Assalamualaikum
Wr Wb


Dengan mengucap “Bismillahi
tawakkaltu ‘Alallah, La Haula Wa La Quwwata Illa Billah.” (Dengan menyebut nama
Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah", "Bismillaahi majreha wamursaahaa
inna rabbii laghafuururrahiim " (Dengan menyebut nama Allah, berhenti dan
berjalannya kendaraan ini, se-sungguhnya Rabbku Maha Pe-ngampun dan Penyayang),


Kado
ultah ku yang ke 50 kali ini sebuah pengalaman yang sulit aku lupakan “MUDIK
BARENG DENGAN HONDA TUA JAKARTA KLATEN 26 JAM”, kira kira itulah judul
tulisanku kali ini.



Sejak awal bulan Ramadhan 1430 H, hampir aku tidak ada
waktu untuk menulis pengalaman pengalaman yang dapat aku bagikan kepada saudara
saudaraku, mengingat banyaknya acara dan tugas dadakan yang harus aku
selesaikan, dan Alhamdulillah kali ini aku bisa menyempatkan waktu untuk
menulis sekedar berbagi pengalaman kepada saudara saudaraku yang tidak dan
belum serta berencana untuk mendapatkan pengalaman baru mudik dengan sepeda
motor, di tahun dan lebaran yang akan datang, Insya Alloh bila panjang umur.



Sejak
tahun 1994 aku sudah tidak bertugas di lapangan melainkan di staf, maka setiap
tahun aku diberi izin berhari raya dikampung halaman, sebenarnya kampung
halaman tanah kelahiranku sendiri di Baturaja OKU Sum Sel, akan tetapi sejak 16
Oktober 1980 aku sudah meninggalkan tanah kelahiranku, dan menetap di Ibu Kota,
karena itu aku lebih sering pulang ke rumah mertuaku, dan kami sekeluarga
setiap tahun lebih sering pulang kampung menggunakan kendaraan umum.



Dilebaran
tahun ini 1430 H, pada awalnya aku tidak ada rencana mudik dengan mengendarai
motor tua ku, namun tiba tiba saja pada hari kamis tanggal 17 September 2009,
dalam perjalanan kekantor aku berbicara pada istriku yang selalu setia
menemaniku,  dan istriku menyetujui
serta menyanggupi ajakanku untuk mudik dengan mengendarai sepeda motor, yang
selalu setia menghantarkan baik pulang maupun berangkat kerja atau kebutuhan
sehari hari.



Jum’at
18 September 2009, selepas makan sahur kami menyiapkan GL Pro tua ku dan anak
angkat ku yang aku rawat sejak usia 2 tahun dan kini telah tamat SMU,
menyiapkan Bebek tua nya, dengan dua motor, aku membonceng istriku dan anakku
Herry Angriawan menggunakan bebek tuanya dengan membawa perbekalan dan oleh
oleh bingkisan lebaran ala kadarnya.

Dengan mengucap “Bismillahi Tawakkaltu ‘Alallah, La Haula Wa La Quwwata Illa 
Billah.” (Dengan menyebut nama
Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah", "Bismillaahi Majreha Wamursaahaa Inna Rabbii 
Laghafuururrahiim " (Dengan menyebut nama Allah, berhenti dan
berjalannya kendaraan ini, se-sungguhnya Rabbku Maha Pe-ngampun dan Penyayang),

Tapat pukul 05.30 WIB kami berangkat meninggalkan
Pulogadung menuju Jawa Tengah, Kawasan industri Pulogadung kami lalui menuju
Cakung dan Bekasi lancar tanpa hambatan, dan tepatnya di jalan kali malang kami
bertemu dan bergabung dengan ratusan rombongan clup Honda mudik bareng, dengan
dibawah pengawalan Patroli Kota Polda Metro jaya kami dapat berjalan beriringan
sampai di kerawang.



Karena
rombongan berhenti di SPBU Jalan raya kerawang, kami memisahkan diri dan
melanjutkan perjalanan dengan rombongan kendaraan lain, sampai di kosambi
terpaksa kami berhenti dan mencari serta membeli tali karet ban bekas, ternyata
sang penjual tali pun tidak ketinggalan menaikan harga jual karet yang memang
kami butuhkan untuk mengganti tali rafia pengingat kardus bingkisan lebaran
dari kantorku.



