Wih...wih.....
ada kader muda NU baru declare

















--- On Wed, 4/7/10, saidiman saidiman <[email protected]> wrote:

From: saidiman saidiman <[email protected]>
Subject: [kmnu2000] Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya
To: [email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected], 
[email protected], [email protected]
Date: Wednesday, April 7, 2010, 5:02 AM







 



  


    
      
      
      Dimuat di Koran Tempo, 7 April 2010



Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya



Oleh Saidiman Ahmad*



Satu-satunya politisi yang tidak

pernah gentar dengan stigma sekuler, liberal dan pluralis hanyalah KH

Abdurrahman Wahid. Namun meski Gus Dur telah dinobatkan banyak kalangan,

termasuk Presiden RI Susilo Bambang-Yudhoyono, sebagai Bapak Pluralisme, pada

Muktamar NU ke-32, isu ini masih dijadikan amunisi dalam kampanye negatif untuk

tokoh-tokoh NU tertentu. Pada hari pertama Muktamar, bahkan muncul isu untuk

menjegal calon-calon ketua umum yang disinyalir terlibat atau menganut

gagasan-gagasan liberal.

 

Tidak sedikit orang yang langsung

mengambil jarak ketika disodori gagasan pluralisme, liberalisme dan

sekularisme. Tahun 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengeluarkan

fatwa haram terhadap tiga gagasan ini. Akibat fatwa itu masih terasa hingga

kini. Di ranah politik, para politisi mendadak menghindari stigma sekuler,

liberal dan pluralis. 

 

Ada sejumlah alasan yang dikemukakan untuk

menolak gagasan-gagasan itu. Tulisan ini mencoba memberi jawaban terhadap

sejumlah alasan penolakan tersebut. 

 

Pertama, gagasan-gagasan itu dinilai berasal dari “luar,” yakni

Barat. Ada asumsi bahwa gagasan luar tidak bisa diterima karena bangsa ini 
memiliki

karakter dan budaya yang unik sehingga persoalannya tidak bisa diselesaikan

dengan memakai metode dan cara-cara luar. Apa yang disebut sebagai “luar”

sangat problematis. Lihatlah, misalnya, kelompok-kelompok yang sangat getol

menolak gagasan tersebut. Orang-orang yang menolak gagasan “luar” itu biasanya

datang dari kelompok yang mengatasnamakan dirinya Hizbut Tahrir, Majelis

Mujahidin, Wahhabi dan seterusnya. Kelompok-kelompok ini pun memperoleh

gagasannya dari luar, tidak genuin berasal dari Indonesia. 

 

Letak persoalannya bukan bahwa

gagasan-gagasan mengenai sekularisme, liberalisme dan pluralisme benar-benar

berasal dari luar, karena mereka yang menolak juga berangkat dari gagasan yang

berasal dari luar. Betapapun Islam adalah agama mayoritas di negeri ini, Islam

adalah agama yang tidak lahir di Indonesia, melainkan agama yang

lahir di Jazirah Arab 14 tahun silam. 6 agama yang memperoleh pelayanan negara

semuanya adalah agama yang berasal dari luar alias agama impor. 

 

Dengan begitu, menolak

sekularisme, liberalisme dan pluralisme semata-mata karena gagasan-gagasan itu 
berasal

dari luar dan tidak sesuai dengan budaya setempat sangat tidak valid dan

cenderung mengada-ada. Mereka yang menolak gagasan ini pun menggunakan

gagasan-gagasan yang berasal dari luar.

 

Ke”luar”an sekularisme,

liberalisme dan pluralisme juga patut dibincang lebih jauh. Ketiga gagasan ini

adalah respon terhadap realitas yang dihadapi oleh manusia. Sekularisme

merespon absolutisme kekuasaan politik karena klaim otoritas ilahi. Persoalan

semacam ini tidak hanya terjadi di Barat melainkan juga telah lama berlaku di

Timur hingga sekarang. Ide mengenai pemisahan agama dan negara adalah upaya

untuk membatasi kekuasaan negara agar tidak absolut dan semena-mena. Dalam

sejarah Islam, gagasan mengenai pemisahan agama dan negara muncul secara

genuin. Sebab pada dasarnya, setiap kekuasaan totaliter tidak mengenakkan dan

akan mengundang reaksi penolakan. Barangkali penolakan terhadap absolutisme

kekuasaan politik tidak mesti dirumuskan secara filosofis, tetapi 
gerakan-gerakan

semacam itu selalu muncul di setiap masa dengan intensitas yang berbeda-beda.

Ini adalah sesuatu yang natural.

 

Gerakan liberalisme juga muncul

di negara-negara Muslim. Di Turki, misalnya, kelompok tarekat menggunakan

ide-ide liberalisme untuk melawan kekuasaan militer. Mereka berupaya

mendasarkan gagasan liberalismenya pada teologi Islam. Bagi mereka, Islam

adalah agama liberal, sebab hanya dengan itulah mereka memiliki kekuatan

melawan rezim diktator.

 

Sudah sejak lama gagasan mengenai

pluralisme dianggap sebagai solusi terbaik bagi pemecahan konflik di pelbagai

wilayah berpenduduk Muslim. Ketika mereka dihadapkan pada pilihan antara damai

dan konflik, maka tidak ada pilihan lain selain hidup tenang dalam perdamaian.

Pluralisme bukan sesuatu yang baru. Ia melekat di dalam kehidupan setiap orang.

Sebab kita semua butuh hidup rukun dan damai.

 

Kedua, alasan bahwa sekularisme, liberalisme dan pluralisme akan

menggerogoti budaya lokal juga tidak bisa diterima. Pertanyaan utamanya adalah

apa yang dimaksud dengan budaya lokal? Bukankah semua hal yang sekarang mapan

di Indonesia pada mulanya berasal dari luar? Bagaimana menentukan bahwa sebuah 
budaya luar

bisa diterima dan yang lain harus ditolak?

 

Selanjutnya tentang potensi

budaya lokal tergerogoti karena sekularisme, liberalisme dan pluralisme juga

patut dipertanyakan. Sejauh ini, baik secara teori maupun fakta,

gagasan-gagasan itu justru sangat berguna bagi pengembangan budaya. Dengan

tidak dicampur-baurnya otoritas politik dan agama, justru kehidupan beragama

dan budaya bisa secara maksimal berkembang. Liberalisme, misalnya, berasal dari

pengakuan bahwa sebenarnya dunia ini dibangun di atas ketidak-tahuan. Tidak ada

yang lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depan. Justru karena tidak ada yang

lebih tahu di atas yang lain itulah maka diperlukan ruang kebebasan, agar

setiap manusia bisa berekspresi. Kesadaran bahwa manusia tidak sempurnalah yang

menyebabkan ruang kebebasan dibutuhkan. Liberalisme membuka ruang kebebasan di

mana setiap budaya, agama dan ekspresi bisa muncul. 

 Jikapun ada budaya lokal yang terancam oleh karena

ruang kebebasan yang terbuka, maka hal itu bukan persoalan yang perlu

dirisaukan. Bukankah dunia ini terus berkembang? Segala sesuatu datang dan

pergi silih berganti. Yang mampu menyesuaikan dirilah yang akan tetap bertahan.

Kita hidup untuk terus menerus melakukan koreksi terhadap kehidupan yang

sekarang kita alami. Kita harus membuka ruang bagi perubahan di masa depan.

Itulah hukum dunia.



*Aktivis Jaringan Islam Liberal dan Kader Muda Nahdlatul Ulama



Get your new Email address!

Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!

http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/



[Non-text portions of this message have been removed]





    
     

    
    


 



  






      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke