Kang Aschev, Untuk Arab, apa lebih cocok Ibn Batutah sebagai petualang sejati dengan bukunya yang fenomenal "Ar-Rihlah". Beliau lah yang pertama menemukan Amerika jauh sebelum Columbus. Dan beliau pun sudah menapaki Nusantara...IMHO..
Salam, Bagja 2008/11/20 Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED]> > Betul kang, kalau Barat punya Ptolemi, Arab punya Muhammad Idrisi, maka > kita punya Panggeran Jaya Pakuan meskipun hasilnya dituangkan secara berbeda > (gambar vs tulisan) dan wilayah yang dipetakannya berbeda (dunia vs pulau > Jawa & Bali) > > > > ------------------------------ > *From:* Bagdja Nugraha <[EMAIL PROTECTED]> > *To:* [email protected] > *Sent:* Thursday, November 20, 2008 6:05:03 AM > *Subject:* Re: [HISTORIA-INDONESIA] Naskah Kuno dari Kerajaannya Prabu > Siliwangi > > Mantep nih Kang Aschev, > > Kalau nggak salah, ada juga diceritakan saat Bujangga Manik di Puncak > menyempatkan diri ke Danau Telaga Warna. Berarti sejak dulu daerah Puncak > sudah terkenal sebagai daerah wisata ya.. > > Membaca penjelasannya, terbayang bahwa Bujangga Manik sudah menguasai > teori-teori sastra dalam penulisan naskahnya. Nenek moyang kita hebat-hebat. > > Salam, > Bagja > > 2008/11/19 Aschev Schuraschev <[EMAIL PROTECTED] com<[EMAIL PROTECTED]> > > > >> Naskah Bujangga Manik Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia >> bebas (http://id.wikipedia .org/wiki/ Naskah_Bujangga_ >> Manik<http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik> >> ) >> >> >> *Naskah Bujangga Manik* merupakan salah satu peninggalan dari naskah >> berbahasa >> Sunda <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Sunda> yang sangat berharga. >> Naskah ini ditulis pada daun nipah <http://id.wikipedia.org/wiki/Nipah>, >> dalam puisi naratif berupa lirik yang terdiri dari delapan suku kata, dan >> saat ini disimpan di Perpustakaan Bodleian di >> Oxford<http://id.wikipedia.org/wiki/Oxford>sejak tahun 1627 (MS Jav. b. 3 >> (R), cf. Noorduyn 1968:469, >> Ricklefs/Voorhoeve 1977:181). Naskah Bujangga Manik seluruhnya terdiri dari >> 29 daun nipah, yang masing-masing berisi sekitar 56 baris kalimat yang >> terdiri dari 8 suku kata. >> >> >> >> Yang menjadi tokoh dalam naskah ini adalah Prabu Jaya Pakuan alias Bujangga >> Manik <http://id.wikipedia.org/wiki/Bujangga_Manik>, seorang resi >> Hindu<http://id.wikipedia.org/wiki/Hindu>dari Kerajaan >> Sunda <http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda> yang, walaupun >> merupakan seorang prabu pada keraton Pakuan >> Pajajaran<http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran>(ibu kota kerajaan, >> yang bertempat di wilayah yang sekarang menjadi kota >> Bogor <http://id.wikipedia.org/wiki/Bogor>), lebih suka menjalani hidup >> sebagai seorang resi. Sebagai seorang resi, dia melakukan dua kali >> perjalanan dari Pakuan >> Pajajaran<http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan_Pajajaran>ke >> Jawa <http://id.wikipedia.org/wiki/Jawa>. Pada perjalanan kedua Bujangga >> Manik malah singgah di Bali <http://id.wikipedia.org/wiki/Bali> untuk >> beberapa lama serta ke Pulau Sumatera<http://id.wikipedia.org/wiki/Sumatera>. >> Pada akhirnya Bujangga Manik bertapa di sekitar Gunung Patuha sampai akhir >> hayatnya.[1]<http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_note-0>Jelas >> sekali, dari ceritera dalam naskah tersebut, bahwa naskah Bujangga >> Manik berasal dari jaman sebelum Islam masuk ke Tatar Sunda. Naskah tersebut >> tidak mengandung satu pun kata-kata yang berasal dari bahasa Arab. >> Penyebutan Majapahit <http://id.wikipedia.org/wiki/Majapahit>, >> Malaka<http://id.wikipedia.org/wiki/Malaka>dan Demak >> Demak <http://id.wikipedia.org/wiki/Demak> memungkinkan kita untuk >> memperkirakan bahwa naskah ini ditulis dalam akhir tahun 1400-an atau awal >> tahun >> 1500-an.[2]<http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_note-1>Naskah >> ini sangat berharga karena menggambarkan topografi pulau Jawa pada >> sekitar abad ke-15. Lebih dari 450 nama tempat, gunung dan sungai disebutkan >> dalam naskah. Sebagian dari nama-nama tempat tersebut masih digunakan sampai >> sekarang. >> >> Ringkasan Naskah >> >> Nama penulis naskah ini, Prabu Jaya Pakuan, muncul pada baris ke-14. Nama >> alias dari penulis, yaitu Bujangga Manik, dapat ditemukan mulai baris >> ke-456. Dalam baris 15-20 diceritakan bahwa dia akan meninggalkan ibunya >> untuk pergi ke arah timur. Dia sangat teliti dalam menceritakan >> keberangkatannya. Dari kebiasaannya kita tahu bahwa dia mengenakan ikat >> kepala ("saceundung kaen" dalam baris 36). >> >> >> >> Kemudian dia memulai perjalanan pertamanya yang dia lukiskan secara >> terperinci. Waktu Bujangga Manik mendaki daerah >> Puncak<http://id.wikipedia.org/wiki/Puncak>, >> dia menghabiskan waktu, seperti seorang pelancong jaman modern, dia duduk, >> mengpasi badannya dan menikmati pemandangan, khususnya Gunung >> Gede<http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Gede>yang, pada baris ke 59 sampai >> 64, dia sebut sebagai titik tertinggi dari >> kota Pakuan <http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan> (ibukota Kerajaan >> Sunda<http://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Sunda> >> ). >> >> >> >> Dari Puncak dia melanjutkan perjalanan sampai menyeberangi Ci Pamali >> (sekarang lebih sering disebut Kali >> Brebes<http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kali_Brebes&action=edit&redlink=1>) >> untuk masuk ke daerah Jawa. Di daerah Jawa dia mengembara ke berbagai desa >> yang termasuk kerajaan Majapahit dan juga kerajaan Demak. Sesampai di >> Pamalang, Bujangga Manik merindukan ibunya (baris 89) dan memutuskan untuk >> pulang. Namun pada kesempatan ini, dia lebih suka untuk lewat laut dan >> menaiki kapal yang datang dari Malaka. Kesultanan Malaka mulai pertengahan >> abad ke-15 sampai ditaklukkan oleh Portugis menguasai perdagangan pada >> perairan ini. >> >> >> >> Keberangkatan kapal dari pelabuhan dilukiskan seperti upacara pesta (baris >> 96-120): bedil ditembakkan, alat musik dimainkan, beberapa lagu dinyanyikan >> dengan keras oleh awak kapal; gambaran terperinci mengenai bahan yang >> digunakan untuk membuat kapal diceritakan: berbagai jenis bambu dan rotan, >> tiang dari kayu laka, juru mudi yang berasal dari >> India<http://id.wikipedia.org/wiki/India>juga disebutkan; Bujangga Manik >> benar-benar terpesona karena awak kapal >> berasal dari berbagai tempat atau bangsa. >> >> >> >> Perjalanan dari Pamalang ke >> Kalapa<http://id.wikipedia.org/wiki/Sunda_Kalapa>, >> pelabuhan Kerajaan Sunda, ditempuh dalam setengah bulan. (baris 121), yang >> memberi kesan bahwa kapal yang ditumpangi tersebut berhenti di berbagai >> tempat di antara Pamalang dan Kalapa. Dari perjalanan tersebut, Bujangga >> Manik membuat nama alias lainnya yaitu Ameng Layaran. Dari Kalapa, Bujangga >> Manik melewati Pabeyaan dan meneruskan perjalanan ke istana kerajaan di >> Pakuan <http://id.wikipedia.org/wiki/Pakuan>, di bagian selatan kota >> Bogor <http://id.wikipedia.org/wiki/Bogor> sekarang (Noorduyn 1982:419). >> Bujangga Manik memasuki Pakancilan (baris 145), terus masuk ke paviliun yang >> dihias cantik dan duduk di sana. Dia melihat ibunya sedang menenun, teknik >> menenunnya dijelaskan dalam baris (160-164). Ibunya terkejut dan bahagia >> melihat anaknya pulang kembali. Dia segera meninggalkan pekerjaannya dan >> memasuki rumah dengan melewati beberapa lapis tirai, dan naik naik ke tempat >> tidurnya. >> >> >> >> Ibu Bujangga Manik menyiapkan sambutan buat anaknya, menghidangkan sebaki >> bahan untuk mengunyah sirih <http://id.wikipedia.org/wiki/Sirih>, >> menyisirkan rambutnya, dan mengenakan baju mahal. Dia kemudian turun dari >> kamar tidurnya, keluar dari rumah, pergi ke paviliun dan menyambut anaknya. >> Bujangga Manik menerima perlengkapan mengunyah sirih yang ditawarkan ibunya. >> >> >> >> Pada bagian berikutnya, diceritakan mengenai putri Ajung Larang Sakean >> Kilat Bancana. Jompong Larang, pesuruh putri Ajung Larang meninggalkan >> istananya, menyeberangi Ci Pakancilan dan datang ke istana Bujangga Manik. >> Di istana tersebut dia bertemu seoang asing yang sedang mengunyah sirih yang >> ternyata adalah Bujangga Manik. Jompong Larang terpesona dengan ketampanan >> Bujangga Manik (baris 267-273). >> >> >> >> Sekembalinya ke istana majikannya, Jompong Larang menemui putri Ajung >> Larang yang kebetulan sedang sibuk menenun. Uraian mengenai cara menenunnya >> diterangkan dalam baris (279-282). Putri, yang mengenakan gaun serta di >> sampingnya ada kotak impor dari Cina (284-290), melihat Jompong Larang yang >> terburu-buru, menaiki tangga dan kemudian duduk di sampingnya. >> >> >> >> Putri menanyakan pesan apa yang dibawanya. Jompong Larang mengatakan bahwa >> dia melihat pria yang sangat tampan, sepadan bagi putri Ajung Larang. Dia >> menceritakan bahwa Ameng Layaran lebih tampan daripada Banyak Catra atau >> Silih Wangi, atau sepupu sang putri (321), atau siapapun itu. Lebih dari >> itu, pria itu pintar membuat sajak dalam daun >> lontar<http://id.wikipedia.org/wiki/Lontar>serta bisa berbahasa >> Jawa <http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Jawa> (baris 327). Putri Ajung >> Larang langsung dihinggapi rasa cinta. Dia kemudian menghentikan pekerjaan >> menenunnya dan memasuki rumah. Di sana dia sibuk menyiapkan hadiah bagi pria >> muda tersebut, yang terdiri dari berbagai perlengkapan mengunyah sirih, >> menggunakan bahan-bahan yang indah, dengan sangat hati-hati. Putri juga >> menambahkan koleksi wangi-wangian yang sangat mahal: "seluruh wewangian >> tersebut berasal dari luar negeri", juga baju dan sebuah keris yang indah. >> >> >> >> Ibu Bujangga Manik mendesak anaknya untuk menerima hadiah dari putri Ajung >> Larang kemudian menggambarkan kecantikan putri yang luar biasa serta >> pujian-pujian lainnya. Ibunya juga mengatakan bahwa putri berkeinginan untuk >> meyerahkan dirinya kepada Bujangga Manik serta mengucapkan kata-kata yang >> tidak pernah disampaikan putri Ajung Larang, "Saya akan menyerahkan diri >> saya. Saya akan menyambar seperti elang<http://id.wikipedia.org/wiki/Elang>, >> menerkam seperti harimau <http://id.wikipedia.org/wiki/Harimau>, meminta >> diterima sebagai kekasih (530-534). Ameng Layaran terkejut mendengar >> ucapan-ucapan ibunya yang antusias dan menyebutnya sebagai kata-kata >> terlarang (*carek larangan*) dan bertekad untuk menolak hadiah tersebut >> dengan kata-kata yang panjang juga (baris 548-650). Dia meminta ibunya >> bersama Jompong Larang untuk mengembalikan hadiah tersebut kepada putri >> serta menghibur putri. Dia lebih suka untuk hidup sendiri dan menjaga ajaran >> yang dia terima selama perjalanannya ke Jawa, di pesantren di lereng Gunung >> Merbabu <http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merbabu> (yang dia sebut >> dalam naskah ini sebagai Gunung Damalung dan Pamrihan). Untuk itulah >> Bujangga Manik terpaksa harus meninggalkan ibunya. (baris 649-650). >> >> Bujangga Manik mengambil tasnya yang berisi buku besar (*apus ageung*) >> dan *siksaguru*, juga tongkat rotan serta pecut. Dia kemudian mengatakan >> bahwa dia akan pergi lagi ke timur, ke ujung timur pulau Jawa untuk mencari >> tempat nanti dia dikuburkan, untuk mencari "laut untuk hanyut, suatu tempat >> untuk kematiannya, suatu tempat untuk merebahkan tubuhnya" (663-666). Dengan >> kata-kata yang dramatis ini dia meninggalkan istana dan memulai pengembaraan >> panjangnya. >> >> >> >> Dia meneruskan perjalanannya ke timur, menuliskan banyak sekali nama >> tempat yang sebagian masih digunakan sampai >> sekarang.[3]<http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_note-2> >> >> Rujukan >> >> - J. Noorduyn (alihbahasa oleh Iskandar Wassid). 1984. *Perjalanan >> Bujangga Manik Menyusuri Tanah Jawa: data topografis dari sumber Sunda >> Kuno >> *. KITLV & LIPI, Jakarta. >> - J. Noorduyn & A. Teeuw. 2006. *Three Old Sundanese Poems*. Leiden: >> KITLV. >> >> Catatan kaki >> >> 1. *^ <http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_ref-0>* >> Noorduyn, >> J. (2006). *Three Old Sundanese poems*. KITLV Press. >> 2. *^ <http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_ref-1>* >> Noorduyn, >> J. (2006). *Three Old Sundanese poems*. KITLV Press. >> 3. *^ >> <http://id.wikipedia.org/wiki/Naskah_Bujangga_Manik#cite_ref-2>*Noorduyn J. >> 1982. BTL >> 138:413-442. <http://www.kitlv-journals.nl/files/pdf/art_BKI_1175.pdf> >> >> >> > > >
