Iya, Kang Asep... Kalo nggak salah, untuk nama2 Kampung Bali, Kampung
Makassar, dsb, munculnya pada jaman sudah diduduki Belanda.
Untuk Ragunan, lebih tepatnya Wiraguna. Kalo Wiroguno kan mestinya
jadi Rogunon... :P

Terus tentang Glodok dari bunyi air 'grojok', sepertinya kok jauh...
Dalam bahasa Sunda ada Golodog, yg sepertinya menjadi asal ini nama:
Golodog --> Glodog --> Glodok. Perubahan G jadi K di belakang sering
ditemukan pada kata2 Sunda yg dieja oleh orang non-Sunda, terutama
Jawa. Sebagai contoh, ayah saya yg Jawa tetap kesulitan menyebut endoG
(telur), yg terucap tetap endoK. Kemudian Ciledug --> Cileduk. Atau,
sebagaimana ramai disebut di jaman mudik lebaran kemarin, NagreG -->
NagreK. Siapa yg salah nih? Wartawan?

2008/10/27 Aschev Schuraschev
>
> Yth. bapak Kartono Mohamad, memang benar bahwa sultan agung pernah menyerang 
> Batavia menggunakan bantuan dari beberapa bangsa. Namun pernyataan bapak 
> bahwa sang sultan menggunakan bangsa-bangsa Ambon, Bugis dan Makasar, saya 
> belum pernah membacanya dari buku sejarah. Yang saya tahu sultan untuk 
> menaklukkan Madura saja susahnya setengah mati, menaklukan Banten saja tidak 
> mampu, apalagi untuk menaklukan bangsa Ambon, Bugis dan Makasar (yang ada di 
> pulau yang sangat jauh dari Mataram) serta menggunakan bangsa-bangsa tersebut 
> untuk menyerang Batavia. Untuk itu, saya mohon referensi atas pernyataan 
> bapak.
> ________________________________
> From: Kartono Mohamad

>  Konon dulu ketika Sultan Agung menegpung Batavia dengan menggunakan pasukan 
> dari berbagai suku, mereka mendirikan base-camp di berbagai tempat. Adipati 
> Wiroguno sebagai Panglima Perang bermarkas di tempat yang sekarang bernama 
> Ragunan (Wirogunan). Lainnya meninggalkan nama Kampung Ambon, Kampung Bugis, 
> kampung Bali, kampung Makassar, dan sebagainya sesuai dengan asa pasukan 
> tersebut.
> KM
> -------Original Message----- --
>
> From: Letha
> A. Glodok
> Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh 
> dari pancuran air. Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan 
> air kali ciliwung. Orang tionghoa dan keturunan tionghoa menyebut grojok 
> sebagai glodok karena orang tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti 
> layaknya orang pribumi.

Kirim email ke