Janten...aya foto fotona atuh nya ???.
Upami aya fotona, kenging di share ka sarerea ? 

Nuhun akh....(maksa hoyong dikintun fotona... he eh ehe h)
Baktos,


  ----- Original Message ----- 
  From: hadi darajat 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, November 18, 2008 8:04 AM
  Subject: Re: [HISTORIA-INDONESIA] Re: [kota-bogor] Ungkal Biang, Sekali untuk 
Selamanya


        Alhamdulilah Bah Hadir, sawios rada kakantun he...he......sabdi sareng 
Kang Hendra




        Fresh Think About Creativity  




        --- On Mon, 11/17/08, AbSjam <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

          From: AbSjam <[EMAIL PROTECTED]>
          Subject: [HISTORIA-INDONESIA] Re: [kota-bogor] Ungkal Biang, Sekali 
untuk Selamanya
          To: "Kota-bogor" <[EMAIL PROTECTED]>
          Cc: [EMAIL PROTECTED], [email protected], [EMAIL 
PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "Desi Suyamto" <[EMAIL PROTECTED]>
          Date: Monday, November 17, 2008, 8:07 PM


          Nuhun Kang Hadi atas perluasan informasinya.
          Lepas dari opini masing masing, mendukung tidaknya, paling tidak kita 
lihat
          hal ini sebagai satu bagian khasanah budaya yang ada di sekitar kita, 
bagus
          untuk
          diketahui, baik untuk dihargai, mungkin juga tanpa perlu mem-paten-kan
          bentukan keberadaannya ya ?
          Begitulah yang ada, pastinya turut menghiasi Taman Budaya Nasional 
kita....

          Kang Hadi hadir kamari teh ?
          Salam,

          ----- Original Message ----- 
          From: "hadi darajat" <[EMAIL PROTECTED] com>
          To: <[EMAIL PROTECTED] ups.com>; <[EMAIL PROTECTED] ups.com>
          Sent: Monday, November 17, 2008 8:44 AM
          Subject: [kota-bogor] Ungkal Biang, Sekali untuk Selamanya

          Upacara Tugu Peringatan di Kampung Budaya SindangbarangUngkal Biang, 
Sekali
          untuk Selamanya

          TAMANSARI -
          Untuk pertama kali dan selamanya Kampung Budaya Sindangbarang di Desa
          Pasireurih Kecamatan Tamansari mengadakan upacara Ungkal Biang atau
          Batu Induk, kemarin.
          Upacara Ungkal Biang merupakan upacara peletakan batu atau tugu
          peringatan yang biasa dilakukan sebelum berdirinya kampung budaya di
          tataran adat Sunda. Tujuannya sebagai batu peringatan dan lambang
          persatuan kampung budaya. Namun, karena beberapa hal upacara sakral 
ini
          baru dilakukan di Kampung Budaya Sindangbarang.
          "Kami baru mendapat petunjuk dari sesepuh Sindangbarang untuk
          membuat upacara Ungkal Biang saat berdirinya kampung budaya 2007 lalu
          belum ada petunjuk," ujar Pupuhu Kampung Budaya Sindangbarang Maki
          Sumawijaya.
          Untuk menentukan Batu Induk yang akan dijadikan tugu peringatan
          kampung budaya, tidak sembarangan. Ada beberapa kriteria yang harus
          dipenuhi sebagai Batu Induk. Diantaranya batu ungkal beuneur atau batu
          padat berisi dengan panjang minimal 1,5 meter dan berbentuk agak 
pipih.
          Saat proses pencarian, 20 warga Sindangbarang bahu-membahu mencari
          Ungkal Biang di Gawir Wahangan Cipakali (ditebing Sungai Cipamali, 
red)
          Selasa (11/11). "Dua kali warga menemukan batu yang sesuai dengan
          kriteria, tapi tidak layak menjadi
          Ungkal Biang. Terakhir, batu ketiga saat diambil warga akhirnya sudah
          sepenuhnya sesuai kriteria," ujar Maki.
          Dalam proses menempatkan Ungkal Biang, ada beberapa upacara yang
          dilakukan. Sebelumnya batu yang didapat dari Sungai Cikali, diiringi
          puluhan warga yang membawa angklung dan tumpeng sebanyak tujuh 
tumpeng.
          Perjalanan
          sekitar 500 meter dari kampung budaya Sungai Cikali tempat di mana
          ditemukan Ungkal Biang, bukan hal mudah. Warga harus beberapa kali
          terhenti dan istirahat membawa batu seberat 500 kg dengan panjang
          sekitar 1,5 meter untuk diletakkan di samping rumah besar.
          Sebelum diletakkan, beberapa sesaji telah disiapkan Ustadz Suryadi
          Falwah. Diantaranya seperti tujuh macam rujakeun (bahan baku rujak,
          red) yang berisi buah aren, pisang emas, kelapa muda, asem, gula 
merah,
          gula putih dan jambu klutuk.
          Tak ketinggalan kemenyan, daun sirih, kapur sirih dan bubur merah
          bubur putih, ditambah air di panci yang terbuat dari tanah liat berisi
          bunga tujuh rupa. Saat kemenyan dibakar Ustadz Suryadi Falwah, wangi
          magis cukup kental. Ditambah lagi ayam putih yang mengelilingi Ungkal
          Biang sebanyak tiga kali.
          "Upacara ini merupakan salah satu
          pelengkap dari upacara Ungkal Biang atau sebagai syarat. Pada dasarnya
          kita manusia berdoa kepada Allah SWT," ujar Falwah.
          Usai membacakan doa, air yang berada di panci dibasuhkan kepada
          Ungkal Biang untuk mengusir energi negatif yang ada dalam batu
          tersebut. "Semua benda memiliki energi negatif dan positif dengan air
          yang telah didoakan. Semoga akan menghilangkan energi negatif yang ada
          di batu," ujar Falwah.
          Lalu apa filosofis ayam putih? Maki menjelaskan, jika masih ada
          energi negatif dalam batu tersebut setelah dibanjur air yang telah
          didoakan diharapkan jangan mengganggu manusia, tapi mengganggu ayam.
          "Jadi kalau masih ada energi negatif, silakan ganggu ayam jangan 
ganggu
          manusia," ujar Maki sambil tersenyum lebar.
          Usai upacara ungkal batu, dilanjutkan dengan pagelaran seni budaya
          Sunda. Diantaranya, seni gendang pencak, parebut seeng, gundreh dan
          jaipongan. (miq) (radar-bogor. co.id)

          [Non-text portions of this message have been removed]

          ------------ --------- --------- ------

          Milis kota-bogor ... media interaktif untuk 'orang Bogor' dan yang 
pernah
          tinggal di Bogor.

          Jika ingin keluar dari milis ini, harap kirim e-mail kosong ke :
          kota-bogor-unsubscr [EMAIL PROTECTED] comYahoo! Groups Links


       



   

Kirim email ke