Mantep nih Kang Aschev,

Kalau nggak salah, ada juga diceritakan saat Bujangga Manik di Puncak
menyempatkan diri ke Danau Telaga Warna. Berarti sejak dulu daerah Puncak
sudah terkenal sebagai daerah wisata ya..

Membaca penjelasannya, terbayang bahwa Bujangga Manik sudah menguasai
teori-teori sastra dalam penulisan naskahnya. Nenek moyang kita hebat-hebat.

Salam,
Bagja

2008/11/19 Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED]>

>    Naskah Bujangga Manik Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia
> bebas (http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik)
>
>
> *Naskah Bujangga Manik* merupakan salah satu peninggalan dari naskah berbahasa
> Sunda <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda> yang sangat berharga.
> Naskah ini ditulis pada daun nipah <http://id.wikipedia.org/wiki/Nipah>,
> dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan
> saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di 
> Oxford<http://id.wikipedia.org/wiki/Oxford>sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 
> (R), cf. Noorduyn 1968:469,
> Ricklefs/Voorhoeve 1977:181). Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari
> 29 daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang
> terdiri dari 8 suku kata.
>
>
>
> Yang menjadi tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga
> Manik <http://id.wikipedia.org/wiki/Bujangga_Manik>, seorang resi 
> Hindu<http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu>dari Kerajaan
> Sunda <http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda> yang, walaupun
> merupakan seorang prabu pada keraton Pakuan 
> Pajajaran<http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran>(ibu kota kerajaan, 
> yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota
> Bogor <http://id.wikipedia.org/wiki/Bogor>), lebih suka menjalani hidup
> sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali
> perjalanan dari Pakuan 
> Pajajaran<http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran>ke
> Jawa <http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa>. Pada perjalanan kedua Bujangga
> Manik malah singgah di Bali <http://id.wikipedia.org/wiki/Bali> untuk
> beberapa lama serta ke Pulau Sumatera<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera>.
> Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir
> hayatnya.[1]<http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_note-0>Jelas
>  sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga
> Manik berasal dari jaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut
> tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab.
> Penyebutan Majapahit <http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit>, 
> Malaka<http://id.wikipedia.org/wiki/Malaka>dan Demak
> Demak <http://id.wikipedia.org/wiki/Demak> memungkinkan kita untuk
> memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal
> tahun 
> 1500-an.[2]<http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_note-1>Naskah
>  ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada
> sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai disebutkan
> dalam naskah. Sebagian dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan sampai
> sekarang.
>
> Ringkasan Naskah
>
> Nama penulis naskah ini, Prabu Jaya Pakuan, muncul pada baris ke-14. Nama
> alias dari penulis, yaitu Bujangga Manik, dapat ditemukan mulai baris
> ke-456. Dalam baris 15-20 diceritakan bahwa dia akan meninggalkan ibunya
> untuk pergi ke arah timur. Dia sangat teliti dalam menceritakan
> keberangkatannya. Dari kebiasaannya kita tahu bahwa dia mengenakan ikat
> kepala ("saceundung kaen" dalam baris 36).
>
>
>
> Kemudian dia memulai perjalanan pertamanya yang dia lukiskan secara
> terperinci. Waktu Bujangga Manik mendaki daerah 
> Puncak<http://id.wikipedia.org/wiki/Puncak>,
> dia menghabiskan waktu, seperti seorang pelancong jaman modern, dia duduk,
> mengpasi badannya dan menikmati pemandangan, khususnya Gunung 
> Gede<http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Gede>yang, pada baris ke 59 sampai 
> 64, dia sebut sebagai titik tertinggi dari
> kota Pakuan <http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan> (ibukota Kerajaan 
> Sunda<http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda>
> ).
>
>
>
> Dari Puncak dia melanjutkan perjalanan sampai menyeberangi Ci Pamali
> (sekarang lebih sering disebut Kali 
> Brebes<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kali_Brebes&action=edit&redlink=1>)
> untuk masuk ke daerah Jawa. Di daerah Jawa dia mengembara ke berbagai desa
> yang termasuk kerajaan Majapahit dan juga kerajaan Demak. Sesampai di
> Pamalang, Bujangga Manik merindukan ibunya (baris 89) dan memutuskan untuk
> pulang. Namun pada kesempatan ini, dia lebih suka untuk lewat laut dan
> menaiki kapal yang datang dari Malaka. Kesultanan Malaka mulai pertengahan
> abad ke-15 sampai ditaklukkan oleh Portugis menguasai perdagangan pada
> perairan ini.
>
>
>
> Keberangkatan kapal dari pelabuhan dilukiskan seperti upacara pesta (baris
> 96-120): bedil ditembakkan, alat musik dimainkan, beberapa lagu dinyanyikan
> dengan keras oleh awak kapal; gambaran terperinci mengenai bahan yang
> digunakan untuk membuat kapal diceritakan: berbagai jenis bambu dan rotan,
> tiang dari kayu laka, juru mudi yang berasal dari 
> India<http://id.wikipedia.org/wiki/India>juga disebutkan; Bujangga Manik 
> benar-benar terpesona karena awak kapal
> berasal dari berbagai tempat atau bangsa.
>
>
>
> Perjalanan dari Pamalang ke Kalapa<http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kalapa>,
> pelabuhan Kerajaan Sunda, ditempuh dalam setengah bulan. (baris 121), yang
> memberi kesan bahwa kapal yang ditumpangi tersebut berhenti di berbagai
> tempat di antara Pamalang dan Kalapa. Dari perjalanan tersebut, Bujangga
> Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng Layaran. Dari Kalapa, Bujangga
> Manik melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan ke istana kerajaan di
> Pakuan <http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan>, di bagian selatan kota 
> Bogor<http://id.wikipedia.org/wiki/Bogor>sekarang (Noorduyn 1982:419). 
> Bujangga Manik memasuki Pakancilan (baris
> 145), terus masuk ke paviliun yang dihias cantik dan duduk di sana. Dia
> melihat ibunya sedang menenun, teknik menenunnya dijelaskan dalam baris
> (160-164). Ibunya terkejut dan bahagia melihat anaknya pulang kembali. Dia
> segera meninggalkan pekerjaannya dan memasuki rumah dengan melewati beberapa
> lapis tirai, dan naik naik ke tempat tidurnya.
>
>
>
> Ibu Bujangga Manik menyiapkan sambutan buat anaknya, menghidangkan sebaki
> bahan untuk mengunyah sirih <http://id.wikipedia.org/wiki/Sirih>,
> menyisirkan rambutnya, dan mengenakan baju mahal. Dia kemudian turun dari
> kamar tidurnya, keluar dari rumah, pergi ke paviliun dan menyambut anaknya.
> Bujangga Manik menerima perlengkapan mengunyah sirih yang ditawarkan ibunya.
>
>
>
> Pada bagian berikutnya, diceritakan mengenai putri Ajung Larang Sakean
> Kilat Bancana. Jompong Larang, pesuruh putri Ajung Larang meninggalkan
> istananya, menyeberangi Ci Pakancilan dan datang ke istana Bujangga Manik.
> Di istana tersebut dia bertemu seoang asing yang sedang mengunyah sirih yang
> ternyata adalah Bujangga Manik. Jompong Larang terpesona dengan ketampanan
> Bujangga Manik (baris 267-273).
>
>
>
> Sekembalinya ke istana majikannya, Jompong Larang menemui putri Ajung
> Larang yang kebetulan sedang sibuk menenun. Uraian mengenai cara menenunnya
> diterangkan dalam baris (279-282). Putri, yang mengenakan gaun serta di
> sampingnya ada kotak impor dari Cina (284-290), melihat Jompong Larang yang
> terburu-buru, menaiki tangga dan kemudian duduk di sampingnya.
>
>
>
> Putri menanyakan pesan apa yang dibawanya. Jompong Larang mengatakan bahwa
> dia melihat pria yang sangat tampan, sepadan bagi putri Ajung Larang. Dia
> menceritakan bahwa Ameng Layaran lebih tampan daripada Banyak Catra atau
> Silih Wangi, atau sepupu sang putri (321), atau siapapun itu. Lebih dari
> itu, pria itu pintar membuat sajak dalam daun 
> lontar<http://id.wikipedia.org/wiki/Lontar>serta bisa berbahasa
> Jawa <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa> (baris 327). Putri Ajung
> Larang langsung dihinggapi rasa cinta. Dia kemudian menghentikan pekerjaan
> menenunnya dan memasuki rumah. Di sana dia sibuk menyiapkan hadiah bagi pria
> muda tersebut, yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah sirih,
> menggunakan bahan-bahan yang indah, dengan sangat hati-hati. Putri juga
> menambahkan koleksi wangi-wangian yang sangat mahal: "seluruh wewangian
> tersebut berasal dari luar negeri", juga baju dan sebuah keris yang indah.
>
>
>
> Ibu Bujangga Manik mendesak anaknya untuk menerima hadiah dari putri Ajung
> Larang kemudian menggambarkan kecantikan putri yang luar biasa serta
> pujian-pujian lainnya. Ibunya juga mengatakan bahwa putri berkeinginan untuk
> meyerahkan dirinya kepada Bujangga Manik serta mengucapkan kata-kata yang
> tidak pernah disampaikan putri Ajung Larang, "Saya akan menyerahkan diri
> saya. Saya akan menyambar seperti elang<http://id.wikipedia.org/wiki/Elang>,
> menerkam seperti harimau <http://id.wikipedia.org/wiki/Harimau>, meminta
> diterima sebagai kekasih (530-534). Ameng Layaran terkejut mendengar
> ucapan-ucapan ibunya yang antusias dan menyebutnya sebagai kata-kata
> terlarang (*carek larangan*) dan bertekad untuk menolak hadiah tersebut
> dengan kata-kata yang panjang juga (baris 548-650). Dia meminta ibunya
> bersama Jompong Larang untuk mengembalikan hadiah tersebut kepada putri
> serta menghibur putri. Dia lebih suka untuk hidup sendiri dan menjaga ajaran
> yang dia terima selama perjalanannya ke Jawa, di pesantren di lereng Gunung
> Merbabu <http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merbabu> (yang dia sebut
> dalam naskah ini sebagai Gunung Damalung dan Pamrihan). Untuk itulah
> Bujangga Manik terpaksa harus meninggalkan ibunya. (baris 649-650).
>
> Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (*apus ageung*) dan
> *siksaguru*, juga tongkat rotan serta pecut. Dia kemudian mengatakan bahwa
> dia akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari tempat
> nanti dia dikuburkan, untuk mencari "laut untuk hanyut, suatu tempat untuk
> kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya" (663-666). Dengan
> kata-kata yang dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan
> panjangnya.
>
>
>
> Dia meneruskan perjalanannya ke timur, menuliskan banyak sekali nama tempat
> yang sebagian masih digunakan sampai 
> sekarang.[3]<http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_note-2>
>
> Rujukan
>
>    - J. Noorduyn (alihbahasa oleh Iskandar Wassid). 1984. *Perjalanan
>    Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: data topografis dari sumber Sunda Kuno
>    *. KITLV & LIPI, Jakarta.
>    - J. Noorduyn & A. Teeuw. 2006. *Three Old Sundanese Poems*. Leiden:
>    KITLV.
>
>  Catatan kaki
>
>    1. *^ <http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_ref-0>* 
> Noorduyn,
>    J. (2006). *Three Old Sundanese poems*. KITLV Press.
>    2. *^ <http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_ref-1>* 
> Noorduyn,
>    J. (2006). *Three Old Sundanese poems*. KITLV Press.
>    3. *^ 
> <http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_ref-2>*Noorduyn J. 
> 1982. BTL
>    138:413-442. <http://www.kitlv-journals.nl/files/pdf/art_BKI_1175.pdf>
>
>
>  
>

Kirim email ke