Betul Man. Aristoteles mengatakan bahwa jika seorang anak muda ingin terjun
ke politik, ia harus terlebih dulu mempelajari etika. Nah, negarawan
memerlukan lebih dari sekadar politikus. Perlu ada kebesaran jiwa. Itulah
yang ditunjukkan oleh para pemimpin di era sebelum kemerdekaan sampai ke
runtuhnya pemerintahan Bung Karno.
Lihat, Natsir bermusuhan dengan Aidit dalam ideologi dan politik tetapi
mereka berdua masih mau makan bersama dan saling menumpang mobil. Para
negarawan itu juga mau berjuang tanpa mengutamakan kepentingan pribadi,
anak-anaknya atau keluarganya. Mereka memang berhak disebut sebagai pahlawan
 
KM 
 
-------Original Message-------
 
From: [EMAIL PROTECTED]
Date: 19/11/2008 15:48:56
To: [EMAIL PROTECTED]
Cc: abdul irsan;  aisah basri;  andre;  anto gesek;  Asep Kambali; 
[EMAIL PROTECTED];  Asvi Warman Adam;  bambang hidayat; 
Bambang L Gambiro;  [EMAIL PROTECTED];  baskoro;  [EMAIL PROTECTED]
  Butet Kartaredjasa;  [EMAIL PROTECTED];  [EMAIL PROTECTED]
  Dharmawan Ronodipuro;  DIAN ANGGRAINI;  didik n towok;  dokar;  Dorodjatun
K-Jakti;  [EMAIL PROTECTED];  [EMAIL PROTECTED];  Endang Basuki;
 [EMAIL PROTECTED];  falatas46;  Fediya Andina;  [EMAIL PROTECTED];  FX
Widiarso;  [EMAIL PROTECTED];  hamid ali;  Hans Pols;  Hikayat Dunia; 
[EMAIL PROTECTED];  [EMAIL PROTECTED];  indonesiaberdaya moderator;  ips;
 Ir Yuke;  Isa Multazam;  Ismail Alatas;  jajang c;  Jj Rizal; 
[EMAIL PROTECTED];  [email protected]; 
[EMAIL PROTECTED];  Louk Aznam;  lubis nina;  luluk sumiarso; 
marissa haque;  mediacare;  Mestika Zed;  Mochammad Zuhdy;  mohammad hadi
winarto;  [EMAIL PROTECTED];  mulyawan;  [EMAIL PROTECTED]; 
negri kartun;  odit praseno;  Prayitno Ramelan;  priscilla venus;  radityo
djadjoeri;  ratna sarumpaet;  restu gunawan;  retno marsudi;  Ridho Ardhi
Syaiful;  Rini Oetoro;  rositanoer.com;  [EMAIL PROTECTED];  Siswanto; 
Sorimuda Pohan Hakim;  Sumar Sastrowardoyo;  [EMAIL PROTECTED]; 
[EMAIL PROTECTED];  Tity Latief;  Todung Mulya;  Toeti Kakiailatu; 
tossi20;  [EMAIL PROTECTED];  [EMAIL PROTECTED];  [EMAIL PROTECTED]
Subject: Re: Mohammad Natsir Pahlawan Nasional
 
> Bung Rushdy dan teman semua,

Saya kira sejarah bangsa kita memang banyak dengan ironi seperti yang
dialami oleh Natsir ini. Yang saya maksud adalah ironi pertentangan antara
tokoh-tokoh perjuangan bangsa kita yang sering berakhir dengan tragis. Tidak
jarang dengan kekerasan, penangkapan dan penghujatan. Dimulai waktu
perjuangan memperoleh kemerdekaan dimana ada yang disebut sebagai co dan
non-co. Yang co sering dicap sebagai pengkhianat karena mau bekerja sama
dengan kolonial Belanda. Padahal belum tentu, misalnya anggota Volksraad
seperti Husni Thamrin yang tidak diragukan lagi adalah seorang nasionalis.
Begitu juga dengan beberapa bupati atau pegawai BB, ada juga yang nasionalis
 Begitu juga waktu zaman perang kemerdekaan, sehingga ada istilah revolusi
memakan anaknya sendiri. Misalnya Tan Malaka, Amir Syarifudin, Otto Iskandar
Dinata dan banyak pejuang nasionalis lainnya. Syahrir dkk. pernah dicap
sebagai pengkhianat oleh kaum radikal "revolusioner" karena mau berunding
dengan Belanda sehingga Syahrir pernah diculik. Juga di tahun 1950-an,
pertentangan politik banyak diakhiri dengan aksi militer, penangkapan dan
penahanan. Kemudian, Soekarno-Hatta pecah sehingga Dwi-tunggal jadi
Dwi-tanggal, juga Soeharto-Habibie yang tadinya seperti bapak dan anak
kemudian bermusuhan, sehingga ketika Habibie mau nengok Soeharto waktu sakit
keras dilarang oleh anak-anak Soeharto takut bapaknya emosi, juga Gus Dur
dan Megawati yang tadinya mesra sudah tidak saling menegur lagi.
Saya kira bangsa kita masih harus belajar mengatasi perbedaan politik secara
baik dan dewasa. Hendaknya generasi sekarang harus bisa mengatasi
pertentangan politik melalui jalur dialog dengan lebih matang, beretika dan
saling menghargai. Kalau perlu melalui jalur hukum. Jangan dijadikan
personal dan emosional. Sikap-sikap yang kerdil, mau menang dan benar
sendiri sudah harus berani kita tinggalkan.
Menurut saya, Natsir dan Bung Tomo sudah sepatutnya mendapat predikat
pahlawan karena jasa-jasanya terhadap bangsanya. 
Salam,
Firman
    
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Berdasarkan Kep.Pres RI no.041/TK/th 2008 tanggal 6 November 2008, 3 orang

> putra Indonesia terbaik mendapatkan gelar “Pahlawan Nasional”. 
> Ketiganya adalah Mohammad Natsir, K.H.Abdul Halim dan Bung Tomo. 
> Mohammad Natsir, sosok yang dikenang oleh bangsa Indonesia sebagai tokoh 
> pendidikan, tokoh politik, negarawan, dan pemimpin Islam terkemuka. Natsir

> lahir 17 Juli 1908, di kampung Jembatan Berukir, Alahan Panjang, Sumatera 
> Barat, sedang kampung asalnya Maninjau. Tokoh yang produktif menulis itu 
> wafat 6 Februari 1993 di Jakarta dalam usia 84 tahun. 
> Semasa sekolah di Padang dan Bandung ia aktif dalam organisasi di 
> antaranya Jong Islamieten Bond. Natsir murid intelektual ulama terkemuka A

> Hassan Bandung dan Haji Agus Salim. Di zaman penjajahan Belanda, tahun 
> 1932, Natsir berupaya memerangi kebodohan dan mencerdaskan kehidupan 
> bangsa dengan mendirikan sekolah Pendidikan Islam di Bandung yang 
> mempunyai tingkat Frobel (TK), HIS (SD) dan MULO (SMP). 
> Sebagai pelaku sejarah, Natsir adalah anggota Badan Pekerja KNIP 
> (1945-1946) yang merupakan parlemen pertama RI. Natsir juga salah seorang 
> anggota KNIP yang mendukung dibentuknya Kementerian Agama tahun 1946. 
> Beliau pernah menjabat Menteri Penerangan RI (1946-1949), Perdana Menteri 
> RI (1950-1951), dan Ketua Umum Partai Masyumi (1949-1958). 
> Dalam Majelis Konstituante (1957-1959) yang bertugas merumuskan kembali 
> dasar negara RI, Natsir memperjuangkan Islam sebagai dasar negara dalam 
> format yang sesuai dengan kondisi bangsa Indonesia. Perjuangan 
> fraksi-fraksi Islam hanya mencapai separuh jalan, kemudian di-by pass oleh

> Dekrit Presiden yang membubarkan Konstituante dan kembali ke UUD 1945. 
> Natsir adalah contoh seorang demokrat par excellence dan ideoloog yang 
> berpandangan luas. Menarik disimak pandangannya tentang Pancasila, bahwa 
> tidak ada pertentangan Pancasila dan Islam, kecuali bila Pancasila itu 
> sengaja diisi dengan paham-paham yang bertentangan dengan ajaran Islam. 
> Sikap dan watak kenegarawanan Natsir sebagai tokoh politik dan guru bangsa

> patut menjadi cermin bagi generasi sekarang. Sikap demikian terlihat dalam

> pandangan Natsir tentang Bung Karno. Dalam buku yang disusun oleh Solichin

> Salam, Bung Karno Dalam Kenangan (1981), Natsir menulis, "Saya ingin 
> menegaskan lagi di sini, bahwa sebagai pribadi dalam segala perbedaan atau

> pertentangan pendapat tidak pernah saya maupun Bung Karno menaruh rasa 
> dendam satu sama lain. Mudah-mudahan sikap jiwa (mental attitude) yang 
> demikian ini dapat dihidupkan kembali dalam rangka pembinaan bangsa di 
> kalangan generasi penerus." 
> Natsir adalah contoh pejuang yang ikhlas dan tak penat memandu umat. 
> Pembubaran partai Masyumi oleh rezim orde lama tidak menghentikan langkah 
> Natsir untuk memperjuangkan aspirasi Islam dalam Negara Kesatuan Republik 
> Indonesia (NKRI). Ada atau tidak ada partai politik Islam, kepentingan 
> umat harus tetap dibela melalui jalan yang masih terbuka. Pada 1967 Natsir

> bersama beberapa tokoh Masyumi lainnya mendirikan wadah berbentuk yayasan 
> yaitu Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII). Natsir menjabat Ketua Umum 
> DDII sampai wafat. Ia tidak henti-hentinya menyumbangkan buah pikiran 
> untuk kepentingan bangsa dan negara, walaupun dianggap tidak sehaluan 
> dengan pemerintah orde baru saat itu. 
> Sejarah mencatat, mosi integral Mohammad Natsir tahun 1949 merupakan 
> pangkal proses yang menyelamatkan Indonesia dari perpecahan, sehingga 
> kembali menjadi NKRI. Adapun keterlibatan Natsir, Sjafruddin 
> Prawiranegara, dan beberapa tokoh nasional dalam perlawanan Pemerintah 
> Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) tahun 1958-1961 di Sumatera Tengah 
> (Sumatera Barat) dilatarbelakangi tujuan untuk menyelamatkan Negara 
> Republik Indonesia dari bahaya Komunisme/PKI dan menuntut keadilan 
> pemerintah pusat terhadap pembangunan daerah-daerah di luar Jawa. 
> Pada awal orde baru, Natsir turut membantu pemerintah dalam pemulihan 
> hubungan diplomatik dengan Malaysia pascakonfrontasi 'Ganyang Malaysia' di

> masa pemerintahan Soekarno. Dari balik tembok tahanan, Natsir menulis 
> surat pribadi kepada Perdana Menteri Tengku Abdul Rahman yang sebelumnya 
> menolak menerima utusan pemerintah Indonesia yaitu Ali Moertopo dan Benny 
> Moerdani. Natsir menjadi tahanan politik rezim Soekarno selama 4 tahun 
> (1962-1966). 
> Seorang pejabat KBRI di Jeddah bercerita kepada alm KH Hasan Basri (mantan

> Ketua Umum MUI). Sewaktu Menlu Dr Soebandrio menunaikan haji tahun 1965, 
> ia dapat bertemu Raja Faisal bin Abdul Aziz. Ia melaporkan, Islam di 
> Indonesia berkembang pesat. Tanggapan Raja Faisal, "Kenapa Saudara tahan 
> Mohammad Natsir? Saudara tahu, Mohammad Natsir bukan saja pemimpin umat 
> Islam Indonesia, tetapi pemimpin umat Islam dunia ini!" Peran Natsir yang 
> menonjol di dunia Islam ialah sebagai wakil presiden Muktamar Alam 
> Al-Islami (World Muslim Congress), anggota inti Rabithah Alam Islami di 
> Makkah, anggota inti Dewan Masjid Sedunia, dan lain-lain. Ia pun pernah 
> diusulkan menjadi Sekretaris Jenderal Organisasi Konperensi Islam (OKI), 
> tapi tidak disetujui Pemerintah RI. Pada 1980 Natsir menerima Penghargaan 
> Internasional Malik Faisal (Faisal Award) dari Kerajaan Saudi Arabia atas 
> jasa-jasanya di bidang pengkhidmatan kepada dunia Islam. Sebagai tokoh 
> pembaruan dan intelektual 
> Muslim, Natsir menempuh cara dakwah dan pendidikan untuk memperbaiki 
> pemahaman dan pengamalan agama masyarakat Islam di Indonesia. Kata 
> Natsir, kemajuan masyarakat Islam hanya dapat dicapai dengan memahami dan 
> mengamalkan ajaran Islam secara murni. 
> Sebuah ironi sejarah di zaman orde baru, sejak 1980 sampai meninggal 
> Natsir kena cekal, karena menandatangani 'Pernyataan Keprihatinan' yang 
> kemudian dikenal sebagai Petisi 50 berisi kritik terhadap Pak Harto yang 
> sedang di puncak kekuasaan. Dalam tahun-tahun terakhir menjelang tutup 
> usia, seperti diungkap Prof George Mc Turnan Kahin dari Cornell University

> USA, Natsir benar-benar sedih dan prihatin melihat kondisi negerinya. 
> Bukan hanya karena melihat pemerintah waktu itu yang otoriter, juga karena

> menyaksikan masyarakat yang semakin materialistis dan individualistis. 
> Penulis bersyukur beberapa kali bertemu Pak Natsir semasa hidupnya. 
> 
> Sumber : http://swaramuslim.net/galery/more.php?id=5644_0_18_0_M 
> 
> 
>
___________________________________________________________________________ 
> Dapatkan alamat Email baru Anda! 
> Dapatkan nama yang selalu Anda inginkan sebelum diambil orang lain! 
> http://mail.promotions.yahoo.com/newdomains/id/ 

 

<<faint_grain.jpg>>

Kirim email ke