walau banyak cacat, saya kok tetap menikmati filem PBS dan 3 doa 3 cinta.

==========

Pembuat Film Pesantren Malas Belajar Agama
Selasa, 22 September 2009 08:39

Kudus, NU Online
Salah satu film tentang pesantren yang sempat memicu kontroversi adalah 
Perempuan Berkalung Sorban (PBS). Film ini tidak sekedar memojokkan kalangan 
pesantren tradisional. Banyak kesalahan dalam film ini terkait persoalan 
ritual keagamaan dan tradisi pesantren yang ditampilkan dalam film tersebut.

Para pembuat film ini dinilai lemah dalam hal riset. Mereka malas belajar 
ilmu agama dan enggan menyelami tradisi pesantren.

Sehari setelah kegiatan pesantren kilat Ramadhan usai, tepatnya Sabtu-Ahad 
(12-13/9) lalu, para santri di Pondok Pesantren Darul Falah Jekulo Kudus 
menggelar diskusi dan bedah film-film bergenre pesantren ini.

M. Ridwan, salah seorang pengurus di pesantren itu menyayangkan beberapa 
bagian tertentu yang dinilainya kurang sesuai dengan realitas pesantren 
sesungguhnya. Ia memberikan contoh praktik shalat jamaah pada film PBS yang 
diperankan oleh beberapa orang santri. Dalam film itu, para makmum 
mengucapkan takbir begitu keras. Padahal, dalam kajian kitab kuning, cara 
shalat yang demikian tidak dibenarkan.

“Seharusnya yang boleh mengucapkan takbir secara keras kan hanya imam, bukan 
makmum. Ini menunjukkan kalau riset penggarapan film ini kurang mendalam,” 
katanya seperti dikutip kontributor NU Online Widi Muryono.

Senada dengan Ridwan, Gus Muhib yang juga pengurus pesantren itu mengatakan, 
banyak kejanggalan dalam film-film pesantren yang berpotensi memengaruhi 
pola pikir santri, termasuk cara pandang publik terhadap pesantren pada 
umumnya.

Menurutnya, film Tiga Doa Tiga Cinta banyak mengusung adegan yang merusak 
citra pesantren. Di antara adegan yang dimaksudnya adalah adegan semi 
seksual yang diperankan sesosok santri dalam film itu. “Adegan semacam ini 
menghawatirkan, bukan hanya merusak citra pesantren di mata publik, tapi 
juga berpeluang meracuni moralitas santri,” tegasnya.

Gus Muhib dalam diskusi itu mengatakan, kehadiran film-film semacam ini 
perlu mendapat pengawasan ketat oleh kalangan pesantren. Menurutnya, santri 
sudah waktunya membuka diri untuk menyikapi ketimpangan sosial, terlebih 
yang bersinggungan langsung dengan kehidupan santri. “Kita sebagai santri 
harus tanggap, terlebih kalau nama kita dibawa-bawa,” ujarnya.

Shobirin, santri yang turut menghadiri acara diskusi itu berharap, 
masyarakat mengenal pesantren lebih dulu ketimbang film itu. “Kita optimis 
saja, pesantren sudah ada ratusan tahun sebelum film itu ada. Masyarakat 
lebih tahu mana yang nyata dan mana yang rekayasa,” katanya.

Menurutnya, kehadiran film-film itu juga menjadi tantangan bagi kalangan 
pesantren untuk mengaktualisasikan diri pada panggung perhelatan sastra. 
“Tidak selamanya kita jadi tukang kritik. Sudah waktunya kita bangkit untuk 
berkarya,” ujarnya. (nam)


__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4445 (20090921) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke