Alhamdulilah Bah Hadir, sawios rada kakantun he...he......sabdi sareng Kang 
Hendra



Fresh Think About Creativity  

 

--- On Mon, 11/17/08, AbSjam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: AbSjam <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [HISTORIA-INDONESIA] Re: [kota-bogor] Ungkal Biang, Sekali untuk 
Selamanya
To: "Kota-bogor" <[EMAIL PROTECTED]>
Cc: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL PROTECTED], 
[EMAIL PROTECTED], "Desi Suyamto" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Monday, November 17, 2008, 8:07 PM










    
            Nuhun Kang Hadi atas perluasan informasinya.

Lepas dari opini masing masing, mendukung tidaknya, paling tidak kita lihat

hal ini sebagai satu bagian khasanah budaya yang ada di sekitar kita, bagus

untuk

diketahui, baik untuk dihargai, mungkin juga tanpa perlu mem-paten-kan

bentukan keberadaannya ya ?

Begitulah yang ada, pastinya turut menghiasi Taman Budaya Nasional kita....



Kang Hadi hadir kamari teh ?

Salam,



----- Original Message ----- 

From: "hadi darajat" <[EMAIL PROTECTED] com>

To: <[EMAIL PROTECTED] ups.com>; <[EMAIL PROTECTED] ups.com>

Sent: Monday, November 17, 2008 8:44 AM

Subject: [kota-bogor] Ungkal Biang, Sekali untuk Selamanya



Upacara Tugu Peringatan di Kampung Budaya SindangbarangUngkal Biang, Sekali

untuk Selamanya



TAMANSARI -

Untuk pertama kali dan selamanya Kampung Budaya Sindangbarang di Desa

Pasireurih Kecamatan Tamansari mengadakan upacara Ungkal Biang atau

Batu Induk, kemarin.

Upacara Ungkal Biang merupakan upacara peletakan batu atau tugu

peringatan yang biasa dilakukan sebelum berdirinya kampung budaya di

tataran adat Sunda. Tujuannya sebagai batu peringatan dan lambang

persatuan kampung budaya. Namun, karena beberapa hal upacara sakral ini

baru dilakukan di Kampung Budaya Sindangbarang.

"Kami baru mendapat petunjuk dari sesepuh Sindangbarang untuk

membuat upacara Ungkal Biang saat berdirinya kampung budaya 2007 lalu

belum ada petunjuk," ujar Pupuhu Kampung Budaya Sindangbarang Maki

Sumawijaya.

Untuk menentukan Batu Induk yang akan dijadikan tugu peringatan

kampung budaya, tidak sembarangan. Ada beberapa kriteria yang harus

dipenuhi sebagai Batu Induk. Diantaranya batu ungkal beuneur atau batu

padat berisi dengan panjang minimal 1,5 meter dan berbentuk agak pipih.

Saat proses pencarian, 20 warga Sindangbarang bahu-membahu mencari

Ungkal Biang di Gawir Wahangan Cipakali (ditebing Sungai Cipamali, red)

Selasa (11/11). "Dua kali warga menemukan batu yang sesuai dengan

kriteria, tapi tidak layak menjadi

Ungkal Biang. Terakhir, batu ketiga saat diambil warga akhirnya sudah

sepenuhnya sesuai kriteria," ujar Maki.

Dalam proses menempatkan Ungkal Biang, ada beberapa upacara yang

dilakukan. Sebelumnya batu yang didapat dari Sungai Cikali, diiringi

puluhan warga yang membawa angklung dan tumpeng sebanyak tujuh tumpeng.

Perjalanan

sekitar 500 meter dari kampung budaya Sungai Cikali tempat di mana

ditemukan Ungkal Biang, bukan hal mudah. Warga harus beberapa kali

terhenti dan istirahat membawa batu seberat 500 kg dengan panjang

sekitar 1,5 meter untuk diletakkan di samping rumah besar.

Sebelum diletakkan, beberapa sesaji telah disiapkan Ustadz Suryadi

Falwah. Diantaranya seperti tujuh macam rujakeun (bahan baku rujak,

red) yang berisi buah aren, pisang emas, kelapa muda, asem, gula merah,

gula putih dan jambu klutuk.

Tak ketinggalan kemenyan, daun sirih, kapur sirih dan bubur merah

bubur putih, ditambah air di panci yang terbuat dari tanah liat berisi

bunga tujuh rupa. Saat kemenyan dibakar Ustadz Suryadi Falwah, wangi

magis cukup kental. Ditambah lagi ayam putih yang mengelilingi Ungkal

Biang sebanyak tiga kali.

"Upacara ini merupakan salah satu

pelengkap dari upacara Ungkal Biang atau sebagai syarat. Pada dasarnya

kita manusia berdoa kepada Allah SWT," ujar Falwah.

Usai membacakan doa, air yang berada di panci dibasuhkan kepada

Ungkal Biang untuk mengusir energi negatif yang ada dalam batu

tersebut. "Semua benda memiliki energi negatif dan positif dengan air

yang telah didoakan. Semoga akan menghilangkan energi negatif yang ada

di batu," ujar Falwah.

Lalu apa filosofis ayam putih? Maki menjelaskan, jika masih ada

energi negatif dalam batu tersebut setelah dibanjur air yang telah

didoakan diharapkan jangan mengganggu manusia, tapi mengganggu ayam.

"Jadi kalau masih ada energi negatif, silakan ganggu ayam jangan ganggu

manusia," ujar Maki sambil tersenyum lebar.

Usai upacara ungkal batu, dilanjutkan dengan pagelaran seni budaya

Sunda. Diantaranya, seni gendang pencak, parebut seeng, gundreh dan

jaipongan. (miq) (radar-bogor. co.id)



[Non-text portions of this message have been removed]



------------ --------- --------- ------



Milis kota-bogor ... media interaktif untuk 'orang Bogor' dan yang pernah

tinggal di Bogor.



Jika ingin keluar dari milis ini, harap kirim e-mail kosong ke :

kota-bogor-unsubscr [EMAIL PROTECTED] comYahoo! Groups Links




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke