http://jawapos.co.id/halaman/index.php?act=detail&nid=91481
[ Selasa, 22 September 2009 ]
Menelusuri Jejak Aktivis JI di Filipina Selatan

Ada 35 WNI Sembunyi di Kamp

Ditengarai masih banyak aktivis Jamaah Islamiyah (JI) yang bersembunyi di 
Mindanao Selatan, Filipina. Mereka diduga tak hanya bersembunyi, tapi juga 
berlatih perang. Berikut laporan Jawa Pos dari sana.

--------

TIM gabungan Densus 88 Antiteror Mabes Polri dan desk antiteror pemerintah 
Filipina menengarai, setidaknya ada 35 orang Indonesia yang masih bertahan 
dalam kelompok-kelompok militan Filipina di wilayah Mindanao Selatan. Di 
sana, mereka berada di safe house yang sekaligus menjadi tempat pelatihan 
(nama 35 orang yang dimaksud baca grafis).

Berdasar data yang didapat seorang sumber di kepolisian, 20 di antara 35 
nama tersebut berasal dari Jamaah Islamiyah (JI). ''Sisanya macam-macam. 
Kami belum bisa memastikan 15 sisanya itu dari kelompok mana,'' ucap sumber 
yang pernah ke Filipina tahun lalu dan bekerja sama dengan desk antiteror 
pemerintah Filipina tersebut.

Sebanyak 35 nama tersebut ditengarai bersembunyi dan berlatih di kawasan 
Mindanao Tengah dan Selatan. Kawasan itu memang menjadi basis Islam di 
Mindanao. Mulai Marawi membentang ke selatan hingga ke Sulu dan Sultan 
Kudarat. Tiga puluh lima orang itu berada di antara komunitas muslim yang 
total populasinya mencapai 5 juta di antara sekitar 15 juta penduduk 
Mindanao.

Kompilasi data tersebut dibuat berdasar pantauan tim intelijen Filipina dan 
pengakuan Baehaqi, seorang anggota JI yang ditangkap pemerintah Filipina 
setahun lalu dan kini dipenjara di Manila. Baehaqi adalah jebolan konflik 
Poso.

Kemudian, pria asal Bandung itu pergi ke Filipina mengikuti 
mentor-mentornya. Nama-nama tenar yang menjadi mentor dia, antara lain, Ali 
Imron, Dulmatin, dan Umar Patek. Baehaqi mempunyai dua nama alias. Yakni, 
Baehaqi alias Khildan alias Sinchan.

Namun, sulit untuk memastikan identitas tersebut. Sebab, kelompok itu selalu 
mempunyai nama-nama alias. ''Kadang sampai tiga hingga empat nama alias. 
Yang kami ketahui ini sepertinya nama aliasnya, bukan nama di akta 
kelahirannya di Indonesia,'' ujarnya.

Jawa Pos sempat mengonfirmasikan nama-nama tersebut kepada salah seorang 
mantan pentolan JI yang tak mau namanya disebutkan. Dia membenarkan 
nama-nama tersebut. ''Tujuh puluh lima persen (di antara 35 nama itu) saya 
tahu dan saya pernah melatihnya,'' tuturnya.

Namun, sepengetahuan dia, ada beberapa nama yang dobel dan sebagian di 
antaranya diketahui sudah pulang. ''Tapi, saya tak bisa memastikan apakah 
mereka kemudian kembali lagi,'' ungkapnya.

Bisa ditebak, yang menjadi buruan utama adalah dua pentolan JI, yakni 
Dulmatin dan Umar Patek. Kepala Dulmatin dihargai USD 1 juta oleh pemerintah 
Filipina dan siapa pun yang bisa menangkap Umar Patek, hidup atau mati, 
diberi imbalan USD 500 ribu.

Menariknya, dua buron tersebut dicari pemerintah Filipina bukan karena 
aksinya di Filipina (karena mereka memang tak pernah beraksi di Filipina, 
Red). Tapi, mereka dianggap ''potensial menularkan kemampuan teror ke 
masyarakat Filipina'' dan karena menjadi tersangka bom Bali I 2002.

Selain dua orang tersebut, ada satu nama lokal yang juga dihargai USD 1 
juta, yakni Abdul Zabidi. Nama terakhir itu merupakan salah satu orang lokal 
yang menjalin perkawanan erat dan ''berbagi kemampuan'' dengan para militan 
Indonesia sejak 1995.

Menariknya, beberapa kali tentara Filipina mengumumkan berhasil membunuh 
Umar Patek. Namun, klaim tersebut tak pernah bisa diverifikasikan. 
''Tampaknya, hanya upaya tentara yang terlalu girang untuk mendapatkan uang 
hadiah sayembara tersebut,'' tutur sumber tersebut kemudian tersenyum. Yang 
jelas, pihak berwenang masih yakin bahwa dua orang itu masih hidup dan 
berada di Mindanao.

Sebanyak 35 orang tersebut terbagi dalam dua kelompok. Yang pertama adalah 
kelompok Usman alias Rizal dan kelompok Baehaqi. Kelompok Usman itu 
bergabung di Base Commander 105 Moro Islamic Liberation Front (MILF). Base 
Commander tersebut mempunyai markas besar di Kamp Rajamuda di kawasan 
Liguasan Marsh, Manguindanao.

Kawasan Liguasan Marsh itu biasa disebut oleh orang-orang sana sebagai Pawas 
yang berarti rawa-rawa. Kamp Rajamuda mempunyai sekitar tujuh kamp satelit 
di areal rawa-rawa yang sangat luas.

