Betapapun Islam adalah agama mayoritas di negeri ini, Islam
adalah agama yang tidak lahir di Indonesia, melainkan agama yang
lahir di Jazirah Arab 14 tahun silam.

ralat: 14 abad, Mas....
:)

Nas


Pada 8 April 2010 06:46, Abd. Moqsith Ghazali <[email protected]> menulis:

>
>
> saya juga baru tahu, ternyata saidiman ini kader muda NU yang "resmi".
> Waktu di makassar, dia aktif di IPNU.
>
> sith
>
>
>
> ________________________________
> From: alai nadjib <[email protected] <alainajib%40yahoo.com>>
> To: [email protected] <kmnu2000%40yahoogroups.com>
> Sent: Wed, April 7, 2010 2:02:55 PM
> Subject: Re: [kmnu2000] Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya
>
>
>
>
> Wih...wih... ..
> ada kader muda NU baru declare
>
> --- On Wed, 4/7/10, saidiman saidiman <idhi_mandar@ yahoo.com> wrote:
>
> From: saidiman saidiman <idhi_mandar@ yahoo.com>
> Subject: [kmnu2000] Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya
> To: aliansi-kebebasan@ yahoogroups. com, form...@yahoogroups .com,
> id...@yahoogroups. com, kahmi_pro_network@ yahoogroups. com, 
> islamlibe...@yahoogroups. com, kmnu2...@yahoogroup
> s.com
>
> Date: Wednesday, April 7, 2010, 5:02 AM
>
>
>
> Dimuat di Koran Tempo, 7 April 2010
>
> Stigma Keagamaan dan Sejumlah Jawabannya
>
> Oleh Saidiman Ahmad*
>
> Satu-satunya politisi yang tidak
>
> pernah gentar dengan stigma sekuler, liberal dan pluralis hanyalah KH
>
> Abdurrahman Wahid. Namun meski Gus Dur telah dinobatkan banyak kalangan,
>
> termasuk Presiden RI Susilo Bambang-Yudhoyono, sebagai Bapak Pluralisme,
> pada
>
> Muktamar NU ke-32, isu ini masih dijadikan amunisi dalam kampanye negatif
> untuk
>
> tokoh-tokoh NU tertentu. Pada hari pertama Muktamar, bahkan muncul isu
> untuk
>
> menjegal calon-calon ketua umum yang disinyalir terlibat atau menganut
>
> gagasan-gagasan liberal.
>
> Tidak sedikit orang yang langsung
>
> mengambil jarak ketika disodori gagasan pluralisme, liberalisme dan
>
> sekularisme. Tahun 2005, Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan mengeluarkan
>
> fatwa haram terhadap tiga gagasan ini. Akibat fatwa itu masih terasa hingga
>
> kini. Di ranah politik, para politisi mendadak menghindari stigma sekuler,
>
> liberal dan pluralis.
>
> Ada sejumlah alasan yang dikemukakan untuk
>
> menolak gagasan-gagasan itu. Tulisan ini mencoba memberi jawaban terhadap
>
> sejumlah alasan penolakan tersebut.
>
> Pertama, gagasan-gagasan itu dinilai berasal dari “luar,” yakni
>
> Barat. Ada asumsi bahwa gagasan luar tidak bisa diterima karena bangsa ini
> memiliki
>
> karakter dan budaya yang unik sehingga persoalannya tidak bisa diselesaikan
>
> dengan memakai metode dan cara-cara luar. Apa yang disebut sebagai “luar”
>
> sangat problematis. Lihatlah, misalnya, kelompok-kelompok yang sangat getol
>
> menolak gagasan tersebut. Orang-orang yang menolak gagasan “luar” itu
> biasanya
>
> datang dari kelompok yang mengatasnamakan dirinya Hizbut Tahrir, Majelis
>
> Mujahidin, Wahhabi dan seterusnya. Kelompok-kelompok ini pun memperoleh
>
> gagasannya dari luar, tidak genuin berasal dari Indonesia.
>
> Letak persoalannya bukan bahwa
>
> gagasan-gagasan mengenai sekularisme, liberalisme dan pluralisme
> benar-benar
>
> berasal dari luar, karena mereka yang menolak juga berangkat dari gagasan
> yang
>
> berasal dari luar. Betapapun Islam adalah agama mayoritas di negeri ini,
> Islam
>
> adalah agama yang tidak lahir di Indonesia, melainkan agama yang
>
> lahir di Jazirah Arab 14 tahun silam. 6 agama yang memperoleh pelayanan
> negara
>
> semuanya adalah agama yang berasal dari luar alias agama impor.
>
> Dengan begitu, menolak
>
> sekularisme, liberalisme dan pluralisme semata-mata karena gagasan-gagasan
> itu berasal
>
> dari luar dan tidak sesuai dengan budaya setempat sangat tidak valid dan
>
> cenderung mengada-ada. Mereka yang menolak gagasan ini pun menggunakan
>
> gagasan-gagasan yang berasal dari luar.
>
> Ke”luar”an sekularisme,
>
> liberalisme dan pluralisme juga patut dibincang lebih jauh. Ketiga gagasan
> ini
>
> adalah respon terhadap realitas yang dihadapi oleh manusia. Sekularisme
>
> merespon absolutisme kekuasaan politik karena klaim otoritas ilahi.
> Persoalan
>
> semacam ini tidak hanya terjadi di Barat melainkan juga telah lama berlaku
> di
>
> Timur hingga sekarang. Ide mengenai pemisahan agama dan negara adalah upaya
>
> untuk membatasi kekuasaan negara agar tidak absolut dan semena-mena. Dalam
>
> sejarah Islam, gagasan mengenai pemisahan agama dan negara muncul secara
>
> genuin. Sebab pada dasarnya, setiap kekuasaan totaliter tidak mengenakkan
> dan
>
> akan mengundang reaksi penolakan. Barangkali penolakan terhadap absolutisme
>
> kekuasaan politik tidak mesti dirumuskan secara filosofis, tetapi
> gerakan-gerakan
>
> semacam itu selalu muncul di setiap masa dengan intensitas yang
> berbeda-beda.
>
> Ini adalah sesuatu yang natural.
>
> Gerakan liberalisme juga muncul
>
> di negara-negara Muslim. Di Turki, misalnya, kelompok tarekat menggunakan
>
> ide-ide liberalisme untuk melawan kekuasaan militer. Mereka berupaya
>
> mendasarkan gagasan liberalismenya pada teologi Islam. Bagi mereka, Islam
>
> adalah agama liberal, sebab hanya dengan itulah mereka memiliki kekuatan
>
> melawan rezim diktator.
>
> Sudah sejak lama gagasan mengenai
>
> pluralisme dianggap sebagai solusi terbaik bagi pemecahan konflik di
> pelbagai
>
> wilayah berpenduduk Muslim. Ketika mereka dihadapkan pada pilihan antara
> damai
>
> dan konflik, maka tidak ada pilihan lain selain hidup tenang dalam
> perdamaian.
>
> Pluralisme bukan sesuatu yang baru. Ia melekat di dalam kehidupan setiap
> orang.
>
> Sebab kita semua butuh hidup rukun dan damai.
>
> Kedua, alasan bahwa sekularisme, liberalisme dan pluralisme akan
>
> menggerogoti budaya lokal juga tidak bisa diterima. Pertanyaan utamanya
> adalah
>
> apa yang dimaksud dengan budaya lokal? Bukankah semua hal yang sekarang
> mapan
>
> di Indonesia pada mulanya berasal dari luar? Bagaimana menentukan bahwa
> sebuah budaya luar
>
> bisa diterima dan yang lain harus ditolak?
>
> Selanjutnya tentang potensi
>
> budaya lokal tergerogoti karena sekularisme, liberalisme dan pluralisme
> juga
>
> patut dipertanyakan. Sejauh ini, baik secara teori maupun fakta,
>
> gagasan-gagasan itu justru sangat berguna bagi pengembangan budaya. Dengan
>
> tidak dicampur-baurnya otoritas politik dan agama, justru kehidupan
> beragama
>
> dan budaya bisa secara maksimal berkembang. Liberalisme, misalnya, berasal
> dari
>
> pengakuan bahwa sebenarnya dunia ini dibangun di atas ketidak-tahuan. Tidak
> ada
>
> yang lebih tahu apa yang terbaik untuk masa depan. Justru karena tidak ada
> yang
>
> lebih tahu di atas yang lain itulah maka diperlukan ruang kebebasan, agar
>
> setiap manusia bisa berekspresi. Kesadaran bahwa manusia tidak sempurnalah
> yang
>
> menyebabkan ruang kebebasan dibutuhkan. Liberalisme membuka ruang kebebasan
> di
>
> mana setiap budaya, agama dan ekspresi bisa muncul.
>
> Jikapun ada budaya lokal yang terancam oleh karena
>
> ruang kebebasan yang terbuka, maka hal itu bukan persoalan yang perlu
>
> dirisaukan. Bukankah dunia ini terus berkembang? Segala sesuatu datang dan
>
> pergi silih berganti. Yang mampu menyesuaikan dirilah yang akan tetap
> bertahan.
>
> Kita hidup untuk terus menerus melakukan koreksi terhadap kehidupan yang
>
> sekarang kita alami. Kita harus membuka ruang bagi perubahan di masa depan.
>
> Itulah hukum dunia.
>
> *Aktivis Jaringan Islam Liberal dan Kader Muda Nahdlatul Ulama
>
> Get your new Email address!
>
> Grab the Email name you&#39;ve always wanted before someone else does!
>
> http://mail. promotions. yahoo.com/ newdomains/ aa/
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>  
>


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------------------

______________________________________________________________________
http://www.numesir.org untuk informasi tentang Cabang Istimewa NU Mesir dan 
KMNU2000, atau info-info seputar Cairo dan Timur Tengah.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Kami berharap Anda selalu bersama kami, tapi jika karena suatu hal Anda harus 
meninggalkan forum ini silakan kirim email ke: 
[email protected] 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kmnu2000/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke