> It is indeed sad, but 90% true.
> Hingga sekarang gw dual office, OpenOffice dan MS Office 2007.
> Interoperability menjadi issue yang amat sangat sangat besar dalam
> kehidupan sehari-hari, terutama di dunia kerja. Ketika membuka file
> dalam OOo ternyata tidak sesuai, banyak waktu yang dihabiskan dengan
> googling, tanya-tanya di forum, dan lain-lain. Ketika mengirim file
> pun demikian, saya merasa sangat tidak pede ketika menyimpan dokumen
> dalam native format OOo ketika akan mengirimkannya ke orang lain.
> Begitupun ketika akan menyimpan dalam format MS Office, saya cek
> ulang di MS Office. Tetapi biasanya, saya pilih untuk export ke PDF.
> Ini kita masih berbicara dalam tataran pengguna yang bisa dibilang
> geek, me..eh gw ga mau ah dibilang geek. Imagine ketika yang
> menggunakan adalah pengguna biasa...tahunan bekerja dengan MS Office.
> Satu hal yang gw tau, rekan kerja yang lain sudah menguninstall OOo
> yang dulu pernah gw installkan di masing-masing laptop.


Sebetulnya kasus-kasus seperti di atas adalah ibarat analogi telur dan
ayam. Gak jelas siapa yang duluan. :)

Tanpa maksud sombong, 3 tahun lalu berusaha merdeka dari produk MS. Dan
konsisten menggunakan linux dengan problematika berat di openoffice 2.x
nya.

Saat itu saya memang merasa kesulitan dan berusaha agar bisa
menggunakan saja. Karena tidak punya kawan banyak yang menggunakan
linux.

2 tahun lalu saya bekerja di Yayasan AirPutih, ternyata teman-teman
di sana sudah menggunakan openoffice lebih dulu dari saya, dan sampai
sekarang. Tidak ada yang menggunakan MS Office.

Jika ada problem, kita mencoba saling share dan bantu membantu.
Sehingga, proses berbagi dokumen tidak ada kendala sama sekali. Kendala
mungkin ditemui oleh orang luar yang membuka dokumen kita yang non-pdf.
Tapi umumnya, kami berikan installer openoffice for Windows untuk
dipasang di komputer mereka, sehingga mereka bisa membuka dokumen
non-pdf tersebut.

Kantor teman saya, sebuah perusahaan shipping agency, ternyata juga
menggunakan openoffice sejak versi 2.4 dan sampai sekarang. Walaupun
beberapa komputer menggunakan sistem operasi MS windows, namun office
suitenya menggunakan openoffice. Mereka enjoy aja selama bekerja dan
tidak ada komplain tentang openoffice. Malah beberapa staf di kantor
cabang ribet kalau menggunakan MS Office, apalagi proses instalasinya.

Setahun lebih yang lalu, saya membantu memigrasikan Kabupaten Aceh
Tengah. Ada sebuah sekolah yang alhamdulillah sampai sekarang konsisten
dengan aplikasi FOSS, walaupun background mereka bukan IT. Wong sekolah
terpencil. :)

Para guru ditraining seminggu sekali selama 3 bulan tentang penggunaan
linux, openoffice dan simple computer troubleshooting. Dan mereka
sampai sekarang enjoy saja. Bahkan, saya tahu semua guru (23 orang)
membeli laptop dengan cara kredit di koperasi guru dan seluruhnya
terpasang linux dan openoffice (kalo ndak salah inget, pake ubuntu dan
blankon).

Banyak hal memang kita rasakan openoffice memiliki kekurangan. Tapi
menurut saya, kekurangan terbesar openoffice (mungkin skarang saya
lebih condong libreoffice) adalah dukungan korporasi besar. Mungkin
openoffice sekarang punya Oracle. Dan mungkin si Oracle mau buat iklan
tandingan. :)

Proyek-proyek FOSS berbasis komunitas sebetulnya kembali ke komunitas
tersebut. Apakah kita-kita ini mau bergabung sebagai kontributor atau
cuman penggembira yang tunggu donlot saja? :)

Saya malah membayangkan, kita-kita yang menggunakan
openoffice/libreoffice, mendonasikan uang paling tidak 100rebu -
500rebu ke sebuah lembaga (bisa ke documentfoundation) atau mungkin
YPLI agar mereka mewadahi aspirasi kita dan dituangkan ke penyempurnaan
(sempurna menurut kita) openoffice/libreoffice. Toh itu lisensinya
LGPL. :)

Bayangin, lho... asumsi 200.000 x 6.000 orang. :)

Anggap saja model donasi ini seperti sebuah model gerakan menanam pohon
sebuah negara yang pernah saya kunjungi. kita menyumbang dengan
membelikan 1000 bibit pohon, dan nanti di pohon itu ada nama kita. kita
juga memiliki sertifikat penyumbang pohon tersebut. keren kan? :)

Saya pernah menggunakan MS Office for Mac. Dan ternyata tidak
kompatibel (menurut saya) dengan MS Office for Windows. Banyak hal yang
berantakan ketika saya menggunakan huruf arab.

Saat ini memang MS Office yang menguasai pasar di Indonesia, tapi
prosenstasi mereka menggunakan yang original berapa ya? kalo pengguna
openoffice bajakan berapa persen dari seluruh penduduk? :D

Pasar itu tergantung dari kita juga. Mau merdeka apa tidak. :)

-- 
Web Milis: http://groups.google.com/group/klub-linux-bandung
Etika Milis: http://groups.google.com/group/klub-linux-bandung/web/etika-milis

Kirim email ke