurut beliau Jatigede bisa seperti ini memang kehendak-Nya untuk menunjukan keindahan Kabuyutan Cipaku ke masyarakat dunia, ini kado terindah dari Cipaku untuk masyarakat dunia, betapa kukuh-nya pendirian masyarakat Cipaku menjaga kabuyutannya yg tidak bisa disogok pakai duit berapapun, tetap konsisten menolak Kampung n' Kabuyutannya ditenggelamkan bahkan sampai pemerintah akan mengairi pun mereka ngak akan pindah katanya. Saat ini pemerintah sedang bergerilya melalui Bupati Sumedang dan jajarannya untuk memindahkan Situs Kabuyutan Aji Putih dan mensetting berusaha "membuat tokoh-2an masyarakat palsu", ini ujian buat Kang Endang Bupati Sumedang antara membela rakyat atau memiskinkan rakyat dan merusak tatanan socio-cultural-spiritual heritage, kalau beliau menandatangani persetujuan pemindahan maka rusak sudah dan siap-2 saja terima bencana katanya demikian. Situs Aji Putih itu harus bersih orang-2 yg membelanya pun harus bersih, yg bermain-2 apalagi mempermainkan/ menguangkan Situs Aji Putih fakta membuktikan tidak ada selamat. Sudirja dulu Bupati Sumedang yg menyetujui membangun sakiiit parah padahal masih muda malah mati. Dani Setiawan yg mensetting mengamplopi "tokoh-2 palsu bukan pituin Cipaku dengan uang dua juta per amplop dipermalukan Alloh SWT, ditangkap KPK dirumahnya n' kalah Pilgub. Begitu juga JK kalah pilpres dipermalukan SBY. China sekarang yg membangun sudah diazab baru mau membanjiri Cipaku sekarang China udah banjir dimana-2, Pemerintah Indonesia yg mau membanjiri Cipaku sudah banjir dimana-2 bahkan Bandung pusatnya Pemerintah Provinsi banjiiiir begitu juga Jakarta pusatnya Indonesia banjiiiiiir, Aceh yg serambi Mekah pun kena Tsunami. Gula Sagandu diganggu Jagat Goyang!! Ibarat yin n' yang kalau diganggu keseimbangan alam maka ya goyang. Kalau ada yg punya Guru Spiritual atau dukun atau orang pintar silahkan tanya ke siapapun tentang Kabuyutan Cipaku pasti semuanya paham bahwa semua manusia asalnya dari Cipaku. Sasakala Sangkuriang Kabeurangan itu adanya di Cimanuk, dimana Sangkuriang mau menikahi Ibunya dan disuruh membuat Situ. Coba maknai dengan anak akan merusak situs leluhurnya, lebih dalam lagi Sumedang dan Indonesia yang merupakan keturunan/ anak akan menghancurkan Cipaku/ Ibu Pertiwi, Kabuyutannya, Peninggalan Nenek Moyangnya. Oleh karenanya sesuai Sasakala itu maka tidak akan terjadi!! Sangkuriang Kabeurangan Cimanuk Burung dibendung cai banyu padalunga mulia badan sampurna. Sasakala Sangkuriang menyampaikan Anak mau "memperkosa" Ibu dan Ibu memberikan syarat bikin situ dan perahu dalam semalam biar bisa lalayaran/ pelesiran naik perahu berdua, apa yang terjadi Sangkuriang bisa membangun situ tapi keburu pagi pas mau membangun perahu sehingga perahu ditendang dan Sangkuriang gagal kawin dgn Ibunya gara-2 boeh rarang dipedar. Sumedang Larang ~ Sumedang Langka Tanpa Tanding itulah Cipaku. Itu pesan moral betapa Alloh SWT Tuhan Semesta Alam akan selalu menjaga hukum-2na yaitu Hukum Kebenaran dan Keadilan. Oleh karenanya Kabuyutan Cipaku tidak akan pernah tenggelam. Siapapun yg akan menenggelamkannya tunggu tanggal mainnya :). SBY, Kang Aher, Kang Endang kalau cerdas dan mampu menangkap pesan-2 moral n' spiritual Kabuyutan Cipaku harusnya menjadikannya PUSAKA INDONESIA disana ada EMAS yg tak ternilai harganya. Para Pemangku Adat dari 3 Kabuyutan Cipaku yaitu Tritangtu (Tiga Penentu Kebijakan Dunia yaitu Resi, Ratu, n' Rama) sekarang sudah bersatu padu menggelar boeh rarang :). Cipaku, Karang Pakuan, n' Pakualam sudah mulai membuka buku-2 peninggalan Eyang Haji, yaaa itulah boeh rarang, putih bersih. Mulai dibacakan lagi ke seluruh pelosok jagat raya biar menggema ke seluruh Alam Semesta betapa seorang Ibu mau dikawini oleh anaknya yg durhaka!! Apakah Alam Semesta akan mengizinkan? Begitulah pesan yg disampaikan tokoh-2 adat Cipaku ke Mamang apabila ada yg punya akses ke SBY, Kang Aher, n' Kang Endang tolong sampaikan n' ingatkan mumpung belum terlambat. Kalau tidak percaya silahkan SBY, Kang Aher, n' Kang Endang panggil semua Guru Spiritual, Dukun Sakti, Ki Joko Belegug, Ki Gendeng Pamungkas, Tokoh Agama, Orang Kejawen, Orang Sufi, dlsb. SBY n' Demokrat bermasalah dipermalukan sekarang seluruh masyarakat disebut Sibuya lambangnya kebo lelet, Kang Aher n' PKS sedang bermasalah urusannya Sapi dan BJB (jangan mau kayak Dani Setiawan), Kang Endang ujiannya tgl 5 Sept hari ini akan ada rapat untuk persetujuan pemindahan Situs Eyang Haji/ Kabuyutan Cipaku Aji Putih kalau berani tanda-tangan nanti kita lihat sama-sama akibatnya :). Sekali lagi Masyarakat Kabuyutan Cipaku Panceg Dina Galur Ngajaga Lembur, Cadu Mundur Najan Awak Lebur!! Ngak akan pindah walaupun digenangi n' ngak akan mau walaupun disogok pake uang berapapun!! Tokoh-2 palsu yg bukan pituin Cipaku yg memperjualbelikan Kabuyutan silahkan saja berbuat sesuka hati tapi satu hal yang pasti Masyarakat beserta Tokoh Adat dari Tiga Kabuyutan pemegang Tritangtu tetap bersatu tidak akan bergeser sedikitpun walaupun mau ditenggelamkan oleh pemerintah. Biarlah suara alam Kabuyutan bergema ke alam semesta. Dengan demikian Mamang setuju dengan Kang Ahmad Dimyati, menolak Situs-2 Kabuyutan ditenggelamkan oleh bendungan Jatigede. Kalaupun akan ditenggelamkan biarlah seluruh penghuni Kabuyutan Cipaku ikut tenggelam biar dunia melihat siapa tahu menjadi penggugah untuk kembali ke FITRAH-nya pada kedewasaan berfikir, kembali ke Purwadaksina, Common Sense, Akal Sehat! Info yg beredar di masyarakat tgl 30 Sept 2013 bertepatan dengan perayaan G30SPKI pemerintah akan mulai mengairi bendungan. Menurut Uga Cipaku, Eyang Haji menanam Jati Tujuh salah satunya dipindah ke Jatigede. Yang bisa menyetop Jatigede hanya satu saja Keuyeup Apu :). Kabuyutan Bersatu Tidak Bisa Dikalahkan! Sejalan cerita Pak Lurah Ari, Si Cepot jadi Raja saat ini memang manggung demikian. Cepot anak Semar ngak nurut n' belajar dari Semar yg bijaksana oleh karenanya salah kaprah, merekedeweng mawa karep sorangan. Setelah fase ini beres Perang dunia 1 dan 2 udah beres akan ada Perang dunia ke-3 tapi bukan perang fisik melainkan perang moril n' spirituil. Oleh karenanya Jatigede ini adalah ujian bagi para kaum spiritualis :). Wallohualam bishawab... Luar biasa pengelaman spiritual baru buat Mamang euy, bertemu Tokoh Adat n' ternyata beliau nyumput buni dinu caang. Subhanalloh begitu banyak ilmu Alloh SWT yg belum bisa Mamang pahami. Pun sapun kaluluhuran, dari Kabuyutan Cipaku, Kecamatan Darmaraja, Kabupaten Sumedang on behalf Tokoh Adat Pemegang Tritangtu Kabuyutan Mamang menyampaikan. nuhuuuuns, mang asep kabayan www.cipaku.org -----Original Message----- From: Ahmad Dimyati <[email protected]> Date: Wed, 4 Sep 2013 02:13:49 To: [email protected]<[email protected]>; rusdian lubis<[email protected]>; mang kabayan<[email protected]> Reply-To: Ahmad Dimyati <[email protected]> Cc: [email protected]<[email protected]>; [email protected]<[email protected]>; Ahmad Hazairin<[email protected]>; Cepi Al Hakim<[email protected]>; [email protected]<[email protected]>; Iskandar A. Adnan<[email protected]>; [email protected]<[email protected]>; Ken<[email protected]>; Irpan Rispandi<[email protected]> Subject: Re: Usulan Solusi Jatigede DPKLTS 2005 untuk Kementerian PU Yth Teman-teman seiring; Saya kira saya layak menyebut kita sebagai teman seiring, karena kita sepakat paling tidak dalam satu hal: perlu membela kepentingan rakyat, memajukan kesejahteraan rakyat, khususnya rakyat yang terkena dampak di daerah genangan bendungan Jatigede. Namun kita punya pandangan yang berbeda terhadap keberadaan dan keberfungsian bendungan itu dan konsekuensinya terhadap masyarakat terdampak genangan tadi, lebih khusus lagi dalam kaitannya dengan keberadaan dan keberfungsian situs-situs budaya dan spiritual yang ada di sana. Sebagian dari kita melihat bendungan Jatigede sebagai suatu keniscayaan walaupun mungkin ada kekurangan dalam metode dan proses perencanaan. Membangun bendungan dapat dipandang sebagai bagian dari fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi yang wajib mengelola sumberdaya alam untuk memajukan kesejahteraan dan peradaban manusia. Situs-situs sejarah, budaya dan spiritual adalah bagian dari sumberdaya alam yang bisa dipindah atau ditenggelamkan ketika sumberdaya alam yaitu batang sungai dan daerah aliran sungai yang melingkupi situs-situs tadi dimanfaatkan. Sebagian lagi dari kita memandang situs-situs itu merupakan bagian dari aset masyarakat yang keberadaannya di lokasi yang bersangkutan membentuk ikatan unik dengan masyarakat setempat yang hanya ada ketika masyarakat dan situs-situs itu tetap berada bersama di lokasi yang sama. Walaupun ikatan unik itu hanya bermakna untuk masyarakat lokal yang bersangkutan atau masyarakat luar dengan keyakinan yang sama, tetapi makna konseptualnya juga berarti secara regional, nasional bahkan mondial. Dengan demikian, bendungan dengan konstruksi dan fungsi seperti yang direncanakan, secara total berseberangan dengan pandangan tadi, dan oleh karena itu harus dibatalkan. Kalau konstruksinya tidak bisa dibatalkan, maka fungsinya masih bisa dibatalkan. Mungkin masih ada lagi sebagian dari kita yang berada di antara kedua pihak tadi. Secara prinsip, dari jarak pandang yang jauh dan akses informasi yang terbatas, saya lebih cenderung kepada pihak yang kedua dan akan berusaha mengajak kita semua untuk berupaya maksimal ke arah itu. Tapi saya akan mencoba untuk terbuka ke arah kompromi. Namun untuk itu kita perlu tambahan informasi yang rinci mengenai: - kedalaman maksimal genangan yang tidak menyentuh situs-situs tadi; - pada kedalaman tadi berapa volume air yang tertampung; - dari volume tadi berapa banyak lahan yang dapat diari, dan dengan debit berapa banyak untuk satuan luas dan waktunya; - komoditas apa saja yang dapat dibudidayakan dengan pasokan air seperti itu. Bila informasi teknis tadi dapat diperoleh, maka kita bisa berhitung: - kegiatan ekonomi apa yang dapat dilakukan di daerah bendungan di bagian hulu mapun hilirnya; - berapa pendapatan masyarakat dan negara yang diperoleh dari kegiatan tersebut; - berapa lama investasi bendungan dan infrastruktur lain yang dibangun akan dapat dikembalikan. Asumsi dasar yang saya ajukan adalah: - kegiatan wisata, termasuk ziarah dapat dipromosikan dan menciptakan pendapatan; - batalnya fungsi bendungan bukan merupakan kiamat kecil, apalagi kiamat besar; kerugian finansialnya tidak sebesar kerugian akibat kerusakan lingkungan seperti terjadi di Freeport, dan hutang yang timbul masih tetap bisa diangsur dari sumber pendapatan baru; - air irigasi bukan hanya untuk tanaman padi, bahkan ketika digunakan untuk tanaman lain bisa jauh lebih menguntungkan; lihatlah kasus konversi lahan sawah ke pertanaman jeruk, pisang, mangga, dan rotasi padi dengan sayuran dan buah semusim. By the way, saya jadi ingat kasus sejarah dibatalkannya penyembelihan Abdullah bin Abdul Muthalib, yang digantikan dengan kurban 100 ekor unta melalui suatu proses undian. Apakah tidak baik, kalau kita lakukan proses "istikaharah dan musyawarah" yang merupakan kelembagaan utama dalam agama untuk memilih alternatif bagi berfungsinya bendungan? Atau, dari sudut pandang lain, alternatif untuk penenggelaman situs-situs sakral. Sudah saatnya , sains dan spiritualitas hidup bersama (lagi) di dalam dada manusia yang sama., karena Allah tidak menciptakan dua hati di rongga dada yang sama. Salam, AD ________________________________ From: Sirod <[email protected]> To: rusdian lubis <[email protected]>; mang kabayan <[email protected]> Cc: [email protected]; Ahmad Dimyati <[email protected]>; [email protected]; Ahmad Hazairin <[email protected]>; Cepi Al Hakim <[email protected]>; [email protected]; Iskandar A. Adnan <[email protected]>; [email protected]; Ken <[email protected]>; Irpan Rispandi <[email protected]> Sent: Wednesday, September 4, 2013 11:13 AM Subject: Re: Usulan Solusi Jatigede DPKLTS 2005 untuk Kementerian PU Terima kasih Kang Asep, Sepakat dengan langkah2 Bang Ian, dan Pak Ahmad. Ada beberapa point yg mesti (imho) disepakati sebelum melangkah lebih jauh : - moment kita bergerak ini menjelang pemilu April, 2014. Apa kita sudah siap jika isu ini dibawa ke arah yg jauh dari produktivitas dan tujuan2 mulia Mang Asep Kaby? Tentunya bukan oleh orang2 yg namanya tertulis di tujuan pesan ini. Suasana RI skrg yg menjelang pemilu, kok rasanya kita mesti ekstra hati2, salah2 melangkah, bisa "ngeri2 sedap" :) - hasil bacaan saya di sumber2 di web, menunjukkan bahwa proyek ini sudah didukung lintas sektoral, jadi TIDAK ADA KANS UNTUK MENOLAK. Tapi saya sepakat dengan Pak Odjat dalam sebuah diskusi dengan Prof. Manuwoto, minggu lalu, untuk tetap menggunakan alasan ini untuk "menyadarkan semua fihak terkait" agar memperhatikan kita sehingga ketika mereka bertanya mengenai solusi, kita sudah punya solusi yg BISA TIM INI LAKUKAN (sengaja saya tulis kapital, karena saya berharap tim ini juga nantinya menjadi tim kerja, bukan tim provokator). - Oh ya menteri PU yg 2005 sesuai file yg dikirim itu siapa ya? Apa relasinya dengan menteri yg sekarang? Apakah pernyataannya dapat kita jadikan bahan rujukan kepada Pak Joko Kirmanto, atau teman2 di kemenPU khususnya dirjen SDA? (Barangkali Kang Cepi bisa kasih jalan kita ketemu beliau2) - Siapa, Kapan kita bertemu para pihak yg bisa mendengarkan keluh kesah kita ini? Saya ingin sekali mengunjungi bendungan Jatigede ini, dan barangkali kita bisa silaturahmi dengan rekan2 BUMN karya yg mendapat kepercayaan membangun di sana. Mengenai kontraktor dari Cynho Hydro saya punya kontak Daniel Wuj beserta staff-nya, hanya saja kesulitan untuk bertemu. Jika sudah ada action PLAN yg jelas, mari kita datangi. Salam ikut support, Ms "..Trust is that there should be no difference between what you do and say, and what you think.." ~ Omar bin Khattab
