Utang Dijadikan Senjata Saat Pemilu Oeh Menkeu, Padahal Prabowo Subianto 
Berulang Kali Menyinggung Soal Beban Berat Utang Indonesia
May 13, 2009
SEKILAS INDONESIA -  Kendati dipersoalkan sejumlah kalangan, Menteri Keuangan 
Sri Mulyani Indrawati meyakinkan tingkat rasio utang Indonesia terhadap produk 
domestik bruto (PDB) tidak mengkhawatirkan dibandingkan negara lain. 

Rasio utang masih lebih rendah dibanding Jepang yang mencapai 150 persen GDP,” 
kata Sri Mulyani di Komisi XI DPR, Rabu 13 Mei 2009. Saat ini, rasio utang RI 
hanya hanya 30 persen PDB, jauh lebih rendah dibanding 10 tahun lalu sebesar 70 
persen PDB.
Namun, Sri Mulyani menegaskan kendati tidak mengkhawatirkan, soal utang bisa 
menjadi bahan untuk dipersoalkan. “Apalagi saat pemilu sekarang ini, utang bisa 
digunakan sebagai senjata,” kata Sri Mulyani.
Dalam berbagai kesempatan, calon Presiden dari Partai Gerakan Indonesia Raya 
(Gerindra) Prabowo Subianto berulang kali menyinggung dan mengkritik soal beban 
berat utang Indonesia. Jika terpilih menjadi presiden, dia pun berniat 
merestrukturisasi utang pemerintah.
Sebagai pembanding, Sri Mulyani pun membandingkan utang yang dihimpun oleh 
pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dengan pemerintahan Megawati.
Dia kemudian mengutip data utang pemerintah pada 2008 yang mencapai US$ 149,47 
miliar, 2004 US$ 139,86 miliar dan pada 2001 US$ 121,95 miliar. Artinya pada 
periode 2004-2008 penambahan utang US$ 8,61 miliar.
“Itu jauh lebih rendah dibanding periode 2001-2004 yang perubahannya mencapai 
US$ 17,8 miliar,” ujarnya. Masa periode ini adalah pemerintahan di bawah 
Megawati Soekarnoputri. Saat itu, Menteri Keuangannya adalah Boediono yang 
sekarang digadang-gadang menjadi wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sri Mulyani menjelaskan jumlah utang ini tidak mengkhawatirkan jika 
dibandingkan dengan penambahan PDB Indonesia yang signifikan. Pada 2001 PDB Rp 
1.646 triliun, pada 2004 PDB sebesar Rp 2.295, dan menjadi Rp 2.648 triliun 
pada saat ini.
Itu sama saja dengan perusahaan. Kalau asetnya Rp 100 miliar dan utangnya Rp 70 
miliar, maka omset perusahaan itu adalah bebannya lebih besar untuk membayar 
utang. Sedangkan, pemerintah Indonesia hanya 30 persen. Apalagi, kata Sri 
Mulyani, tingkat ketergantungan utang dari luar negeri hanya kurang dari 50 
persen.(vv/Tammo)
 
http://sekilasindonesia.com/2009/05/utang-dijadikan-senjata-saat-pemilu-oeh-menkeu-padahal-prabowo-subianto-berulang-kali-menyinggung-soal-beban-berat-utang-indonesia/


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke