http://www.suaramerdeka.com/
WACANA
05 Desember 2008
Manifestasi Agama Cinta
* *Oleh Mu'arif*
MOMENTUM Idul Adha (Idul Kurban), yang tahun ini diperingati umat Islam
sedunia pada Senin (8/12) mendatang, memberi pelajaran cukup penting,
bahwa Islam bukanlah ajaran sadisisme atau terorisme. Hakikat kurban
bukan simbol barbarianisme atau teror berdarah. Kurban merupakan
manifestasi dari ajaran cinta dan kepedulian terhadap sesama.
Siapa yang mencintai sesuatu, maka dia diperbudak olehnya (man ahabba
syai'an, fa huwa 'abdun lahu). Petuah Muhammad Abduh (1849-1905) ini
telah mengisyaratkan, bahwa setiap orang yang mencintai sesuatu dituntut
untuk menghambakan diri kepada yang dicintainya. Dalam kondisi
menghambakan diri kepada sesuatu yang dicintainya itulah, seseorang
dituntut supaya berkurban (bedakan kurban dan korban!).
Lazimnya, manusia normal diliputi rasa cinta terhadap lawan jenis,
anak-anak, bahkan kekayaan materi. Pertanyaannya kemudian, kepada
siapakah cinta yang sesungguhnya? Apakah cinta sejati kepada istri yang
cantik, anak-anak yang cerdas dan sehat, atau harta benda yang
melimpah-ruah?
Kisah perjalanan hidup Nabi Ibrahim telah mengantarkan kita semua untuk
mengenal seperti apa dan kepada siapa ''cinta sejati'' itu. Cinta sejati
adalah keinginan untuk berkurban secara pasrah (tulus) untuk mengabdi
kepada Yang Maha Mencintai (Tuhan). Meski Ibrahim memiliki istri yang
cantik jelita, bernama Sarah, cintanya kepada Tuhan telah mengalahkan
kecantikan istrinya.
Meski Nabi Ibrahim memiliki anak kesayangan bernama Ismail, itu tak
membutakan mata hatinya demi mencintai Tuhannya. Setelah hijrah dari
Mesir, Nabi Ibrahim memperoleh harta benda berlimpah, tetapi itu semua
tidak menenggelamkan hatinya demi mencintai Kekasih Agungnya. Cintanya
yang sejati hanya kepada Allah (lillah), Dzat yang telah menciptakan
dirinya (Al-Khaliq).
Sebagai bukti cintanya kepada Tuhan, Nabi Ibrahim pun rela berkurban
hanya untuk Dzat yang dicintainya. Dia rela diusir dan tidak diakui
sebagai anak oleh ayahnya. Ibrahim juga rela menerima hukuman dibakar
oleh kaumnya, karena dia mempertahankan cinta sejatinya. Ketulusan cinta
sejati Nabi Ibrahim kepada Allah masih diuji dengan perintah agar
mengurbankan Ismail sewaktu usianya masih belia (QS Ash-Shaffat: 102).
Memang terasa berat bagi seseorang untuk meninggalkan tanah
kelahirannya. Seperti kisah Nabi Ibrahim yang diusir oleh kaumnya.
Seandainya bukan karena cintanya kepada Tuhan, barangkali ia tidak akan
melakukan hijrah menuju tempat yang jauh dari tempat kelahirannya.
Sesungguhnya, naluri seorang ayah yang hanya mempunyai seorang anak
pasti sangat sayang kepada anak semata wayangnya itu. Namun kisah
Ibrahim memberikan pelajaran berharga, bahwa ketulusan hatinya untuk
mengurbankan Ismail, anak satu-satunya dari istri keduanya (Hajar), itu
telah membuktikan kualitas cintanya kepada Allah yang melebihi
segala-galanya. Sekalipun harus mengurbankan anak kesayangannya sendiri,
Ibrahim tetap memenuhi tuntutan dari Sang Kekasih Agungnya.
Dalam cinta sejati, yang paling berhak untuk dicintai hanyalah Allah,
sebagaimana pelajaran yang bisa dipetik dari kisah Nabi Ibrahim. Dia
telah menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang dicintai. Sebab, cinta
kepada selain Allah adalah profan. Istri yang cantik jelita bakal
termakan usia, sehingga kecantikannya bakal sirna. Anak-anak juga bakal
termakan usia dan mereka tidak akan hidup selamanya. Begitu juga dengan
harta dunia yang mudah rusak. Namun cinta kepada Allah adalah kekal
selamanya.
Cinta dan Kepedulian
Cinta merupakan manifestasi dari ajaran berkurban. Sebab cinta memang
membutuhkan suatu pengorbanan. Dalam hakikat cinta (hubb), terdapat
unsur pengorbanan (qurban), pengabdian (ta'abud), dan kepasrahan (qanit:
taslim). Menurut Ibnul Qayyim, ketiga unsur inilah yang sejatinya
merupakan bagian dari subtansi ajaran Islam. Cinta adalah manifestasi
dari ajaran tauhid (Abdurrahman bin Hasan, Fathul Majid: 103).
Sebagai pejuang monoteisme samawi, Nabi Ibrahim telah mengajari kita
semua bahwa cita sejati hendaknya hanya ditujukan kepada Allah, Sang
Pencipta. Cinta kepada Allah dibuktikan dengan cara berkurban.
Pengurbanan itu merupakan ujian hidup yang paling berat dalam kehidupan
manusia. Lewat pengurbanan itu pula, kualitas cinta seseorang dapat teruji.
Segenap ujian yang telah dijalani Nabi Ibrahim merupakan bukti ketulusan
cintanya kepada Allah. Berbagai cobaan telah dilalui untuk membuktikan
kualitas cintanya kepada Allah. Pengorbanannya yang tulus telah
diterima, sehingga ia berhak mendapatkan ridla-Nya. Wajar jika Allah
telah menjadikannya sebagai Kekasih-Nya (khalilullah) (QS An-Nisa: 125).
Umat Islam harus bisa memetik hikmah dari kisah Nabi Ibrahim sewaktu
mendapat perintah untuk mengurbankan anak satu-satunya. Sejarah
pengurbanan Nabi Ismail merupakan sebuah antitesa dari tradisi sadisisme
yang pernah dilakukan manusia. Pengurbanan manusia untuk sebuah upacara
keagamaan merupakan budaya barbar yang pernah dikenal dalam sejarah umat
manusia. Ketika Tuhan berhasil menguji keimanan Nabi Ibrahim,
penyembelihan Ismail dibatalkan dengan seekor kambing yang kemudian
dilestarikan menjadi bagian dari tradisi ibadah haji.
Setiap 10 Dzulhijjah, umat Islam di seantero jagad mendapat perintah
untuk berkurban dengan cara menyembelih hewan kurban. Dan pada hari itu
pula, umat Islam berpesta merayakan Idul Adha dengan membagi-bagikan
daging kepada tetangga dan fakir miskin. Di samping sebagai manifestasi
dari ajaran cinta, ibadah kurban juga merupakan wujud kepedulian
terhadap sesama.
Inilah sebenarnya hakikat ajaran berkurban dalam Islam. Syariat kurban
bukanlah ajaran yang menghalalkan sadisisme atau teror berdarah,
melainkan ajaran cinta dan kepedulian terhadap sesama umat manusia. (32)
---Mu'arif, koordinator Multazam Society, penulis buku Pembaruan
Pemikiran Islam (2006).
[Non-text portions of this message have been removed]