ikutan nimbrung,
yang aku tahu waktu jaman kolonial dulu tentara bayaran VOC ada yg direkrut 
dari ambon, bugis(makasar) sebagian orang jawa, dll. Untuk mempermudah 
mengontrol para penduduk batavia waktu itu maka Belanda menetapkan agar 
masing-masing etnis/bangsa tinggal di suatu area yg sama, tidak boleh 
berpencar-pencar. Maka muncullah kampung makasar, kampung ambon, kampung jawa, 
kampung arab, cina, dll. Masing-masing area tersebut dipimpin oleh seorang 
kapitan, maka ada Kapitan cina, arab, jawa. Si Kapitan sendiri dipilih oleh 
Belanda atas dasar pertimbangan antara lain orang yg terpandang(kaya), dekat 
dengan etnisnya/mudah bergaul, dan kriteria lainnya.

Beberapa tempat di Jakarta dulunya ada yg memakai nama belanda, seperti 
Weltevreden(Gambir, sekitarnya), Molenvliet(Glodok), Meester 
Cornelis(jatinegara), dan beberapa nama lainnya, kemudian nama-nama tersebut 
di-melayukan oleh pemerintah indonesia. Di buku batavia esay sosio kultural, 
terbitan KITLV Press(didistribusikan oleh Komunitas bambu) cerita mengenai 
daerah-daerah dan penamaan batavia ini juga dibahas oleh Kees. 

Terimakasih.
S. Nainggolan.




      

Kirim email ke