http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131455.id.html

Wajah Lain Pondok Pesantren
Pondok pesantren tak hanya mengajarkan agama, tapi juga bisnis. Sebagian
lagi menjadi pelopor pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Inilah fikih sosial
mereka.

PESANTREN dan terorisme. Dua kata ini kerap dikait-kaitkan saat aksi
terorisme mewabah di Indonesia belakangan ini. Harap maklum, sebagian besar
pelaku dan tersangka tindak kejahatan itu memang alumni pondok pesantren.
”Stigmatisasi terhadap pesantren saat ini luar biasa dan telah menjadi
sebentuk kebencian terhadap Islam,” kata Choirul Fuad Yusuf, Direktur
Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, dalam diskusi di
kantor majalah Tempo pada 3 September lalu.

Diskusi itu juga dihadiri Masdar Farid Mas’udi, Direktur Perhimpunan
Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M); Khaeroni, Kepala Subdirektorat
Pemberdayaan Santri dan Layanan pada Masyarakat; dan Undang Sumantri, Kepala
Subbagian Tata Usaha Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren
Departemen Agama.

Fuad menyatakan stigmatisasi itu muncul, misalnya, ketika dia menyampaikan
makalah berjudul ”Pertumbuhan Luar Biasa Pesantren di Indonesia” dalam
konferensi tahunan National Association of Foreign Student Advisers di Los
Angeles, Amerika Serikat, akhir Mei lalu.

”Pertanyaan yang muncul dalam konferensi itu kebanyakan soal radikalisme,
madrasah sebagai tempat pengkaderan teroris, apalagi pesantren. Jadi,
madrasah disamakan dengan madrasah di Afganistan,” kata Fuad. Madrasah di
Afganistan mendapat cap miring karena banyak militan Taliban direkrut dari
madrasah tersebut.

Madrasah di Indonesia, kata Fuad, sama dengan sekolah umum, dengan muatan
khusus pendidikan Islam. ”Dari 21 ribu lebih pesantren saat ini, tidak ada
yang mengajarkan kekerasan, apalagi yang mengarah pada terorisme,” katanya.

Departemen Agama mencatat saat ini ada 21.521 pesantren dengan 3.818.469
santri. Jumlah pesantren itu naik hampir empat kali lipat dalam 20 tahun
terakhir dan dua kali lipat dalam 6 tahun terakhir. Pada 1985 tercatat ada
6.239 pesantren dengan 1 juta lebih santri dan pada 2001 ada 11.312
pesantren dengan 2.737.805 santri. Ini tidak termasuk pesantren yang belum
terdaftar di departemen tersebut.

Pondok-pondok pesantren itu tak berwajah tunggal. Ada yang mengajarkan
pentingnya merawat harmoni sosial dan toleransi antar-umat beragama. Ada
pula yang menggendong ideologi politik Timur Tengah, seperti Wahabisme,
Ikhwanul Muslimin, dan Talibanisme. Tak sedikit dari pesantren ini yang
mengintroduksi jalan-jalan kekerasan dalam menjalankan ajaran Islam.

Menurut Fuad, pemerintah berupaya mendorong pondok-pondok pesantren agar tak
hanya menjadi tempat belajar agama Islam, tapi juga menjadi agen perubahan
sosial, motivator, dan aktor bagi masyarakat sekitarnya. Peran itu sudah
dilakukan oleh beberapa pesantren, seperti Pondok Pesantren Al-Ittifaq di
Babakan Jampang, Ciwidey, Bandung, yang mengajak masyarakat sekitar
mengelola sayur-mayur, dari budi daya hingga pemasarannya.

”Pesantren itulah yang menyalurkan produk pertanian masyarakat ke
supermarket-supermarket. Para santrinya juga diajari pemasaran dengan
berdasi. Jadi, jangan dikira bahwa para santri kini cuma bersarung dan
berkerudung,” kata Choirul.

Masdar Farid Mas’udi, yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,
menuturkan bahwa peran pesantren dalam memberdayakan masyarakat sudah
berlangsung lama. ”Bahkan sebenarnya pesantren umumnya didirikan dengan
tujuan memberdayakan masyarakat sekitarnya,” kata pengasuh Pesantren Unggul
Al-Bayan di Sukabumi, Jawa Barat, itu.

Gerakan pemberdayaan itu menguat pada 1970-an dan 1980-an, bersamaan dengan
dijalankannya banyak program kemasyarakatan oleh pemerintah dan lembaga
swadaya masyarakat melalui pesantren, seperti yang dilakukan Lembaga
Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Bina Desa,
Bina Swadaya, dan P3M yang dipimpin Masdar. ”Namun program pemberdayaan
masyarakat ini hanya meletakkan pesantren sebagai pintu masuk atau batu
loncatan,” kata Masdar.

Masdar mencontohkan program Keluarga Berencana yang diperkenalkan ke
masyarakat melalui pintu pesantren, sehingga masyarakat tak lagi
mempermasalahkannya. ”Legitimasinya sudah tidak dipertanyakan lagi karena
sudah didukung kiai,” katanya.

Nah, beberapa kiai kemudian berembuk untuk membentuk P3M dengan tujuan
memberdayakan masyarakat melalui, oleh, dan bersama pesantren. Dasarnya
adalah fikih sosial, yakni pengembangan dan kepedulian kepada masyarakat itu
sebenarnya dilakukan bukan karena ada pesanan atau program atau dana dari
luar, melainkan sebagai tanggung jawab pesantren itu sendiri sebagai pusat
keagamaan. ”Kami berharap pengembangan masyarakat oleh pesantren itu menjadi
agenda pesantren itu sendiri, bukan sekadar pintu masuk atau lampiran dari
pesantren,” katanya.

Secara historis pun pesantren muncul karena ingin mengasuh masyarakat.
Masdar mencontohkan peran Pesantren Tebuireng yang berdiri di tengah Kota
Jombang ketika ada masalah antara petani tebu dan pabrik gula karena pabrik
menetapkan harga yang rendah. Pemimpin pesantren itu menyokong pembentukan
paguyuban petani, yang kemudian mendatangi pihak pabrik untuk memperbaiki
harga dan budi daya tebu.

Pesantren masa kini, kata Masdar, juga merupakan perkembangan dari
intervensi pemerintah melalui kurikulum dan standardisasi pendidikan, yang
mulai terlihat pada 1980-an. Hal ini menyebabkan ongkos sekolah di pesantren
jadi mahal dan membuat mereka berpaling ke sumber dana yang ada, yakni
pemerintah.

”Inilah mulai hilangnya independensi pesantren terhadap kekuasaan. Padahal
independensi menjadi ciri pesantren dan keulamaan, yaitu duduk setara dengan
umara (pemimpin), jadi bisa mengatakan tidak dalam hal harus mengatakan
tidak, dan mengatakan ya bila harus ya,” ujarnya.

Dampak dari formalisasi pendidikan pesantren ini juga berpengaruh pada
hubungan santri-kiai. Dulu, kalau santri datang ke pesantren, pasti ia
diserahkan sepenuhnya oleh orang tuanya kepada sang kiai. ”Sekarang santri
datang ke pesantren itu bukan ke kiai lagi, tapi ke bagian tata usaha. Jadi,
kalau urusan bagian tata usaha sudah selesai, bisa datang sowan ke kiai bisa
tidak. Kiai sudah tidak pegang otoritas apa-apa di situ,” kata Masdar.

Meski demikian, masih banyak pesantren yang mencoba mandiri dengan cara
masing-masing, bahkan mampu memberdayakan masyarakat sekitarnya. Untuk
memotret kepeloporan pesantren itulah Tempo menurunkan laporan sejumlah
pesantren di Tanah Air. Sebagian besar merupakan masukan dari Departemen
Agama dan sebagian lagi muncul dalam diskusi redaksi.

Ada delapan pesantren yang diangkat kali ini, yakni Pesantren Sidogiri di
Pasuruan, Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Pesantren Al-Amin di
Tasikmalaya, Pesantren As-Salafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, Pesantren
Qamarul Huda di Lombok, Pesantren Darul Arafah dan Pesantren Ar-Raudhatul
Hasanah di Sumatera Utara, serta Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Gorontalo.

Lembaga-lembaga itu mencerminkan wajah lain pondok pesantren. Pesantren
Sidogiri, misalnya, memelopori wirausaha melalui koperasi di pesantren, yang
ternyata juga mendorong perekonomian masyarakat setempat. Kini mereka telah
memiliki sedikitnya sepuluh unit usaha, dari toko buku hingga studio foto.
Sayap usaha lain adalah produksi air minum kemasan bermerek Santri,
penerbitan kitab, dan busana muslim.

Adapun Pondok Pesantren Qamarul Huda di Lombok mengkampanyekan lingkungan
hijau dengan mengajak warga menanam pohon di halaman rumah masing-masing.
Mereka juga menjadi mitra pemerintah dalam menangani kerusakan hutan dengan
menanami lahan seluas 200 hektare.

Lain lagi dengan Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Desa Banuroja,
Kecamatan Randangan, Provinsi Gorontalo. Pesantren ini aktif membina
kerukunan dengan warga Hindu, yang dianut hampir separuh warga desa, dan
warga Kristen. Pondok itu juga memelopori pembangunan desa dengan mendorong
berbagai usaha, termasuk agrobisnis dan peternakan sapi. Warga juga
dilibatkan dalam pemeliharaan sapi dengan metode bagi hasil.

Pesantren-pesantren ini hanya potret kecil dari begitu beragam dan banyaknya
pesantren di Indonesia. Namun kepeloporan mereka setidaknya dapat menjadi
inspirasi bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lain di Nusantara.

====

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131456.id.html

Belajar Usaha di Pondok Tua
Pendapatannya per tahun miliaran rupiah. Sekarang memiliki 24 cabang
koperasi.
DERETAN jemuran berjajar bagai cendawan, kusut masai bergelantungan di
jendela kamar dan langit-langit kompleks Pondok Pesantren Sidogiri,
Pasuruan, Jawa Timur, awal pekan lalu. Bilik-bilik hunian lebih dari 10 ribu
santri itu lengang. Hanya terlihat beberapa orang mengaji. ”Kalau Ramadan
sepi,” kata Shirojudin, santri asal Gresik. ”Semua pulang kampung hingga
setelah Lebaran.”

Didirikan pada 1745, pondok asuhan KH Nawawi Abdul Djalil ini boleh dibilang
sebagai pondok pendidikan klasik Islam tertua di Indonesia. Sidogiri juga
menjadi oasis pemburu ilmu. Fikih, tauhid, nahfu-sharaf (tata bahasa Arab),
hingga hafalan Al-Quran diajarkan di pondok rintisan Kiai Sulaiman itu.

Berdiri di atas lahan enam hektare, Sidogiri berada 12 kilometer dari pusat
Kota Pasuruan. Pondok salaf (kuno) menyusun sendiri kurikulum pendidikannya.
Silabus dan soal ujian ditangani Laboratorium Soal Madrasah. Tiga jenjang
pendidikan pondok: ibtidaiyah (SD), tsanawiyah (SMP), dan aliyah (SMA), ada
dalam naungan laboratorium. Aliyah punya tiga jurusan: tarbiyah, dakwah, dan
muamalah.

Selain mengaji kitab kuning, santri dibekali ilmu umum, bersandar kitab
klasik Fathul Mu’in, Fathul Qorib, dan Fathul Wahab (tentang manajemen).
Ilmu sains menggunakan karya Ibnu Sinna dan Al-Farabi. Lembaga Pengajaran
bahasa Arab dan asing plus laboratorium bahasa turut memperkaya khazanah
keilmuan.

”Perpustakaan kami juga lengkap,” kata Masykuri Abdurrahman, Wakil Ketua
Umum Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri. Perluasan keilmuan tak lepas
dari spirit ibadillah ass-shalihin—menjadi hamba saleh, mampu mengelola
kekayaan bumi dengan baik, bermanfaat, berkah bagi masyarakat luas—yang
menjadi pegangan sejak dulu.

Berniat menyempurnakan ajaran pendiri, pada 1961 Sidogiri memelopori
wirausaha pondok pesantren. Di bawah asuhan KH Cholil Nawawi, santri dilatih
mencari uang. Tiga laboratorium usaha, warung, toko kelontong, dan toko
kitab, dibangun dari sumbangan ulama dan santri. ”Ketekunan ditempa di
 situ,” kata KH Fuad Noerhasan, cucu KH Cholil.

Saat itu, bila santri berbelanja, uang kembalian tak diminta tapi
disumbangkan untuk memperbesar usaha. Ikhtiar tak kenal lelah berujung
menjadi badan usaha: Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), dengan 24 cabang
di sekitar Pasuruan.

Menyadari belajar bisnis tak cukup dengan kitab klasik, santri diutus
belajar ekonomi, manajemen, dan akuntansi ke perguruan tinggi. Setelah
lulus, ”Mengabdi di pondok dua tahun, baru boleh mendirikan usaha sendiri di
luar,” kata KH Fuad.

Kopontren Sidogiri bergerak di bidang jasa, retail, dan produksi. Bentuknya
bisa toko buku, kafe-warung makan, percetakan, studio foto, penggelar
pameran/bazar, warung telepon, gerai telepon seluler, minimarket, toko
aksesori-onderdil motor, dan laundry. Karyawannya santri tak mampu, ”Agar
bisa membiayai sekolahnya.”

Penghasilan mereka tak main-main. Pada 2007, Kopontren meraup penghasilan Rp
1,2 miliar. Setahun berikutnya Rp 1,4 miliar. ”Tahun 2009 kami targetkan Rp
1,5 miliar,” kata KH Fuad.

Selain untuk membayar gaji pegawai dan biaya operasional pondok, hasil usaha
digunakan untuk membangun sarana prasarana pondok. Walhasil, pondok tak
pernah merengek ke pemerintah. ”Kami tak mau menjadi beban pemerintah,” kata
Masykuri Abdurrahman.

Soal saham, awalnya mayoritas (60 persen) dipegang pondok. Sisanya (40
persen) milik pengurus, alumni, dan santri. Sekarang wali santri boleh ikut
menanam saham, termasuk masyarakat umum.

Pondok mengembangkan sayap usaha lain, air minum kemasan bermerek ”Santri”,
berkongsi dengan PT Alamo Probolinggo, juga usaha penerbitan kitab dan
penyediaan busana muslim. Pernah membuat pabrik saus tomat, ”Tapi tutup
karena tak sepaham dengan mitra kongsi,” kata KH Fuad. Wilayah pemasaran
semua unit usaha mencakup seluruh Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan
Kalimantan.

Untuk mendidik santri sadar bisnis, dibangun Balai Pendidikan Latihan Usaha
Santri, bekerja sama dengan Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS), yang
mempunyai 12 konsulat di seluruh Indonesia.

Meskipun omzet bisnis melesat, pondok berusaha tetap berjalan seiring dengan
pemberdayaan moral masyarakat sekitar. Hasilnya tak sia-sia. ”Dulu sekitar
pondok adalah tempat judi dan mabuk,” kata Komarudin, pedagang genting di
dekat pondok. ”Kini tak ada lagi.”

Satu niat yang terus dijaga. Meski bisnisnya terus membesar, Kopontren
berusaha tak mematikan usaha kecil, pasar tradisional yang ada sejak
Sidogiri berdiri 264 tahun silam. Caranya? ”Para santri tetap membeli
dagangan saya,” kata Amir, pedagang tahu di Pasar Ngempit yang berjarak
belasan meter dari pondok.

Dwidjo U. Maksum, Muhammad Taufik (Pasuruan)

=======

http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131457.id.html

KH Fuad Noerhasan
Tak Pernah Minta Duit Pemerintah
PONDOK Pesantren Sidogiri, Kraton, Pasuruan, adalah potret dunia pendidikan
klasik yang mendobrak kultur masa lalu. Pondok yang identik dengan urusan
kitab dijungkirbalikkan di Sidogiri. Bisnis dipelajari seperti lazimnya
mengaji gramatikal bahasa Arab. Bagaimana bisnis dibangun hingga
bermetamorfosis menjadi koperasi raksasa, KH Fuad Noerhasan, 53 tahun,
pengasuh Sidogiri, menjelaskannya kepada wartawan Tempo, Muhammad Taufik.
Berikut petikannya:

Apa sesungguhnya fondasi Pondok Pesantren Sidogiri?


  Sejak didirikan, kami ingin memberikan pelayanan terbaik bagi umat.
Konkretnya apa?


  Apa pun, mulai pelayanan pendidikan, sosial dengan membuka lembaga amal,
pelayanan kesehatan dengan mendirikan klinik pengobatan, hingga urusan
ekonomi melalui Koperasi Pondok Pesantren.
Apakah hingga sekarang selaras dengan cita-cita para pendiri?


  Cita-cita para kiai tak muluk-muluk. Hanya ingin mencetak santri ibadillah
ass-shalihin, santri yang kelak menjadi manusia saleh, patuh pada perintah
Allah SWT. Selebihnya, mereka yang akan mengembangkannya sendiri.
Bagaimana semua itu dilakukan? Bukankah perlu biaya?


  Benar. Biaya terbesar mengelola pesantren ini adalah dari para santri.
Tiap tahun, santri ditarik iuran.
Berapa?


  Tidak besar. Bahkan iuran di pondok ini paling kecil dibanding pondok
pesantren lain. Kelas ibtidaiyah (SD) hanya ditarik Rp 130 ribu per tahun.
tsanawaiyah (SMP) Rp 140 ribu, dan aliyah (SMA) Rp 150 ribu. Sebagian dana
dipakai mengembangkan dan membuka unit usaha seperti Koperasi Pondok
Pesantren itu.
Apakah iuran itu cukup untuk membiayai pendidikan santri?


  Buktinya cukup. Iuran itu juga kita gunakan untuk membayar bisyaroh
pengajar, kiai, ustad, dan pengurus. Sebagian lainnya untuk membangun sarana
fisik.
Apakah ada bantuan dari pemerintah?


  Sejak pondok ini berdiri, tak pernah minta dan berharap bantuan
pemerintah. Kami berusaha mandiri. Belajar berwirausaha, mendirikan Koperasi
Pondok Pesantren. Kami menghindari uang subhat dari pemerintah, karena
hasilnya tidak barokah. Agar yang kita harapkan mendapat rida Allah,
semuanya harus bersih. Tapi bukan kami membenci pemerintah.
Usaha apa lagi yang akan dikembangkan Kopontren?


  Tahun ini, selain terus mengembangkan semua jaringan bisnis dan air minum
kemasan, kami akan membangun Rumah Sakit Sidogiri. Sudah mulai jalan
pembangunannya. Semoga bisa terwujud sesuai dengan harapan.

  ======

  
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131458.id.html
  AL-ASHRIYYAH NURUL IMAN
  Mendidik Santri Jadi Pengusaha
  Pesantren Nurul Iman membiayai kegiatan pendidikan melalui keuntungan unit
usaha. Bekal untuk para santri setelah lulus.
  RAMADAN berarti masa libur panjang bagi santri Pondok Pesantren
Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor. Bahkan tiga hari sebelum bulan puasa
sudah tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Masjid lebih lengang meski masih
ada kegiatan mengaji. Para santri mudik ke kampung halaman dan baru kembali
seusai Idul Fitri. ”Saya baru akan pulang setelah lulus,” kata Amri, santri
madrasah aliyah.

  Habib Saggaf Mahdi bin Syekh Abu Bakar, pemimpin Nurul Iman, memang
menyarankan para santri supaya tidak pulang sebelum lulus. ”Supaya ada
kebanggaan begitu pulang,” katanya.

  Bagi mereka yang ingin pulang, pondok menyediakan angkutan. Bus untuk
santri yang berasal dari Jawa dan Sumatera, dan tiket kapal laut buat santri
dari pulau lain.

  Bukan semata kebanggaan yang menahan Amri untuk tetap berada di pondok
selama masa pakansi. Ia memanfaatkan liburan untuk bekerja lebih giat di
unit usaha pondok: pabrik roti, tambak ikan, dan pengolahan sampah menjadi
kompos. ”Hasilnya lumayan, dikirim untuk orang tua di kampung,” katanya.

  Aktivitas unit-unit usaha inilah yang membedakan Nurul Iman dengan
pesantren lain. Melalui unit usaha ini, Saggaf melumasi roda kegiatan
pondok. Sebanyak 15 ribu santri yang berasal dari penjuru Tanah Air tak
dipungut biaya pendidikan ataupun pondokan. Ini pula yang membuat jumlah
santri melejit, dari delapan ribuan santri pada akhir 2006.

  Abah, demikian Habis Saggaf dipanggil oleh para santri, tak menyebutkan
secara persis berapa dana pengeluaran pondok per bulan, termasuk gaji guru
yang sebagian lulusan luar negeri itu. ”Ratusan juta rupiah,” katanya. Ia
mengatakan masih mampu membiayai 25 ribu santri lagi di atas lahan pondok
seluas 175 hektare itu.

  Para santri itulah yang menjadi tenaga kerja paruh waktu di unit usaha
pondok. Setiap santri bergiliran praktek bekerja. ”Alumni saya diharapkan
menjadi pengusaha, bukan pekerja. Pengusaha bisa memperoleh penghasilan
lebih besar,” kata Saggaf.

  Kini para santri Nurul Iman memiliki keahlian di berbagai bidang. Mereka
juga dipersilakan mendalami satu-dua keahlian berbisnis. Caranya, mereka
mengelola sendiri manajemen hingga pemasaran. Pendidikan wiraswasta inilah
yang menjadi kelebihan pesantren yang dipimpin Abah Saggaf itu.

  Sistem pembagian keuntungan pun membuat santri bersemangat. Santri sebagai
pengelola diberi hak separuh keuntungan. Sisanya disetor ke pengurus pondok.
Setoran inilah yang digunakan untuk menutup biaya operasional pesantren.
Sebagai contoh penghasilan dari tambak ikan seluas 35 hektare dalam setahun
bisa menghasilkan uang Rp 4 miliar, belum lagi keuntungan dari pabrik roti
dan pabrik lainnya.

  ”Semua biaya operasional tertutup dari usaha yang kami kelola. Saya
berharap santri saya setelah lulus jadilah pengusaha. Bagi yang senang di
bidang pendidikan, jadilah pengajar di sini,” katanya.

  Selain membiayai pendidikan, Saggaf sangat memperhatikan guru, ustad, dan
dosen. Mereka diberi rumah di sekitar pesantren. Kini sudah ada ratusan
rumah yang dibangun Abah untuk mereka.

  Mengenai tenaga pendidik, Saggaf memilih orang yang benar-benar ahli.
Untuk pelajaran tambahan taekwondo, misalnya, didatangkan pelatih dari
negeri asalnya, Korea. Pengajar bahasa Inggris didatangkan dari sekolah
internasional, sedangkan bahasa Arab diajarkan oleh alumnus lulusan
Universitas Al-Azhar Mesir. Pengajar teknologi dan komputer pun lulusan
dalam dan luar negeri. ”Saya harus mendatangkan mereka yang benar-benar ahli
di bidangnya. Kalau untuk pelajaran agama harus yang memiliki sertifikat
pengajar agama,” ujarnya.

  Saggaf tak cuma mengajarkan ilmu agama kepada para santrinya, tapi juga
pendidikan umum sesuai dengan standar Departemen Pendidikan Nasional, mulai
dari tingkat tsanawiyah (SMP), aliyah (SMA), hingga perguruan tinggi. Setiap
Senin sampai Sabtu, pukul 07.00-12.00, para santri belajar ilmu agama,
bahasa Arab, fikih, tauhid, dan sebagainya. Setelah salat zuhur dan makan
siang, para santri mendapat pelajaran laiknya sekolah umum. Saban Ahad
mereka mendalami bahasa Inggris.

  Para santri memang diharuskan mampu berbicara dalam bahasa Arab dan
Inggris. Santri angkatan pertama yang sudah menjadi mahasiswa atau sudah
lulus juga diberi kesempatan mengajar di pondok.

  Sejak pesantren berdiri pada 1998, perekonomian warga sekitar juga
terbantu. Mereka ikut terlibat mengelola tambak seluas 35 hektare yang
menyebar di tiga desa. Sistem bagi hasilnya sama, yakni setengah untuk
pengelola dan setengah untuk pesantren. ”Warga terbantu sejak pesantren ini
berdiri. Abah sangat membantu warga Desa Warung yang kesulitan,” kata
Rochim, warga setempat.

  Adek Media, Deffan Purnama (Bogor)


__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature
database 4448 (20090922) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com




__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4448 (20090922) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com




__________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature 
database 4448 (20090922) __________

The message was checked by ESET NOD32 Antivirus.

http://www.eset.com





------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[email protected] 
    mailto:[email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke