Mbak Rosa,
Coba simak petikan dari novel Pram, Anak Smeua Bangsa (sori salah ektik):
"Meksi dianggap mahir berbahasa Jawa, tapi Minke tetap mendapat semprotan dari 
Kommer, seorang peranakan Eropa. “[Mahir berbahasa Jawa] belum berarti Tuan 
mengenal Jawa lebih baik. Pernah Tuan mengenal kampung dan dusun orang Jawa, di 
mana sebagian terbesar bangsa Tuan tinggal? Paling-paling Tuan hanya melaluinya 
saja. Tahu Tuan apa yang dimakan petani Jawa, petani bansga Tuan sendiri? Dan 
petani adalah sebagian terbesar bangsa Tuan, petani Jawa adalah bangsa Tuan”. 
...
”Percayalah, Tuan, aku lebih mengenal bangsa ini daripada Tuan. Akan Tuan 
ketahui nanti, terlalu banyak yang Tuan tidak ketahui tentang bangsa Tuan 
sendiri”.
Dalam satu diskusi di UIN Ciputat, di bulan puasa lalu, tentang buku As’as Said 
Ali, Pergolakan di Jantung Tradisi (2008), seorang panelis yang baru saja 
menyelesaikan studinya dari kampus ternama di Australia, mengulas buku 
tersebut, dan menyampaikan sejumlah kritikan. Yang terutama berkiatan dengan 
penilaian penulsi buku tersebut bahwa keputusna ulama NU memebrikan gelar 
‘waliyyul amri dlaruri bisysaukah” adalah “keputusan yang elegan”. Menurutnya, 
“penilaian seperti ini terlalu subyektif. Kita perlu melihat 
pandangan-pandangan lainnya. Misalnya Geertz yang memandang orang-orang NU 
kolot atau Ben Anderson yang menganggap mereka anti-modern." 
Ini sekali lagi, anak-anak bansga kita, tidak bisa belajar banyak dari para 
pebdhulu mereka. 
Mereka lebih banyak emngukuhkan pengetahuan kolonial untuk bangsanya, bukan 
seblaiknya, bagaimana mengukuhkan pengetahuan bangsa sendiri terhadap 
pengetahuan kolonial tersebut. Geertz sudah mati, tapi ilmunya tetap 
diberlakukan bukan hanya oleh  murid-murid dari negerinya sendiri, tapi juga 
oleh anak-anak bangsa kita yang belajar di luar. Ini yang membuat Geertz tetap 
hidup. Tidak lagi kreatif, hanya mendaur-ulang, seperti halnya air tergewnag, 
tidak lagi kreatif.
Kita perlu bertanya, apa sebetulnya yang diepalajri anak-anak negeri ini di 
luar. Semestinya kan membuat mereka kreatif, karena visinya jelas, memajukan 
bansga ini. seperti halnya anak-anak Jepang di awal pintu gerbang modernisasi 
belaja rke negara-negara Barat. Setelah kembali,emngali ekmbali potensi 
ekamjuan dan kekuatan itu dari dalam tradisinya. Tapi, di kalangan anak anak 
bansga sendiri, yang jsutru kita eproleh adalah banyak potensi tradisi dan 
kekuatan masyarakat yang digerus habis oleh mereka, dan bahkan lebih banyak 
yang dimuculkan adalah benih-benih ketagngan, konflik, dan bahkan permusuhan di 
antara anak-anak bangsa sendiri.
Mbak, Rosa, apakah ketika saya menulis di atas, yang salah ketik itu, sebuah 
prejudice? Apa karena saya membela NU dan harkat dan martabat anak-anak bangsa 
ini sebuah prejudice? sementara ilmu mereka, Geertz, dan setrusnya, sebagai 
ilmu sebenarnya? ilmu saya yang seperti itu hanya kelas dua, hanay prejudiec 
krn mengkritik mereka?
wallahu a'lam
salam hangat
ab

 
________________________________

[1]Lihat Stephen Vlastos (ed.), Mirror of Modernity: Invented Traditions of 
Modern Japan (Berkeley: University of California Press, 1998). Konsep 
“furusato” misalnya yang berarti “kampung halaman”, “tanah air” atau “bumi 
pertiwi”. Oleh kalangan intelektual Jepang diramu dari tradisi mereka di 
kampung, untuk kemudian dijadikan sebuah konsep tentang bangsa dan cinta tanah 
air. Konsep ini yang mmeungkinkan kader-kader dan anak-anak bansga Jepang yang 
belajar di negara-negara Barat untuk beradapati dengan dunia mdoern tapi tidak 
kehilangan akar dengan bangsanya sendiri. Tentang uraian konsep tradisional 
ini, Lihat Jennifer Robertson, “It Takes a Village: Internationalization and 
Nostalgia in Postwar Japan”, dalam Vlastos: (ed.), Mirror of Modernity, hal. 
110-129.

 



________________________________
From: Rosa Prabowo <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, December 4, 2008 12:54:07 PM
Subject: Re: [kmnu2000] “Agency” Perempuan Pesantren: MERAWAT TRADISI, 
MENYELAMATKAN INDONESIA


Mas Baso,

Saya cukup mengagumi tulisan-tulisan sampeyan yang bermutu. Tetapi membaca 
jawaban sampeyan kemaren saya jadi "kecewa" dan tidak mengira bahwa sampeyan 
ternyata memiliki pandangan "prejudice" yang sangat besar terhadap Barat. Lalu 
saya berfikir, "Ada apa ya dengan Mas Baso?" Padahal saya hanya menyampaikan 
sumber-sumber dokumentasi yang ditulis oleh orang-orang NU sendiri. Justru 
refleksi yang diberikan pembimbing saya "yang orang Barat"lah yang kemudian 
memacu saya untuk "molak-malik" mencari-cari dari sumber-sumber tersebut. 
Terlepas dari Mas Baso mau menerima sumber-sumber sejarah tersebut dan menerima 
analisa saya. Namun tidaklah bijak untuk kemudian menguatarakan pandangan 
"prejudice" seperti itu.

Di sisi lain, dalam tulisan yang bakalan dibukukan itu, sampeyan justru 
menggunakan kata-kata/istilah "agency" yang notabene "kebarat-baratan" ? 
Terlihat inkonsistensi disini.

Terus terang, saya bukan "supporter" Barat. Saya ingin Bangsa Indonesia maju, 
saya ingin kultur kita maju, saya juga ingin NU maju. Tapi saya tidak setuju 
kalau untuk itu kita membangun benteng "prejudice". Sebab benteng itu justru 
akan mengungkung. Dan membuat katak mengorek namun hanya di bawah tempurung.

Seperti saya tidak setuju "prejudice" terhadap Barat, saya juga menolak 
sebagian orang Barat yang juga punya "prejudice" terhadap Islam. Bagi saya 
keduanya tidak akan menghasilkan kecuali saling curiga dan ujung-ujungnya 
konflik. Lalu kapan ketemunya kalau semua pihak membangun benteng "prejudice"? 
Apakah tidak bakal ada negosiasi, di ruang, dimana masing masing secara 
rasional bisa menerima hidup dalam perbedaan dan mengharapkan kehidupan yang 
diwarnai dengan kedamaian? 

Kalau kita selalu terpenjara dalam sekat- sekat suudzon, mungkin kita nggak 
akan pernah menjadi kelompok yang besar. Saya ingin melihat NU itu menjadi 
besar, makanya saya yang merupakan bagian kecil dari NU akan tetap melihat dan 
mengaca dengan seobjektif mungkin. Percaya diri dengan asset yang kita milik, 
tapi mencoba tetap kritis mengoreksi diri. Dan bersama teman- teman NU yang 
lain, tanpa "prejudice" agar nantinya...tujuan mulia mengembangkan Islam yang 
santun, moderat, tapi juga modern dan maju benar- benar bisa tercapai. 

Saran saya yang lain untuk Mas Baso, mengetiknya nggak perlu tergesa-gesa. .... 
banyak salah ketik... ;)

Salam,

Safira Machrusah [Rosa] 
http://safiramachru sah.blogspot. com

--- On Wed, 26/11/08, ahmad baso <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
From: ahmad baso <[EMAIL PROTECTED] com>
Subject: Re: [kmnu2000] “Agency” Perempuan Pesantren: MERAWAT TRADISI, 
MENYELAMATKAN INDONESIA
To: [EMAIL PROTECTED] s.com
Received: Wednesday, 26 November, 2008, 8:00 PM

terima kasih Mbak Rosa,

apa yang saya tulis itu adadlah sebagian kecil dari draf buku ynag sedang saya 
tulis kira-kira-kira ttg "apa sih epran, bagaimana, dan dimana sebetulnya 
posisi warga pesantren (dan NU) dalam pembentukan bangsa ini"

hampir semua bacaan saya yang ditulis orientalis indoensia, kayak Kahin, feith, 
Lev, Geertz, hingga Fely dan barton, jelas kaum pesantren minim peran. bag 
mereka yang ebsar hanyalah Hatta, dan Sjahrir, Nasution, nama-nama  yang sesuai 
dengan selera Barat (Amerika-Eropa- Australia) ttg demokrasi, kebangsaan, bla 
bla

tapi, apa yang terjadi ketika kita membaca bahwa temannya Haji Misbach yang 
dipuji oleh Shirahsi adalaha ornag pesantren? apa yang etrjadi kalau etrnyata 
sebgaain temapt berlindung Jenderla Sudirman waktu agresi Blenda addlaha di 
rumah -rumah kiai? apa yang etrjadi ektika Kiai Wahid Hasyim beraliansi dengan 
ornag orang tan malaka? apa yang etrjadi ektika pemuda-pemuda kiri, sepetti 
Pesindo, diakder di epsantren? apa yang etrjadi ektika kelompok jawara pelaku 
revolusi sosial di tegal mendaulat kiai jadi bupati populis? apa yang terjadi 
ektika hadlaratussyekh punya murid-murid yang dbuang ke digul dan menjadi aktor 
revolusi apsca digul? apa ynag etrjadi ketika   ini da itu demikian 
setrusnya... ..

kita harus banyak membuka data-data yangs elama ini banyak dibuang, dituutpi, 
atau disepelkan oleh orientalsi indonesia itu. saya juag bisa mengungkapa 
bagaimana teknik pengelabuan sejarah yang mereka lakukan dengan memanfaatkan 
jasa-jasa Sartono, Taufik Abdullah, Selo, Kuntjaraningrat, Deliar, dan 
setrusnya... agar terkesan bahwa sejarah idnoensia yang asli itu dibuat sendiri 
oelh ornag idnoensia itu, dan bukan bikinan mereka

kita sebagai ornag epsnatren harus tahu betul semua itu... bahwa  bansga ini 
ternyata dibangun di atasa cecerana darah, harta dan ekringat ornag-ornag 
pesantren... .

semoga buku itu bisa kelar secepatnya agar mbak rosa bisa membuka mata da 
menulsi balik kepada orintalis indoensia dari australia itu

salam

AB

____________ _________ _________ __

From: Rosa Prabowo <rosa_prabowo@ yahoo.com. au>

To: [EMAIL PROTECTED] s.com

Sent: Wednesday, November 19, 2008 7:47:20 PM

Subject: Re: [kmnu2000] “Agency” Perempuan Pesantren: MERAWAT TRADISI, 
MENYELAMATKAN INDONESIA

Salam,

Mas Baso, terlepas dari judul tulisan yang intinya ingin mengemukakan peran 
perempuan di NU, saya justru ingin mengkritik sumber informasi yang sampeyan 
dapatkan mengenai peran Sholihah Wahid, dua hari pasca pemberontakan komunis.

Dalam thesis S2 saya, saya menulis hal yang kurang lebihnya sama, menonjolkan 
peran penting Sholihah Wahid yang mengumpulkan semua tokoh NU, karena thesis 
saya sangat ingin menempatkan, betapa, kehadiran perempuan NU, once dihargai. 
Nah, ketika draft itu saya tulis dengan bersandar pada sumber 2 terbatas 
(karena NU tidak biasa dengan tradisi menulis dan mengumpulkan arsip :(  ), 
supervisor saya mengingatkan, safira, apakah ini bukan hanya claim saja, bahwa 
seolah- olah ibu "Wahid" lah yang mengomandoi berkumpulnya tokoh NU, sebab, 
setahu saya, nggak ada itu informasi mengenai peran penting beliau" ....

Berbekal rasa ingin tahu (dan sekaligus gondok karena nggak dipercaya), saya 
kembali mengorek serpihan berita, artikel lama, buku picisan tentang kiprah NU 
dulu, lalu saya temukan, bahwa pada saat yang sama, tanggal 2 Oktober 1965, di 
rumah Munasir, Kebayoran Baru, berkumpul sejumlah tokoh NU membicarakan tentang 
bagaimana sikap NU mengenai peristiwa tersebut. Sebagai juru bicara dari NU 
adalah Subhan ZE, dan ada 3 statement yang dikeluarkan, al 1. mengutuk 
perbuatan komunis, 2. Mengutuk Dewan Revolusi, dan menyatakan NU tidak sama 
sekali terlibat dengan Dewan Revolusi. Hasil dari pertemuan tanggal 2 tersebut, 
kemudian dilaporkan oleh Mahbub Junaedi ke militer. Baru kemudian tanggal 5, 
pernyataan tersebut di tanda tangani oleh semua badan otonom NU (sumber, 
Masbuchin, th 1967). Saya tidak tahu mana yang sangat berpengaruh, tetapi 
melihat nama- nama yang berkumpul di rumah Munasir, sepertinya Kebayoran Baru 
lah yang lebih berperan dalam mengumpulkan

tokoh- tokoh NU. 

Sayapun, kemudian menambah info dalam thesis saya mengenai peran penting NU 
dalam Resolusi jihad, serta pengaruhnya bagi rakyat Jawa Timur. Syukur saya, 
supervisor saya sangat yakin dengan peran penting NU tersebut (dalam hati saya, 
nah lu, biar kamu itu tahu bahwa NU itu ....luar biasa :)))

Maksud saya ngoreksi ini, supaya kita, sebagai generasi muda NU jangan lagi 
terjebak dengan pola fikir bahwa NU ini adalah yang paling besar, paling hebat 
dan paling "berpengaruh" , karena ketika kita dihadapkan pada kenyataan di luar 
NU, seringnya kehadiran  kita tidak dianggap, bahkan selalu yang kita suarakan, 
dipandang oleh mereka sebagai hanya "klaim" NU saja. 

Setelah, saya mendapatkan berita yang berimbang, akhirnya saya memutuskan, 
setiap ada orang NU menyatakan misalnya "saya dulu yang ini dan itu", saya lalu 
mencari pembanding dan sumber informasi yang lain yang kira- kiranya waktunya 
bersamaan dengan orang NU yang telah melakukan "claim" tersebut. Supaya, 
nantinya, kalau ada orang di luar NU menyangsikan kiprah NU di suatu event, 
saya punya dalil lain yang berimbang. Begitu lho

Salam,buat pak Kyai

Safira Machrusah [Rosa] 

 

http://safiramachru sah.blogspot. com

From: ahmad baso <[EMAIL PROTECTED] com>

Subject: [kmnu2000] “Agency” Perempuan Pesantren: MERAWAT TRADISI, 
MENYELAMATKAN INDONESIA

To: [EMAIL PROTECTED] s.com

Received: Wednesday, 19 November, 2008, 2:45 PM

 “Sebab itu, benar juga kalau dikatakan bahwa pesantren adalah suatu subkultur 
dalam kehidupan masyarakat kita sebagai suatu bangsa. Ketahanannya membuat 
pesantren tidak mudah menerima sesuatu perubahan yang datang dari luar, karena 
pesantren memiliki suatu benteng tradisi tersendiri. Tradisi kerakyatan dalam 
mengabdi kepada Allah SWT, dan menyebar kebaikan di tengah-tengah masyarakat.”

 

-- KH Saifuddin Zuhri, Guruku Orang-orang dari Pesantren, hal. 72-73.

 

Perempuan, Agency (Fa’iliyah)

Tidak semua memang bisa tampil dalam situasi krisis, dimana perempuan harus 
tampil berdiri sendiri di baris paling depan. Karena itu berarti menanggung 
resiko terbesar dan terberat dibanding mereka yang berada di baris belakang. 
Tapi memang hanya mereka yang punya agency, yang punya inisiatif dan keberanian 
mengambil resiko, punya sikap tegas, dan keyakinan diri saja yang berani 
berdiri di avant garde. Merekalah yang bermental perintis dan pendobrak. Dan 
salah satu dari sekian perempuan itu di Tanah Air adalah (almarhumah) Ibu 
Solichah A Wahid Hasyim, ibunda Gus Dur.[2]

            Ada tiga peristiwa yang sangat kritis namun strategis dimana Ibu 
Wahid – demikian almarhumah disapa – tampil dan berdiri di depan dengan 
siasat-siasat, agency atau fa’iliyyah-nya. 

Pertama, beberapa hari setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965, ia 
mengambil inisiatif pertama mengumpulkan tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama, laki-laki 
maupun perempuan, untuk menyikapi situasi genting tersebut. Dalam situasi yang 
belum menentu itulah, keberanian Ibu Wahid mendorong NU bertindak, dengan 
Subchan ZE selaku ujung tombaknya, beraksi mengutuk keras aksi G30S itu. Di 
tengah situasi yang belum jelas mana lawan mana kawan, Ibu Wahid justru sudah 
menunjukkan agency-nya sebagai seorang perempuan NU hadir mengawal keselamatan 
bangsa dan negaranya.

Kedua, ketika program-program KB dikampanyekan pemerintah untuk mangendalikan 
laju pertumbuhan penduduk, Ibu Wahid dengan kemampuan dan siasatnya melakukan 
pendekatan kepada masyarakat, terutama kalangan Nahdliyyin, untuk 
menyosialisasikan program-program KB tersebut sehingga diterima oleh 
masyarakat. Peran beliau mengingatkan akan pentingnya penguatan posisi 
perempuan pesantren dalam isu-isu strategis hak-hak reproduksi.

Ketiga, ketika dua faksi di tubuh NU, yakni kelompok Cipete dan kelompok 
Situbondo, terlibat konflik politik yang berlarut-larut dan makin membahayakan 
keberadaan NU pada tahun 1980-an. Dan saat itu menjelang Muktamar di Situbondo 
tahun 1984. Ibu Wahid segera mengambil inisitaif untuk mendekati kedua kelompok 
tersebut, menjembatani serta mengarahkan sejumlah pertemuan di antara 
tokoh-tokoh kedua faksi. Muktamar NU akhirnya berjalan mulus tanpa gejolak 
politik berkat prakarsa Ibu Wahid mengelola konflik di lingkungan NU demi 
tercapainya ishlah atau rekonsiliasi. Ini adalah agency strategis beliau 
sebagai perempuan rekonsiliator. [3]

 

Perempuan, Kebudayaan dan Masyarakatnya

Pengalaman Ibu Wahid di atas adalah pengalaman khas masyarakat pesantren, 
pengalaman khas kaum Nahdliyyin. Perannya adalah refleksi dari karakter 
komunitasnya sebagai pengawal bangsa, penjaga tradisi dan pemrakarsa ishlah dan 
rekonsiliasi.

Masyarakat pesantren mungkin disebut masyarakat tradisional. Masyarakat yang 
memandang dunia luar mendatangkan kekhawatiran dan rasa was-was. Namun 
demikian, ketika suatu kebudayaan rakyat tumbuh subur, maka segenap 
unsur-unsurnya pun ikut bergerak. Dan unsur-unsur luar bisa diterima tanpa 
gesekan-gesekan atau ketegangan dengan dunia tradisi tersebut. Mungkin bisa 
dikatakan bahwa masyarakat tradisional itu illiteracy, buta huruf. Tapi itu 
hanya untuk menyebut mereka tidak bisa membaca dan menulis huruf Latin. Tapi 
mereka punya kiat sendiri untuk menyiasati buku, yang tertulis, maupun dunia 
luar, dengan menempatkan secara verbalistik atau lisan segenap yang tertulis 
dan yang konseptual. Artinya, segenap makna yang bisa jadi pakem dalam bahasa 
tertulis, dicairkan dan dibuat fleksibel ketika dikondisikan dalam kultur 
oral-tradisi ini. Makna yang muncul pun jadinya terbuka bagi pembaca (dan 
pendengarnya) untuk memberikan suara yang disesuaikan dengan konteks

dan lingkungan mereka masing-masing. Itu misalnya mereka lakukan dengan membaca 
sebuah teks melalui tradisi samaan, yang biasa dilakukan dalam pembacaan 
al-Quran di depan khalayak atau audiens pendengar. Masing-masing audiens akan 
menangkap teks yang dibaca itu sesuai dengan tingkat pemahaman dan 
pengalamannya. Satu bacaan mungkin ada  yang lebih kuat resonansinya 
dibandingkan bacaan di telinga seorang pendengar; tapi bacaan lain yang minor 
itu justru bisa juga bergema kuat di telinga hadirin lainnya. Bahkan, sebuah 
makna bisa diciptakan dalam situasi kebersamaan audiens tersebut.[4]

Itulah kekeliruan Geertz dalam bukunya, Religion of Java, karena ingin 
mengembalikan pengalaman orang-orang Jawa yang membaca tradisi dan kebudayaan 
mereka ke dalam kotak-kotak “santri” (dipecah lagi menjadi “santri kolot” dan 
“santri modern”), “abangan”, dan “priyayi”. Posisi mereka difiksasi dan 
dimantapkan ke dalam sekat-sekat kebudayaan, dimana pengalaman mereka dalam 
ber-slametan misalnya menjadi hak eksklusif kaum abangan, dan bukan misalnya 
milik bersama-sama yang melibatkan abangan, santri dan priyayi dalam satu 
pengalaman “nonton bersama”, pengalaman berkebudayaan) . Dikiranya, Geertz bisa 
menempatkan orang-orang Jawa dalam posisinya yang empuk, untuk kemudian dari 
sana membaca diri dan dunianya. Padahal pengalaman mereka dalam kebudayaan 
adalah pengalaman transisional, yang liminal.[5]Sementar a Geertz inign menutup 
peluang pengalaman yang kaya itu, dan membatasinya pada kotak-kotak tertentu 
yang sudah tersedia: santri,

abangan, priyayi. Yang kemudian berkembang menjadi kotak-kotak “tradisional” 
dan “modern”. Selain itu, Geertz juga ingin menunjukkan cara terbaik mengungkap 
makna atas pengalaman mereka tersebut, dengan memberikan padanya sebuah 
otoritas yang berdaulat. Karena makna sudah dianggap otonom, terlepas dari 
subyeknya, maka yang berhak kemudian untuk mendaulat makna adalah ada sang 
penulis, yang punya otoritas. Dan otoritas itu nantinya bernama Geertz, 
murid-muridnya, dan seterusnya.. ...  

 

Ke-Perempuan- an, Ke-Indonesia- an

Proses kreatif berkebudayaan itulah yang dimainkan oleh orang-orang kampung dan 
kalangan pesantren terhadap sebuah teks yang bernama Mencaoai Indonesia Merdeka 
(1933) karya Soekarno.[6] Proses kehadiran teks itu sangat sarat dengan makna 
dan pengalaman. Coba bayangkan, sebuah buku diperoleh dengan cara yang bisa 
saja nyawa jadi taruhannya. Buku tersebut adalah sejenis teks yang dilarang 
untuk diakses oleh penduduk pribumi. Tapi orang-orang pesantren tetap berjuang 
untuk menyembunyikan buku dari aksi razia polisi kolonial Belanda.

Suatu hari, polisi kolonial Belanda mendatangi desa-desa yang dianggap sarang 
aktifis nasionalis. Mereka berpakain preman, kelaur masuk rumah warga. Mereka 
menggeledah rumah-rumah penduduk yang dicurigai menyimpan buku Soekarno 
seukuran saku itu.[7]Haji Mahful dan  Abdulbasir, pemilik salon dan kawan 
sepengajian ayah di pesantren Kiai Nasyrawi, mendatangi Ibu Saifuddin Zuhri 
yang sedang memasak. Berikut penuturan Kiai Saifuddin kecil menggambarkan 
situasi tersebut:

 

“Mas Ajeng, tolonglah sembunyikan buku ini dimana saja,” pinta Paman Haji 
Mahful, sambil meneyrahkan buku ukuran saku yang agak kumal. Sementara Paman 
Abdulbasir menyebarkan sorot mata ke sekeliling dapur. Orang-orang di desaku 
biasa memanggil ibu dengan sebutan “mas ajeng” atau kadang “ibu”. 

“Apa ini, Dik Mahful?”, tanya ibu, seperti tidak paham.

“Sebuah buku penting! Tolonglah Bu, sembunyikan buku ini,” jawab Paman Haji 
Mahful dan Paman Abdulbasir berbareng. Wajah orang-orang ini seperti dalam 
ketakutan.

“Buku?”, tanya ibu dengan wajah bingung.

“Ya, buku! Buku penting. Tolonglah ibu sembunyikan dimana saja,’ desak Paman 
Mahful sambil menyerahkan buku dari balik baju piyamanya. 

“Mengapa harus saya? Saya tidak mengerti buku,” tukas ibu.

“Begini Mas Ajeng...”, Paman Haji Mahful mendekati ibu dan berkata seperti 
berbisik, “Ini buku Ir. Sukarno namanya Mencapai Indonesia Merdeka. Siang ini 
puluhan polisi melakukan penggeledahan di semua rumah di desa kita. Mereka 
sedang mencari buku ini. Gubernemen Hindia Belanda melarang buku ini beredar 
dan dibaca oleh rakyat, karena isinya dipandang sangat berbahaya. Tolonglah Mas 
Ajeng sembunyikan dimana saja asal aman!”.

Ibu menoleh padaku sambil menerima buku dengan kedua tangannya. Paman Haji 
Mahful dan Paman Haji Abdulbasir bergegas mohon diri lalu meninggalkan ibu yang 
masih berdiri di dekat pintu dapur.

Ibu tampak tenang sekali, tak ada kecemasan pada wajahnya. Sedang berpikir, 
tapi tidak gugup.

Buku ukuran saku itu dipeluknya erat-erat seperti kebiasaan ibu kalau sedang 
membawa kitab al-Quran. Sejenak pandangan itu disebar sekeliling dapur. 
Tiba-tiba ibu menghampiri periuk tempat menanak nasi. Ibu memang tengah menanak 
nasi buat santapan siang seisi rumah. Nasi itu sudah hampir masak, antara 
“mandek” dan “tanek” menurut istilah desaku, yaitu bila air tajinnya sudah 
hampir mengering larutannya berangsur lenyap menjadi uap. Akau dapat 
memastikannya karena kendil atau periuk tempat menanak nasi itu telah ditutup 
daun pisang pada mulutnya yang disumbat dengan tutup erat-erat. 

Ibu menghampiri periuk itu. Perlahan-lahan dibukanya tutup periuk. Daun pisang 
penutup periuk yang sudah menguap itu dibuka selembar demi selembar. Beberapa 
lembar tersisa yang masih mengepulkan uap panas itu dibiarkan menutupi nasi 
yang hampir “tanak” dalam periuk. Buku berukuran saku itu dibungkus kain lap 
putih. Di atas daun pisang yang masih mengepulkan uap penutup periuk itulah ibu 
meletakkan buku tipis Mencapai Indonesia Merdeka. Ibu mengembalikan daun-daun 
pisang penutup mulut periuk di atas buku kecil itu rapat-rapat. Hati mulai 
kurang cemas karena kecerdikan ibu, hati menjadi geli menyaksikan ibu menanak 
nasi dengan Mencapai Indonesia Merdeka! Ibu mengurangi bara api di bawah periuk.

“Alhamdulillah, tawakkaltu ya Rabbi [Saya berserah diri kepada-Mu Ya Tuhanku],” 
Ibu berucap syukur dan bertawakkal. Beliau memandang aku dengan senyumnya, aku 
pun membalasnya dengan senyum dan bangga. Tapi senyum ibu hanya sejenak. Ibu 
meletakkan jari telunjuknya pada bibirnya sambil menatap padaku. Aku paham akan 
maksudnya, agar aku merahasiakan peristiwa penting itu.

Tiba-tiba aku sangat terkejut ketika dua orang polisi menghampiri rumah yang 
hanya berjarak tiga meter.

“Selamat siang”, seru kedua polisi itu.

“Selamat siang”, jawab ibu sebelum aku sempat membalas polisi itu. Ibu ebrdiri 
di belakangku.

“mana tuan rumah?” tanya seornag dari mereka.

