Hmmm...sebagai user justru kita terpengaruh dengan bentuk lisensi, usia software berlisensi GPL cenderung lebih panjang. Lisensi lain, ketika sudah populer, cenderung berubah menjadi proprietary, dan developernya manjadi lebih fokus di sisi yang proprietary dan kurang memperahatikan versi free, dan akhirnya menelantarkannya. Lebih buruk lagi, jika versi proprietary akhirnya menggunakan format file yang tidak backward compatible.
Dalam software GPL, hal-hal seperti ini juga terjadi, ketika software akhirnya ditelantarkan (terutama pada project one man show) tapi angka ini jauh lebih kecil. Jadi, ketika memilih software atau apapun itu saya lebih cenderung memilih yang berlisensi GPL, kecuali jika padanannya berkualitas jauh lebih baik. --~--~---------~--~----~------------~-------~--~----~ You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Klub Linux Bandung" group. To post to this group, send email to [email protected] To unsubscribe from this group, send email to [email protected] For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/klub-linux-bandung?hl=en -~----------~----~----~----~------~----~------~--~---
