http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131455.id.html
Wajah Lain Pondok Pesantren Pondok pesantren tak hanya mengajarkan agama, tapi juga bisnis. Sebagian lagi menjadi pelopor pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Inilah fikih sosial mereka. PESANTREN dan terorisme. Dua kata ini kerap dikait-kaitkan saat aksi terorisme mewabah di Indonesia belakangan ini. Harap maklum, sebagian besar pelaku dan tersangka tindak kejahatan itu memang alumni pondok pesantren. ”Stigmatisasi terhadap pesantren saat ini luar biasa dan telah menjadi sebentuk kebencian terhadap Islam,” kata Choirul Fuad Yusuf, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama, dalam diskusi di kantor majalah Tempo pada 3 September lalu. Diskusi itu juga dihadiri Masdar Farid Mas’udi, Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M); Khaeroni, Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Santri dan Layanan pada Masyarakat; dan Undang Sumantri, Kepala Subbagian Tata Usaha Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama. Fuad menyatakan stigmatisasi itu muncul, misalnya, ketika dia menyampaikan makalah berjudul ”Pertumbuhan Luar Biasa Pesantren di Indonesia” dalam konferensi tahunan National Association of Foreign Student Advisers di Los Angeles, Amerika Serikat, akhir Mei lalu. ”Pertanyaan yang muncul dalam konferensi itu kebanyakan soal radikalisme, madrasah sebagai tempat pengkaderan teroris, apalagi pesantren. Jadi, madrasah disamakan dengan madrasah di Afganistan,” kata Fuad. Madrasah di Afganistan mendapat cap miring karena banyak militan Taliban direkrut dari madrasah tersebut. Madrasah di Indonesia, kata Fuad, sama dengan sekolah umum, dengan muatan khusus pendidikan Islam. ”Dari 21 ribu lebih pesantren saat ini, tidak ada yang mengajarkan kekerasan, apalagi yang mengarah pada terorisme,” katanya. Departemen Agama mencatat saat ini ada 21.521 pesantren dengan 3.818.469 santri. Jumlah pesantren itu naik hampir empat kali lipat dalam 20 tahun terakhir dan dua kali lipat dalam 6 tahun terakhir. Pada 1985 tercatat ada 6.239 pesantren dengan 1 juta lebih santri dan pada 2001 ada 11.312 pesantren dengan 2.737.805 santri. Ini tidak termasuk pesantren yang belum terdaftar di departemen tersebut. Pondok-pondok pesantren itu tak berwajah tunggal. Ada yang mengajarkan pentingnya merawat harmoni sosial dan toleransi antar-umat beragama. Ada pula yang menggendong ideologi politik Timur Tengah, seperti Wahabisme, Ikhwanul Muslimin, dan Talibanisme. Tak sedikit dari pesantren ini yang mengintroduksi jalan-jalan kekerasan dalam menjalankan ajaran Islam. Menurut Fuad, pemerintah berupaya mendorong pondok-pondok pesantren agar tak hanya menjadi tempat belajar agama Islam, tapi juga menjadi agen perubahan sosial, motivator, dan aktor bagi masyarakat sekitarnya. Peran itu sudah dilakukan oleh beberapa pesantren, seperti Pondok Pesantren Al-Ittifaq di Babakan Jampang, Ciwidey, Bandung, yang mengajak masyarakat sekitar mengelola sayur-mayur, dari budi daya hingga pemasarannya. ”Pesantren itulah yang menyalurkan produk pertanian masyarakat ke supermarket-supermarket. Para santrinya juga diajari pemasaran dengan berdasi. Jadi, jangan dikira bahwa para santri kini cuma bersarung dan berkerudung,” kata Choirul. Masdar Farid Mas’udi, yang juga Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menuturkan bahwa peran pesantren dalam memberdayakan masyarakat sudah berlangsung lama. ”Bahkan sebenarnya pesantren umumnya didirikan dengan tujuan memberdayakan masyarakat sekitarnya,” kata pengasuh Pesantren Unggul Al-Bayan di Sukabumi, Jawa Barat, itu. Gerakan pemberdayaan itu menguat pada 1970-an dan 1980-an, bersamaan dengan dijalankannya banyak program kemasyarakatan oleh pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat melalui pesantren, seperti yang dilakukan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), Bina Desa, Bina Swadaya, dan P3M yang dipimpin Masdar. ”Namun program pemberdayaan masyarakat ini hanya meletakkan pesantren sebagai pintu masuk atau batu loncatan,” kata Masdar. Masdar mencontohkan program Keluarga Berencana yang diperkenalkan ke masyarakat melalui pintu pesantren, sehingga masyarakat tak lagi mempermasalahkannya. ”Legitimasinya sudah tidak dipertanyakan lagi karena sudah didukung kiai,” katanya. Nah, beberapa kiai kemudian berembuk untuk membentuk P3M dengan tujuan memberdayakan masyarakat melalui, oleh, dan bersama pesantren. Dasarnya adalah fikih sosial, yakni pengembangan dan kepedulian kepada masyarakat itu sebenarnya dilakukan bukan karena ada pesanan atau program atau dana dari luar, melainkan sebagai tanggung jawab pesantren itu sendiri sebagai pusat keagamaan. ”Kami berharap pengembangan masyarakat oleh pesantren itu menjadi agenda pesantren itu sendiri, bukan sekadar pintu masuk atau lampiran dari pesantren,” katanya. Secara historis pun pesantren muncul karena ingin mengasuh masyarakat. Masdar mencontohkan peran Pesantren Tebuireng yang berdiri di tengah Kota Jombang ketika ada masalah antara petani tebu dan pabrik gula karena pabrik menetapkan harga yang rendah. Pemimpin pesantren itu menyokong pembentukan paguyuban petani, yang kemudian mendatangi pihak pabrik untuk memperbaiki harga dan budi daya tebu. Pesantren masa kini, kata Masdar, juga merupakan perkembangan dari intervensi pemerintah melalui kurikulum dan standardisasi pendidikan, yang mulai terlihat pada 1980-an. Hal ini menyebabkan ongkos sekolah di pesantren jadi mahal dan membuat mereka berpaling ke sumber dana yang ada, yakni pemerintah. ”Inilah mulai hilangnya independensi pesantren terhadap kekuasaan. Padahal independensi menjadi ciri pesantren dan keulamaan, yaitu duduk setara dengan umara (pemimpin), jadi bisa mengatakan tidak dalam hal harus mengatakan tidak, dan mengatakan ya bila harus ya,” ujarnya. Dampak dari formalisasi pendidikan pesantren ini juga berpengaruh pada hubungan santri-kiai. Dulu, kalau santri datang ke pesantren, pasti ia diserahkan sepenuhnya oleh orang tuanya kepada sang kiai. ”Sekarang santri datang ke pesantren itu bukan ke kiai lagi, tapi ke bagian tata usaha. Jadi, kalau urusan bagian tata usaha sudah selesai, bisa datang sowan ke kiai bisa tidak. Kiai sudah tidak pegang otoritas apa-apa di situ,” kata Masdar. Meski demikian, masih banyak pesantren yang mencoba mandiri dengan cara masing-masing, bahkan mampu memberdayakan masyarakat sekitarnya. Untuk memotret kepeloporan pesantren itulah Tempo menurunkan laporan sejumlah pesantren di Tanah Air. Sebagian besar merupakan masukan dari Departemen Agama dan sebagian lagi muncul dalam diskusi redaksi. Ada delapan pesantren yang diangkat kali ini, yakni Pesantren Sidogiri di Pasuruan, Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman di Parung, Pesantren Al-Amin di Tasikmalaya, Pesantren As-Salafiyyah di Mlangi, Yogyakarta, Pesantren Qamarul Huda di Lombok, Pesantren Darul Arafah dan Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah di Sumatera Utara, serta Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Gorontalo. Lembaga-lembaga itu mencerminkan wajah lain pondok pesantren. Pesantren Sidogiri, misalnya, memelopori wirausaha melalui koperasi di pesantren, yang ternyata juga mendorong perekonomian masyarakat setempat. Kini mereka telah memiliki sedikitnya sepuluh unit usaha, dari toko buku hingga studio foto. Sayap usaha lain adalah produksi air minum kemasan bermerek Santri, penerbitan kitab, dan busana muslim. Adapun Pondok Pesantren Qamarul Huda di Lombok mengkampanyekan lingkungan hijau dengan mengajak warga menanam pohon di halaman rumah masing-masing. Mereka juga menjadi mitra pemerintah dalam menangani kerusakan hutan dengan menanami lahan seluas 200 hektare. Lain lagi dengan Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah di Desa Banuroja, Kecamatan Randangan, Provinsi Gorontalo. Pesantren ini aktif membina kerukunan dengan warga Hindu, yang dianut hampir separuh warga desa, dan warga Kristen. Pondok itu juga memelopori pembangunan desa dengan mendorong berbagai usaha, termasuk agrobisnis dan peternakan sapi. Warga juga dilibatkan dalam pemeliharaan sapi dengan metode bagi hasil. Pesantren-pesantren ini hanya potret kecil dari begitu beragam dan banyaknya pesantren di Indonesia. Namun kepeloporan mereka setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan lain di Nusantara. ==== http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131456.id.html Belajar Usaha di Pondok Tua Pendapatannya per tahun miliaran rupiah. Sekarang memiliki 24 cabang koperasi. DERETAN jemuran berjajar bagai cendawan, kusut masai bergelantungan di jendela kamar dan langit-langit kompleks Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur, awal pekan lalu. Bilik-bilik hunian lebih dari 10 ribu santri itu lengang. Hanya terlihat beberapa orang mengaji. ”Kalau Ramadan sepi,” kata Shirojudin, santri asal Gresik. ”Semua pulang kampung hingga setelah Lebaran.” Didirikan pada 1745, pondok asuhan KH Nawawi Abdul Djalil ini boleh dibilang sebagai pondok pendidikan klasik Islam tertua di Indonesia. Sidogiri juga menjadi oasis pemburu ilmu. Fikih, tauhid, nahfu-sharaf (tata bahasa Arab), hingga hafalan Al-Quran diajarkan di pondok rintisan Kiai Sulaiman itu. Berdiri di atas lahan enam hektare, Sidogiri berada 12 kilometer dari pusat Kota Pasuruan. Pondok salaf (kuno) menyusun sendiri kurikulum pendidikannya. Silabus dan soal ujian ditangani Laboratorium Soal Madrasah. Tiga jenjang pendidikan pondok: ibtidaiyah (SD), tsanawiyah (SMP), dan aliyah (SMA), ada dalam naungan laboratorium. Aliyah punya tiga jurusan: tarbiyah, dakwah, dan muamalah. Selain mengaji kitab kuning, santri dibekali ilmu umum, bersandar kitab klasik Fathul Mu’in, Fathul Qorib, dan Fathul Wahab (tentang manajemen). Ilmu sains menggunakan karya Ibnu Sinna dan Al-Farabi. Lembaga Pengajaran bahasa Arab dan asing plus laboratorium bahasa turut memperkaya khazanah keilmuan. ”Perpustakaan kami juga lengkap,” kata Masykuri Abdurrahman, Wakil Ketua Umum Pengurus Harian Pondok Pesantren Sidogiri. Perluasan keilmuan tak lepas dari spirit ibadillah ass-shalihin—menjadi hamba saleh, mampu mengelola kekayaan bumi dengan baik, bermanfaat, berkah bagi masyarakat luas—yang menjadi pegangan sejak dulu. Berniat menyempurnakan ajaran pendiri, pada 1961 Sidogiri memelopori wirausaha pondok pesantren. Di bawah asuhan KH Cholil Nawawi, santri dilatih mencari uang. Tiga laboratorium usaha, warung, toko kelontong, dan toko kitab, dibangun dari sumbangan ulama dan santri. ”Ketekunan ditempa di situ,” kata KH Fuad Noerhasan, cucu KH Cholil. Saat itu, bila santri berbelanja, uang kembalian tak diminta tapi disumbangkan untuk memperbesar usaha. Ikhtiar tak kenal lelah berujung menjadi badan usaha: Koperasi Pondok Pesantren (Kopontren), dengan 24 cabang di sekitar Pasuruan. Menyadari belajar bisnis tak cukup dengan kitab klasik, santri diutus belajar ekonomi, manajemen, dan akuntansi ke perguruan tinggi. Setelah lulus, ”Mengabdi di pondok dua tahun, baru boleh mendirikan usaha sendiri di luar,” kata KH Fuad. Kopontren Sidogiri bergerak di bidang jasa, retail, dan produksi. Bentuknya bisa toko buku, kafe-warung makan, percetakan, studio foto, penggelar pameran/bazar, warung telepon, gerai telepon seluler, minimarket, toko aksesori-onderdil motor, dan laundry. Karyawannya santri tak mampu, ”Agar bisa membiayai sekolahnya.” Penghasilan mereka tak main-main. Pada 2007, Kopontren meraup penghasilan Rp 1,2 miliar. Setahun berikutnya Rp 1,4 miliar. ”Tahun 2009 kami targetkan Rp 1,5 miliar,” kata KH Fuad. Selain untuk membayar gaji pegawai dan biaya operasional pondok, hasil usaha digunakan untuk membangun sarana prasarana pondok. Walhasil, pondok tak pernah merengek ke pemerintah. ”Kami tak mau menjadi beban pemerintah,” kata Masykuri Abdurrahman. Soal saham, awalnya mayoritas (60 persen) dipegang pondok. Sisanya (40 persen) milik pengurus, alumni, dan santri. Sekarang wali santri boleh ikut menanam saham, termasuk masyarakat umum. Pondok mengembangkan sayap usaha lain, air minum kemasan bermerek ”Santri”, berkongsi dengan PT Alamo Probolinggo, juga usaha penerbitan kitab dan penyediaan busana muslim. Pernah membuat pabrik saus tomat, ”Tapi tutup karena tak sepaham dengan mitra kongsi,” kata KH Fuad. Wilayah pemasaran semua unit usaha mencakup seluruh Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi, dan Kalimantan. Untuk mendidik santri sadar bisnis, dibangun Balai Pendidikan Latihan Usaha Santri, bekerja sama dengan Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS), yang mempunyai 12 konsulat di seluruh Indonesia. Meskipun omzet bisnis melesat, pondok berusaha tetap berjalan seiring dengan pemberdayaan moral masyarakat sekitar. Hasilnya tak sia-sia. ”Dulu sekitar pondok adalah tempat judi dan mabuk,” kata Komarudin, pedagang genting di dekat pondok. ”Kini tak ada lagi.” Satu niat yang terus dijaga. Meski bisnisnya terus membesar, Kopontren berusaha tak mematikan usaha kecil, pasar tradisional yang ada sejak Sidogiri berdiri 264 tahun silam. Caranya? ”Para santri tetap membeli dagangan saya,” kata Amir, pedagang tahu di Pasar Ngempit yang berjarak belasan meter dari pondok. Dwidjo U. Maksum, Muhammad Taufik (Pasuruan) ======= http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131457.id.html KH Fuad Noerhasan Tak Pernah Minta Duit Pemerintah PONDOK Pesantren Sidogiri, Kraton, Pasuruan, adalah potret dunia pendidikan klasik yang mendobrak kultur masa lalu. Pondok yang identik dengan urusan kitab dijungkirbalikkan di Sidogiri. Bisnis dipelajari seperti lazimnya mengaji gramatikal bahasa Arab. Bagaimana bisnis dibangun hingga bermetamorfosis menjadi koperasi raksasa, KH Fuad Noerhasan, 53 tahun, pengasuh Sidogiri, menjelaskannya kepada wartawan Tempo, Muhammad Taufik. Berikut petikannya: Apa sesungguhnya fondasi Pondok Pesantren Sidogiri? Sejak didirikan, kami ingin memberikan pelayanan terbaik bagi umat. Konkretnya apa? Apa pun, mulai pelayanan pendidikan, sosial dengan membuka lembaga amal, pelayanan kesehatan dengan mendirikan klinik pengobatan, hingga urusan ekonomi melalui Koperasi Pondok Pesantren. Apakah hingga sekarang selaras dengan cita-cita para pendiri? Cita-cita para kiai tak muluk-muluk. Hanya ingin mencetak santri ibadillah ass-shalihin, santri yang kelak menjadi manusia saleh, patuh pada perintah Allah SWT. Selebihnya, mereka yang akan mengembangkannya sendiri. Bagaimana semua itu dilakukan? Bukankah perlu biaya? Benar. Biaya terbesar mengelola pesantren ini adalah dari para santri. Tiap tahun, santri ditarik iuran. Berapa? Tidak besar. Bahkan iuran di pondok ini paling kecil dibanding pondok pesantren lain. Kelas ibtidaiyah (SD) hanya ditarik Rp 130 ribu per tahun. tsanawaiyah (SMP) Rp 140 ribu, dan aliyah (SMA) Rp 150 ribu. Sebagian dana dipakai mengembangkan dan membuka unit usaha seperti Koperasi Pondok Pesantren itu. Apakah iuran itu cukup untuk membiayai pendidikan santri? Buktinya cukup. Iuran itu juga kita gunakan untuk membayar bisyaroh pengajar, kiai, ustad, dan pengurus. Sebagian lainnya untuk membangun sarana fisik. Apakah ada bantuan dari pemerintah? Sejak pondok ini berdiri, tak pernah minta dan berharap bantuan pemerintah. Kami berusaha mandiri. Belajar berwirausaha, mendirikan Koperasi Pondok Pesantren. Kami menghindari uang subhat dari pemerintah, karena hasilnya tidak barokah. Agar yang kita harapkan mendapat rida Allah, semuanya harus bersih. Tapi bukan kami membenci pemerintah. Usaha apa lagi yang akan dikembangkan Kopontren? Tahun ini, selain terus mengembangkan semua jaringan bisnis dan air minum kemasan, kami akan membangun Rumah Sakit Sidogiri. Sudah mulai jalan pembangunannya. Semoga bisa terwujud sesuai dengan harapan. ====== http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2009/09/21/LU/mbm.20090921.LU131458.id.html AL-ASHRIYYAH NURUL IMAN Mendidik Santri Jadi Pengusaha Pesantren Nurul Iman membiayai kegiatan pendidikan melalui keuntungan unit usaha. Bekal untuk para santri setelah lulus. RAMADAN berarti masa libur panjang bagi santri Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Bogor. Bahkan tiga hari sebelum bulan puasa sudah tidak ada kegiatan belajar-mengajar. Masjid lebih lengang meski masih ada kegiatan mengaji. Para santri mudik ke kampung halaman dan baru kembali seusai Idul Fitri. ”Saya baru akan pulang setelah lulus,” kata Amri, santri madrasah aliyah. Habib Saggaf Mahdi bin Syekh Abu Bakar, pemimpin Nurul Iman, memang menyarankan para santri supaya tidak pulang sebelum lulus. ”Supaya ada kebanggaan begitu pulang,” katanya. Bagi mereka yang ingin pulang, pondok menyediakan angkutan. Bus untuk santri yang berasal dari Jawa dan Sumatera, dan tiket kapal laut buat santri dari pulau lain. Bukan semata kebanggaan yang menahan Amri untuk tetap berada di pondok selama masa pakansi. Ia memanfaatkan liburan untuk bekerja lebih giat di unit usaha pondok: pabrik roti, tambak ikan, dan pengolahan sampah menjadi kompos. ”Hasilnya lumayan, dikirim untuk orang tua di kampung,” katanya. Aktivitas unit-unit usaha inilah yang membedakan Nurul Iman dengan pesantren lain. Melalui unit usaha ini, Saggaf melumasi roda kegiatan pondok. Sebanyak 15 ribu santri yang berasal dari penjuru Tanah Air tak dipungut biaya pendidikan ataupun pondokan. Ini pula yang membuat jumlah santri melejit, dari delapan ribuan santri pada akhir 2006. Abah, demikian Habis Saggaf dipanggil oleh para santri, tak menyebutkan secara persis berapa dana pengeluaran pondok per bulan, termasuk gaji guru yang sebagian lulusan luar negeri itu. ”Ratusan juta rupiah,” katanya. Ia mengatakan masih mampu membiayai 25 ribu santri lagi di atas lahan pondok seluas 175 hektare itu. Para santri itulah yang menjadi tenaga kerja paruh waktu di unit usaha pondok. Setiap santri bergiliran praktek bekerja. ”Alumni saya diharapkan menjadi pengusaha, bukan pekerja. Pengusaha bisa memperoleh penghasilan lebih besar,” kata Saggaf. Kini para santri Nurul Iman memiliki keahlian di berbagai bidang. Mereka juga dipersilakan mendalami satu-dua keahlian berbisnis. Caranya, mereka mengelola sendiri manajemen hingga pemasaran. Pendidikan wiraswasta inilah yang menjadi kelebihan pesantren yang dipimpin Abah Saggaf itu. Sistem pembagian keuntungan pun membuat santri bersemangat. Santri sebagai pengelola diberi hak separuh keuntungan. Sisanya disetor ke pengurus pondok. Setoran inilah yang digunakan untuk menutup biaya operasional pesantren. Sebagai contoh penghasilan dari tambak ikan seluas 35 hektare dalam setahun bisa menghasilkan uang Rp 4 miliar, belum lagi keuntungan dari pabrik roti dan pabrik lainnya. ”Semua biaya operasional tertutup dari usaha yang kami kelola. Saya berharap santri saya setelah lulus jadilah pengusaha. Bagi yang senang di bidang pendidikan, jadilah pengajar di sini,” katanya. Selain membiayai pendidikan, Saggaf sangat memperhatikan guru, ustad, dan dosen. Mereka diberi rumah di sekitar pesantren. Kini sudah ada ratusan rumah yang dibangun Abah untuk mereka. Mengenai tenaga pendidik, Saggaf memilih orang yang benar-benar ahli. Untuk pelajaran tambahan taekwondo, misalnya, didatangkan pelatih dari negeri asalnya, Korea. Pengajar bahasa Inggris didatangkan dari sekolah internasional, sedangkan bahasa Arab diajarkan oleh alumnus lulusan Universitas Al-Azhar Mesir. Pengajar teknologi dan komputer pun lulusan dalam dan luar negeri. ”Saya harus mendatangkan mereka yang benar-benar ahli di bidangnya. Kalau untuk pelajaran agama harus yang memiliki sertifikat pengajar agama,” ujarnya. Saggaf tak cuma mengajarkan ilmu agama kepada para santrinya, tapi juga pendidikan umum sesuai dengan standar Departemen Pendidikan Nasional, mulai dari tingkat tsanawiyah (SMP), aliyah (SMA), hingga perguruan tinggi. Setiap Senin sampai Sabtu, pukul 07.00-12.00, para santri belajar ilmu agama, bahasa Arab, fikih, tauhid, dan sebagainya. Setelah salat zuhur dan makan siang, para santri mendapat pelajaran laiknya sekolah umum. Saban Ahad mereka mendalami bahasa Inggris. Para santri memang diharuskan mampu berbicara dalam bahasa Arab dan Inggris. Santri angkatan pertama yang sudah menjadi mahasiswa atau sudah lulus juga diberi kesempatan mengajar di pondok. Sejak pesantren berdiri pada 1998, perekonomian warga sekitar juga terbantu. Mereka ikut terlibat mengelola tambak seluas 35 hektare yang menyebar di tiga desa. Sistem bagi hasilnya sama, yakni setengah untuk pengelola dan setengah untuk pesantren. ”Warga terbantu sejak pesantren ini berdiri. Abah sangat membantu warga Desa Warung yang kesulitan,” kata Rochim, warga setempat. Adek Media, Deffan Purnama (Bogor) __________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature database 4448 (20090922) __________ The message was checked by ESET NOD32 Antivirus. http://www.eset.com __________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature database 4448 (20090922) __________ The message was checked by ESET NOD32 Antivirus. http://www.eset.com __________ Information from ESET NOD32 Antivirus, version of virus signature database 4448 (20090922) __________ The message was checked by ESET NOD32 Antivirus. http://www.eset.com ------------------------------------ ______________________________________________________________________ http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: [email protected] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[email protected] mailto:[email protected] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [email protected] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