“Ayahnya anak-anak sejak pagi tadi tak ada di rumah,” jawab ibu dengan tenang 
saja. Ibu mempersilakan polisi-polisi itu duduk di emper rumah. Tapi 
polisi-polisi itu tidak segera masuk ke rumah kami., seperti ada keengganan. 
Seorang polisi lain bergabung dengan mereka. Ketiga polisi itu sedang berembuk. 
Agak lama juga mereka berunding.

“Boleh kami masuk rumah untuk mencari tuan rumah?” tanya salang seornag dari 
mereka. Agaknya dia sang komandan.

“Silakan saja! Tapi saya sudah katakan bahwa ayahnya anak-anak sejak pagi tak 
ada di rumah,” jawab ibu dengan menatap wajah-wajah polisi itu. Polisi-polisi 
itu tampak ragu untuk memasuki rumahku, lalu berunding sesama mereka. 

“Karena tuan rumah tidak ada, baiklah kami minta permisi”, kata komandan mereka.

“Oh, ... tahukah nyonya dimana Haji Mahful?” komandan itu membalikkan badannya 
dan bertanya kepada ibu. bertanya tak disangka-sangka itu...

“Maafkan, saya tidak tahu”, jawab ibu dengan nada tegas meyakinkan.

Mendengar jawaban ibu, polisi-polisi itu lalu berpamitan.[ 8]

 

Pengalaman buku ini menunjukkan sebuah konteks, yang sarat perebutan makna. 
Tokoh-tokoh dalam cerita bukan hanya menghadapi dominasi, tapi juga bagaimana 
menyiasati dominasi tersebut. Relasi dominasi dan subordinasi digambarkan 
melalui aksi polisi yang menggeledah buku Sukarno atas perintah Gubernemen 
Hindia Belanda. Wilayah pertarungannya justru pada sebuah buku, dan ketegangan 
bahkan teror pun bertebaran di sana-sini, “di semua rumah di desa kita”. Dan 
kemudian, ternyata, resolusinya ada pada seorang perempuan. Ketegangan di ruang 
publik, dalam ranah politik, kemudian menemukan solusinya di ruang privat: 
dapur, dengan seorang ibu desa sebagai aktornya. Sebuah wilayah yang belum 
terjangkau dalam imajinasi aktifis feminis. Namun, sangat krusial bagi sebuah 
pergerakan kebangsaan, karena dapur ternyata adalah kepanjangan dari domain 
bangsa yang dibentuk di ruang publik. 

Hanya melalui agency seorang ibu, buku Sukarno selamat, dan kemudian bisa 
diakses dan dinikmati oleh penduduk kampung. Jadi, di sinilah agency 
(keaktoran) perempuan. Di ruang publik suaranya memang tidak terdengar; tapi 
justru dalam situasi krisis, ia hadir dengan subyektifitas keperempuanannya, 
dengan membawa wilayah dapur, yang dianggap sebagai wilayah subordinasi 
perempuan (ingat semboyan kaum feminis modernis tentang ketertindasan 
perempuan: dapur, sumur, kasur), masuk ke dalam ruang publik dengan 
siasat-siasatnya sendiri. 

Coba perhatikan siasat ibu Saifuddin dalam menyembunyikan buku Sukarno itu. 
Tidak pernah terbayangkan, sebuah buku bisa diselamatkan dari atas periuk yang 
sedang mendidih, dan lolos tanpa lecet sekalipun. “Karena kecerdikan ibu, hati 
menjadi geli menyaksikan ibu menanak nasi dengan Mencapai Indonesia Merdeka!”. 
Kita tentu bisa bertanya, apakah ibunda Saifuddin pernah melakukan hal serupa 
sebelumnya, sehingga dalam hitungan menit buku Sukarno bisa diselamatkan di 
atas periuk? Setahu saya, dari bacaan atas kedua buku Kiai Saifuddin Zuhri 
tersebut, belum pernah. Artinya, itulah arti agency ibunda Saifuddin. Ia muncul 
bukan tiba-tiba, out of nothing, tapi sudah tersedia secara potensial, dan 
ketika muncul pemicunya, maka ia pun menjadi aktual. Dan dengan secepat kilat, 
agency tersebut berfungsi dengan pas dan jitu, tanpa mesti ada instruksi atau 
desakan luar. Seperti halnya pengalaman Ibu Solichah Wahid di atas. Mengapa 
misalnya diselamatakan di atas

periuk yang mendidih, bukan misalnya di buang di tempat sampat atau dilempar ke 
area persawahan belakang rumah? Toh juga polisi kolonial tidak akan repot-repot 
sampai mencarinya ke sana. Kita pun bisa kaget, kok bisa buku tipis seperti itu 
bisa selamat dari panas bara api? Memang dahsyat siasatnya itu!

Dengan demikian, menyelamatkan buku tersebut dalam bayangan ibunda Kiai 
Saifuddin adalah juga berarti merawat sebuah tradisi, yakni memperkukuh 
solidaritas penduduk kampung, menyelamatkan mereka dari tindakan represif 
aparat kepolisian kolonial, serta menghargai keyakinan dan pendirian politik 
mereka. Lebih dari itu, merawat tradisi adalah juga berarti menyelamatkan 
Sukarno. Menyelamatkan Sukarno bukan berarti bisa mengeluarkannya dari 
pembuangannya di Endeh, Flores, kala itu. Tapi berarti  menyelamatkan 
benih-benih kebangsaan yang ditanamkan Sukarno di dalam imajinasi penduduk 
Nusantara. Sekecil apapun tindakan yang dilakukan oleh perempuan desa ini 
terhadap buku Sukarno, tapi kontribusinya sangatlah signifikan. Tentu kita bisa 
bertanya-tanya, apa jadinya nasib buku Sukanro dan juga nasib penduduk desa 
tersebut, kalau ternyata buku tersebut disembunyikan oleh seorang laki-laki, 
dan kemudian ketahuan oleh polisi?

Dalam pandangan penguasa kolonial, dari gubernur jenderal sampai polisi 
kampung, sebuah buku, apalagi yang selevel dengan tulisan-tulisan Suakrno, 
adalah dunia laki-laki. Dan laki-laki terlalu “polos”, artinya, mudah ketahuan 
kalau sedang menyembunyikan sesuatu, yang memang berasal dari dunia laki-laki 
itu. Raut wajahnya muda terbaca, apalagi gerak matanya gampang diterka. Itu 
sebabnya sang pemilik buku dan para kiai pembacanya tidak percaya buku itu bisa 
selamat kalau dititipkan kepada laki-laki. Karena mereka dianggap terlalu 
familiar dengan dunia mereka, dunia pergerakan, dunia politik. 

Tapi kalau dititipkan kepada seorang perempuan, apalagi perempuan desa? Dalam 
benak polisi kolonial, tahu apa mereka tentang dunia pergerakan, apalagi 
semacam buku Sukarrno? Paling tahunya dunia masak-memasak, atau buku-buku 
resep, demikian kira-kira pikiran polisi kolonial laki-laki itu. Tapi justru 
dalam ke-tidak-tahu- annya itu, perempuan sebetulnya adalah sebuah kekuatan di 
ruang publik. Tidak salah kalau Sukarno sendiri percaya, dan menyebut mereka 
pilar-pilar kebangsaan, penopang dunia pergerakan nasional, seperti ditulisnya 
dalam buku Sarinah.

Itulah agency ibunda Kiai Saifuddin. Seorang perempuan tidak bisa diabaikan 
akan ke-tahu-annya terhadap segenap yang terjadi di ruang publik. Ruang publik 
baginya adalah kepanjangan dari dunia mereka, dari ruang privat, sumur, dapur 
dan kasur. Mereka mengamati dan mengobservasi segenap ruang publik di luar itu, 
dari posisinya yang lebih aman, dari dalam, dari ruang privat. Itulah wilayah 
“kedaulatan” perempuan, apalagi perempuan desa dan perempuan pesantren. Mereka 
bisa melihat kita, tapi kita tidak bisa melihat mereka. Mereka bisa menguntit 
pergerakan kita di luar, bisa nguping pembicaraan kita di serambi, atau di 
ruang tamu, atau di pasar, dan bahkan bisa pula mendaur-ulang segenap bahasa 
dan kosa-kata kaum lelaki melalui gosip, ngerumpi atau rumor. “When you look at 
me, but you never see me”, kira-kira demikian perumpamaan situasi kaum 
perempuan tradisi, yang mungkin bisa dibaca dan dipandang oleh kaum laki-laki, 
tapi sebetulnya mereka tidak

pernah melihat dan mengetahuinya. [9]Demikian pula, kuasa kolonialisme, yang 
semua pemangkunya adalah laki-laki, tidak tahu apapun tentang perempuan, 
apalagi perempuan tradisi, perempuan santri atau perempuan desa, ketika mereka 
juga menguntit pergerakan orang-orang pergerakan, bisa nguping pembicaraan 
tentang Indonesia merdeka di serambi atau di ruang tamu, atau di pasar, dan 
bahkan bisa pula mendaur-ulang segenap bahasa dan kosa-kata kaum lelaki tentang 
satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, dalam ruang gosip, ngerumpi atau rumor. 

Dan ketika kaum lelaki sedang sibuk membicarakan buku Suakrno, ketika mereka 
sedang kelabakan bagaimana menyimpan rapi buku itu supaya tidak ketahuan, kaum 
perempuan pun sudah tahu itu semua dalam rumor dan ngerumpinya, dari balik 
tirai, dari dalam ruang publik. Meski mereka dikurung dalam rumah, tapi dari 
balik bilik mereka nguping atas apa yang sedang diperbincangkan dan dihebohkan 
oleh kaum lelaki. Coba simak penuturan Kiai Saifuddin: “Ibu tampak tenang 
sekali, tak ada kecemasan pada wajahnya. Sedang berpikir, tapi tidak gugup. 
Buku ukuran saku itu dipeluknya erat-erat seperti kebiasaan ibu kalau sedang 
membawa kitab al-Quran”.

Konteks saat itulah yang membuat agency sang ibu melampaui batas-batas 
konvensional. Dalam sebuah komunitas, seperti komunitas pedesaan dan pesantren, 
sang ibu adalah simbol tradisi, pengawal dan penjaga tradisi.[10] Dengan 
masuknya era pergerakan, sang ibu kemudian menjadi aktor dari dunia baru 
tersebut, dunia kebangkitan. Maka sang ibu pun dalam dunia baru tersebut 
menjadi aktor baru, sebagai penjaga tradisi Sukarno(isme) di suatu lokus 
kebudayaan yang bernama Sukaraja. Seandainya tradisi kebudayaan tersebut mandeg 
atau macet, maka ide-ide kebangsaan tersebut tidak akan bisa berkembang. Sang 
ibu adalah juga anggota pengajian rutin yang digelar oleh dua ibu nyai, sebutan 
untuk kiai perempuan, di kota kecil Sukaraja, Banyumas.

Agency perempuan dari balik ruang privat, seperti kasus, dapur, sumur, melalui 
praktik komunikasi ngerumpi atau rumor, atau melalui ruang publik non-politik 
seperti pasar ini, jarang diperhatikan dalam studi dan gerakan perempuan. 
Apalagi kalau melibatkan aktor perempuan desa, perempuan pesantren atau 
perempuan subaltern. Pasar misalnya menjadi arena publik bagi kaum perempuan, 
untuk mengartikulasikan agency-nya, misalnya dalam kerangka solusi mengatasi 
konflik atau ketegangan sosial. Dunia laki-laki biasanya identik dengan konflik 
dan ketegangan. Tapi aktor perdamaian lebih banyak dimainkan oleh perempuan, 
dan inisiatif itu muncul melalui ruang publik non-politis seperti pasar. 
Seperti pengalaman kaum perempuan di Ambon pasca konflik yang menginisiasi 
perdamaian melalui pasar, karena memang pasar tidak mengenal sektarianisme atau 
identitas agama. Buku yang diterbitkan oleh PP. Lakpesdam NU tentang inisiasi 
perdamaian, tampak belum mengakomodasi

suara-suara perempuan dari latarbelakang sosial-kultural semacam ini.[11]

Demikian pula, strategi komunikasi ngerumpi, adalah instrumen perempuan dalam 
mengartikualsikan suaranya atau agency-nya untuk bertindak sesuai dengan 
kemauannya sendiri, tanpa intervensi luar. Demikian pula perempuan pesantren, 
dalam posisinya yang selalu dianggap di belakang, namun menjadi artikulator 
mandiri tentang dunia sekitarnya, tanpa campur tangan laki-laki. Seperti 
ditunjukkan dari pengalaman Ibu Solichah Wahid dan ibunda Kiai Saifuddin di 
atas.***

 

____________ _________ _________ __

[1]Ahmad Baso, pengurus LTN-PBNU, Anggota Komnas HAM. Makalah dipresentasikan 
pada Seminar Nasional “Budaya, Gender dan Hak Asasi Manusia” yang 
diselenggarakan oleh PP Fatayat NU-UNFPA, Jakarta, 12 November 2008. 

[2]Muhammad Dahlan, et. al. (editor), Solichah A. Wahid Hasyim, Muslimah di 
Garis Depan: Sebuah Biografi (Jakarta: Yayasan KH. A. Wahid Hasyim, 2001).

[3]Tentang agency perempuan sebagai rekonsiliator, lihat Musdah Mulia, Muslimah 
Reformis (Bandung: Mizan, 2004)

[4]Contoh terdekat untuk menggambarkan pengalaman pembacaan kolektif tersebut 
adalah pada acara nonton bareng sebuah pertandingan sepakbola. Bagi pecandu 
bola, tentu beda antara pengalaman menonton sendirian dengan pengalaman nonton 
bareng. Detil-detil pertandingan terasa hidup dan bermakna ketika ditonton 
bareng. Misalnya mengapa kaki Fernando Torres bisa dengan mudah melayang 
melewati kaki-kaki pemain belakang kesebelasan Jerman sehingga bisa mencetak 
gol kemenangan bagi Spanyol untuk merebut Piala Eropa 2008. Selain itu nonton 
bareng juga mengungkapkan sebuah situasi kebersamaan di antara anggota penonton 
yang meski tidak kenal satu sama lain, tapi bisa bertemu dalam satu kesebelasan 
favorit. Bahkan bisa saling berangkulan kalau ternyata kesebelasan yang 
dijagokan bisa mencetak gol ke kandang lawan. Bukan hanya itu. Dalam nonton 
bareng, masing-masing bisa meberikan makna dan tafsiran atas segenap warna 
warni pertandingan, tanpa ada batasan atau

hirarki. Tidak pernah misalnya seseorang berteriak, “Hai, fren, tafsiranmu 
keliru!” atau “Hai, sobat, kamu tidak berhak memberi tafsiran atau pemaknaan 
atas pertandingan ini!”. Malah, sebaliknya, semakin banyak makna dan tafsiran 
yang bertebaran. Itu bukan hanya menunjukkan kayanya tindakan pemaknaan, tapi 
juga menunjukkan banyaknya pilihan dan alernatif, sehingga memungkinkan 
seseorang bisa kreatif, dalam berimajinasi, dan berkarya, dalam berpikir, 
termasuk dalam mereproduksi kembali sekian makna yang diperolehnya. Makin 
banyak makna, maka akan banyak kreatifitas yang muncul. Itulah kebudayaan. 
Salurannya bisa macama-macam: panggung teater, sandiwara, samaan, ziarah kubur, 
istigotsah, dan segenap praktik-praktik kultural lainnya yang banyak menghiasi 
tradisi kebudayaan rakyat dengan tradisi oral atau lisannya.

[5]Tentang pengalaman komunitas pesantrens ebagai opengalaman liminal, lihat 
tulisan saya, Ahmad Baso, “Kiai sebagai Antropolog: Siasat dan Strategi 
Kebudayaan Kiai Saifuddin Zuhri”. Tashwirul Afkar, September 2008.

[6]Karangan ini dimuat dalam Sukarno, Di Bawah Bendera Revolusi(Jakarta: 
Panitia Penerbit Di Bawah Bendera Revolusi, 1963), cet. 2, jilid pertama, hal. 
257-324.

[7]KH. Saifuddin Zuhri, Berangkat dari Pesantren (Jakarta: Gunung Agung, 1987), 
hal. 74-76.

[8]Zuhri, Berangkat dari Pesantren, hal. 74-76.

[9]Analisis tentang strategi the gaze (dipandang-memandan g) seperti ini saya 
timba dari Homi K. Bhabha, The Location of Culture (London & New York: 
Routledge, 2002).

[10]Ini tampak dalam pengalaman kaum perempuan dalam tradisi Jawa yang bergerak 
dalam Serat Centini. Kaum perempuan pesantren, melalui aktor Ni Rancangkapti, 
putri Sunan Giri Parapen, tampil sebagai kekuatan pemersatu dunia Kejawen dan 
dunia pesantren. 

[11]Lihat Khamami Zada et. al., Prakarsa Perdamaian: Pengalaman dari Berbagai 
Konflik Sosial (Jakarta: PP Lakpesdam NU, 2008).

[Non-text portions of this message have been removed]

Make the switch to the world&#39;s best email. Get Yahoo!7 Mail! 
http://au.yahoo. com/y7mail

[Non-text portions of this message have been removed]

[Non-text portions of this message have been removed]











Start your day with Yahoo!7 and win a Sony Bravia TV. Enter now http://au.docs. 
yahoo.com/ homepageset/ ?p1=other& p2=au&p3= tagline

[Non-text portions of this message have been removed]

 


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[EMAIL PROTECTED] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke