.... pak natsir bisa begitu karena pak natsir adalah termasuk golongan liberal (western educated/intellectual) didalam tubuh masyumi. Beliau sangat dekat dan berada dalam cliquenya Sjahrir PSI dan Bung Hatta.
Natsir sebenarnya lebih sering berseberangan dengan Bung Karno, puncaknya memang dikala PRRI itu, tapi perbedaan pendapatnya sudah muncul dari awal 50an seperti ketika jatuhnya Kabinet Natsir karena Natsir contohnya tidak menganggap prioritas kembalinya Irian Barat. Seingat saya yang lebih banyak berseberangan dengan kubu pki dari masyumi justru PM Sukiman ( konservatif) yang melancarkan sweeping2 anggota ex-PKI (Madiun), waktu itu kalau saya gak salah Aidit belum maju menjadi pimpinan, tapi masih dipegang Alimin cs. thanks, Carlos --- In [email protected], "Kartono Mohamad" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Betul Man. Aristoteles mengatakan bahwa jika seorang anak muda ingin terjun > ke politik, ia harus terlebih dulu mempelajari etika. Nah, negarawan > memerlukan lebih dari sekadar politikus. Perlu ada kebesaran jiwa. Itulah > yang ditunjukkan oleh para pemimpin di era sebelum kemerdekaan sampai ke > runtuhnya pemerintahan Bung Karno. > Lihat, Natsir bermusuhan dengan Aidit dalam ideologi dan politik tetapi > mereka berdua masih mau makan bersama dan saling menumpang mobil. Para > negarawan itu juga mau berjuang tanpa mengutamakan kepentingan pribadi, > anak-anaknya atau keluarganya. Mereka memang berhak disebut sebagai pahlawan > > KM
