Mas Baso,

Saya sepakat bahwa perlu penulisan ulang buku-buku sejarah, politik
atau antropologi yang overlook atas peran pesantren dan NU. Teori
post-kolonial atau subaltern akan sangat membantu membedah konstruk
ideology dan methodology riset mengenai subjek pesantren. Sependek
yang saya tahu, jarang sekali subjek pesantren ditempatkan dalam 
diskursus perjuangan nasional Indonesia, meski peran KH Hasyim Asyari
dalam perang Surabaya 10 Nopember sangat besar. Begitu pula dalam
ranah studi keislaman keindonesiaan, alih-alih dilihat sebagai agen
pencerdasan anak bangsa [banyak sarjana alumni pesantren], pesantren
sering dipotret sebagai pusat orthodoksi dan kejumudan dengan label
pejoratif Islam tradisional, sebuah pelabelan yang perlu dipertanyakan
ulang. Yang tidak banyak dilihat juga adalah figur perempuan pesantren
(ibu nyai), yang ternyata memainkan peran besar sebagai agen
transformasi sosial, seperti figur Ibu Wahid itu. Pesantren bukanlah
lembaga pendidikan par excellent, lepas dari berbagai kekurangan, akan
tetapi merepresentasikannya secara sepihak, memotret sisi
kekurangannya, atau lebih kejam lagi menyingkirkannya dalam diskursus
keilmuan, perlu dikritisi secara mendalam. Meski demikian, agar tidak
terjebak dalam excessive self-defensife dalam menulis dunia pesantren,
kyai atau ibu nyai, saya kira persoalan data, sumber tulisan atau
referensi menjadi penting. Saya harap buku antum membawa data baru
yang selama cnederung kurang diapresiasi. Proses chek dan rechek data
dengan data atau sumber lain seperiode, seperti yang dilakukan Mbak
Rosa, sangat penting. Atau bisa juga membaca ulang rujukan dan sumber
yang dirujuk para sarjana saat menulis pesantren, adakah bagian dari
data yang disembunyikan, dibuang dan bagian lain ditonjolkan. Sebaba
bagaimanapun juga persoalan methode dan data riset adalah persoalan
yang tidak munri akademis, tapi sangat politis. Tulisan Geertz tentang
tradisi selametan yg diklaim sebagai ciri khas Islam abangan
sebenarnya juga didasarkan atas pe-nyensoran-data. Bukankah dia
sendiri menulis bahwa dalam setiap selameten yg diadakan oleh keluarga
abangan, peran santri/kyai sangat menonjol sebagai pemimpin ritual
selamten itu sendiri. Hanya dia tidak [mau] mengelaborasi isu ini
lebih jauh karena akan bertentangan dengan tesis dia bahwa selamten
sebagi budaya abangan, bukan budaya santri. Dan saya yakin buku antum
akan mengcover persoalan-persoalan seperti ini.  

Salam, 
Nasir

 In [email protected], Syaikhul Amin - MTD <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Daeng baso,
> 
> Ditunggu bukunya ya, saya jadi penasaran...
> 
> tapi jujur saja wong ndeso dikampung saya yg sudah sepuh2 kalau ditanya
> pahlawan, ya yg disebut nama para kyai dan soekarno, selebihnya nggak
> tahu apakah itu hatta, Syahrir, dst.  Tapi kalau di luar jawa saya nggak
> tahu, di sumatera, Kalimantan, sulawesi dan lainnya.
> 
>  
> 
> ________________________________
> 
> From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
> Behalf Of ahmad baso
> Sent: Wednesday, November 26, 2008 4:01 PM
> To: [email protected]
> Subject: Re: [kmnu2000] "Agency" Perempuan Pesantren: MERAWAT TRADISI,
> MENYELAMATKAN INDONESIA
> 
>  
> 
> terima kasih Mbak Rosa,
> apa yang saya tulis itu adadlah sebagian kecil dari draf buku ynag
> sedang saya tulis kira-kira-kira ttg "apa sih epran, bagaimana, dan
> dimana sebetulnya posisi warga pesantren (dan NU) dalam pembentukan
> bangsa ini"
> hampir semua bacaan saya yang ditulis orientalis indoensia, kayak Kahin,
> feith, Lev, Geertz, hingga Fely dan barton, jelas kaum pesantren minim
> peran. bag mereka yang ebsar hanyalah Hatta, dan Sjahrir, Nasution,
> nama-nama  yang sesuai dengan selera Barat (Amerika-Eropa-Australia) ttg
> demokrasi, kebangsaan, bla bla
> tapi, apa yang terjadi ketika kita membaca bahwa temannya Haji Misbach
> yang dipuji oleh Shirahsi adalaha ornag pesantren? apa yang etrjadi
> kalau etrnyata sebgaain temapt berlindung Jenderla Sudirman waktu agresi
> Blenda addlaha di rumah -rumah kiai? apa yang etrjadi ektika Kiai Wahid
> Hasyim beraliansi dengan ornag orang tan malaka? apa yang etrjadi ektika
> pemuda-pemuda kiri, sepetti Pesindo, diakder di epsantren? apa yang
> etrjadi ektika kelompok jawara pelaku revolusi sosial di tegal mendaulat
> kiai jadi bupati populis? apa yang terjadi ektika hadlaratussyekh punya
> murid-murid yang dbuang ke digul dan menjadi aktor revolusi apsca digul?
> apa ynag etrjadi ketika   ini da itu demikian setrusnya.....
> kita harus banyak membuka data-data yangs elama ini banyak dibuang,
> dituutpi, atau disepelkan oleh orientalsi indonesia itu. saya juag bisa
> mengungkapa bagaimana teknik pengelabuan sejarah yang mereka lakukan
> dengan memanfaatkan jasa-jasa Sartono, Taufik Abdullah, Selo,
> Kuntjaraningrat, Deliar, dan setrusnya... agar terkesan bahwa sejarah
> idnoensia yang asli itu dibuat sendiri oelh ornag idnoensia itu, dan
> bukan bikinan mereka
> kita sebagai ornag epsnatren harus tahu betul semua itu... bahwa  bansga
> ini ternyata dibangun di atasa cecerana darah, harta dan ekringat
> ornag-ornag pesantren....
> semoga buku itu bisa kelar secepatnya agar mbak rosa bisa membuka mata
> da menulsi balik kepada orintalis indoensia dari australia itu
> salam
> AB
> 
> ________________________________
> From: Rosa Prabowo <[EMAIL PROTECTED]
> <mailto:rosa_prabowo%40yahoo.com.au> >
> To: [email protected] <mailto:kmnu2000%40yahoogroups.com> 
> Sent: Wednesday, November 19, 2008 7:47:20 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] "Agency" Perempuan Pesantren: MERAWAT TRADISI,
> MENYELAMATKAN INDONESIA
> 
> Salam,
> 
> Mas Baso, terlepas dari judul tulisan yang intinya ingin mengemukakan
> peran perempuan di NU, saya justru ingin mengkritik sumber informasi
> yang sampeyan dapatkan mengenai peran Sholihah Wahid, dua hari pasca
> pemberontakan komunis.
> 
> Dalam thesis S2 saya, saya menulis hal yang kurang lebihnya sama,
> menonjolkan peran penting Sholihah Wahid yang mengumpulkan semua tokoh
> NU, karena thesis saya sangat ingin menempatkan, betapa, kehadiran
> perempuan NU, once dihargai. Nah, ketika draft itu saya tulis dengan
> bersandar pada sumber 2 terbatas (karena NU tidak biasa dengan tradisi
> menulis dan mengumpulkan arsip :(  ), supervisor saya mengingatkan,
> safira, apakah ini bukan hanya claim saja, bahwa seolah- olah ibu
> "Wahid" lah yang mengomandoi berkumpulnya tokoh NU, sebab, setahu saya,
> nggak ada itu informasi mengenai peran penting beliau" ....
> 
> Berbekal rasa ingin tahu (dan sekaligus gondok karena nggak dipercaya),
> saya kembali mengorek serpihan berita, artikel lama, buku picisan
> tentang kiprah NU dulu, lalu saya temukan, bahwa pada saat yang sama,
> tanggal 2 Oktober 1965, di rumah Munasir, Kebayoran Baru, berkumpul
> sejumlah tokoh NU membicarakan tentang bagaimana sikap NU mengenai
> peristiwa tersebut. Sebagai juru bicara dari NU adalah Subhan ZE, dan
> ada 3 statement yang dikeluarkan, al 1. mengutuk perbuatan komunis, 2.
> Mengutuk Dewan Revolusi, dan menyatakan NU tidak sama sekali terlibat
> dengan Dewan Revolusi. Hasil dari pertemuan tanggal 2 tersebut, kemudian
> dilaporkan oleh Mahbub Junaedi ke militer. Baru kemudian tanggal 5,
> pernyataan tersebut di tanda tangani oleh semua badan otonom NU (sumber,
> Masbuchin, th 1967). Saya tidak tahu mana yang sangat berpengaruh,
> tetapi melihat nama- nama yang berkumpul di rumah Munasir, sepertinya
> Kebayoran Baru lah yang lebih berperan dalam mengumpulkan
> tokoh- tokoh NU. 
> 
> Sayapun, kemudian menambah info dalam thesis saya mengenai peran penting
> NU dalam Resolusi jihad, serta pengaruhnya bagi rakyat Jawa Timur.
> Syukur saya, supervisor saya sangat yakin dengan peran penting NU
> tersebut (dalam hati saya, nah lu, biar kamu itu tahu bahwa NU itu
> ....luar biasa :)))
> 
> Maksud saya ngoreksi ini, supaya kita, sebagai generasi muda NU jangan
> lagi terjebak dengan pola fikir bahwa NU ini adalah yang paling besar,
> paling hebat dan paling "berpengaruh" , karena ketika kita dihadapkan
> pada kenyataan di luar NU, seringnya kehadiran  kita tidak dianggap,
> bahkan selalu yang kita suarakan, dipandang oleh mereka sebagai hanya
> "klaim" NU saja. 
> 
> Setelah, saya mendapatkan berita yang berimbang, akhirnya saya
> memutuskan, setiap ada orang NU menyatakan misalnya "saya dulu yang ini
> dan itu", saya lalu mencari pembanding dan sumber informasi yang lain
> yang kira- kiranya waktunya bersamaan dengan orang NU yang telah
> melakukan "claim" tersebut. Supaya, nantinya, kalau ada orang di luar NU
> menyangsikan kiprah NU di suatu event, saya punya dalil lain yang
> berimbang. Begitu lho
> 
> Salam,buat pak Kyai
> 
> Safira Machrusah [Rosa] 
>  
> http://safiramachru sah.blogspot. com
> 
> 
> 
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke