JURNAL TODDOPULI:
SASTRA PERIFERIK DAN ATAU SASTRA KEPULAUAN?
Istilah priferik atau pinggiran adalah kosakata yang dihadapkan dengan sentral.
Istilah yang umum digunakan dalam teori-teori ilmu ekonomi pembangunan dengan
tokoh-tokoh seperti Andre Gunder Frank, Cardoso, Samir Amin, Ignacy Sachs, dan
lain-lain.... dan kemudian banyak yang berhimpun di sekitar Universitas
Leuven, Belgia.
Adanya istilah sastra periferik ini baru saya dengar dari Luna Vidya, yang hari
ini, 04 Desember 2008 petang , telah tiba dengan selamat di Paris setelah
berhenti sebentar di Dubai, dengan membawa dua koper buku karya-karya penulis
Makassar dan Aceh.
Ketika mendengar istilah sastra periferik ini, saya tidak langsung mereaksi
Luna Vidya tapi merenungi istilah tersebut. Istilah? Mengapa ia harus
dipermasalahkan? Jawabannya, sederhana karena istilah pada galibnya, seperti
halnya setiap kosa-kata tidak lain dari lumbung bagi suatu konsep dalam bentuk
bahasa. Jika benar demikian, maka agaknya kepada semua pemakai bahasa
diharapkan adanya kesadaran berbahasan, termasuk kesadaran menggunakan kosakata
atau istilah. Makna istilah dan pemilihan kosakata dan atau istilah ini akan
makin terasa ketika kita menulis karya-karya ilmiah, skripsi dan apalagi saat
menulis tesis.
Melihat buku-buku karya-karya para penulis Makassar dan Aceh yang akan
dipamerkan dalam acara Lembaga Persahatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam" di
Paris pada 07 Desember 2008, "Sepuluh h Jam Untuk Sastra Indonesia", yang
mengisi koper-koper Luna Vidya sehinggga membuatnya harus membayar ongkos
timbangan lebih penerbangan [over weight], saya bertanya-tanya: "Karya-karya
inikah yang disebut karya-karya sastra periferik"? Sementara saya masih
mempertanyakan apakah karya-karya yang disebut "periferik" ini mutunya jauh
lebih rendah dari karya-karya yang terbit dan ditulis oleh para penulis Jakarta
atau Jawa yang mungkin dipandang sebagai sentral?
Periferik dalam ilmu ekonomi pembangunan memang bermaksud menekankan
keniscayaan negeri-negeri Selatan untuk memperjuangkan keadilan secara ekonomi,
melawan dominasi negeri-negeri Utara dan untuk menjadi tuan atas negeri sendiri
serta setara dengan bangsa-bangsa lalin di dunia , termasuk negeri-negeri
Utara. Konsep periferik juga bisa dipandang sebagai dasar teori front persatuan
negeri-negeri Selatan guna menegakkan keadilan manusiawi dalam tingkat global.
Konsep menentang dominasi negara-negara Utara yang umumnya kapitalistik.
Lalu apa yang disebut sastra kepulauan?
Dalam pengertian saya, sastra kepulauan tidak lain dari pada niat dan usaha
mengembang-tumbuhhkantanpa kompleks potensi-potensi sastra di berbagai daerah
dan pulau tanahair yang tentu saja berbeda dengan konsep "Black is beautiful"
dari Leopold Senghor , Aimé Césaire dan kawan-kawan karena latar sejarahn dan
politiknya memang berbeda.. Dasar teori konsep sastra-seni kepulauan, saya
kira terdapat pada kosakata republik dan Indonesia yang secara ringkas
dirumuskan dalam motto filosofis "bhinneka tunggal ika". Hal yang tidak
terdapat pada konsep saastra periferik. Konsep sastra periferik terasa padaku
masih berpegang pada pandangan UUD '45 yang mengatakan bahwa kebudayaan
Indonesia itu adalah puncak-puncak kebudayaan daerah, mengakui adanya
sentra-sentra budaya, sastra-seni, penuh kompleks rendah diri pada yang disebut
sentral, tidak menyadari arti kesetaraan dalam nilai republiken dan
berkindonesiaan serta tidak mengkahayati makna kebhinnekaan.
Hal yang berbeda dengan konsep sastra kepulauan. Satra periferik lebih
menjurus ke konsep sastra proyek LSM. Tentu saja sastra proyek LSM tidak saya
tentang, tapi yang saya inginkan adalah kejelasan konsep.Bahwa Republik dan
Indonesia serta bhinneka tunggal ika adalah kosakata-kosakata yang melukiskan
sebuah cita-cita untuk negeri dan bangsa. Adalah suatu program dan politik
kebudayaan. Sastra-sastra kepulauan, sastra-seni yang ada di berbagai pulau dan
daerah sudah ada jauh sebelum Republik Indonesia diproklamirkan pada 17 Agustus
1945. Sentral dan periferik jika itu ada, dominasi dan hjegemoni hanyalah salah
satu akibat dari pemahaman bahwa Republik dan Indonesia sinonim dari
sentralisasi, jika dilihat dari segi politik. Sehingga daerah-darrah dan pulau
tidak lain suatu daerah jajahan tipe baru dan sentral. Karena itu saya
memandang bahwa konsep sasra kepumauan [dalam pengertian termasuk
daerah-daerah] lebih rasuk [compatible] dibandingkan
dengan kosakata periferik.
Dalam konteks inilah maka saya memandang kehadiran Sitor Situmorang, Richard
Oh, Laksmi Pamuntjak, Lily Yulianti, Maesa Ayu Djenar, Luna Vidya di acara
"Sepuluh Jam Untuk Sastra Indonesia", merupakan ujud dari pengakuan Paris
pada sastra kepualauan sebagai kenyataan Indonesia.
Sementaran demikianlah pendapat saya yang selalu bermimpi agar konsep republik
dan Indonesia yang sesungguhnya dan demikian itu bisa terujud. Jika Martin
Luther King Jr mengatakan "I have a dream", maka demikianlah mimpi saya. This
is my dream.****
Perjalanan Kembali, Musim Dingin 2008
------------------------------------------------------
JJ. Kusni
Start chatting with friends on the all-new Yahoo! Pingbox today! It's
easy to create your personal chat space on your blogs.
http://sg.messenger.yahoo.com/pingbox
[Non-text portions of this message have been removed]