Setelah
selesai mengisi bahan bakar dan mengganti ikatan dengan tali karet, kami
melanjutkan perjalan, dari Kosambi sampai cikampek lancar tanpa kendala apapun
dan tepat persis kira kira 1 s/d 1.5 km dari simpang Cikampek, perjalanan kami
tersumbat maceeet yang sangat panjang, akhirnya kami pun seluruh kendaraan kecil
maupun motor diarahkan melalui jalan alternatif melalui sawah sawah dan kampung
kampung, dengan menyelusuri jalan tanah yang berdebu tebal kami menyisiri jalan
kampung tersebut dan perjalanan selama lk 45 menit kami bertemu lagi dengan
jalan raya jakarta cirbon, tepatnya didaerah Patrol, sepanjang jalan inipun
masih macet total kami para pemudik yang mengendarai sepeda motor hanya dapat
menyelusuri bahu jalan bahkan lebih banyak kami berjalan diatas tepi jalan yang
berbatu dan tidak beraspal.



Saya
menghentikan dan berhenti ketika mendengar Azan Jum’at telah dikomandangkan dan
Alhamdulillah kami dapat melaksanakan sholat jum’at di salah satu masjid
dipinggir jalan raya Subang, setelah sholat jum’at kami kembali melanjutkan
menelusuri jalan disela sela kemacetan, Alhamdulillah kami baru terlepas dari
kemacetan setelah memasuki wilayah Losarang, dari Daerah Losarang – Jatibarang
dan sampai Daerah Arjawinangun, Plumbon perjalan sangat lancar, akan tetapi
sesampai kami di daerah Plumbon sampai dengan Cirbon Kota kami harus kembali
melalui bahu jalan dan pinggir jalan berbatu dan tanah berdebu, karena maceeet 
total.
Sampai Cirbon Kota aku berhenti
disebuah bengkel untuk mengganti oli mesin yang sudah hampir 15 hari belum ku
ganti, ternyata sang pemilik bengkel juga sama dengan sang penjual karet ban
bekas di kerawang, mereka menaikan harga jual Oli Motor - Castrol Activ Go 0,8
Liter dan busi serta ongkos ganti oli jumlah keseluruhan sampai Rp. 72.000,- (
mungkin karena plat motor B kali ya…..hehehehe ), karena waktu belum shalat 
Asyar,
kami singgah di salah satu masjid di Kota Cirbon, dan Alhamdulillah walau hanya
satu ain aku dapat melanjutkan membaca Al-Qur’an dimasjid tersebut.



Dari
kota Cirbon perjalanan tersendat tapi lancar sampai dengan depan pintu tol
kanci, hingga Alhamdulillah pas kami sampai di daerah Losari tepatnya persis
didepan pasar Tanjung terdengar azan Maghrib, kamipun berhenti dan berbuka
Puasa dipinggir jalan raya, selesai berbuka kami melanjutkan perjalanan sambil
mencari Masjid untuk shalat maghrib, kira kira 2 Km dari kami buka puasa kami
mendapatkan masjid, selesai shalat maghrib kami melanjutkan perjalanan, ketika
kami sedang shalat mghrib ternyata anak saya bertemu dengan temannya dan
melanjutkan perjalanan memisahkan diri, ketika kami telpon yang seharusnya dari
daerah tanjung belok kiri arah Prupuk, ternyata anak saya langsung menuju
Brebes, khawatir tersesat saya minta agar anak saya berhenti tepat di kota
Brebes.



Yang
seharusnya dari Tanjung saya belok kiri menuju Prupuk terpaksa kami melanjutkan
perjalanan menuju Purwokerto melalui Slawi, Subhanalloh melambung jauh, karena
saya harus memalui Tegal, Slawi, Balapulang, Banjaranyar, Margasari baru prupuk
dan harus melalui dua lokasi hutan jati yang gelap dan hanya beberapa kendaraan
saja yang melintasi jalan tersebut, padahal bila dari Tanjung kami hanya
melalui satu wilayah yakni daerah Ketanggungan.



Pukul
20.30 WIB kami sampai di Prupuk dan kami singgah istirahat dan makan malam di
salah satu kedai, Subhannalloh sangking lahabnya ternyata tongseng, sate kambing
dan sop yang kami pesan semua habis tak tersisa kecuali tusuk sate nya
hehehehe, istri saya menjawab Cuma Rp. 45.000,- Subhanalloh, ternyata sang
penjual yang satu ini tidak seperti sang penjual oli dicirbon dan sang penjual
tali karet dikerawang.



Ketika
kami sedang menyantap hidangan yang sudah kami pesan kami mendengar suara
sirine dan deru kendaraan rombongan Honda mudik bareng, yang kami tinggalkan
ketika kami masih di Kerawang, akan tetapi jumlah kendaraan yang beriringan
jauh menyusut yang berkemungkinan besar telah dibagi dua, didaerah Losari ada
yang lurus menuju semarang via Pekalongan dan mungkin yang kami jumpai di
Prupuk rombongan Honda Mudik bareng arah Jogja via Purwokerto.



Karena
Motor sudah kami isi bahan bakar di Daerah Brebes, maka selesai makan malam,
kami melanjutkan perjalanan dengan melintasi Bumiayu, Ajibarang, Wangon,
Rawalo, Sampang, istirahat mengisi bahan bakar Motor di daerah Buntu,
selanjutnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sumpiuh, Tambak, Gombong,
Alhamdulillah Istirahat serta Shalat Isya dan kami tutup Witir di Masjid Agung
Kebumen, selesai tutup witir kami melanjutkan perjalanan mencari untuk makan
saur dan Alhamdulillah kami dapat makan saur didaerah simpang lima Jalan Raya
Kutoarjo, dan Alhamdulillah kami dapat melaksanakan sholat subuh berjamaah
disalah satu Musholla didaerah perbatasan Kebumen Kutoarjo.



Ketika
kami sedang shalat subuh ternyata anak kami Herry Angriawan yang sudah tamat
SMU Neg 1 Klaten, tidak sabar dia tidak sholat subuh melainkan langsung 
meninggalkan
kami melanjutkan perjalanan menuju Klaten bersama rombongan iring iringan
kendaraan lainnya, sebagai orang tua ada kehawatiran terjadi hal hal yang tidak
diinginkan maka, yang seharusnya dari Kutoarjo menuju Klaten via Purworejo,
Karang Nongko, Wates dan sampai pasar Gamping Jogja harusnya kami lurus menuju 
ke Klaten via ring
road Jogja lingkar utara, terpaksa aku belok kanan masuk Kota Jogja menelusuri
sampai terminal Jogja baru menuju Prambanan dan Alhamdulillah tepat pukul 07.30
WIB, hari sabtu tanggal 19 September 2009 aku dan Istri sampai rumah mertua
yang terletak di Desa Karang Nongko, Klaten Selatan.



Dari
sejak selepas aku buka puasa di daerah Losari hingga Jogja, Subhannalloh kami
betul betul mendapat dan merasakan nikmat dan pertolongan dari Allah SWT, yang
tidak dapat aku nilai dengan apapun, dari sejak keberangkatanku hingga aku buka
puasa, Helm yang aku gunakan dalam keadaan berjalan, hampir tidak pernah kubuka
kaca penutup wajah, dan kain penutup hidung, karena asap dan debu yang sangat
tebal akibat padatnya kendaraan dan jalan raya yang hampir tak tersiram air,
akan tetapi selepas kami buka puasa, gelap dan silau dari cahaya lampu
kendaraan dari lawan arah serta kendaraan yang lampu Remnya tidak berwarna
merah, khawatir terjadi kecelakaan, maka sejak selesai aku melaksanakan shalat
maghrib hingga sampai Jogja, hampir hampir kaca helm tidak pernah aku tutup,
Subhanalloh ternyata baik asap maupun debu hampir hampir tidak ku jumpai
sepanjang jalan yang aku lalui, karena hampir sepanjang jalan dari sejak Losari
hingga Jogja, kondisi jalan dalam keadaan masih lembab diakibatkan diguyur
hujan, akan tetapi kami sedikitpun tidak kehujanan, Subhannalloh Walhamdulillah
Wala Illaha Illalloh Wallohuakbar.

Memang
transport lebih murah dengan 2 motor istriku hanya mengeluarkan biaya
seluruhnya tidak lebih dari Rp. 200.000,- akan tetapi cukup menguras tenaga,
konsentrasi dalam perjalanan serta waspada dan kehati hatian yang sangat
tinggi, selama dalam perjalanan dari sejak Jakarta hingga sampai Klaten,
pengamatan dan pengalaman yang aku lihat dengan banyaknya kecelakaan
dikarenakan diantaranya tidak sabar, kurang kehati hatian ketika hendak
menyalip kendaraan lain, serta faktor kelelahan sangat dominan, demikian juga
kondisi jalan yang tidak rata (banyaknya jalan berlubang dan lubang yang
ditambal hingga nonjol dan tidak rata ) mengakibatkan tidak kurang dari 20 
kendaraan yang
mengalami kecelakaan yang kami saksikan baik sepeda motor maupun kendaraan lain
termasuk Bus angkutan umum.



Sepanjang
jalan dari sejak Jakarta hingga sampai Klaten Jawa Tengah, semua persimpangan
jalan sudah ada petunjuk arah tujuan pemudik masing masing, akan tetapi
kurangnya menguasai jalan wilayah dan kurangnya penerangan jalan, atau padatnya
kendaraan hingga menutup petunjuk arah yang dipasang kurang tinggi (tidak
berpenyangga) atau huruf petunjuk tertulis terlalu kecil hingga tidak dapat
terlihat dengan jelas oleh pengendara, maka banyak kendaraan yang harus
berbalik arah karena tersasar, demikian juga dimungkinkan Ban kendaraan yang
sudah usang dan tipis serta dimungkinkan tangan tangan jahil melempar paku atau
penghalang lain yang tak tampak mengakibatkan tidak sedikit yang harus menuntun
kendaraannya karena bannya kempes, sementara hampir semua jalan alternatif
tidak ditemukan adanya bengkel dan atau tambal ban.



Wahai
saudaraku berdasarkan pengalaman yang aku alami dan aku lihat sebaiknya apabila
hendak mudik dengan menggunakan sepeda motor sebaiknya perhatikan hal hal
sebagai berikut :

1.   Jangan paksakan bila ban luar sudah mulai tipis
dan gundul



2.   Lebih baik Ganti oli terlebih dahulu sebelum
berangkat



3.   Periksa atau periksakan kondisi komponen -
komponen yang vital pada motor terutama karburator, busi, rem, rantai, lampu,
dan lain lain. 



4.   Siapkan komponen - komponen cadangan, terutama busi
dan bohlam. 



5.   Siapkan kunci busi dan beberapa kunci lainnya 



6.   Ada baiknya
membawa lampu senter, Jas Hujan, Pompa Tangan dan Kain bekas, untuk lap 



7.   Periksa dan
bersihkan helm terlebih dahulu agar tidak mengganggu dalam perjalanan8.   Kaca 
atau penutup lampu Rem pastikan berwarna merah, dan kaca  atau penutup lampu 
sen pastikan berwarna kuning 
 



9.   Bila
berjalan secara berbarangan atau rombongan sebaiknya menggunakan tanda yang
tidak mudah patah dan tidak mudah sobek serta tidak menggunakan tanda yang
polos seperti umpama kain putih atau hitam atau warna lainnya yang dimungkinkan
rombonmgan lain juga akan menggunakan tanda tersebut, yang dapat mengakibatkan
salah terka dan salah melihat.



10.   Kesiapan
fisik dan kesehatan sangat diperlukan serta melengkapi diri dengan vitamin saja
sesuai aturan dan anjuran dokter.



11. Pengikat barang, atau kayu
penyangga barang serta pengikat lainnya lebih baik menggunakan tali yang
terbuat dari karet bekas ban dalam.



12. Tidak mengedepankan emosi dalam mengendarai
kendaraan dan utamakan kesabaran, keteguhan dan ketenangan, dengan pedoman
selamat sampai tujuan dapat berhari raya dan bersilaturahim dengan sanak
keluarga adalah lebih baik dan lebih utama.      



13. Jangan
berboncengan lebih dari 1 orang.



14.      Tanamkan dalam hati bahwa yang sunah tidak
dapat mengalahkan yang wajib, artinya perjalanan pulang kampung walau, situasi
dan cuaca bagaimanapun ketika itu hukumnya adalah sunah, akan tetapi Saum
Ramadhan ketika itu hukumnya wajib, maka pertahankan yang wajib sampai waktu
yang telah Allah SWT tentukan. 

 

Semoga bermanfaat

 

Wassalamualaikum Wr Wb

 

 

 

Mujiarto Karuk




      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke