Dari kemarin kemana aja kok baru sekarang kampanye anti neolib?
Apa karena wapresnya ga dari PKS terus KAMMI demo?

Al Faqir Ilmi wrote:
>
>
> Ekonomi Neoliberal Mengancam
>
> TOLAK BOEDIONO - Mahasiswa yang tergabung dalam Kesatuan Aksi 
> Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) melakukan unjuk rasa di depan 
> Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU), Jakarta, Selasa (12/5). Mereka 
> menolak Boediono tampil sebagai cawapres pendamping SBY dalam pilpres 
> mendatang. (Suara Karya/Andry Bey)
>
> Rabu, 13 Mei 2009
> JAKARTA (Suara Karya): Masa depan ekonomi nasional menjadi pertaruhan 
> dengan tampilnya Boediono sebagai cawapres pendamping Susilo Bambang 
> Yudhoyono (SBY) di arena pilpres mendatang. Sebab, Boediono dikenal 
> sebagai figur penganut paham ekonomi neoliberal.
>
> Artinya, jika pasangan SBY-Boediono tampil sebagai pemenang pilpres, 
> ekonomi nasional niscaya makin jauh dan makin dalam berorientasi 
> neoliberal. Kenyataan itu merisaukan karena ekonomi liberal sangat pro 
> pasar dan menafikan kebijakan-kebijakan pro rakyat.
>
> Demikian rangkuman pendapat ekonom Ichsanuddin Noorsy dan Direktur 
> Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani 
> Yustika terkait isu cawapres pendamping SBY yang hampir pasti merujuk 
> pada sosok Boediono. Mereka dihubungi secara terpisah, kemarin, di 
> Jakarta. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan 
> Wanandi juga turut menyoroti isu ini.
>
> Sementara itu, kemarin, Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia 
> (KAMMI) menggelar aksi unjuk rasa di depan Komisi Pemilihan Umum (KPU) 
> di Jakarta. Mereka tegas menolak Boediono tampil sebagai cawapres. 
> Mereka menilai, sebagai figur yang dikenal berpaham ekonomi 
> neoliberal, Boediono sulit diharapkan bisa membawa perbaikan terhadap 
> kehidupan ekonomi nasional.
>
> Menurut Ichsanuddin Noorsy, ekonomi nasional niscaya amburadul jika 
> figur penganut paham ekonomi neoliberal seperti Boediono menempati 
> posisi amat strategis dalam penentuan kebijakan-kebijakan pemerintah. 
> Terlebih lagi SBY sendiri kemungkinan besar memberi keleluasaan bagi 
> pendampingnya dalam menggariskan kebijakan di sektor ekonomi.
>
> Walhasil, jika SBY dan Boediono berduet sebagai capres dan 
> cawapres--serta andai pasangan tersebut memenangi pilpres 
> mendatang--kebijakan ekonomi nasional ke depan ini niscaya makin 
> berorientasi neoliberal yang dikenal pro pasar. Pemerintah, kata 
> Noorsy, sulit diharapkan menerapkan kebijakan-kebijakan pro rakyat.
>
> "Yang diuntungkan oleh kebijakan-kebijakan berorientasi neoliberal 
> bukan rakyat Indonesia, melainkan kepentingan dan kekuatan ekonomi 
> asing," ujar Noorsy.
>
> Noorsy mengingatkan, selama ini saja hampir semua proyek besar di 
> Indonesia dikuasai asing, sementara usaha yang dilakoni anak bangsa 
> sulit sekali bisa berkembang. Itu terjadi karena kebijakan di sektor 
> ekonomi nasional dikendalikan figur penganut ekonomi neoliberal di 
> kabinet.
>
> "Jadi, jika kepemimpinan nasional ini diduduki duet SBY-Boediono, 
> jangan pernah berharap kehidupan ekonomi yang diamanatkan konstitusi 
> bisa tegak," kata Noorsy.
>
> Menurut dia, dampak positif bagi dunia internasional akan lebih 
> terlihat jika pasangan itu memimpin Indonesia. Pencabutan subsidi, 
> perdagangan bebas yang aturannya diserahkan kepada pasar, serta 
> tumbuhnya pasar uang dan pasar modern di Indonesia akan terjadi. 
> Namun, bukan Indonesia yang akan menikmati hasil dari kebijakan yang 
> terlihat positif tersebut, melainkan negara lain seperti Jepang dan 
> Amerika Serikat.
>
> "Pasar Indonesia akan dipenuhi oleh barang-barang dari luar negeri 
> karena karakter perekonomian neoliberalisme yang dianut Boediono yang 
> secara otomatis akan menggerus pelaku usaha dalam negeri karena akan 
> kalah bersaing, baik dari segi kualitas maupun harga," ujar Noorsy.
>
> Hampir senada, Ahmad Erani Yustika menyatakan, duet capres-cawapres 
> SBY-Boediono membuat roda ekonomi nasional sulit menjadi lebih baik 
> dan menyejahterakan rakyat banyak. "Saya meyakini pola ekonomi 
> neoliberalisme yang dijalankan pemerintah selama empat setengah tahun 
> terakhir akan berlanjut kalau saja duet SBY-Boediono tampil sebagai 
> pemenang pilpres mendatang," ujarnya.
>
> Menurut Yustika, di bawah pemerintahan SBY-Boediono, pertumbuhan 
> ekonomi nasional hampir pasti tidak berpijak pada sektor-sektor padat 
> karya dan tradable seperti pertanian. "Konsekuensinya, masyarakat 
> miskin akan makin miskin dan kelompok kaya bertambah kaya," katanya.
>
> Di lain pihak, Sofjan Wanandi mengatakan, SBY dan Boediono tidak cocok 
> berpasangan memimpin pemerintahan yang tengah menghadapi krisis 
> global. Pasalnya, mereka berdua sama-sama lamban dalam mengambil 
> keputusan maupun bertindak, di samping lembek dalam menghadapi tekanan 
> asing.
>
> "Yang diperlukan sekarang ini adalah pemimpin yang berani mengambil 
> kebijakan terobosan di bidang ekonomi untuk menghadapi tekanan 
> krisis," kata Sofjan.
>
> Menurut dia, saat dunia dihadapkan pada kesulitan akibat krisis 
> global, Indonesia memerlukan duet pemimpin yang tangkas dan cepat 
> dalam bertindak. Jika tidak, Indonesia niscaya ketinggalan dalam 
> mengatasi krisis maupun dalam menyikapi perkembangan yang makin cepat.
>
> Boediono sendiri, menurut Sofjan, hanya teknokrat yang tidak didukung 
> parpol. Meski kemampuannya dalam sektor keuangan tak diragukan, 
> katanya, Boediono niscaya akan kesulitan dalam memimpin kabinet yang 
> diisi oleh menteri-menteri berlatar belakang parpol.
>
> "Itu berarti, pemerintahan SBY-Boediono--jika mereka menang dalam 
> pilpres--akan sulit pengambil keputusan strategis bagi bangsa, 
> khususnya di bidang ekonomi," kata Sofjan. (Bayu/Indra)
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 

Kirim email ke