Saya berterima kasih kepada Gus Dur dan Mbahnya Hadratusyaikh Hasyim Asyari.

Khittah sudah tegas dan jelas:
Siapa yang minat dengan kiprah politik, gabung ke PKB, ini jalan yang dibuatkan 
Gus Dur.
Siapa yang minat dengan kiprah melayani umat, tetap di NU, ini jalan yang 
dibuatkan KH Hasyim Asyari.

Tapi ada batasan:
Gerbong NU tidak bisa dibawa untuk mendukung parpol manapun termasuk PKB.
Semuanya harus bermain kesatria.

Jangan kayak pemain bank syariah dalam dunia kompetisi perbankan, belum-belum 
bertanding, sudah minta point dulu ke MUI melalui fatwa bunga bank riba.

Siapa saja dari kalangan Nahdliyin yang terjun ke dunia politik tetapi membawa 
gerbong NU untuk mendukungnya, dia adalah pemain BANCI. PENGECUT.

Khittah itu jelas. Khittah sebagai pembeda (Alfurqon) mana yang Kesatria mana 
yang Pengecut.





________________________________
From: Masykurudin Hafidz <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Tue, March 23, 2010 10:45:08 AM
Subject: [kmnu2000] NU Kembali Ke Khittah, NU Kembali Ke Umat

  
NU Kembali ke Khittah, NU Kembali ke Umat
Muktamar NU 2010 di Makassar adalah momen pertaruhan yang
menentukan : NU Bangkit Menuju Kejayaan dan Kemartabatannya, atau Terpuruk dan 
Terbuang dari Sejarah. 
Sekarang ini NU berada dalam kepungan tantangan dan ancaman dari berbagai 
segiyang belum
pernah dialami masa-masa sebelumnya, tantangan itu adalah :
1.       Tantangan kekuasaan. NU mengalamai kebekuan hubungan
akibat terlalu jauh memasuki arena pertarungan politik. Selama ini NU lebih
banyak menjadi pendukung dan pencari suara (vote
getter) dari calon dan partai tertentu.  Akibatnya dimata kekuasaan, NU 
dipandang sebelah mata.
2.       Tantangan NU ketika mengalamai gangguan penyusupan bahkan
pengambil alihan basis-basis keumatannya, terutama masjid-masjid Nahdliyyin,
oleh kelompok-kelompok gelap pendatang baru berfaham radikal.
3.       Tantangan kebawah yaitu hubungan antara umat Nahdliyyin
dengan elite NU sendiri. Selama ini semakin dirasakan antara elite NU dengan
warganya, terasa sangat renggang. Ketaatan dari berbagai tausiyah yang
disampaikan oleh elite NU semakin lama semakin dirasakan berkurang oleh
warga. 
4.       Tantangan Hubungan warga
Nahdliyyin dengan elite NU sendiri yang kian renggang. Bahkan antara zu’ama 
dengan ulama NU sendiri yang
selama ini terasa saling menjauh satu sama lain. Penyebabnya antara lain
kalkulasi dan hubungan politis yang mempengaruhi hubungan lahir dan batin
diantara mereka. 
Satu-satunya jalan untuk mengatasi semua ancaman tersebut
adalah bertekad kembali ke jati diri, khittah 1926, yang secara operasional
berarti, KEMBALI KE UMAT. NU sebagai jam’iyyah dan ulama sebagai pengendalinya 
semunya musti bekerja untuk melayani umat. Umat
adalah wajah Allah di muka bumi. Melayani Allah berarti secara nyata NU
melayani umat.
Sebagai jalur aspirasi umat, agenda utama NU adalah
persoalan ekonomi, kesehatan, pendidikan, budaya dan lingkungan sebagai
acuannya. Tidak ada yang perlu diragukan dan dikhawatirkan dari umat, terutama
kalangan mustadh’afinnya. Ketika NU memalingkan kembali wajahnya dan
mendampingi umat dan setia melayani mereka maka semua problem yang mengamcam NU
diatas akan teratasi dengan baik.
Muktamar NU adalah momentum pertaruhan besar; hendak
bangkit menuju kejayaan atau justru terpuruk dan terbuang. Adalah wajib bagi
para muktamirin, untuk mengembalikan jati diri NU sebagai jangkar keutuhan
Indonesia yang bhineka dan benteng moralitas bangsa. 
Trimakasih,
K.H. Masdar F. Mas’udi

Lebih aman saat online. Upgrade ke Internet Explorer 8 baru dan lebih cepat 
yang dioptimalkan untuk Yahoo! agar Anda merasa lebih aman. Gratis. Dapatkan 
IE8 di sini! 
http://downloads. yahoo.com/ id/internetexplo rer/

[Non-text portions of this message have been removed]


 


      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke