Hmmm, Bukankah kenyamanan itu hanya sebagian aspek saja yang menentukan produk itu laku atau tidak? Aspek lain ada dukungan komunitas, kemudahan pakai, keamanan, inovasi, dan lain-lain. Itu sebabnya banyak distro akhirnya mati juga, karena tidak 'menjual'. Contoh nih, dreamlinux sempat populer, karena menawarkan fitur-fitur yang inovatif bagi distro berbasis debian stable. Tapi akhirnya mati juga karena dukungan komunitas yang melempem, hanya bergantung pada beberapa developer saja. Begitu pula ratusan/ribuan distro lainnya, hanya menunggu waktu sampai akhirnya hilang dari peradaban.
Saya sendiri pengguna Debian atau *BSD untuk (remote) server, karena walaupun ribet, susah, tutorialnya sedikit, tetapi banyak tools nya yang bagi saya sangat berguna, misalkan bandwidth management. Bisa saja menggunakan HTB di linux, tapi dari percobaan pribadi, ALTQ terasa lebih baik walaupun lebih rumit penggunaanya. BSD hingga sekarang masih hidup dan produktif, walaupun komunitas penggunanya sedikit (tetapi aktif) dibanding linux. Konfigurasi susah, dukungan hardware minim, dll. Pokoknya gak nyaman. Tapi toh bisa bertahan, bahkan digunakan hingga di level enterprise. -- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "Klub Linux Bandung" group. To post to this group, send email to [email protected]. To unsubscribe from this group, send email to [email protected]. For more options, visit this group at http://groups.google.com/group/klub-linux-bandung?hl=en.