Ketika Jawa Pos menempuh perjalanan ke sana, sangat sulit rasanya bagi orang 
asing untuk masuk tanpa ada penunjuk jalan. Sebab, selain harus berjalan 
kaki menembus kawasan hutan, seseorang harus menempuh areal rawa-rawa 
sepanjang sekitar 2 kilometer (dengan arah tertentu) dan baru naik pumpboat 
ke Kamp Rajamuda selama sekitar empat jam. Dengan areal seluas itu, 
mendirikan kamp-kamp di sekitarnya akan sulit dilacak dan diketahui.

Di tengah areal rawa-rawa tersebut, ada satu kamp yang didirikan Dulmatin 
dan Umar Patek untuk orang-orang Indonesia -setelah terdesak mundur oleh 
penyerbuan militer Filipina ke Kamp Abu Bakar (tulisan lain tentang kamp Abu 
Bakar, baca boks di halaman 1). Dari pantauan tim intelijen Filipina, 
setidaknya ada 21 nama militan Indonesia yang terpantau.

Sementara itu, menurut pengakuan Baehaqi, sedikitnya ada 14 orang Indonesia 
yang masih tersebar di Mindanao. Sepuluh di antaranya tersebar di sejumlah 
kamp MILF Manguindanao dan Lanao. Empat sisanya bersembunyi dan bergabung 
dalam kelompok Abu Sayyaf -sebuah kelompok militan yang berbasis di Sulu dan 
Basilan.

Benarkah? Secara resmi, MILF menyatakan bahwa pihaknya tak berkaitan dengan 
JI -atau kelompok teroris lainnya- atau menyiapkan ''safe house'' bagi 
mereka. ''Tujuan perjuangan kami berbeda. Kami berjuang untuk hak-hak bangsa 
Moro yang dirampas pemerintah Filipina, terutama hak tanah ulayat,'' tegas 
Ghazali Jaafar, vice chairman of political affairs MILF.

Dia kemudian mengungkapkan, selama ini bangsa Moro merupakan bangsa yang 
tertindas di Filipina. Perlakuan yang diskriminatif, pembangunan yang tak 
berjalan, dan stigma sebagai teroris adalah hal-hal yang dialami sehari-hari 
oleh bangsa Moro. ''Itulah inti perjuangan kami. Bukan untuk melakukan 
teror,'' ucapnya.

Dia bahkan menegaskan bahwa MILF justru mengharamkan pengeboman masyarakat 
sipil. ''Itu tak dibenarkan dalam Islam,'' ujarnya.

Kebijakan formal memang seperti itu. Namun, praktiknya di tingkat bawah tak 
seperti itu. Militan Indonesia sangat dihormati oleh sayap militer MILF. 
''Kami mengakui keberanian orang Indonesia. Kami pernah bertempur bersama 
menghadapi tentara Filipina dan mereka sangat berani,'' puji Haji Yahya 
Abbas, komandan Base Commander 105 MILF, yang berkedudukan di kawasan 
Liguasan Marsh.

Pria yang sepintas tak lebih ganteng dari petani di pedalaman Indonesia 
(namun ternyata berpangkat jenderal berbintang satu dalam struktur militer 
MILF) tersebut juga menyatakan dirinya beberapa kali ''ketamuan'' orang 
Indonesia. ''Tapi, sekarang tak ada lagi kok,'' katanya.

Sumber Jawa Pos di internal MILF sempat menunjukkan seorang komandan 
lapangan H Yahya sebagai seorang Indonesia. Namun, ketika Jawa Pos mendekati 
dan bertanya apakah dia orang Indonesia, pria yang mengaku bernama Abu Zaid 
tersebut menggeleng. Lebih lanjut, dia tak mau menceritakan asal-usulnya 
lebih lanjut. ''I ever go to Pakistan at late 1990's. But I'm native here,'' 
ujarnya.

Sumber Jawa Pos tersebut kemudian menyatakan, memang ada kebijaksanaan untuk 
tak mengakui secara formal keberadaan orang Indonesia di kamp militer 
Indonesia. ''Memang ada, tapi tak pernah diakui secara resmi,'' tuturnya.

Menurut dia, posisi MILF terjepit oleh dua hal. Pertama, perjuangan 
diplomasi MILF sudah sangat dekat. ''Kami sudah mempunyai MoU (memorandum of 
understanding) dengan pemerintah Filipina terkait hak ulayat. Namun, supreme 
court membatalkannya karena menganggap MoU tersebut inkonstitusional,'' 
jelasnya.

Ditambah adanya tim monitoring dari luar negeri, menyediakan safe house 
untuk militan Indonesia akan berakibat buruk. MILF bisa dicap sebagai 
kelompok teroris dan negosiasi perjanjian damai yang sudah berlangsung dua 
tahun bisa mentah begitu saja. Tentu saja itu merugikan MILF.

Di sisi lain, militan Indonesia sebenarnya mempunyai banyak ''jasa'' 
terhadap MILF. Kamp pertama yang didirikan adalah Kamp Hudaibiyah. Kamp 
tersebut didirikan oleh Nasir Abbas, mantan ketua Mantiqi III JI, pada akhir 
1995. Boleh dibilang, JI-lah yang meletakkan dasar-dasar akademi militer 
MILF.

Belum lagi, kerelaan para militan Indonesia bertempur side by side dengan 
pejuang MILF melawan tentara Filipina. Karena itu, tentu saja sulit bagi 
MILF untuk tak ''menerima'' kehadiran militan Indonesia. Ditambah, karena 
faktor kedekatan agama, meski MILF pada dasarnya tak setuju atas perjuangan 
JI melalui pengeboman, militan Indonesia yang mencari selamat pun akan 
diterima.

Karena itu, diambillah kebijakan: Secara resmi MILF tak akan mengakui 
keberadaan militan Indonesia, tapi pada sisi lain mereka tetap menerima 
militan Indonesia. (kum) 


__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4445 (20090921) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke